Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Awas, Pendendam! Begini Cara Mengajarkan Anak agar Terbiasa Meminta Maaf dengan Tulus

Anak merupakan investasi masa depan. Apakah anak mau menjadi sosok pemaaf atau malah pendendam, hal tersebut juga dipengaruhi oleh didikan dari orangtuanya. Maka itulah kehadiran pendidikan karakter sangat diperlukan sejak usia dini. 

Dengan karakter yang kuat maka anak akan menjadi pribadi tangguh dan memiliki rasa empati kepada sesama. Itulah mengapa Ibu adalah ujung tombak utama bagi terbentuknya karakter sifat anak.

cara mengajarkan anak minta maaf
Mengajarkan anak minta maaf. Foto: esudroff dari Pixabay
Sebenarnya memberikan pendidikan yang bagus bukanlah cara yang salah untuk mendidik anak. 

Namun terkadang orangtua lupa, hingga hanya fokus pada pendidikan formal saja. Padahal penumbuhan karakter yang berbudi adalah hal yang paling pokok yang ditanamkan pada anak.

Itulah mengapa orangtua di rumah harus berperan aktif, tidak hanya menyerahkan tugas mendidik hanya kepada guru di sekolah.

Demi menjauhkan anak dari tumbuhkembang sifat pendendam, maka hal utama yang perlu dilakukan orangtua adalah mengajarkan anak agar terbiasa meminta maaf dengan tulus.

Terang saja, ketika seorang anak terbiasa meminta maaf bahkan secara tulus, maka sebenarnya anak tersebut sudah memiliki bekal karakter untu menghargai orang di sekitarnya. 

Dari sana, rasa empati pada sekitar akan tumbuh dengan sendirinya. Tapi sayang...

...hal yang dimaksud saat ini malah sering dilupakan para orangtua. Mereka mengejar pendidikan formal padahal perilaku anak perlu diperbaiki.

cara minta maaf dengan tulus
Cara minta maaf dengan tulus. Foto: Arek Socha dari Pixabay
Syahdan, bagaimana caranya agar anak memiliki sikap pemaaf dan menghargai sesamanya? Berikut adalah tips yang bisa diterapkan pada anak, agar menumbuhkan sikap saling memaafkan.

  • Cara Mengajarkan Anak agar Terbiasa Meminta Maaf Dengan Tulus dengan Memberikan Pelukan

Cara sederhana yang bisa dilakukan untuk mengajarkan anak agar terbiasa meminta maaf dengan tulus yaitu dengan pelukan. 

Biasakan untuk memeluk anak, dengan pelukan maka anak akan merasa nyaman dan terlindungi. 

Dengan demikian mereka akan merasa disayangi dan dicintai. Ujung-ujungnya bakal ada timbal balik rasa sayang dan mencintai pada kita.

Jadi semisal mereka melakukan kesalahan, merasa membuat orang yang mereka kasihi terluka, mereka akan meminta maaf dengan sendirinya tanpa diminta. Cara ini sangat efektif, tanpa menggunakan suara tinggi anak akan nurut degan sendirinya.

Namun, jika anak sudah berajak dewasa, ada cara berbeda mengajarkan anak agar terbiasa meminta maaf dengan tulus. 

Kita bisa mengobrol dari hati ke hati, bisa membicarakan bagaimana anak melalui harinya di sekolah, di ruang kerja atau yang lainnya. Bisa juga dilakukan dengan memberikan sentuhan lembut, bisa dengan pelukan atau mengelusnya

  • Memberikan Contoh Langsung dengan Tindakan

Selain dengan memberikan rasa nyaman anak, sebagai orangtua kita hendaknya juga memberkan contoh langsung. Istilahnya? role model.

Sebagaimana kita ketahui, anak-anak adalah para peniru yang ulung. Apa yang mereka katakan, apa yang mereka perbuat sedikit banyak tidak bakal lepas dari contoh yang digaungkan oleh orangtua di rumah.

Sama halnya dengan perilaku meminta maaf. Kalau suasana di rumah dipenuhi oleh cerita-cerita dan omelan bertajuk dendam kesumat, maka perlahan anak juga akan ikut-ikutan memetik sikap. Padahal, sikap tadi salah, kan?

Maka dari itulah, menunjukkan perilaku teladan merupakan jalan jitu membekali karakter anak sejak usia dini.

  • Memberi Tahu Jika Anak Berperilaku Salah

Sejatinya kita kadangkala memaklumi apa-apa saja kesalahan anak. Wajar, kan? Karena anak-anak belum sepenuhnya mengerti bin paham tentang mana yang baik dan mana yang buruk.

Tapi, kalau tidak diajarkan sejak dini atau ditegur, ya salah pula!

Jangan beranggapan bahwa anak kecil tidak apa-apa. Jika kita terlalu berpatokan pada hal tersebut maka secara tidak langsung Anda sudah mendidik anak untuk bebas melakukan apa saja. Anak menjadi tidak mengerti konsekuensi terhadap perilaku yang dibuatnya.

  • Terangkan Alasan Kenapa Harus Meminta Maaf

“Mengapa saya harus meminta maaf, kan dia yang mulai duluan! Dia yang salah! Kok harus saya!”

Hemm. Terkadang kalimat tersebut sering terucap oleh anak-anak kita yang emosinya sedang melonjak. 

Barangkali saat itu dia baru saja selesai berkelahi, atau...malah memancing keributan dengan teman sebelahnya. Kalau begitu, anak harus meminta maaf, kan? Tetapi, anak-anak yang imut-imut butuh alasan.

Jadi, jelaskan kepada anak kenapa mereka harus meminta maaf. Yang salah katakan salah, yang tidak baik katakan tidak baik. 

Hal ini penting agar nantinya anak sadar bahwa perbuatan menyimpang yang ia lakukan bakal berdampak tidak baik terhadap orang lain. 

  • Ajari Anak Untuk Menyelesaikan Masalahnya

Nah, yang mesti dipahami oleh orangtua adalah masalah belum tentu selesai meski sudah meminta maaf dengan tulus. Mengapa?

Karena yang namanya anak-anak belum tentu mampu dan mengerti tentang cara menyelesaikan masalah. Misalnya saja memperbaiki mainan yang dirusaknya, mainan yang direbut dikembalikan, dan lain sebagainya.

Kalimat sederhana yang perlu ditanamkan orangtua kepada anak-anak ialah “Menyelesaikan sesuatu yang telah dimulai”. 

Maksudnya, kalau ada yang rusak, maka hal tersebut perlu diperbaiki. Artinya, di sebalik permintaan maaf ada tindakan tanggung jawab yang perlu digaungkan.

  • Mengajarkan Empati Terhadap Orang Lain

Kepedulian selalu penting, dan sifat pendendam bakal mampu menghapus kepedulian tersebut. 

Secara tidak langsung, sikap tulus dalam meminta maaf telah mengajarkan anak untuk peduli, minimal peduli dengan hati dan dirinya sendiri. Sedangkan terhadap sesama?

Alhasil, kita juga jangan lupa untuk senantiasa mengajarkan rasa peduli kepada sesama. Misalnya terhadap teman, anggota keluarga, tetangga atau orang di jalan.

Rumusnya, semakin tinggi kepedulian, maka semakin tinggi pula derajat ketulusan di dalam hati. Begitu pula sebaliknya.

  • Menjadi Perantara dan Memberikan Apresiasi

Jika anak masih belum berani untuk meminta maaf, maka kita perlu menjadi perantara mengajarkan anak agar terbiasa meminta maaf dengan tulus. 

Misalnya saja anak berbuat salah dan harus meminta maaf, kita bisa mendampingi atau mengantarnya kepada pihak yang tertimpa salah. Entah itu kepada temannya atau pada anggota kelurga serta orang sekitar. Bantulah ia untuk mengucapkan permintaan maaf.

O ya, jangan lupa untuk selalu memberikan apresiasi jika anak sudah berani meminta maaf. Misalnya saja dengan memberinya pujian. Meskipun pujian tersebut kecil, anak akan merasa berhasil melakukan permintaan orangtua dan membuatnya senang. 

Dengan pujian tersebut akan memotivasi anak untuk mengulang meminta maaf jika dikemudian hari membuat kesalahan.

***

Demikianlah segenap cara yang bisa kita tempuh untuk mengajarkan anak agar terbiasa meminta maaf secara tulus. 

Sejatinya cara terbaik untuk mencegah sekaligus menghapus sifat pendendam pada anak ialah keteladanan orangtua. Alhasil, jangan bosan untuk menjadi orangtua terbaik untuk anak-anak, ya.

Sembari mendidik anak, barengi pula untuk mengajarkan mereka tentang membiasakan diri mengucapkan terima kasih dan etika apa saja yang diperlukan dalam meminta tolong.

Salam.

Lanjut baca: Hapus Kata-Kata Kotor, Lalu Viralkan Ungkapan Maaf, Tolong, dan Terima Kasih

Guru Penyemangat
Guru Penyemangat Menulislah untuk menebar manfaat kepada seluruh alam, karena menuangkan kata-kata juga merupakan jalan ninja menuju kebaikan.

6 komentar untuk "Awas, Pendendam! Begini Cara Mengajarkan Anak agar Terbiasa Meminta Maaf dengan Tulus"

  1. Terimakasih, sangat bermanfaat bagi kami sebagai orang tua

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih kembali, Tuan atas hadirnya. Salam sehat selalu.

      Hapus
  2. Benar Pak Guru. Hal-hal di atas saya terapkan sejak anak pertama, sampai anak ketiga ini. Sejak usia 4 tahun, sudah saya disiplinkan. Kesannya saya agak streng/keras. Sebab dulu saya tumbuh besar dengan intensitas kehadiran ibu bapak yg sangat kurang di sisi saya. Saya menperbaiki semuanya, saat punya anak-anak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, siap mantav, Bu Ika. Iya benar, Bu. Saya juga dulu dididik keras. Kalaupun sekarang anak2 dididik cukup keras itu wajar sih, krn berbagai macam tantangan kekinian sudah lebih ruwet dan rumit. Akhlak rawan bobrok.
      Mudah-mudahan saya sbg calon ortua bisa menerapkan tulisan ini.
      Hehehe
      Makasih Bu
      salam

      Hapus
    2. Benar, didikan dg sedikit keras dibarengi teladan dan tuntunan, anak akan mudah memahami.
      Sebenarnya bukan keras, tapi tegas. Jadi unsur memanjakan anak dg terlalu lembek sebisa mungkin dihindari.
      Ku aamiin kan doanya Abang guru, terima kasih, ya 😇🙏

      Hapus
    3. wkwk, yang udah punya anak lebih pengalaman dan tidak sekadar teori. wkwk

      Hapus

Berkomentarlah sesuai dengan postingan artikel. Mohon maaf, link aktif di kolom komentar tidak akan disetujui.