Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kumpulan Puisi untuk Sahabat Sejati Menyentuh Hati, Kita Adalah Sahabat Selamanya!

Puisi untuk Sahabat Sejati Menyentuh Hati, Kita Adalah Sahabat Selamatnya!
Puisi untuk Sahabat Sejati Menyentuh Hati, Kita Adalah Sahabat Selamatnya! Gambar oleh Bessi dari Pixabay

Sahabat, siapakah dia? Mungkinkah sahabat adalah pacarmu, orang terdekatmu, atau malah seseorang yang sedang berada di kejauhan?

Lebih dari sekadar teman, barangkali itu definisi yang cocok untuk menjelaskan arti dari kata sahabat.

Terang saja, kalau hanya sebatas teman, barangkali dirimu sudah lebih tahu dan sangat berpengalaman terhadap fenomena yang mengiringinya.

Misalnya begini; Si A datang di kala sedang butuh, lalu keesokan harinya menghilang kita dirimu yang sedang perlu.

Apakah itu sahabat? Jelas tidak.

Misalnya lagi; Si Z berbicara baik dan manis tentangmu di hadapanmu, lalu di luar saja dia malah menjelek-jelekkan bahkan memfitnahmu.

Mungkinkah itu adalah sosok sahabat sehat? Mustahil!

Hahaha.

Sahabat sejati selalu ada di kala dirimu sedang sulit, sedang susah, juga sedang bahagia. 

Meskipun sering bertengkar, terkadang sosok sahabatlah yang lebih mengerti tentang kepribadianmu setelah orang tua. Maka dari itulah sahabat lebih tinggi tingkatannya daripada teman.

Bahkan, diterangkan dari Wikipedia bahwa yang namanya persahabatan itu bakal menghadirkan perilaku kerja sama, saling dukung, hingga saling memahami alias pengertian.

Alhasil, kehadiran seorang sahabat itu sangat penting, bukan? Apa lagi sahabat sejati, hubungan yang erat ini perlu kau pertahankan untuk selamanya.

Dan dalam kesempatan ini, Gurupenyemangat.com bakal menghadirkan puisi untuk sahabat sejati di mana pun mereka berada.

Kumpulan diksi sederhana yang dirangkai menjadi puisi kupersembahkan untuk sahabat sejati. Doa terbaik, kita tetap bersahabat untuk selamanya.

Kumpulan Puisi untuk Sahabat Sejati Menyentuh Hati, Kita Adalah Sahabat Selamatnya!

Puisi: Sahabat Sejati Selamanya

Puisi Sahabat Sejati Selamanya
Puisi: Sahabat Sejati Selamanya. Gambar oleh Sasin Tipchai dari Pixabay

Ke mana pergi kita bersama. Aku sering menyapamu dalam gundah. Kau sering menyapaku dalam sepi. Kita bersama-sama bahagia bersandar dalam tawa.

Kau adalah sahabat sejati selamanya. Senang dan sulit kita lalui bersama. Setumpuk masalah kau bantu lepaskan dari derita. Aku tidak berhenti bahagia.

Kau lebih dari seorang teman. Walau kita bukanlah satu darah daging. Kau sudah bukan orang lain lagi.

Ke manapun kau akan pergi, kita tetap adalah sahabat sejati. Pegang tanganku ini di kala kau sedang sedih. Akan kugapai tanganmu agar kita sama-sama kembali bercanda.

Sahabat sejati bukanlah dia yang datang di kala senang lalu pergi. Persahabatan tidak sebercanda itu. Kau dan aku sama-sama ada. Entah itu dalam kedekatan, maupun kejauhan.

Tetaplah menjadi sahabatku. Kita gapai sejati selamanya.

Puisi: Tentang Sahabat yang Telah Pergi

Puisi Tentang Sahabat yang Telah Pergi
Puisi Tentang Sahabat yang Telah Pergi. Gambar oleh Annie Spratt dari Pixabay
hari ini aku kesepian
tidak seperti sebelumnya
waktu itu kau masih ada
kita jalan-jalan
rekreasi
bermain pasir pantai
dan masih banyak lagi

kita dulu laksana sepasang sepatu
susah terpisah
saat berjalan bersama serasa bersatu
jauh dari bangku-bangku kosong
ke mana aku pergi kau yang menemani

tapi sekarang kau telah tiada
sahabat sejatiku telah pergi

entah mengapa kau meninggalkan
padahal aku belum siap bertemu sepi

terlalu banyak kenangan
juga angan
pun begitu dengan impian

aku tahu
yang pergi entah kapan bisa kembali
mungkin tak akan bisa bertemu lagi

entah hari ini entah besok pagi
aku sudah rela kau tinggal pergi
sampai kapan pun
kita tetap sahabat sejati

Puisi: Selamat Ulang Tahun, Duhai Sahabat

Ponselku berdering. Ternyata ia berteriak bahwa kau sedang ulang tahun. Maaf aku terlupa. Aku terlalu lama menatap dunia. Tapi aku tidak akan membuatmu kecewa.

Selamat ulang tahun, duhai sahabat. Akan kukirimkan suara sebening embun dengan setulus hati. Di sebaliknya ada doa terbaik yang kuharap bisa mengetuk pintu langit.

Sahabatku, kau mungkin tidak terlalu membutuhkan hadiah. Apalah arti boneka beruang jika hanya untuk dipajang. Sahabat, sejatimu tak mampu terwakili oleh benda.

Bertambah umurmu bertambah bahagiaku. Semoga kau sehat selalu. Agar kita bisa terus bersama. Dalam suka. Dalam gundah. Dalam duka. Juga dalam bahagia.

Puisi: Catatan Kepergian

Ada angin apa hari ini. Padahal masih sejuk. Segenap awan masih putih tipis-tipis. Tapi kau malah mengabarkan kepadaku tentang kepergian.

Katamu, kita harus berpisah. Menjauhkan kedekatan. Membatasi kebercandaan. Lalu harus jauh dengan tetap terhubung dengan kebahagiaan.

Tidak secepat itu, sahabat!

Yang jauh sudah aku upayakan mendekat. Jika kembali menjauh, aku akan sangat merindukan kedekatan.

Masih sulit untuk dibayangkan. Pendengar omelanku hari ini akan pergi esok hari. Rasanya taman bunga akan kembali sepi. Entah kapan kita bisa bersama mengunjungi.

Catatan kepergian. Ketika sahabat sejati harus pergi, aku hanya bisa merelakan dengan setulus hati.

Aku selalu berharap engkau akan bahagia. Aku juga percaya. Pertemuan di hari esok tiada akan berdusta. Kau dan aku akan baik-baik saja. Lalu kita akan kembali bersua.

Puisi: Sahabat Jadi Cinta

Saat surya menyapa, aku melihat bulir-bulir embun berubah menjadi lambaian asmara. Iramanya begitu mesra yang bercerita manis tentang melodi keindahan.

Seperti wajahmu.

Wajah yang waktu itu masih berjarak oleh asing dan entah, kini didekatkan oleh satu rasanya. Cinta, buah manis dari kedekatan kita.

Padahal dulunya kita sahabat, tapi rasa ini sudah lebih dari akrab. Kau mungkin lebih sadar bahwa aku sudah tidak ingin mendengar kata kehilangan.

Sahabat jadi cinta. Aku harap kita tidak akan terpisah oleh kekecewaan rasa. Tetaplah bersatu dalam impian. Bahagiakan aku dengan rasa sayang. Kita melaju dengan langkah-langkah cinta.

Puisi: Sembuhkan Lukamu

Sudah sepuluh hari berlalu
Entah mengapa kau masih terbaring di kasur itu
Terangnya senyum kita seperti mati lampu
Padahal taman sudah berteriak rindu

Aku menantikan hari esok
Yang lebih cepat
Tepat saat kau bangun dari kasur itu
Lalu kita pergi
Berlari
Saling berkejaran

Aku akan menangkap kupu-kupu
Lalu kau memarahiku
Menasihatiku agar mencintai makhluk Tuhan

Sembuhkan lukamu
Agar cerita kita kembali terulang
Agar langkah kaki kembali terdengar
Jauh dari jarum suntik
Tidak ada bau obat yang menyengat
Juga kasur itu

Bangunlah, sahabat
Sembuhkan lukamu
Aku ingin kita bahagia
Kembali tertawa dan bercanda

***

Oke. Segini dulu ya sajian Guru Penyemangat tentang sahabat. Entah pada kondisi sempit maupun sempat, sebaiknya jangan kurangi kepedulian kita terhadap sahabat.

Biar bagaimanapun, sahabat itu lebih daripada sekadar teman. Ibarat kata, sahabat adalah keluarga yang tercipta tanpa hubungan darah.

Alhasil, tiada mengapa jika dirimu hadiahkan seorang sahabat berupa puisi cinta atau kata-kata mutiara yang menyemangati diri.

O ya, jangan lupa dengan harapan agar dirimu dan sahabat akan terus bersama mengarungi kerasnya kehidupan.

Salam kompak, ya.

Baca juga: Puisi untuk Senja

Guru Penyemangat
Guru Penyemangat Menulislah untuk menebar manfaat kepada seluruh alam, karena menuangkan kata-kata juga merupakan jalan ninja menuju kebaikan.

Posting Komentar untuk "Kumpulan Puisi untuk Sahabat Sejati Menyentuh Hati, Kita Adalah Sahabat Selamanya!"