Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Follow Guru Penyemangat di Google News agar tidak ketinggalan tulisan terbaru tentang edukasi, materi belajar, dunia keislaman, soal ujian, motivasi, investasi emas, kesehatan dan fiksi. Klik di sini.
Gulir ke bawah untuk membaca artikel.

Cerpen: Memimpikan Tuhan

Cerpen: Memimpikan Tuhan

Oleh Muhammad Nur Faizi

Cerpen: Memimpikan Tuhan
Cerpen: Memimpikan Tuhan. Dok. Alihamdan.id

Malam datang, tubuh tersengat kantuk yang luar biasa. Pikiran yang sudah digunakan seharian, otot yang tak henti-hentinya menyelesaikan berbagai macam pekerjaan, diberikan kenikmatan dalam lelap. 

Tidur menjadi suatu aktivitas penting untuk memulihkan otot dan pikiran. Di saat tertidur, pikiran kita terhenti, terbawa halusinasi dengan harapan kebugaran di saat Tuhan membangunkan.

Entah apa yang terjadi, tiba-tiba dorongan bayangan datang menghampiri. Dalam semak-semak itu tubuh ini dibawa ke sebuah tempat yang menyeramkan.

Saya melihat berbagai penyiksaan, tangan diborgol dengan mulut ternganga. Dari tempat lain muncul bara api yang mengisi mulut manusia.

Terlihat perutnya kian bocor dilahap si merah dengan sekian derajat panasnya. Segera kupalingkan wajahku, tak sanggup melihatnya apalagi merasa jika diri ini menggantikan posisinya.

Tiba-tiba di sisi lain, saya menyaksikan seseorang yang kian bodohnya memukul kepalanya hingga pecah.

Ajaibnya kepalanya kembali utuh semula, dan dirinya terus memukul-mukul lagi hingga pecah kembali.

Kejadian itu terjadi berulang-ulang dan tidak bisa dibayangkan kesakitan seperti apa yang dirasakan. Terlihat wajahnya begitu menderita, namun tangannya tak kuasa diam memukul kepalanya. 

Angin berhembus kian kencangnya, membawa tubuh ke sisi taman yang dipenuhi dengan pepohonan. Berbagai buah-buahan siap tersaji untuk dimakan.

Terlihat orang-orang di taman satu per satu mulai memakan buah yang terlihat manis dan segar. Ada kegembiraan di wajah mereka. Senyuman mekar disambut tawa gembira dari penduduk sekitar.

Jelas suasana indah terasa menapaki setiap rasa buah yang mereka lahap dengan puasnya.  

Setelah puas memakan buah-buahan, mereka menghampiri sungai yang mengalir di pinggir taman. Air nya tampak jernih dan putih.

Dari kerumunan, kuping serasa gembira mendengar perkataan wanita cantik jelita. “Ahhh, rasanya seperti susu, manis dan menyegarkan”.

Rasanya tubuh ini kian ingin bergabung bersama. Menapaki setiap keindahan yang tersaji dalam sebuah taman.

Mengobrol, memetik buah, atau mungkin bertukar cerita tentang apa saja yang selama ini kita rasa. 

Namun apa ini, Ahhh tubuh nampak transparan, tak bisa menyentuh benda yang di depan. Hanya bisa memandang dengan sekali-kali membayangkan.

Aduh, tubuh ini kembali terlempar ke dalam ruang hitam tanpa ada siapapun yang datang. Tubuh ini menangis sejadi-jadinya melihat tangan bersedekap terlilit tali putih yang berada di sekitar badan. 

Berkali-kali meminta bantuan, namun gagal karena tubuh ini terpendam sekian dalamnya. Lagi pula ini tempat yang sepi, mana ada orang yang datang ke sini.

Paling hanya burung atau sejenis kumbang yang sebentar saja hinggap untuk mengambil nektar dari pepohonan.

Namun, tubuh ini tidak menyerah dan terus menerus meminta tolong pada siapapun juga yang berada di sekitar wilayah ini. 

Pada akhirnya diri ini mengingat sosok yang selalu setia menemani. Sosok yang selalu membantu walau tak mengharap untuk dibantu.

Mulut merapal mantra yang selalu terucap sebelum mata menutup. Kusebut namanya, kubayangkan sosok itu mendekat. Semakin dekat dan dekat sosok yang ku harap.

Sekarang diri ini merasakan hawa nyaman. Hati tiba-tiba terasa gembira. Wajah tersenyum dengan anehnya. Tubuh ini tiba-tiba terbangun dengan anehnya. 

Memang ada benarnya bila ada yang mengatakan “jika kau ingin merasakan kematian, pelajarilah mimpimu bekerja”.

Tak bisa dikendalikan, itulah nasib saat kita sudah masuk dalam kematian. Tubuh terbujur kaku namun bagian tubuh yang disebut sebagai arwah tak henti-hentinya melakukan petualangan yang kian hebatnya.

Baik buruknya petualangan tergantung pada keputusan Tuhan. 

Ada kalanya kita terlempar dalam jurang kegelisahan yang kian menakutkan. Serasa ada bahaya besar yang mengancam.

Sewaspada apa pun kita terhadap bahaya itu, tetap saja kita dikendalikan oleh keadaan. Kita tidak bisa menciptakan keadaan itu, kita hanya bisa menjalaninya.

Takdir kita hanya pasrah dan terus menikmati setiap petualangan yang terjadi. 

Di balik segala kepasrahan itu, ada satu jalan yang diberikan oleh Tuhan. Manusia dianjurkan melakukan antisipasi berupa pembacaan doa dan berbuat kebajikan sebelum memejamkan mata. 

Anjuran itu dipercaya sebagai ramuan pengusir takdir sial yang akan menimpa lewat bayangan mimpi. Anjuran ini pun sudah berkali-kali dibuktikan dan terpercaya sebagai solusi yang menakjubkan. 

Kening terletak di atas sajadah, seluruh tubuh kembali bekerja mendekat pada yang kuasa. Aku tahu mimpi yang baru saja aku alami adalah gambaran nyata dari sebuah keabadian.

Entah aku termasuk yang mana. Entah aku selamat atau tidak dalam peristiwa. Sekarang yang terpenting harus berdoa dan meminta ampun sebanyak-banyaknya.

Oh Tuhan, jika diri ini tidak engkau maafkan, lantas pada siapa kami akan berpulang?

Air mataku menetes membasahi sajadah. Tangan terangkat seraya meminta pengampunan sebesar-besarnya pada diri yang selalu salah.

“Tuhanku ampunilah diriku,” kataku berkali-kali terdengar.

Hatiku tak henti-hentinya membaca istigfar agar Tuhan sudi mengampuni diri yang berbuat ingkar. Agak lama aku berdoa, sampai tidak terasa adzan subuh memanggil diriku untuk kembali bersujud pada yang kuasa.

Boleh Baca: Cerpen Tentang Keajaiban Tuhan, Kembalilah ke Surau Kami

Kini, air wudu kembali membasahi badan. Sejuk kurasa dan sedikit dingin diterpa angin pagi. mulutku membaca takbir seraya memuji asma Allah nan suci.

Hati serasa bergetar merasakan kekuatan besar yang datang. Tiba-tiba seluruh badan berada dalam ketenangan.

Mulut terus merapal, hati terus bergetar, serasa nyaman berada di hadapan Tuhan. 

“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh” kataku sambil mengarahkan kepala ke kiri dan ke kanan.

Kepuasan batin tampak ada dalam kekagunganku memuji Tuhan yang Esa. Kini, diriku mulai diyakinkan bahwa keberadaan Tuhan benar adanya.

Dan hanya kepada dirinyalah diriku menyembah, meminta pertolongan, dan meminta ampun dari segala dosa. 

*

Waktu pagi berjalan, ibuku menyuruhku ke warung membelikan sejumlah barang belanjaan. Agak banyak memang, namun inilah yang bisa kulakukan untuk membantu orang tua.

Banyak tetangga yang menyapa. Ucapan selamat pagi, mau ke mana? atau ucapan basa basi lainnya senantiasa aku dengar di kanan dan kiri jalan perlintasanku. 

Aku memang dekat dengan warga sekitar. Hampir semuanya aku mengenalnya dan selalu saling sapa ketika saling bertemu dimanapun tempatnya.

Memang agak gerimis waktu itu, namun masih banyak ibu-ibu yang berebutan belanja. Nampak pedagang sayuran kewalahan meladeni setiap pembeli yang datang.

Aku menyaksikannya dengan sedikit tertawa pelan. Bagiku sebuah hiburan menyaksikan ibu-ibu saling tawar pada satu barang. 

Pada gilirannya, aku masuk di dalam kerumunan. Ah, akhirnya setelah lama menunggu, longgar juga tempat ini setelah dikeroyok ibu-ibu.

Nada suaraku agak keras mengucapkan barang-barang yang diperintahkan oleh ibu. Pedagang tersebut sangat detail mengingat setiap detail suara yang meluncur deras dari mulutku. 

“Ini semua belanjanya. Dik”, kata pedagang itu.

“Terimakasih, Bu, berapa semuanya?” Kataku. 

“Rp15.000 semuanya, Dik” katanya. 

“Baik, Bu, ini uangnya,” jawabku menyerahkan selembar uang Rp. 20.000. 

“Ini kembaliannya, Dik” ucap ibu sambil menyodorkan uang Rp. 5000. 

Aku kembali ke rumah menyapa ibu yang sedang memasak di dapur. Di penggorengan aku lihat ada telur dadar besar setengah matang. “Wah bakal makan enak nih” pikirku.

Ibu melirik ke arahku dan meminta sejumlah barang yang dia pesan. Aku menyerahkannya secara perlahan, karena ku tahu, ada beberapa butir telur yang rentan pecah terkena benturan. 

Setelah selesai urusan dapur ku kerjakan. Aku berjalan-jalan di sekitar kampung untuk menenangkan pikiran.

Burung bersautan di ranting-ranting pohon. Di bawahnya terlihat sekelompok anak kecil membawa sebuah perangkap untuk menangkap burung.

“Jangan berisik,” kata salah satu anak itu.

Mereka mengendap-endap dan memasangkan jebakan pada sebuah pohon yang mereka duga banyak burung berkeliaran di sekitar sana.

Rupanya umpan itu bukanlah satu-satunya, tapi ada 3 umpan yang aku tahu setelah melihat beberapa pohon di sekitarnya.

Setelah yakin perangkap mereka aman, mereka bermain sambil menunggu burung masuk ke dalam perangkap yang mereka pasang.

Aku melanjutkan perjalanan ke aliran air sungai. Cukup panjang aku berjalan mengikuti arus air yang mengarah pada satu tampungan yang besar.

Di sana aku melihat banyak ikan berenang dan bertabrakan karena jumlah ikan yang ada tidak terhitung jumlahnya.

Lama sekali aku menatap, dan terpikir ide untuk memancing di sekitaran tampungan ini. Aku kembali ke rumah dan mencari pancing serta umpan yang cocok digunakan di sana.

Kembalinya ke tempat pemancingan, ternyata ada Kang Usman yang sudah duduk memasang umpan. “Wah asyik nih ada temennya,” batinku.

Segera kubergegas duduk di samping Kang Usman dan menyapanya dengan penuh kegembiraan. 

“Udah dapat berapa, Kang,” tanyaku. 

“Belum nih, baru aja tadi Akang nyampai ke sini,” jawabnya. 

“Aku duduk disini ya, Kang,” kataku. 

“Monggo,” kata Kang Usma singkat. 

Bunyi air bersautan kian dekat ke mata kail saya. Terlihat ada lima atau sepuluh ikan di sana yang siap menyantap umpan yang saya berikan.

Agak lama umpan saya dimakan, dan tiba-tiba terasa ada tarikan-tarikan kecil yang menandakan umpan saya dimakan.

Setelah kesekian kalinya saya merasakan, akhirnya saya mengangkat pancing. Tampak ada ikan Nila berukuran sedang tersangkut di pancing saya. 

Saya meletakkan ikan tersebut dalam bakul. Kemudian kembali melemparkan pancing. Sejenak saya merenung dalam kesunyian pemancingan.

Apakah ikan ini benar milik saya? Lantas siapa yang memberinya?. Kapan pemberi itu datang kepada saya, dan menyerahkan ini semua?. Pertanyaan itu muncul begitu saja merasuki kepala saya. 

Kemudian saya ingat dengan perkataan guru saya “manusia adalah pemimpin seluruh alam semesta. Daripadanya keseimbangan alam dipercayakan Tuhan untuk diolah dan dimakmurkan.”

Sejauh itu, saya mulai memahami akan konsekuensi saya diciptakan. Bagaimana saya hidup dan untuk apa saya dihidupkan. 

Saya menelisik lebih jauh lagi akan kuasa apa saja yang manusia dapatkan. Benarkan setiap nyawa dari hewan dan tumbuhan dipasrahkan kepada manusia?

Misalnya ikan yang saya tangkap, benarkah saya halal membunuhnya? Apa benar nyawa dari ikan ini dititipkan atas kebijakan dari saya?

Entahlah, rasanya semua pertanyaan itu sulit aku temukan jawabannya. Banyak koreksi atas gaya hidup saya, yang bertentangan jauh dengan dasar penciptaan.

Tuhan yang sudah memberikan saya kesempatan mengelola semua, rasanya masih jauh harapan dari apa yang saya berikan. Berulang kali, saya tekedor dalam mengambil keputusan. 

Bayangkan saja, untuk ikan yang baru saya tangkap, langsung saya masukan dalam wadah. Saya lupa mengucap syukur, saya lupa mempertimbangkan kehidupan ikan secara keseluruhan, dan lupa memperhatikan segala hal yang menjadi keluputan menjaga seluruh alam.

Semua kesalahan itu seakan lenyap ditimpa keegoisan pribadi yang terus terpatri dalam ketamakan diri. 

Kembali ku mengucap syukur atas apa yang terjadi. Rasanya Tuhan sudah berbaik hati memberikan semua hal yang kini aku miliki.

Boleh Baca: Cerpen Tentang Rasa Syukur, untuk Apa Diri Ini Dilahirkan?

Tidak bisa terbayangkan, bagaimana jika seandainya Tuhan murka, pastilah diriku ini akan binasa. Sejauh mana aku melangkah, selalu aku tersemat keagungan Tuhan.

Sudah berapa lama, dan entah berapa jauh lagi aku melangkah, yang pasti Tuhan akan selalu bersama dan selalu ada untuk seluruh makhluknya. 

Aku selalu terperanjat dalam setiap peristiwa. Aku kagum akan kuasa Tuhan yang selalu membuat makhluknya tidak bisa berkata-kata.

Tidak ada sedikitpun kesalahan yang ada pada dirinya. Dan cobaan sekali pun yang ditimpakan pada manusia, merupakan wujud dari kemurahan dari Tuhan yang Maha Esa. 

Rasanya aku ingin bermimpi lagi. Mewujudkan rasa kepuasan diri menatap semua keagungan yang diberikan Tuhan.

Entah berapa lama waktu yang ku dapat, aku sangat menantikan waktu itu berjalan lambat. Entah satu hari, dua hari, ataupun beberapa tahun lamanya, aku ingin selalu menantikan saat-saat bersama Tuhan. 

Maka bagaimana kiranya hati ini dapat berpisah dengan kemuliaan yang Tuhan berikan?

Pastilah hati ini tidak mampu dan akan menolak sekuat tenaga akan semua peristiwa itu. Hati ini akan selalu rindu bersyukur, bersujud, dan bertemu dengan Tuhan dalam waktu yang lama.

Entah dalam kenyataan ataupun mimpi, hati ini akan merasa bahagia jika bersama Tuhan yang Maha pemurah lagi penyayang kepada makhlukNya.*

Guru Penyemangat
Guru Penyemangat Menulislah untuk menebar manfaat kepada seluruh alam, karena menuangkan kata-kata juga merupakan jalan ninja menuju kebaikan.

Posting Komentar untuk "Cerpen: Memimpikan Tuhan"