Widget HTML #1

Ini Alasan Mengapa Saya Lebih Memilih Mengontrak daripada Ambil KPR

Hai Sobat Guru Penyemangat, agaknya kisah antara kontrakan vs KPR-an bakal terus dipanasi oleh orang-orang yang baru saja berumah tangga maupun pindah tugas, kan?

Rasanya sih begitu, soalnya aku juga demikian.

Dari sejak beberapa minggu sebelum menikah, sudah banyak teman-teman, kerabat, bahkan sanak yang berceritera kepadaku supaya aku ambil KPR saja. Aku disuruh oleh mereka untuk menyekolahkan SK lalu mencari KPR yang dekat dengan tempatku mengajar.

Hemm. Apakah aku sontak menerima?

Aku terus berpikir, bahkan berpikir berkali-kali. Sanggup atau tidak aku berutang hingga 20 tahun. Eh ternyata berutang sebulan saja kepalaku sudah berasap. Hehehe.

Nah berikut ada beberapa alasan mengapa aku lebih memilih untuk mengontrak daripada ambil KPR. Cuz disimak, siapa tahu sama.

Alasan Saya Mengontrak daripada Ambil KPR

Ini Alasan Mengapa Saya Lebih Memilih Mengontrak daripada Ambil KPR
Ini Alasan Mengapa Saya Lebih Memilih Mengontrak daripada Ambil KPR. Designed by GuruPenyemangat.com

1. Tidak Tahan Berutang kepada Orang Lain dalam Waktu yang Lama

Bila kita cermati dengan seksama, kehidupan yang kita jalani ini sungguhlah beragam. Ada orang yang berpola pikir bahwa jikalau tidak dengan berutang, ia tidak bakal bisa beli rumah, beli mobil, beli motor, atau beli barang-barang lainnya.

Namun sebaliknya? Ada orang yang ber-mindset sabar, bahwa jika menginginkan sesuatu itu perlu usaha, perlu menabung, dan juga sesuai kemampuan.

Nah, Sobat GuruPenyemangat.com, sejatinya aku adalah bagian dari orang-orang yang memiliki pola pikir “Jika ingin sesuatu maka diusahakan, menabung terlebih dahulu, dan jika sudah cukup baru dibeli.”

Di sisi yang sama, aku pula tidak tahan dengan beban utang. Sadar atau tidak, jika kita sudah berutang kepada seseorang atau pun pihak bank, waktu yang berlalu akan terasa sangat cepat. Tidak terasa bulan depan sudah tanggal 1, dan terus seperti itu.

Padahal semakin bertambah bulan kebutuhan kita semakin meningkat, bukan? Nah maka dari itu, daripada aku jadi makin kurus seiring dengan bertambahnya hari, mendingan aku cari kontrakan terlebih dahulu.

2. Tidak Ingin Terjerat Riba

Nah untuk alasan yang kedua ini, sejatinya merupakan alasan dari sisi keagamaan. Ya, meskipun agama kita mungkin berbeda, namun satu hal yang bisa kita petik ialah; bahwa setiap agama pasti mengajarkan tentang kebaikan. Termasuklah soal riba.

Bila kita cermati bersama, sejatinya riba itu dilarang alias diharamkan karena Allah ingin menolong hamba-Nya dari kesusahan.

Katakanlah seperti KPR. Kita yang semestinya bisa beli rumah dengan harga 80 juta-100 juta, gara-gara ambil KPR dengan cicilan akhirnya kita terus dihantui potongan hingga belasan tahun sampailah harga rumah tadi melewati angka 150 juta.

Hemm.

Boleh Baca: 5 Cara Membersihkan Rumah Menurut Semangat Sumpah Pemuda

3. Bunga Rumah KPR Itu Bisa Naik Dadakan hingga Bikin Dirimu Menjerit

Bener lho, aku enggak bohong. Aku pernah survei terkait dengan rumah subsidi di daerahku yang bisa dicicil lewat jalur KPR. Di sana tertulis suku bunga tetap sebesar 5.99% itu hanya terjadi selama 5 tahun pertama.

Apa artinya?

Pada periode 5 tahun kedua dan ketiga tentulah suku bunga naik.

Bahkan tidak selesai hanya sebatas itu saja, sejatinya ketika kita sudah bekerja sama dengan bank, alias menyangkutkan nama kita di bank, maka di saat itu pula kita seakan-akan dipaksa untuk menuruti aturan bank yang bisa berubah sesukanya mereka.

Entah suku bunga naik di akhir tahun lah, entah ada alasan floating lah, alasan kenaikan bunga dari Bank Indonesia lah. Dan masih banyak lagi...

Namun bagi mereka pemuja KPR, barangkali kurang peduli dengan hal-hal seperti ini. Ehem.

O ya, belum lama ini tertuang pemberitaan dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia, tepatnya pada 18-19 Januari 2023 kemarin.

Mereka memutuskan untuk menaikkan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 25 bps menjadi 5,75%, suku bunga Deposit Facility sebesar 25 bps menjadi 5,00%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 25 bps menjadi 6,50%.

Aku yang membaca berita di atas sih biasa saja, tapi para pemuja KPR mungkin keningnya semakin mengkerut. Hehehe. Bukan bermaksud begitu sih. Setidaknya angka persen di atas bisa menjadi dasar pikir bagi kita supaya berpikir dua kali sebelum memilih ambil KPR.

Boleh Baca: Let's Check! Ini Alasan Mengapa Lampu LED Philips myLiving cocok untuk Rumah Plafon Anda

4. Rumah KPR Itu Tidak Awet

Sadar atau tidak, KPR itu dibuat seakan-akan seperti “asal jadi”. Belum lima tahun, engsel pintu sudah copot. Belum 5 tahun, reng alias kayu-kalunya sudah keropos. Belum 3 tahun bahkan lantai keramiknya sudah bolong-bolong gegara lantai tidak rata, dan masih banyak kisah pilu lainnya.

Rumah KPR Tidak Awet
Rumah KPR Tidak Awet. Dok. GuruPenyemangat.com/Ozy V. Alandika

Hal itu semua menjadi penguat bukti bagiku bahwa memiliki rumah KPR bukanlah impianku. Padahal setiap orang meinginginkan rumah impian, bukan?

Jangan gara-gara ingin punya rumah cepat, kita kemudian tergiur dengan DP murah kemudian rela merogoh kocek dua kali lebih banyak hanya untuk membayar angsuran sekaligus memperbaiki rumah.

Kan bikin sakit jantung! Eh, sakit hati. Wkwk.

5. Rumah KPR Bisa Tiba-tiba Diambil Alih oleh Bank

Rumah KPR Bisa Tiba-tiba Disita oleh Bank
Rumah KPR Bisa Tiba-tiba Disita oleh Bank. Dok. GuruPenyemangat.com/Ozy V. Alandika

Teman-teman banyak berkata kepadaku, kalau sudah PNS itu aman, Zy. Bisa sekolahkan SK-nya kemudian ambil cicilan mobil atau KPR.

Iya sih kata mereka aman, karena terjamin hingga masa tua. Gajinya juga bulanan terus cair dan terus bertambah seiring dengan kenaikan SK berkala.

Sejatinya pikiran mereka tidaklah salah. Namun aku pribadi malah ingin menentang itu. Bagaimana ya, seakan-akan kesannya itu kita mendewakan suatu profesi dan menganggap gajinya sudah pasti. Padahal?

Padahal urusan rezeki itu urusan Allah.

Lihat saja pemberitaan tentang KPR yang tiba-tiba disita bank. Padahal yang bekerja adalah pegawai, kontraktor, karyawan, bahkan orang yang boleh dibilang memiliki banyak uang.

Tapi mengapa rumah mereka dipasang gantungan yang bertuliskan sudah menjadi angunan bank?

Nah, hal tersebut bisa saja karena ada musibah yang menimpa mereka, atau ada kepentingan lain sehingga mereka tidak bisa melanjutkan bayaran cicilan, bahkan tidak menutup kemungkinan bahwa ternyata mereka ditipu oleh pemborong KPR yang menerbitkan SHM palsu.

Bagi mereka yang uangnya banyak barangkali tidaklah masalah mengeluarkan uang cicilan dengan nominal berapa pun.

Tapi pertanyaanku, bagaimana rasanya hati ini bila kita sudah mencicil 10 tahun misalnya, dan di saat sudah tersisa tinggal 5 tahun, kita terpaksa over kredit karena tidak sanggup lagi bayar cicilan, atau tiba-tiba pemasukan kita menjadi tidak ada gegara sesuatu hal.

Pasti sakit kaki, kan? Eh, sakit hati.

Bila kita jumlahkan cicilan KPR rumah 10 tahun, agaknya dengan jumlah cicilan tersebut kita bisa membeli tanah dan rumah baru. Hayoo Sobat, mari kita berpikir dua kali.

Boleh Baca: Inilah Rekomendasi Lampu LED untuk Rumah Minimalis

6. Masih Memungkinkan untuk Membeli Tanah dan Membangun Rumah Sendiri

Perdebatan antara bangun rumah sendiri versus KPR yang tidak bakal berhenti, salah satu penyebabnya ialah faktor lokasi.

Terang saja, jika Sobat tinggal di daerah pedesaan atau perkotaan yang belum begitu padat, mereka sejatinya masih bisa mencari tanah dengan harga yang masuk akal.

Tapi sebaliknya, bila sudah tinggal di perkotaan besar dengan pemukiman yang cukup padat, maka mencari tanah alias kaveling menjadi sesuatu yang sangat sulit.

Bahkan tidak tanggung-tanggung, sekarang aksi orang yang kaya ialah memperbanyak aset dan properti dengan cara memborong kaveling, kemudian dibuatkan BTN alias perumahan KPR, kemudian dijual dengan DP kecil bin DP nol persen.

Namun aku pribadi di sini lebih memilih untuk tinggal di rumah kontrakan sementara waktu karena masih memungkinkan bagiku untuk membeli tanah dan membangun rumah sendiri.

Ya mungkin butuh waktu lebih dari 3 tahun, menimbang penghasilanku saat ini. Tapi hal tersebut sungguh tidaklah mengapa.

Toh tanah bisa dicicil, dan rumah bisa dibangun pelan-pelan. Kita bisa beli semen terlebih dahulu, bisa beli seng terlebih dahulu, dan bisa perlahan-lahan bikin pondasi terlebih dahulu.

Hematku, cara tersebut lebih aman dan menenangkan pikiran daripada harus mencicil dengan tempo waktu hingga belasan tahun. Rasa hati sudah tidak enak, kemudian juga dihantui alias dikejar-kejar waktu yang berjalan dengan begitu cepat.

***

Entah itu mau ambil KPR atau malah mau ngontrak terlebih dahulu, baik atau buruknya tergantung kita juga.

Kalau pun kita ingin membangun rumah sendiri, tapi di sisi yang sama kitanya malas untuk menabung dan menyisihkan penghasilan, maka impian punya rumah juga tidak bakal tercapai.

Aku pribadi, saat ini juga baru mulai menabung. Sebagian kutabung dalam bentuk uang sebagai dana darurat, dan sebagian lagi aku belikan emas alias logam mulia seperti EOA Gold.

Bagaimana dengan Sobat, adakah dari Sobat yang baru mulai menabung?

Yok kita ikhtiar bareng.

Salam. 

Guru Penyemangat
Guru Penyemangat Guru Profesional, Guru Penggerak, Blogger, Public Speaker, Motivator & Juragan Emas.

Posting Komentar untuk "Ini Alasan Mengapa Saya Lebih Memilih Mengontrak daripada Ambil KPR"