Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cerpen: Pahlawanku Inspirasiku

Hai Sahabat Guru Penyemangat, Bisakah Kamu Menyebutkan Minimal 5 Orang Nama Pahlawan?

Tentu saja bisa, ya. Banyak dari kita yang hapal nama-nama pahlawan proklamasi, pahlawan revolusi, serta pahlawan di era pandemi.

Masing-masing dari mereka namanya terkenang abadi di sanubari serta bisa kita jadikan nilai-nilai perjuangannya sebagai ladang inspirasi.

Berkisah tentang inspirasi, di sini Guru Penyemangat ingin menghadirkan cerpen singkat tentang pahlawanku inspirasiku.

Nah, langsung disimak saja ya:

Cerpen Singkat: Pahlawanku Inspirasiku

Cerpen Pahlawanku Inspirasiku
Cerpen Pahlawanku Inspirasiku. Dok. Gurupenyemangat.com
Hari itu hari Senin dan di dekat awan tampaklah seorang pria berumur senja yang sudah giat bekerja.

Namanya Budi. Tinggi badannya 176 cm, berat badannya 78 kg, dan saat ini umurnya sudah memasuki 54 tahun. Untuk pekerja seperti kontraktor, usia tersebut adalah tanda-tanda pensiun mau menjemput.

Pak Budi adalah seorang kontraktor yang kerjanya di ketinggian. Ya, beliau biasanya mengurusi sinyal dan tower di ketinggian. Maka dari itulah hidupnya saban hari sangat dekat dengan awan.

Sedangkan di rumah, Pak Budi adalah seorang duda yang memiliki seorang anak laki-laki kelas 5 SD. Beliau sudah ditinggal mati oleh istrinya sejak 8 tahun lalu.

Pekerjaan sebagai pemanjat menara listrik dan sinyal sudah ia lakukan sejak puluhan tahun lalu. Kini, mungkin sudah ada lebih dari dua ratus tower yang ia panjat.

Sembari duduk dan sambung-menyambung kabel, Pak Budi sering melihat kisah kehidupan dan pernak-pernik emosi yang ada di bawah awan. Adapun pelajaran berharga selalu ia ceritakan kepada Adit selekas pulang ke rumah.

*

“Ayah, bagaimana dengan hari ini? Apakah ada kisah menarik yang Ayah temui di bawah tower?”, sapa Adit dengan raut wajah penasaran.

“Waduh, bentar ya, Nak. Ayah mandi dulu.”

Adit adalah anak semata wayang. Dia adalah siswa kelas 5 SD yang sangat bersemangat dan senantiasa ceria. Dirinya bersekolah di SD Negeri terfavorit di Bengkulu. Ya, tepatnya sekolah rujukan yang dulu dikenal sebagai Sekolah Bertaraf Internasional.

Sesuai dengan namanya, sekolah tersebut dipenuhi oleh anak-anak kaya. Sehari-hari, uang jajan mereka bisa lebih dari Rp50.000. Sedangkan Adit? Uang kertas dengan gambar Tuanku Imam Bonjol saja sudah membuatnya semringah.

“Adit, tadi Ayah lihat ada nenek-nenek tukang jamu. Nenek itu meski sudah renta namun dirinya begitu semangat berjualan. Jamu yang Ayah kira berat, tapi serasa begitu enteng dipundaknya. Nenek itu mulai berjualan sejak pagi, dan sore hari menjelang Ayah turun dari tower, dagangannya ternyata lekas habis,” cerita Pak Budi dengan semangat

“Wah, keren sekali ya, Yah. Adit saja tidak sanggup rasanya bila harus menggendong jamu keliling dari pagi hinggalah sore. Contohnya seperti hari ini saja. Di tas Adit ada 3 buku cetak tematik ditambah beberapa buku catatan dan kotak pensil. Padahal masih sedikit, cuman sudah terasa berat.”

*

Dua hari pun berlalu sejak kisah itu. Sekarang Adit sedang bersekolah dan kebetulan ada materi pelajaran dengan tema “Mengarang”.

Pada waktu itu pula, Adit dan teman-teman sekelas diminta Guru untuk menulis karangan dengan tema “Pahlawanku Inspirasiku” dan wajib diselesaikan dalam waktu 20 menit.

Menanggapi hal tersebut, Adit pun bingung. Namun sesaat sejak menatap awan, dirinya langsung ingat bahwa judul yang cocok untuknya ialah “Ayahku Pahlawanku”.

Anak laki-laki yang masih imut ini begitu semangat dan jarinya seakan takbisa terlepas dari buku. Bagi Adit, dirinya tak perlu susah-susah berpikir karena ia cukup menulis apa yang diceritakan Ayah.

Dari mulai Ayah melihat tukang jamu, tukang becak, tukang parkir, dan lain sebagainya semua Adit rangkum menjadi karangan yang indah.

*

Dua puluh menit sudah berlalu, dan sekaranglah saatnya Guru meminta siswa untuk mengumpulkan karangan masing-masing.

Sembari memberi nilai, Guru pun meminta satu demi satu siswa untuk maju dan menceritakan kembali kisah apa yang mereka karang.

Dari sana, didapatlah beragam sosok inspiratif yang diangkat oleh para siswa sebagai pahlawan. Ada yang menceritakan tentang Presiden Soekarno, BJ. Habibie, Bung Tomo, hingga R.A. Kartini.

Seketika tiba di buku karangan Adit, Guru yang memberi nilai pun terdiam sesaat seraya mengamati teks karangan anak Pak Budi itu hingga berkali-kali. Sesaat setelahnya, Guru itu pun tersenyum.

“Adit, sekarang giliranmu. Coba ceritakan kepada teman-teman tentang hasil dari karanganmu,” panggilan Guru kepada Adit.

Dengan semangat, Adit mulai berdiri dari bangkunya. Ia pun segera maju ke depan dan menceritakan kisah Ayahnya dengan penuh kebanggaan.

Seketika kelas pun menjadi hening. Semua siswa tidak ada yang ribut melainkan fokus menyimak kata demi kata yang Adit sampaikan.

Hingga akhirnya tiba di paragraf terakhir, seisi kelas pun memberikan tepuk tangan yang meriah. Bahkan beberapa dari siswa pun begitu tersentuh sampai-sampai tak sengaja meneteskan air mata.

Karena semua siswa sudah menyelesaikan tugas bercerita, maka di akhir kelas, Guru pun sedikit memberi kesimpulan sebelum bel istirahat berbunyi.

“Anak-anak sekalian. Dari cerita kalian tadi, bisa kita simpulkan bahwa pahlawan adalah orang hebat yang rela mengorbankan dirinya demi menyenangkan orang lain. Tapi, dari kisah Adit barusan, kita semestinya bisa menyadari bahwa sesungguhnya pahlawan itu ada di dekat kita. Pahlawan yang menjadi inspirasi itu bisa Ayah kita, Ibu kita, tetangga kita, atau bahkan orang-orang yang giat berjuang di sekitar kita. Maka dari itu, pelajaran berharga di sini adalah; sangat penting bagi kita untuk meneladan nilai-nilai kepahlawanan sejak dini.”

*

Bel pun berbunyi menandakan waktu istirahat telah tiba. Adit pun masih sama seperti hari kemarin. Dia masih bahagia, ceria, dan bangga memiliki Ayah seorang kontraktor. Karena baginya, “Ayahku adalah Inspirasiku”. TAMAT

***

Nah, demikianlah tadi kisah cerita pendek tentang pahlawanku inspirasiku yang bisa Guru Penyemangat persembahkan.

Semoga bermanfaat, ya.

Lanjut Baca: Cerpen Hari Pahlawan: Pahlawan, Bukan Mengaku Pahlawan

Guru Penyemangat
Guru Penyemangat Menulislah untuk menebar manfaat kepada seluruh alam, karena menuangkan kata-kata juga merupakan jalan ninja menuju kebaikan.

Posting Komentar untuk "Cerpen: Pahlawanku Inspirasiku"

Promo Cashback & Voucher Shopee