Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pentingnya Menghargai Diri Sendiri, Karena Hidup Ini Tak Seindah Serial Doraemon

 “Aku ingin begini. Aku ingin begitu. Ingin ini, ingin itu banyak sekali. Semua, semua, semua dapat dikabulkan. Dapat dikabulkan dengan kantong ajaib. Hey! Baling-baling bambu! La, la, la. Aku sayang sekali. Doraemon...”

Begitulah lirik singkat serial Nobita dan Doraemon yang sungguh populer hingga hari ini.

Semua orang baik yang tua, muda, remaja, dewasa, bahkan purna seakan tidak pernah bosan bin suntuk menonton aksi Nobita dan kawan-kawan. 

Apalagi di zaman bahuela, zaman di mana Android belum terkenal dan layar televisi masih menjadi primadona. Setiap hari Minggu, anak-anak seakan tak mau pindah dan hanya mau duduk di depan televisi. 

Hadir begitu banyak anime dan serial anak-anak yang ngangenin. Duh, nikmatnya!

Pentingnya Menghargai Diri Sendiri, Karena Hidup Ini Tak Seindah Serial Doraemon
Stand By Me (Doraemon). Dok. Medcom.id

Tapi tenang, nikmat tersebut belumlah berlalu. Salah satu kenikmatan yang kiranya masih bersanad hingga hari ini ialah serial Nobita dan Doraemon. 

Kartun yang berkisah tentang alat-alat canggih abad ke-22 sebagai penolong kesulitan hidup manusia ini tidak jenuh ditonton, walaupun tiap minggu tayangannya (hampir) selalu diulang-ulang.

Tapi, herannya, Nobita kok enggak gede-gede, ya? Sizuka kok enggak pandai-pandai main biola, ya? Suneo masih gitu-gitu aja, bahkan Giant masih belum kurus! Ehem.

Serial Doraemon dan Ketergantungan Manusia Terhadap Alat

Kartun Doraemon sangat menghibur? Oke, fix. Kesimpulan awal ini tak bisa disanggah. Meski begitu, bila kita tilik lebih jauh, agaknya serial ini nilai edukasinya tidak melulu mengena bila kita bawa ke alam nyata.

Secara, Nobita yang sejatinya menjadi pemeran utama film adalah seorang anak SD yang manja, malas belajar, serba sial, dan selalu bergantung dengan alat-alat canggihnya Doraemon. Motivasinya mudah goyah.

Memang benar bahwasannya setiap kali Doraemon meminjamkan alat-alatnya, Nobita selalu dimarahi dan dinasihati terlebih dahulu. Tapi, apakah nasihat itu bisa menjadi pengubah hidup Nobita?

Sayangnya tidak. Dan pada banyak pisode lainnya, Nobita tida berubah, hanya begitu-begitu saja dan selalu bergantung dengan alat. 

Nilai ujiannya di sekolah selalu dapat nol, dan Nobita lebih asyik menikmati tidur siang dan kemalasan daripada mengubah gaya hidup.

Aku malah berpandang gagas begini. Jangan-jangan Nobita kurang menghargai dirinya? Ya, seakan-akan alatnya Doraemon yang semakin menghancurkan hidup Nobita karena ketergantungan.

Ketika kita berbicara tentang kehidupan segenap insan di dunia nyata, hal seperti itu barangkali berbahaya dan sama sekali tidak mengajarkan tentang kemandirian. 

Jujur saja, peralatan canggih yang ditawarkan untuk memudahkan hidup manusia malah berganti peran menjadi sesuatu yang memperalat diri.

Bukan manusia yang menggunakan alat dengan bijak, melainkan alat yang mengatur kebijakan-kebijakan tentang bagaimana seharusnya diri bersikap. Hemm. Emangnya enak kalo digituin!

Permisalan sederhana, yaitu Smartphone. Sebagai benda yang canggih, smartphone hampir tidak bisa lepas dari kehidupan manusia di alam nyata. Bahkan, saking hebatnya Smartphone, alam nyata dan alam maya sampai-sampai tiada bedanya lagi. Sama-sama penting. 

Manusia sanggup online 24 jam bahkan lebih demi mempertahankan eksistensinya di alam maya. Padahal, di alam nyata? Ia seakan tak berdaya. Smartphone-nya nge-drop sehari saja, mungkin hidup seseorang akan semrawut dan tak tentu arah. Bahaya, bukan?

Pentingnya Menghargai Diri Sendiri, Karena Hidup Ini Tak Seindah Serial Doraemon

Kita adalah manusia, dan sebagai manusia, jangan sampai kita diperalat oleh yang namanya alat. 

Ketergantungan terhadap alat dan teknologi sesungguhnya hanya menjadikan diri seseorang semakin lemah. Padahal, alat seharusnya mampu menghadirkan kemudahan hidup.

Terkadang, orang rela mengorbankan kejujurannya demi eksistensi, mengorbankan auratnya demi viral, bahkan mengorbankan “reputasi” orang lain demi naik daun sendiri.

Terus terang saja ini alamat bahaya. Bagaimana tidak bahaya, andai suatu hari alat tidak mampu menjalankan perannya, maka kita lah yang rugi. Karena selama ini selalu bergantung dengan alat, maka ketika alat itu sudah tidak ada, kita bisa saja kesusahan menjalani hidup.

Nah, mulai sekarang, sebaiknya diri ini lebih bijak dalam mengonsumsi dan menggunakan alat-alat canggih yang tersebar di jagat ini. 

Belajarlah untuk lebih menghargai diri karena sesungguhnya penghargaan terhadap dirilah yang akan menuntun kita ke jalan yang lebih mandiri. Ya, betapa pentingnya menghargai diri sendiri.

Semakin mandiri seseorang, maka semakin kuatlah ia untuk melepaskan diri dari ketergantungan. Alhasil, ia akan semakin sadar bahwa dirinya punya potensi yang tak terbatas alias unlimited.

Tapi, bukan berarti alat-alat yang ada di sekitar kita seakan tak punya nilai manfaat, ya! 

Semuanya tentu berguna ketika kita mampu memanfaatkan kegunaan itu dengan bijak dan seperlunya. Tinggal bagaimana caranya kita memanajemen diri agar tidak melulu bergantung pada alat.

Toh, kenyataannya hidup ini tak seindah serial Doraemon, kan? Di saat kita susah, belum tentu banyak orang lain yang mau dan mampu menolong. 

Ketika kita sakit, belum tentu ada banyak orang yang mau menjenguk. Bahkan, ketika kita sukses, masih saja ada orang yang mau menjatuhkan.

Tidak terpungkiri memang, hidup tak semudah apa yang kita pikir sekaligus perencanaan. 

Bumi berputar, dan seiring dengan perputaran bumi, takdir diri juga akan berjalan. Ada takdir yang memang sudah haq ketentuannya, dan ada pula takdir yang bergantung pada diri kita sendiri.

Sebagaimana kalam Allah dalam QS Ar-Ra’d ayat 11:

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”

Jadi, hargailah dirimu. Menghargai diri itu penting dan dimulai dari kita sendiri. Syahdan, maksimalkan pula potensi, dan jangan melulu mau hidup dalam ketergantungan layaknya serial Doraemon. 

Kalaupun dirimu begitu ingin mencari tempat bergantung, maka hanya Allah lah sebaik-baiknya tempatmu bergantung sekaligus bersandar.

Semoga Bermanfaat.

Salam.

Baca Juga: Ketika Kisah Cinta Guru Semanis Sinetron FTV

Baca lagi: Manajemen Kecewa, Sahabat? Ya Dirimu Sendiri

Guru Penyemangat
Guru Penyemangat Menulislah untuk menebar manfaat kepada seluruh alam, karena menuangkan kata-kata juga merupakan jalan ninja menuju kebaikan.

4 komentar untuk "Pentingnya Menghargai Diri Sendiri, Karena Hidup Ini Tak Seindah Serial Doraemon"

  1. "Ketika kita sakit, belum tentu ada banyak orang yang mau menjenguk. Bahkan, ketika kita sukses, masih saja ada orang yang mau menjatuhkan." kadang ketika kita belum punya apa-apa, tiada yang peduli. Setelah sukses banyak yang ngaku, "Dia itu keponakanku, saudaraku."

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waduh, setuju bin betul sekali, Nek. Sakit ya Nek. Hehehe
      Makasih Nek

      Hapus
  2. Inspiratif..ttimd untuk artikelnya bang☺️

    BalasHapus

Berkomentarlah sesuai dengan postingan artikel. Mohon maaf, link aktif di kolom komentar tidak akan disetujui.