Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Contoh Pidato Tentang Gemar Membaca Singkat, Mari Budayakan Literasi Sejak Dini

Dear Sobat Guru Penyemangat, apakah Sobat suka membaca?

Ya, membaca adalah salah satu cara termudah untuk menggapai ilmu, keterampilan dan kecakapan hidup. Dengan membaca orang bisa menulis, berpidato, serta mendapatkan insight yang luas.

Dengan wawasan yang luas, maka alternatif dalam memecahkan masalah menjadi lebih banyak. Alhasil, seseorang bakal lebih bijaksana dalam mengambil keputusan.

Meski memiliki manfaat yang menggunung, sejatinya budaya membaca bukanlah hal yang mudah untuk dibiasakan.

Tambah lagi seperti zaman sekarang ini. Anak-anak bakal gemar membaca jika mereka butuh. Jika butuhnya level up di game online, maka yang dibaca ialah tips dan trik tentang game. Jadi, agak disayangkan bila demikian jadinya, kan?

Contoh Pidato Tentang Gemar Membaca
Contoh Pidato Tentang Gemar Membaca. Dok. GuruPenyemangat.com

Maka dari itu GuruPenyemangat.com hadirkan contoh pidato tentang gemar membaca yang berisi ajakan membudayakan literasi sejak dini.

Mari disimak ya:

Contoh Pidato Gemar Membaca

Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh.

Para hadirin sekalian yang saya hormati,
Bapak dan Ibu guru yang saya banggakan,
Serta siswa-siswi yang saya cintai, 

Salam literasi, 

Untuk memulai pidato bertemakan literasi yang dilaksanakan pada pagi hari yang cerah ini, marilah kita panjatkan puji syukur kepada Allah SWT atas limpahan berkah dan rahmat yang telah diberikan pada seluruh alam.

Tak lupa shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan para sahabat yang telah menuntun kita dari masa kegelapan menuju masa yang terang benderang sehingga kita semua bisa berkumpul dan berbagi ilmu dalam upaya menggiatkan budaya gemar membaca.

Hadirin yang saya hormati,

Kita sering mendengar pepatah "Buku adalah jendela dunia" yang bermakna bahwa dengan membaca buku kita dapat belajar ilmu pengetahuan yang ada di seluruh dunia baik di masa sekarang bahkan di masa lampau, dan sangat berguna bagi masa depan.

Kuncinya adalah gemar membaca. Dengan gemar membaca kita bisa mempelajari banyak ilmu seluas-luasnya yang tidak kita ketahui sebelumnya tanpa batas.

Terlebih lagi, berkat kecanggihan teknologi saat ini, informasi dalam buku tidak lagi hanya dicetak berupa bentuk fisik yang tebal dan berat, melainkan dikemas ke dalam jenis media kreatif yang lebih komunikatif, praktis, dan efisien dilengkapi ilustrasi yang menarik.

Namun sayangnya, minat baca masyarakat kita masih tergolong sangat rendah sehingga mempengaruhi kualitas bangsa Indonesia yang tidak bisa mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan informasi. 

Tidak hanya itu saja dampak buruknya, kemampuan masyarakat dalam menyaring dan menjaring informasi juga akan rendah dan pada akhirnya akan berdampak pada ketertinggalan bangsa Indonesia.

Jika bangsa tak budayakan gemar membaca, banyak generasi muda yang akan menjadi generasi pemalas.

Kurangnya pengetahuan yang dimiliki bakal berdampak kepada ketidakmampuan dalam berkontribusi ide untuk bangsa atau paling tidak bagi kebaikan dirinya sendiri.

Belum lagi dengan menurunkan daya analisis dan kekritisan berpikir. Kemampuan konsentrasi yang kurang terlatih dan kemampuan menulis serta berbicara tak mampu berkembang baik.

Hadirin yang berbahagia, 

Rendahnya minat baca disebabkan beberapa faktor seperti belum terbentuk kebiasaan membaca yang ditanamkan sejak dini. Lalu, minimnya kualitas fasilitas pendidikan.

Di sisi lain, penggunaan gadget yang tidak terkontrol dan pengaruh konten di media sosial yang menyodorkan platform hiburan beraneka ragam membuat mental generasi jadi ingin serba instan, padahal sebenarnya bakal menimbulkan masalah yang riskan.

Dari data survei yang dilakukan Program for International Student Assessment (PISA) yang dirilis Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) pada 2019, Indonesia menempati peringkat ke 62 dari 70 negara, atau merupakan 10 negara terbawah yang memiliki tingkat literasi rendah. 

Meskipun upaya mendorong gerakan gemar membaca terus digencarkan, tapi masih ada kendala lain yang perlu kita hadapi bersama karena berdasarkan data Dirjen Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar dan Menengah (PAUD Dikdasmen) Kemendikbudristek yang melakukan pemutakhiran data buta aksara bekerja sama dengan BPS mencatat 22 persen orang di Papua pada 2020 terdata sebagai buta aksara.

Buta aksara tertinggi terjadi di provinsi Papua kira-kira 22 persen di tahun 2020 menyusul lima provinsi selanjutnya yaitu Nusa Tenggara Barat (NTB), Sulawesi Barat (Sulbar), Nusa Tenggara Timur (NTT), Sulawesi Selatan (Sulsel), dan Kalimantan Barat (Kalbar). 

Oleh sebab itu, gemar membaca kini gencar dikampanyekan dalam gerakan literasi. Sayangnya, belum banyak orang yang menyadari pentingnya hal ini.

Pada saat kita membaca dapat melatih otak untuk lebih fokus dan berkonsentrasi sehingga juga dapat mengasah daya fokus kita dalam menjalani berbagai macam kegiatan.

 Selain itu, dapat meningkatkan kinerja otak dengan menambah pengetahuan dan mengasah daya ingat. Para ahli pun menyetujui bahwa membaca merupakan hal penting dan memiliki dampak yang sangat bagus untuk manusia.

Membaca juga memiliki berbagai manfaat mental dan fisik karena semakin orang banyak membaca, semakin luas pandangan dan wawasannya dalam menyikapi kehidupan. 

Jika gemar membaca, maka kemampuan menulis kita juga akan berkembang. Kebiasaan ini dapat memperluas kosakata dan keterampilan komunikasi yang dapat membantu kita berinteraksi lebih baik dengan orang lain. 

Boleh Baca: Inilah 6 Literasi Dasar Abad 21 yang Perlu Dikuasai Para Pembelajar

Bapak dan Ibu yang saya  hormati,

Lantas bagaimana cara membangkitkan rasa gemar membaca? 

Sebenarnya banyak sekali upaya yang bisa kita tempuh antara lain, dengan cara membaca bersama secara rutin.

Mengajak membaca bersama lalu menemukan hal-hal yang menarik dari buku atau bisa juga mendengarkan buku audio.

Cara berikutnya yaitu membuat perpustakaan, sudut baca atau bahkan perpustakaan keliling dari buku-buku sumbangan maupun buku baru.

Coba kenalkan buku pada anak dari pihak orang tua dan guru harus mengambil peran memahamkan anak untuk giat membaca. 

Ditunjang lagi dengan perpustakaan yang lebih inovatif dalam menyediakan bahan bacaan. Kerja sama pemerintah, penulis, dan penerbit membuat buku bacaan yang menarik dan edukatif. Program gemar membaca dibentuk dan disebarkan di lingkungan pemerintah hingga pelosok negeri.

Sebelum mengakhiri pidato saya pada pagi hari ini, saya ingin mengutip kata-kata yang begitu indah dari salah satu tokoh duta baca Indonesia yang melanjutkan estafet gerakan literasi yaitu Najwa Shihab yang mengatakan bahwa;

"Bangsa yang besar pasti menghargai ilmu pengetahuan, menempatkan buku dengan penuh kemuliaan. Menjadikan bacaan sebagai bagian penting kehidupan, pondasi bagi melesatnya berbagai kemajuan. Apalagi republik ini didirikan orang-orang yang gila membaca, tekun bergelut dengan segala ide dan kata-kata." 

Demikian pidato yang bisa saya sampaikan. Mohon maaf bila ada salah kata dan tindakan yang kurang berkenan karena kesempurnaan hanya milik Allah semata. Salam literasi. Mari budayakan membaca mulai sekarang!

Akhir kata,
Wassalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh.

***

Boleh Baca: Contoh Pidato Tentang Disiplin yang Singkat dan Mudah Dihafal

Demikianlah sajian Guru Penyemangat berupa contoh pidato tentang gemar membaca yang singkat dan berisi ajakan untuk membiasakan budaya literasi sejak dini.

Semoga bermanfaat ya
Salam.

Guru Penyemangat
Guru Penyemangat Menulislah untuk menebar manfaat kepada seluruh alam, karena menuangkan kata-kata juga merupakan jalan ninja menuju kebaikan.

Posting Komentar untuk "Contoh Pidato Tentang Gemar Membaca Singkat, Mari Budayakan Literasi Sejak Dini"

Promo Cashback & Voucher Shopee