Widget HTML #1

Cerpen: Hidup Berat Yolanda

Cerpen: Hidup Berat Yolanda

Oleh Fahmi Nurdian Syah

Cerpen Hidup Berat Yolanda
Cerpen Hidup Berat Yolanda. Gambar oleh Piyapong Saydaung dari Pixabay

Semua orang tua menginginkan anak yang sempurna. Mereka harus sempurna di segala hal agar orang tua dipuji banyak orang.

Namun, tanpa disadari, anak dibebani, jika mereka tak bisa menuruti apa yang orang tua inginkan, mereka akan dihukum.

Bagi beberapa orang tua, hal ini sah-sah saja dilakukan.

Asal, mereka mendapatkan predikat sebagai orang tua terbaik. Padahal bagi si anak, itu adalah mimpi buruk.

Anak manis itu entah kenapa datang dengan wajah murung. Biasanya senyum terukir, dia menyapa semua teman-temannya dan berlari bersama mencapai kelas.

Tidak hanya guru-guru yang bingung, orang tua murid pun juga. Ibu si anak tidak ikut mengiringinya ke dalam kelas.

Dia sudah melaju pergi, meninggalkan anak berusia 5 tahun itu untuk mengejar pekerjaannya.

"Sayang, ada apa?" Salah satu guru yang menatapnya berjongkok, mengaitkan rambutnya ke belakang telinga. 

"Yolanda, kamu kenapa? Kok murung?" tanya Bu Ani, seorang guru TK. Dagunya lancip, matanya bulat, hidungnya mancung. Semua anak di TK Anggrek sangat menyukainya.

Anak bernama Yolanda itu segera mendongak. Dia meraih tangan Bu Ani di pipi dan menciumnya. 

"Assalamu'alaikum, selamat pagi," sapanya, dengan suara cadel. 

Bu Ani tersenyum, lalu menyahut salam, kemudian mengelus kepalanya. Ia berdiri, menyuruh anak itu untuk segera masuk ke kelas.

Sementara dia duduk di kursi, Bu Ani memandang rekan-rekan gurunya. Mereka semua berpikiran sama, Yolanda sedang tidak baik-baik saja.

***

"Kamu kenapa bisa dapat 80?"

Biasanya nilai standar menggambar anak-anak TK adalah 80.

Guru-guru tetap memberikan nilai itu sebagai bentuk apresiasi kecil pada anak-anak didiknya karena telah menuangkan imajinasi, meskipun gambar mereka jelek.

"Kenapa?"

Yolanda melompat di tempat karena kaget. Matanya berlinang, dia mengusap kembali air matanya. 

Dengan lirih ia menjawab, "Kan standarnya memang 80, Bunda."

Ibu Yolanda, Fenya, menggeram tak suka. 

"Biasanya 90, atau 80,5--yang melebihi nilai teman-temanmu." 

Ia kembali menatap gambar putrinya yang merupakan pemandangan dengan dua gunung, dua jalan, satu rumah, satu pot bunga, dan satu sawah bersama rumputnya yang berbentuk kaki ayam terbalik. 

"Yang lain berapa?" Tidak ada suatu kelembutan apa pun pada nada bicaranya. 

Yolanda lekas menjawab, "Ada yang 70, ada yang 75." Yolanda berbohong. 

Ia tidak mau jujur karena takut punggungnya ditampar. Tepat saat itu, ayah Yolanda pulang.

Fenya langsung mengadu perihal nilai menggambar Fenya. Ayah Yolanda tampak marah setelah mendengarnya, hanya saja ditahan.

"Nilai kegiatan yang lain berapa?" tanya ayahnya itu.

"Bagus-bagus. Di atas 90 semua."

Esok paginya, Yolanda berjalan lesu. Dia dibangunkan pagi-pagi padahal dia tidur hampir jam 11 malam karena disuruh mempelajari aljabar diawasi ibunya langsung. 

Setelah mengerjakan 5 soal, dia kelelahan dan tertidur di atas meja tulis berwarna pink-nya.

Pagi-pagi sekali, ibunya menyuruh Yolanda untuk kembali mengerjakan aljabar. Setelah itu, ia mandi dengan air dingin dan makan bersama.

Yolanda lesu karena dirinya kurang tidur, membuatnya tak bisa fokus bermain petak umpet dengan teman-temannya.

Warna hitam melingkar di tepi mata. Dia diejek oleh teman-temannya karena mirip panda.

Bu Ani yang kebetulan ada di sana, menghampiri Yolanda. Bu Ani seketika kaget melihat mata anak itu yang menahan kantuk. 

"Kamu kurang tidur?" tanya Bu Ani. 

Yolanda langsung menyembunyikan uapnya. "Tidak, Bu Guru."

"Jujur, Ibu tahu kok kamu mengantuk. Istirahat saja ya. Nanti Ibu bangunkan pas waktunya belajar." Yolanda pada akhirnya mengangguk.

Ia berjalan ke dalam kelas, lalu mengambil bantal. Bu Ani menyelimutinya dengan selimut dan mengelus-elus kepalanya. Tak berapa lama kemudian, dia pun tidur.

Sepulang dari sekolah, Yolanda mati-matian menyuruh Bu Ani yang mengantarkannya ke gerbang depan untuk dijemput agar tidak memberitahu kalau ia tertidur di sekolah. 

Bu Ani menanyakan kenapa, Yolanda tidak berani menjawab. Yolanda segera diangkut ke dalam mobil orang tuanya dengan Bu Ani yang sempat bertegur sapa dengan Fenya.

Bu Ani merasa curiga kalau Yolanda memiliki masalah dengan orang tuanya. Dan mungkin dia disakiti jika orang tuanya mendengar hal buruk tentang dirinya.

Boleh Baca: Cerpen Andra yang Dikucilkan

Bu Ani pun memikirkan cara untuk membuktikan anggapannya.

Entah kenapa pagi ini semua wali murid disuruh datang ke TK.

Katanya, akan ada pameran seni gambar dari anak-anak TK. Semua orang tua memenuhi undangan pihak pengelola TK termasuk Fenya.

Dinding-dinding kelas ditempeli hasil gambar yang sekelas dengan Yolanda Semua orang saling memuji karya anak lain di depan orang tua mereka. Mereka ter-haha-hihi, merasa lucu akan gambar di dinding.

Sedangkan Fenya menatap rendah semua gambar yang ditempel. Bu Ani mengiringinya.

Wanita berkulit sawo matang itu diam-diam merendahkan segala karya teman-teman Yolanda.

"Nah, ini dia gambar anak Anda." Atensi Fenya teralihkan kalau Bu Ani berhenti dan menunjuk sebuah gambar yang sangat bagus yang diwarnai dengan krayon.

Di bawah gambar, terdapat sebuah kertas yang direkatkan dengan isolasi bening. Tertulis nama Yolanda dan nilai yang dia raih di gambar itu.

Gambar itu adalah gambar terindah di kelas itu. Semua wali murid memuji hasil tangan seorang anak di kelas tersebut, menolak gambar tersebut mendapat nilai 60. 

Sebenarnya disengaja karena Bu Ani ingin melihat secara langsung tanggapan orang tua Yolanda.

"Apa-apaan." Fenya terbelalak tak percaya. Dia lekas memanggil anaknya dengan suara agak dikeraskan, memancing perhatian orang-orang untuk sejenak.

Yolanda datang dengan kaki gemetar.

Baru saja Fenya hendak menanyakan kenapa anaknya bisa dapat nilai enam, Bu Ani terlebih dahulu berkata, "Aku sengaja melakukannya." Si lawan bicara menoleh pelan dengan mata berapi-api.

"Anda mempermalukan saya," katanya. Bu Ani mendatarkan wajah. "Apakah tidak cukup Anda mendapatkan anak yang bisa menutupi kesalahan gurunya?"

Fenya terdiam. Bu Ani menyambung, mendekatkan diri karena tidak mau nama baik Fenya kotor. "Yolanda berhasil menutupi kekerasan di punggungnya dengan sempurna. 

Jika tidak Anda, maka ayahnyalah pelakunya. Aku ingin memberi peringatan karena Yolanda bukan anak yang harus menjadi sempurna sedini ini," bisiknya.

"Kau." Fenya menggeram. "Yolanda adalah anakku, kenapa malah kau yang repot?"

"Aku tidak terima kau memgajari anakmu seperti ini. Sebagai seorang guru, aku hanya menuntut anak didikku untuk berkata jujur, bukan menguasai cara mewarnai sebuah gambar dengan krayon seindah mungkin tau mempelajari buku berat untuk anak berusia 12 tahun."

Boleh Baca: Cerpen Katakan Saja Jangan Kau Pendam

Perhatian orang-orang pun teralihkan karena Bu Ani dan Fenya bertatap mata sengit. Fenya lekas pergi dan mencekal lengan putrinya, begitu kasar.

Dia menghentak-hentakkan kaki saat ke luar ruangan dengan Bu Ani yang menyusul. Dia meraih ponsel di perjalanan menuju motornya dan menelepon seseorang.

Dalam perjalanan ke rumah, Fenya tak henti menjambak rambut Yolanda yang mengaku jujur kalau ia telah disakiti pada gurunya.

Ia menarik rambut anak itu saat mobil berhenti, memaksanya keluar dan akan mengurungnya di kamar.

Namun, sesuatu yang tak diharapkan, terlihat. Baru saja membuka pintu, Fenya kaget mendapati suaminya diikat.

Dia semakin kaget mendengar derap langkah dari pintu depan. Ia lekas melepas Yolanda, membiarkan anak itu meredakan tangis kesakitannya.

Akhirnya, ia direngkuh Bu Ani yang datang pada saat yang tepat bersama beberapa petugas berseragam.

Fenya terlambat melarikan diri dan itu membuatnya menemui pihak berwajib bersama sang suami.

Yolanda didampingi Bu Ani menghadap ke seorang psikolog anak untuk meredakan trauma Yolanda akan keluarga sendiri.

Seiring berjalannya hari, dia bisa menoleransi masa yang telah lalu.

Sebagai hukuman, Yolanda akan diasuh oleh Bu Ani dengan Fenya dan ayah Yolanda ditahan beberapa bulan.

Yolanda menyukai keputusan itu, namun terkadang dia merindukan orang tuanya. 

Katanya, tanpa ayah dan ibunya, ia tidak akan tahu apa pun dan mungkin terlambat mengetahui sesuatu karena sibuk bermain.

Tak ada salahnya mendidik anak sedini mungkin untuk menguasai berbagai macam hal. 

Hanya saja perlu diingat kalau anak kita masih kecil dan membutuhkan waktu bermain, juga berkumpul bersama teman-teman sebayanya.

Memaksa anak sana sekali bukan cara yang baik agar anak menurut, agar semua orang menyangka kalau yang mendidik telah mendidik si anak dengan baik.

Anak kecil memang tidak tahu apa-apa, tapi hatinya mudah terluka. Usia masih muda, mereka masih belum siap hidup dalam paksaan dan tekanan.

Jika terus dipaksa, kondisi mentalnya akan terganggu dan memengaruhi karakternya.

Jika kita tidak ingin mendapatkan anak dengan karakter buruk, maka hargai dia.

***

Guru Penyemangat
Guru Penyemangat Guru Profesional, Guru Penggerak, Blogger, Public Speaker, Motivator & Juragan Emas.

Posting Komentar untuk "Cerpen: Hidup Berat Yolanda"