Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Puisiku untuk Indonesia: Tiang Negeri yang Sedang Kesepian

Apa kabar Indonesia hari ini? Mungkinkah negeriku tercinta sedang baik-baik saja? Atau mungkin, banyak para penduduknya yang sedang gelisah?

Barangkali, para pemimpin negeri bisa menjawab pertanyaan tersebut dengan seuntai senyum. Tapi sesungguhnya, tiang negeri ini terus berguncang.

Guncangan tersebut menerpa berbagai aspek kehidupan. Bukan hanya gegara pandemi, melainkan juga aspek ekonomi, politik, pendidikan, budaya, hingga toleransi.

Puisiku untuk Indonesia: Tiang Negeri yang Sedang Kesepian
Puisiku untuk Indonesia: Tiang Negeri yang Sedang Kesepian. Foto: Duta Damai Banten.

Rasa-rasanya negeri ini sedang kesepian. Aku khawatir, tiang negeri akan segera lapuk. Tapi, aku tetap berbaik sangka dengan secarik puisiku untuk Indonesia.

Puisi: Indonesia Terserah

Ada sebuah cerita yang mungkin bisa kujelaskan dengan kata-kata. Cerita ini pilu, mengerikan, dan tak bisa kukuatkan dalam hati seorang diri.

Aku ingin bawa negara yang bernama Indonesia. Aku juga ingin bawa-bawa pemerintah, warga, dan diriku. Tapi bagaimana?

Entahlah
Terserahlah
Suka-sukalah
Maumu sajalah
Bebaskanlah
Keluarlah
Jalan-jalanlah
Berbelanjalah
Berkumpul-kumpullah
Indonesia, Terserahlah

Hingga nanti aku atau kau yang menangis pilu sendirian. Di tengah makam, tanpa orang, tanpa bantal, tanpa kafan, dan tanpa keranda mayat.

Jangan
Jangan sampai
Tak hanya aku ingin, kita semua ingin sadar.

Karya Ozy V. Alandika


Puisi: Lubang Kekejaman

Kaki melangkah, membawa raga menyusuri lembah kekejaman.  Bibir pucat bergetar tatkala angin sunyi menusuk jiwa.

Entahlah. Seram. Mencekam. Dingin.

Semua bercampur-aduk menggetarkan kaki. Derap langkah terarah ke lubang yang semakin lama semakin tampak terang.

Menangis hati ini, bergetar hebat raga ini. Langkah terhenti tepat di lubang kematian. Sunyi yang awalnya menjadi teman, tergantikan dengan teriakan-teriakan yang mematikan.

"Apa ini! Kepalaku sakit mendengarnya!"

Ingin rasanya kuberteriak, namun tak sanggup irama ini keluar. Terpejam mata, terputar tradegi kala itu.

Peralihan kekuasaan dengan alibi yang menyakitkan.

Tubuh yang menjadi alat kehancuran. Si kecil tak berdosa pun menjadi tumbal kehausan. Tubuh lemah terombang-ambing, dilemparkan dengan tiada rasa ampun.

Malam itu, pembantaian oleh makhluk bengis. 7 Jendral berakhir tragis, ulah tak berhati para iblis.

Tak ada yang menolong
Tak ada yang peduli
Keluarga menangis tiada henti

Tak ada yang bisa dilakukan. Pembelaan atas keadilan. Pertahanan atas perjuangan. Meski darah segar bertumpah di kubangan.

“Lubang tak berhati, menjadi saksi hilangnya bunga Pertiwi.”

Tersadar dari lamun, semerbak anyelir putih menusuk indra. Aura kesedihan semakin  memancar. Lubang kekejaman basah berasama dengan turunnya rintik air Tuhan.

Karya: Khairia Nurlita.


Puisi: Merdeka dan Sepi

iang bendera sedang kesepian. Temannya ialah sang saka yang berkibar, dihembuskan oleh angin dan angan. Merah dan putih, ada retorika darah dalam kenangan.

Hari ini sang tiang kedatangan banyak tamu. Ialah teriakan-teriakan merdeka yang lebih tajam dari bambu runcing. Sang tiang ingin meluncur secepat anak panah. Tapi sayang, ia masih sendirian.

Tiang bendera sedang kesepian. Sedikit teman dalam nyata. Segunung kawan dalam maya. Tapi, tiang bendera tidak akan melupakan sedikit pun tentang kenangan.

Karya: Ozy V. Alandika


Puisi: Duhai Indonesia, Aku Kesepian

Negeri ini luas sejauh mataku memandang. Hembusan angin dari timur terkadang menyejukkanku.

Angin itu berkisah tentang kekayaan, keragaman suku, budaya, hingga kabar negeri yang masih hijau.

Hembusan angin negeri ini juga datang dari barat. Kabarnya kabar baik, bahwa raja sedang berbenah. Raja bersama pasukan berkisah tentang kesejahteraan.

Sayangnya, aku masih kesepian, duhai Indonesia!

Kabar tersebut masih terdengar hampa ketika petani meringis meratapi lahan. Tanah itu tidak lagi hitam hingga pupuk-pupuk murah enggan meresap.

Kabar tersebut masih terdengar sumbang ketika kulihat para pekerja gudang membuang sayur ke bawah jembatan.

Sayur yang berteman dengan es batu begitu sumringah, sedangkan sayur yang masih tergantung di plastik mulsa masih meronta-ronta.

Padahal arah angin hanya sekadar timur dan barat. Ibundaku belum bercerita tentang angin dari selatan, dan ayahku juga belum berceritera tentang kabar angin dari utara.

Barangkali kabarnya masih sama, bahwa ada banyak orang-orang sepertiku yang merasa kesepian. Entah mengapa tiang negeri ini terpampang mulai lapuk.

Mungkinkah ada banyak rayap yang menggerogoti istana? Jangan tanya apa kabar rayap. Sudah pasti mereka tidak akan pernah kesepian. Selalu ditemani dengan kasur empuk.

Jadi, Indonesia, bagaimana caramu agar aku tidak lagi kesepian?

Karya Ozy V. Alandika

Baca juga: Puisi Malam Sendu Jelang Musim Semi

Guru Penyemangat
Guru Penyemangat Menulislah untuk menebar manfaat kepada seluruh alam, karena menuangkan kata-kata juga merupakan jalan ninja menuju kebaikan.

Posting Komentar untuk "Puisiku untuk Indonesia: Tiang Negeri yang Sedang Kesepian"