Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kumpulan Puisi Bulan Agustus, Menyapa Hari-hari Baru untuk Mengetuk Impian dan Cinta

Puisi Bulan Agustus, Menyapa Hari-hari Baru untuk Mengetuk Impian dan Cinta
Puisi Bulan Agustus, Menyapa Hari-hari Baru untuk Mengetuk Impian dan Cinta. Gambar oleh 1278956 dari Pixabay

Selamat datang, Agustus!

Rasa-rasanya bulan begitu cepat berganti, ya. Padahal kita kemarin masih terus meringkus bayang agar segera terbit menjadi kenyataan.

Tapi, begitulah hidup. Waktu yang berlalu dan berganti belum tentu menjanjikan tulusnya cinta. Harap dan impian perlu dibalut dengan perjuangan, biarpun ada hujan, bahkan gerimis.

Dan pada kesempatan kali ini, Gurupenyemangat.com bakal menghadirkan diksi-diksi sederhana yang berkisah tentang bulan Agustus.

Puisi bulan Agustus. Barangkali dirimu perlu menyapa hari-hari baru. Mengetuk impian. Menikmati indahnya jatuh cinta. Yang tidak mendustakan senja.

Oke, langsung simak saja, ya:

Puisi: Selamat Datang Bulan Agustus

Puisi Selamat Datang Bulan Agustus
Puisi Selamat Datang Bulan Agustus. Foto: Canva

Selamat datang bulan Agustus
Aku sudah lama menantimu
Bendera merah putih sudah kusiapkan
Akan kupasang di pinggir pagar esok hari

Selamat datang bulan Agustus
Aku belum begitu bersemangat
Hari-hariku masih bercampur pilu
Duka lara menyayat elegi
Masalahku penuh lebih dari sekadar arti

Selamat datang bulan Agustus
Aku ingin tahu lebih banyak tentang senja
Fajarku kemarin runtuh oleh bayang-bayang
Padahal sebentar lagi hari Kemerdekaan

Selamat datang bulan Agustus
Aku sudah punya cerita baru
Kami berkejar-kejaran di rumah
Tidak bisa keluar karena pandemi

Pasar jadi sepi
Sekolah tutup
Lalu kami tak menemukan para penjual sate

Agustus tiba
Mereka mengusap air mata di rumah
Lebih bangga jika keluar keringat
Daripada hanya dapat bansos dari pemerintah

Puisi: Bulan Agustus Sudah Menyapa

Hai, Agustus
Kau dan surya telah berbaik hati menyapaku

Aku baik-baik saja
Walau kontrak kerja ini sudah lama putus
Aku belum sempat memajang bendera
Merah putih belum dicuci
Aku belum sempat menjahitnya
Aku terlalu sibuk di kantor
Mau fotokopi KTP
Mau mencetak surat vaksin
Setelah itu aku harus membeli map

Sebenarnya ingin kubeli merah putih yang baru
Tapi uangku sudah tidak cukup
Beras sudah sangat mahal
Bukan;
Maksudku isi dompetku yang menipis

Baca juga: 50 Kata-kata Bijak Mutiara dan Harapan Bulan Agustus 2021, Jangan Patah Arang Menggapai Mimpi

Memajang bendera merah putih usang
Bukan berarti aku tak lagi sayang
Bumi Pertiwi tempatku berjuang
Bukan hanya untuk mencari uang
Tapi juga mengusir pilu dari bayang-bayang

Bulan Agustus sudah menyapa
Aku masih baik-baik saja
Walaupun anak-anakku kehabisan kuota
Walaupun tetanggaku tidak dapat bantuan PHK

Agustus masih memberikan mereka ceria
Aku juga bahagia
Karena masih punya banyak keluarga
Yang tiada pernah mengingkari setia

Puisi: Agustus dan Awan Senja Merah

Puisi Agustus dan Awan Senja Merah
Puisi Agustus dan Awan Senja Merah. Gambar oleh plukdedag64 dari Pixabay

Sudah lama aku tak duduk di teras rumah. Rindu melihat kelelawar pulang kampung di sore hari. Mereka sering bawa jambu dan menjatuhkannya di atas atap gubuk.

Mungkin Agustus sebentar lagi bercerita. Katanya akan ada awan senja merah. Bisa mengobati kerinduanku. Sekaligus kekesalan atas bumi yang terus menangis basah.

Hingga hari ini bumi masih menangis. Pandemi membuat senja tak lagi seindah dulu. Tawamu juga tak terlihat. Di kolam sawah sudah tak tampak lagi kangkung yang terikat.

Ah, sudahlah. Air mata dan keringat janganlah dicampur. Kita hanya perlu bahagia di bulan Agustus. Awan senja merah hanya memintamu mengibarkan bendera merah putih mewakili negeri.

Baca juga: Puisiku untuk Indonesia, Tiang Negeri yang Sedang Kesepian

Setelah itu aku ingin bernyanyi. Satu nusa satu bangsa. Esok hari aku akan berpuisi. Tentang kerinduan untuk kembali melihat awan senja merah.

Puisi: Hujan Rintik-rintik di Bulan Agustus

Pagi-pagi bunga anggrek basah. Aku kira itu sapaan embun pagi. Ternyata bukan. Hujan rintik-rintik kembali tiba di bulan Agustus.

Anggrek masih sehat. Tanah ini tak peduli. Kapan kemarau, kapan pula penghujan. Para petani sudah berlapang dada. Yang penting panen mereka banyak. Biar dengan harga murah.

Hujan masih terlihat rintik-rintik. Ia berdamai dengan sepi. Berhembus angin ke sana ke mari. Menyapa pohon tua yang rimpuh. Sayang, ia tak mau berbuah lagi.

Kabar di bulan Agustus masih mendung. Impianku berteman dengan gelap. Harapan ini tak kunjung mau bersinar. Beban menumpuk. Merebus batu tak lagi mau empuk.

Hujan rintik-rintik tetap akan datang. Tak mengapa. Aku bisa menghadirkan sinarku sendiri. Lalu kita berjalan bersama-sama menggapai cerah.

Puisi: Jatuh Cinta di Bulan Agustus

Puisi Jatuh Cinta di Bulan Agustus
Puisi Jatuh Cinta di Bulan Agustus. Gambar oleh Pexels dari Pixabay

Hatiku berdebar
Pandangan ini temaram
Padahal almanak Juli sudah tak dapat dikejar
Masalah-masalahku mengamuk geram

Jatuh cinta di bulan Agustus
Harapan lama tak lagi putus
Ibuku tak lagi merajut ketus
Asmaraku padamu kian meletus

Kembalilah rasa sayang
Bertabur cinta mengusir duka
Sepi hari ini tak lagi sama
Kita sudah bergembira dalam rasa
Yang beda jadi sama
Yang jauh jadi dekat
Yang dekat jadi akrab
Lalu kita berpegang tangan
Mengucap janji tulus
Perasaan hati tak lagi tandus

Jatuh cinta di bulan Agustus
Semoga semakin indah dengan mekarnya mawar
Aku ingin berlari menyapa senja
Lalu berteriak
Aku sungguh menyayangi dia
Lalu berharap
Tuhan mengizinkan pertemuan kita

Baca juga: Puisi Tentang Pemuda, Cinta dan Rindu

Tidak perlu duduk berdua di kursi taman
Tidak akan mengurangi tulusnya kedekatan

Jatuh cinta di bulan Agustus
Ketika hujan tak lagi terasa dingin
Ketika gerimis tak lagi demam
Kuharap bulan purnama bukanlah penyudah

Perpindahan hari bukanlah akhir
Lebih dari sewindu
Bersama-sama melangkah hingga puluhan dasawarsa
Tetap jatuh cinta
Hingga kau dan aku berpamitan dengan dunia

Puisi: Mimpi Indah di Bulan Agustus

Malam tadi aku bermimpi. Katanya bunga mawar tak mau bermekar lagi. Sinar senja bakal berganti dengan hujan dan elegi. Sedangkan harapku akan tenggelam bersama ratapan sepi.

Rasanya aku terdampar di lautan mimpi. Terkurung dalam penjara baja yang bergembok besi. Terlalu mengkhawatirkan rasa sayang di sanubari.

Apalah arti mimpi. Hanya sekadar bunga tidur. Mekar dalam fantasi. Membusuk pula dalam ilusi. Tiada bahagianya jika aku tinggal di kota delusi.

Semua itu bukanlah mimpi indah. Sedangkan aku sudah berjanji di bulan Agustus. Aku akan tertawa. Meraih cita. Menenggelamkan duka. Lalu bersama-sama dalam bahagia.

Mimpi indah di bulan Agustus. Bukan sekadar mimpi yang bertabur harap. Seisi hati berhak menatap gemerlap. Bukan terkurung oleh janji di sebalik bayang-bayang.

***

Yeay. Akhirnya selesai sudah rangkaian diksi-diksi sederhana yang berkisah tentang segenap peristiwa hati di bulan Agustus. Semoga kalian tergugah, ya.

Kabarkanlah kepada mimpi bahwa dalam waktu dekat kau akan menggapainya. Kabarkan pula kepadaku bahwa cinta kita tak pernah berdusta. Eh.

Salam.

Lanjut Baca: Puisi Cinta untuk Sahabat Sejati, Kita Bersahabat untuk Selamanya

Guru Penyemangat
Guru Penyemangat Menulislah untuk menebar manfaat kepada seluruh alam, karena menuangkan kata-kata juga merupakan jalan ninja menuju kebaikan.

Posting Komentar untuk "Kumpulan Puisi Bulan Agustus, Menyapa Hari-hari Baru untuk Mengetuk Impian dan Cinta"