Widget HTML #1

Cerpen: Guruku Pahlawanku

Hai, Sobat Guru Penyemangat, kira-kira ada berapa banyak nama-nama Pahlawan yang kamu ketahui?

Pastinya ada banyak, ya. Dan saking banyaknya nama-nama Pahlawan, kita pun hanya ingat beberapa darinya. Eh, gak gitu juga sih! Hahaha

Dan, sadarkah kita bahwa di era masa kini pahlawan itu ada di mana-mana? Benar.

Ada banyak pahlawan yang sejatinya ada di dekat kita. Bahkan, mereka mungkin adalah orang yang kita temui, kita sapa, dan kita ajak untuk berbincang-bincang setiap hari.

Siapakah pahlawan itu? Salah satunya adalah guruku, gurumu, dan guru kita semua. Berikut ada cerpen inspiratif tentang Guruku Pahlawanku.

Mari disimak ya Sobat:

Cerpen: Guruku Pahlawanku

Cerpen Guruku Pahlawanku
Cerpen Guruku Pahlawanku. Dok. Gurupenyemangat.com

Aku masih ingat kisah penuh emosi di kala itu. Saat di mana aku masih pertama kali mengenakan baju putih merah, berdasi dan bertopi dengan lambang Tut Wuri Handayani.

Katanya, aku diminta wajib bersepatu hitam tanpa ada sedikit pun putih. Kewajiban itu harus kupenuhi karena akan jadi bukti bahwa aku benar-benar ingin sekolah. Atau, malah tidak.

Aku datang dengan malu-malu. Aku tidak punya teman, juga tidak punya bekal ijazah TK.

Mau Bagaimana lagi, kata Ibuku, “Kamu yang semangat belajar ya, Nak. Ibu takbisa terus membawamu ke ladang yang jauh. Ibu sudah bilang kepada Guru agar kamu jadi anak bawang.”

Aku mana mengerti yang namanya anak bawang. Yang kumengerti hanyalah datang ke sekolah bisa dengan jalan kaki, terkadang mendapat uang jajan, serta tidak boleh terlambat.

Jam 07.15 WIB aku sudah harus tiba di sekolah dan menaruh tas gandeng yang baru saja dibelikan Ayahku dari hasil jualan kopi.

Sebenarnya umurku waktu itu barulah 5 tahun. Kata Ibu, aku tidak perlu masuk TK karena lokasinya jauh di kota. Dengan keadaan yang seadanya seperti ini, bagaimana mungkin Ayahku bisa membiayai ongkos naik angkot sehar-hariku.

Dari desa ke kota jaraknya memang cuma 20 KM dengan ongkos angkot Rp10.000. Mungkin bagi orang itu hanyalah angka uang yang kecil, bahkan tidak cukup untuk beli jajanan. Tapi bagiku?

Sudah sangat besar.

*

“Dika, mulai besok Dika duduk di bangku depan di pojok kanan ya. Jangan lupa untuk membawa buku dan pensil.”

Mulai detik ini, saban hariku disibukkan dengan aktivitas pergi dan pulang sekolah. Aku tidak pernah lupa untuk membawa buku pelajaran berikut dengan alat tulis. Tapi ada satu hal yang selalu dilupa, yaitu aku lupa bertanya kepada Buru Guru tentang apa itu anak bawang.

Ah sudahlah. Aku juga tidak terlalu peduli kala itu. Yang penting aku bisa bermain dengan teman, sesekali jajan ketika jam istirahat tiba, dan sepulang sekolah aku bisa membantu Ayah dan Ibuku di ladang.

Aku bahkan sangat bahagia karena setelah dua bulan bersekolah di SD, aku dibelikan sepeda oleh Ayah. Kata Ayah, sepeda ini boleh aku gunakan untuk kendaraanku menuju sekolah. Soalnya jarak ladang dari sekolahku lebih dari 1 KM.

Ya, cukup jauh bila ditempuh dengan jalan kaki.

*

Memasuki bulan keempat, entah mengapa aku di kala itu mulai sadar. Ternyata teman-teman sekelasku semuanya sudah lancar membaca dan mayoritas dari mereka adalah lulusan TK.

Sedangkan aku?

Membacaku masih mengeja dua-tiga huruf, bahkan aku belum bisa membaca kata. Aku memang selalu menyempatkan diri untuk belajar di rumah, sayangnya kesempatan itu sering kali baru datang malam hari.

Ya, siang-sore hari aku biasanya membantu kedua orang tua di ladang.

Walau begitu, semangatku waktu itu tak kian surut. Soalnya Bu Guru begitu perhatian kepadaku. Sebagai seorang guru kelas, beliau dengan sabar mengajariku membaca, berhitung, serta mengulang kembali bacaan hingga menempel di otakku.

Di sisi yang sama, semakin bertambah hari aku semakin lancar membaca dan berhitung. Biarpun belum lebih lancar daripada teman-teman, namun setidaknya aku sudah lebih berkembang.

Bahkan memasuki semester kedua, aku mulai sadar betul mengapa Bu Guru memintaku untuk duduk di bangku paling depan pojok kanan. Karena selain dekat dengan papan tulis, aku juga bisa lebih fokus dalam belajar.

*

Nyaris dua bulan sudah berlalu sejak hari itu, dan sekarang aku sedang deg-deg-an menanti rapor. Aku sudah yakin bahwa diri ini tidak akan mendapat peringkat, bahkan 10 besar. Tapi entah mengapa, aku begitu semangat.

Sesaat setelah menerima rapor, aku pun turut bahagia karena di sana ada keterangan “Naik ke Kelas II”.

Namun, pada saat aku ingin keluar kelas, secara tiada sengaja aku melihat Ibuku sedang mengobrol dengan Kepala Sekolah dan Bu Guru kelas I.

Sempat terdengar olehku berkali-kali tentang ucapan “Anak Bawang” dan “Jangan Naikkan Anakku”.

Seketika itu pula wajahku menjadi mendung. Aku sudah mulai mengerti tentang apa itu maksudnya “Anak Bawang”.

Wajar, kok. Wajar bila aku tidak naik kelas. Selain faktor umur, sejak awal masuk kelas Ibuku pun sudah berpesan dan menitipkanku kepada Bu Guru kelas I sebagai anak bawang.

Aku sudah sangat bisa menerima keputusan tersebut.

Meski begitu, mendungku terus-terusan disapu oleh pembelaan yang dilakukan oleh Bu Guruku. Beliau berkata kepada kepala sekolah dan Ibu bahwa aku layak dinaikkan karena sudah lancar membaca dan berhitung.

Cukup! Aku tidak mau mendengarkan keberlanjutan kisah itu. Aku pun memilih untuk membeli sepotong coklat di kantin samping sekolah seraya mengembalikan mood yang sedang kelam ini.

*

Hari ini sudah siang dan aku pun sudah pulang bersama Ibu. Sesaat setelah sampai di rumah, ternyata sudah ada Ayah yang menyambutku dengan sepiring sate daging sapi dan sebungkus buah jeruk.

“Lho, Ayah tidak ke ladang?”

Ternyata Ayah sudah lama menanti kepulanganku. Beliau pun libur bekerja hari ini karena ingin melihat rapor hasil perkembangan belajarku.

Ya, meski sudah tahu bakal tetap duduk di kelas satu, aku pun tetap bahagia. Yang penting aku di hari ini sedikit lebih baik daripada aku yang dulu, khususnya soal berhitung dan membaca.

*

Sebulan berlalu sejak hari itu dan hari ini adalah hari Senin. Aku sudah bersiap datang ke sekolah, bahkan aku berangkat lebih pagi dengan sepedaku.

Sesampainya di sekolah, aku langsung menaruh tas di bangku kelas I yang letaknya di pojok kanan. Aku bersiap menatap hariku seraya berharap agar bisa belajar lebih fokus lagi.

“Eh, Dika. Kok kamu malah duduk di sini? Kamu salah kelas!”

Tiba-tiba Bu Guru kelas I menegurku. Lho, apa yang salah dengan diriku. Memangnya ada kelas baru! Tanyaku dalam hati.

“Dika. Kamu kan sudah kelas II, jadi ruanganmu di sebelah, ya. Nanti wali kelasmu adalah Pak Guru. Dika harus belajar lebih giat pokoknya.”

“Lha. Bukannya kemarin kata Ibu, Dika masih anak bawang, Bu?”

“Iya, anak bawang yang naik kelas. Dika sudah layak naik kelas kok. Bagaimana bisa Ibu biarkan di kelas ini.”

Mendungku hari itu langsung hilang laksana awan tipis yang ditiup oleh angin. Ternyata aku yang kemarin anak bawang sekarang benar-benar telah naik kelas.

Bu Guru benar-benar pahlawanku, pahlawan yang tulus dan rela mengorbankan waktunya demi mengajariku. Beliau benar-benar sosok pahlawan yang sabar dan senantiasa mendukungku.

Dalam tulusnya hati ini, aku hanya bisa berucap, “Terima kasih, Guruku”, karena engkaulah Pahlawanku.

***TAMAT

Demikianlah sajian cerpen tentang Guruku Pahlawanku yang bisa Guru Penyemangat sajikan. Semoga bisa menginspirasi, ya. Karena terkadang pahlawan itu ada banyak di dekat kita.

Lanjut Baca:

Guru Penyemangat
Guru Penyemangat Guru Profesional, Guru Penggerak, Blogger, Public Speaker, Motivator & Juragan Emas.

Posting Komentar untuk "Cerpen: Guruku Pahlawanku"