Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cek, Apa Saja Faktor yang Membuat Siswa Tidak Semangat Belajar di Era Pandemi?

Apa Saja Faktor yang Membuat Siswa Tidak Semangat Belajar di Era Pandemi
Apa Saja Faktor yang Membuat Siswa Tidak Semangat Belajar di Era Pandemi. Dok. Gurupenyemangat.com

Belajar di masa pandemi, kira-kira seberapa semangat para siswa dalam menghadapinya? Atau, jangan-jangan derajat kemalasan semakin bertambah?

Ehem. Susah untuk dijawab, ya, karena semangat belajar tiap-tiap orang itu berbeda. Siswa A bisa saja bersemangat dalam belajar ketika guru menggunakan metode B, tapi dengan metode ajar yang sama, siswa B, C, dan D belum tentu sama derajat semangatnya dengan siswa A.

Maka dari itu, diperlukan banyak apsek dan tinjauan untuk membangkitkan semangat belajar anak-anak sebagai generasi bangsa. Terutama di era pandemi.

Untuk mencari jalan membangkitkan semangat belajar, tentunya baik orang tua maupun guru perlu mengetahui beragam faktor yang memengaruhinya.

Maka dari itu, di sini Gurupenyemangat.com bakal menghadirkan beragam faktor yang menjadi komponen utama berkurangnya semangat belajar siswa di masa pandemi.

7 Faktor yang Membuat Siswa Tidak Semangat Belajar di Era Pandemi

7 Faktor yang Membuat Siswa Tidak Semangat Belajar di Era Pandemi
7 Faktor yang Membuat Siswa Tidak Semangat Belajar di Era Pandemi. Dok. Gurupenyemangat.com

Setidaknya ada 7 faktor utama yang Guru Penyemangat rangkum sebagai penyebab alias alasan mengapa siswa tidak semangat belajar di era pandemi.

Munculnya beragam faktor ini didapat dari pengalaman pribadi sebagai seorang guru sekaligus beberapa fenomena yang terjadi di dunia pendidikan selama pandemi corona.

Oke, langsung disimak saja, ya:

1. Belum Merasa Butuh dengan Materi Ajar

Sadar atau tidak, semua orang akan menekuni sesuatu selagi dirinya merasa butuh.

Terkadang, tak peduli bahwa sesuatu itu sulit atau bahkan menjadi hal yang baru, tetap akan diusahakan semaksimal mungkin karena sejatinya si dia sudah merasa perlu.

Tidak jauh berbeda, siswa juga demikian. Siswa akan semakin semangat belajar ketika mereka merasa bahwa materi ajar itu benar-benar dibutuhkan.

Kapan siswa merasa butuh?

Biasanya siswa akan merasa butuh ketika sebuah materi ajar dekat dengan mereka, dekat dengan kehidupan mereka, atau malah baru-baru ini sedang mereka alami.

Semisal; ada pelajaran Matematika yang contoh soalnya tentang menghitung hasil panen padi dengan luas sawah tertentu.

Siapa siswa yang merasa butuh dan paling bersemangat untuk mempelajari hal tersebut?

Tentu saja siswa yang baru saja menanam padi, siswa yang punya sawah dan sedang menanam padi, atau siswa yang belum lama ini membantu orang tuanya memamen padi.

Lho, kok sederhana sekali, ya? Memang terlihat sederhana, tapi sesungguhnya kesederhanaan gagasan ini sangatlah krusial.

Materi ajar yang tertuang dalam buku siswa selama ini belum begitu kental dengan fenomena, masih banyak yang isinya hanya teori kognitif sehingga hanya diingat siswa sebatas hafalan.

2. Beban dan Tuntutan Belajar Terlampau Tinggi

Banyak tugas, banyak PR, kemudian siswa enggan untuk mengerjakannya saat belajar di rumah semasa pandemi. Pertanyaannya, apakah siswa tadi malas?

Tunggu dulu. Jangan terlampau cepat mengambil kesimpulan dan menebak bahwa siswa tidak mau mengerjakan PR maupun tugas.

Baca Juga: Ragam Kekurangan dan Kendala Belajar di Era Pandemi

Terkadang, siswa itu merasa terbebani dengan tugas yang banyak, tugas yang melimpah, sedangkan waktu pengerjaannya sangat mepet. Ya, mata pelajaran di sekolah tidak hanya satu, kan?

Sedihnya, siswa tidaklah semandiri itu. Semangat siswa dalam belajar di rumah tidaklah sekonsisten itu.

Lebih jauh, sesekali siswa juga menerima beban ajar yang terlampau tinggi. Salah satu penyebabnya ialah sikap guru yang kejar-kejaran materi demi menuntaskan kurikulum.

Gara-gara pandemi, kegiatan belajar-mengajar mungkin terhambat dan materi ajar pun banyak yang telat. Jadi, gara-gara tuntutan kurikulum siswa pun disajikan segunung beban. Hiks

3. Terus-terusan Belajar

Benar bahwa belajar itu berlangsung sepanjang hayat. Setiap hari kita belajar, setiap saat kita belajar, bahkan seketika sedang bermimpi pun kita belajar.

Walau begitu, bukan berarti seorang siswa rela untuk terus-terusan belajar. Entah itu siswa usia anak-anak maupun remaja, mereka pasti butuh istirahat, butuh refreshing, butuh ice breaking.

Dengan demikian, akan sangat baik bila guru tidak terus-terusan memaksa siswa belajar. Fokus mereka tidak akan berlangsung lama. Manfaatkan saja fokus siswa tersebut secara maksimal.

4. Lingkungan Belajar Tidak Nyaman

Lingkungan belajar menurut Gurupenyemangat.com akan berpengaruh besar terhadap semangat atau tidaknya seorang siswa dalam aktivitas belajar.

Meja belajar yang kotor, kursi belajar yang goyang-goyang, tinta spidol di papan tulis yang buram, hingga suasana ruangan yang terlalu riuh bisa menyebabkan seorang siswa menjadi runtuh semangat belajarnya.

Benar. Mungkin ada beberapa siswa yang tetap bisa fokus belajar walau dalam suasana ramai, tapi, apakah hal tersebut berlaku untuk semua siswa? Nyatanya tidak.

Sebelum belajar seorang siswa butuh kenyamanan terhadap apa yang ia lihat, apa yang ia dengar, hingga apa yang ia rasakan.

Setelah semua dirasa lengkap, barulah mereka mempertimbangkan apakah akan tetap semangat belajar atau malah biasa-biasa saja.

Baca juga: Kumpulan Poster Semangat Belajar di Masa Pandemi

5. Guru Kurang Perhatian

Tidak ada siswa yang senang belajar satu arah. Maka dari itulah pendekatan pembelajaran dengan sistem ajar teacher centered learning mesti segera ditinggalkan. Hampir tiada gunanya guru mengoceh bahkan hingga berjam-jam di kelas tanpa adanya interaksi.

Sia-sia saja.

Kecuali yang dibicarakan itu adalah intruksi atau cerita humor, mungkin siswa akan lebih fokus dan mau menyimak.

Pada dasarnya, siswa itu butuh perhatian saat belajar. Mereka sesekali ingin ditanya, ingin menjadi salah satu objek belajar, menjadi subjek belajar, atau bahkan berkontribusi langsung di setiap materi ajar.

Ketika guru peka dengan semua itu, siswa akan merasa dirinya “ada” dan “dianggap” dalam pembelajaran. Alhasil, di sanalah titik balik semangat belajar untuk segera bertumbuh.

6. Media Belajar Kurang Menarik

“Pak, Saya mau belajar tapi buku paketnya kurang?”

“Duduk berdua saja, ya. Bukunya cuma cukup satu untuk dua orang siswa.”

“Pak, besok kita belajar menggunakan media LCD Proyektor ya Pak?”

“Wah, belum bisa, Nak. Kebetulan LCD Proyektor sudah rusak.”

“Pak, bisa tidak besok kita belajarnya menggunakan video belajar yang ada animasi-animasinya gitu, Pak?”

“Wah, Bapak tidak bisa, Nak. Lain kali saja ya.”

“Pak, kapan kita belajar dan praktik di taman sekolah lagi?”

“Sementara ini kalian cukup mencatat materi di papan tulis dan buku saja, ya.”

Yup. Beberapa percakapan di atas mungkin bisa mewakili bagaimana media belajar yang kurang menarik mampu meruntuhkan semangat belajar siswa. Terlebih lagi semasa pandemi.

7. Gangguan Belajar

Jika keenam faktor di atas telah terpenuhi namun siswa malah belum kunjung semangat belajar, maka mungkin saja siswa tersebut sedang mengami gangguan belajar.

Sebagaimana yang Gurupenyemangat.com kutip dari rsmeilia.co.id, ada 6 jenis gangguan belajar yang sering dialami siswa yaitu:

  • Disleksia (Dyslexia), yaitu gangguan belajar yang memengaruhi membaca dan /atau kemampuan menulis.
  • Diskalkulia (Dyscalculia), yaitu gangguan belajar yang memengaruhi kemampuan siswa dalam memecahkan masalah matematika dan menangkap konsep-konsep dasar aritmatika.
  • Disgrafia (Dysgraphia), yaitu ketidakmampuan dalam menulis, terutama menulis bentuk surat atau tertulis dalam ruang yang didefinisikan.
  • Gangguan pendengaran dan proses visual (Auditory and visual processing disorders), yaitu gangguan belajar yang melibatkan gangguan sensorik. Seorang anak memiliki kesulitan dalam pemahaman bahasa, baik tertulis atau auditori (atau keduanya).
  • Ketidakmampuan belajar nonverbal (Nonverbal Learning Disabilities), yaitu gangguan belajar dalam masalah dengan visual-spasial, motorik, dan keterampilan organisasi yang dapat mengakibatkan masalah sosial.
  • Gangguan bahasa spesifik (Specific Language Impairment (SLI), yaitu gangguan perkembangan yang memengaruhi penguasaan bahasa dan pengaplikasiannya.

Bagaimana Cara Meningkatkan Semangat Belajar Siswa di Masa Pandemi?

Cara termudah untuk meningkatkannya adalah mencari solusi dari ketujuh faktor yang membuat siswa tidak semangat belajar sebagaimana yang sudah diulas di atas.

Perlu dipahami bahwasannya metode, strategi, pendekatan, bahkan sistem mengajar guru di kelas A tidak selalu ampuh bila diterapkan ke kelas Z.

Maka dari itu, diperlukan variasi mengajar yang didasarkan atas kreativitas, fenomena, pengalaman, serta motivasi belajar siswa.

Sebaiknya seorang guru jangan terjebak di dalam metode ajar karena sebagus apa pun sebuah metode ajar belum tentu bisa membangkitkan semangat siswa jikalau penerapan tekniknya salah.

Yang terpenting, gurunya terlebih dahulu yang perlu meninggikan semangat mengajar. Mengapa begitu?

Jawabannya sederhana. Bagaimana mungkin guru bisa menyemangati siswa dalam belajar sedangkan dirinya saja belum semangat?

Salam.

Lanjut Baca: Tips Agar Guru Selalu Semangat Mengajar di Sekolah

Guru Penyemangat
Guru Penyemangat Menulislah untuk menebar manfaat kepada seluruh alam, karena menuangkan kata-kata juga merupakan jalan ninja menuju kebaikan.

Posting Komentar untuk "Cek, Apa Saja Faktor yang Membuat Siswa Tidak Semangat Belajar di Era Pandemi?"

Promo Cashback & Voucher Shopee