Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cerpen Tema Hari Pahlawan: Pahlawan, Bukan Sok Pahlawan

Selamat Hari Pahlawan!

Peringatan Hari Pahlawan setiap tahun jatuh pada tanggal 10 November, dan di tahun 2021 ini pemerintah menyimpul tema “Pahlawanku Inspirasiku”.

Walau begitu, menimbang keresahan yang sering terjadi akhir-akhir ini, Guru Penyemangat ingin menghadirkan cerita pendek.

Cerpen berikut bertema Hari Pahlawan yang mengisahkan mereka yang sok mengaku pahlawan, padahal berjuangnya hanya setengah badan.

Dirimu penasaran? Oke langsung kita simak saja ya:

Cerpen Tema Hari Pahlawan: Pahlawan, Bukan Sok Pahlawan

Cerpen Tema Hari Pahlawan Pahlawan, Bukan Sok Pahlawan
Cerpen Tema Hari Pahlawan: Pahlawan, Bukan Sok Pahlawan. Dok. Gurupenyemangat.com

“Bro, besok kita bikin perkumpulan sepak bola, ya. Aku sudah punya sebelas orang pemain di desa ini. Aku lihat, gaya dan keterampilan bermain mereka cocok dan berkelas. Aku optimis sih, mereka pasti bisa bersaing di liga desa.”

Hari itu hari Senin dan matahari belum begitu jauh berlari dari ujung tombak. Jam sembilan pagi masih jauh, namun jam delapan sudah melewati setengahnya.

Dua orang aktivis sedang duduk manis mengobrol tentang masa depan sembari ditemani kopi hitam hangat dan sebungkus gorengan.

Melihat tren suporter sepak bola di desa yang saban hari terus bertambah, agaknya mendirikan klub adalah jalan ninja yang memiliki prospek menguntungkan. Terlebih lagi, di desa tempat mereka tinggal, yaitu desa Tanah Rimbun sudah tersedia lapangan hijau yang rata.

“Hemm, bisa sih Bro. Tapi, apakah tidak sulit untuk mencari sponsor?”

“Sponsor gampang sih Bro. Di desa ini kan banyak tuh produk-produk dan karya cipta teman-teman dari UMKM. Kita gandeng saja mereka. Aku yakin mereka pasti setuju karena di saat yang sama akan meningkatkan brand mereka juga kan?”

“Oke. Masuk akal. Baiklah, aku setuju. Besok aku bantu buatkan proposal pengajuan. Bro Diki tolong urus perizinan dan pemakaian lapangan untuk latihan, ya. Setelahnya, baru kita kumpulkan para pemain, rekrut pelatih, dan mengajukan diri untuk bergambung ke Liga Desa.”

Tidak perlu lama-lama, akhirnya impian yang diracik oleh Diki dan Dika segera menemui niscaya.

Hanya perlu waktu tiga bulan bagi mereka untuk kemudian membuat perkumpulan sepak bola yang kalah itu diberi nama DIDI FC. Ya, singkatan dari Dika Diki Football Club.

Lebih khusus, mereka juga merekrut pelatih yang merupakan mantan pemain regional. Dirinya pernah semusim berlaga di Liga Nasional Indonesia.

Dari segi taktikal, agaknya hal tersebut sudah tidak diragukan lagi. Tinggal bagaimana visi bermain para pemain dan semangat mereka untuk bersaing di Liga Desa.

*

Setahun berlalu sejak hari itu. Tak terasa liga sudah jalan lima pertandingan. Tapi ya, sangat disayangkan tim DIDI FC belum sekalipun meraih kemenangan.

Di klasemen, tim baru ini berada di peringkat ke-16 dengan nilai 1 poin, hasil dari 4 kali kalah dan 1 kali imbang.

Dika dan Diki selaku penggagas tim tidak terlampau ambil pusing. Soalnya mereka sudah menonton 5 laga terakhir. Dari sisi taktik dan gaya permainan, tim DIDI FC menarik untuk ditonton. Suporter pun turut mendukung dan optimis terhadap perkembangan tim.

Mereka semakin ke sini menyorot salah seorang pemain muda yang bernama Rolando Iwansyah. Pemain berumur 18 tahun ini memiliki kecepatan, skill, dan akselerasi yang bagus sebagai seorang winger.

Pun demikian dengan hasil imbang pada laga terakhir. Satu-satunya gol yang didapat DIDI FC adalah hasil akselerasi Rolando yang mampu melewati 4-5 orang pemain.

*

Tak terasa, Liga Desa sudah menghabiskan 20 laga. DIDI FC pun secara tak terduga berkembang pesat hingga mampu duduk di 4 besar klasemen.

Yang lebih hebatnya lagi, Rolando tampil semakin apik dengan memimpin daftar top scorer teratas.

Pemain sayap yang satu ini pun sudah dua kali diajak traning camp (TC) dalam rangka merekrut pemain timnas U-23 guna menghadapi turnamen Piala AFF.

Semenjak hari itulah DIDI FC semakin tenar, ramai sponspor berdatangan, bahkan nilai jual para pemain pun meningkat pesat.

“Bro. Tidak terasa ya, impian kita selama ini bisa sukses lebih cepat dari yang direncanakan.”

“Iya benar, Bro. Kisahnya tak lepas dari penampilan Rolando yang moncer.”

“Absolutely, Certainly, Bro. Aku yakin dia bakal jadi pemain terkenal di masa depan.”

“Hahaha. Ini berkat kerja kerasku, Bro. Aku sudah merekrut pemain dan menemukan Rolando. Bisa kamu bayangkan bila orang lain yang membantumu. Mungkin kisah sukses kita hari ini tidak akan terlaksana.”

“Eh, tapi kan Bro. Aku yang mengajakmu dan merencanakan impian ini.”

“Maaf, Bro. Tapi engkau harus terima bahwa di sini akulah pahlawannya. Semestinya kamu berterima kasih kepadaku, Bro. Dan kalau bisa, gajiku naik 3-5 kali lipat. Jikalau tidak, aku akan out dari DIDI FC dan kuajak Rolando untuk menerima tawaran klub di Liga 1.”

“Lho, kok jadi gini sih!”

Dika pun jadi kesal dengan sikap Diki. Entah mengapa Diki terus-terusan mengaku sebagai orang paling penting di klub ini. Entah mengapa dirinya jadi sok pahlawan, sok menjadi orang yang paling berjasa dan berkorban paling banyak.

*

Seminggu setelah hari itu, keadaan manajemen klub DIDI FC mulai kusam. Beberapa sponspor penting lekas pergi karena ketidakjelasan kerjasama dan kesalahan atas proposal yang dibukat Diki.

Tidak cukup sampai di sana, ternyata krisis kepercayaan di manajemen pula berimbas kepada para pemain. Buktinya, dalam 3 laga terakhir Liga Desa, DIDI FC selalu kalah dan sekarang sudah keluar dari 10 besar klasemen. Padahal Liga Desa tinggal menyisakan 4 laga lagi.

Menanggapi hal tersebut, para suporter pun ikut panas hati. Mereka mulai melakukan kecaman terhadap klub seraya menuliskan baliho besar yang berisi kata-kata, “Berhenti Menjadi Sok Pahlawan, karena Klub Ini Ada sebagai Buah dari Pengorbanan.”

Seminggu dua minggu, manajemen klub tetap antipati. Barulah di saat minggu ketiga mereka menggelar rapat internal gara-gara pimpinan suporter mengancam Dika dan Diki untuk membakar ruangan klub.

“Baiklah, saudara-saudara. Mohon maaf atas ketidaknyamanan dan runtuhnya prestasi klub. Ini semata-mata kesalahan kami para manajemen yang kurang serius dalam mengurusi klub,” ucap Dika seraya membuka pertemuan di meja rapat manajemen.

“Tidak apa-apa. Kita menyadari bahwa membangun klub dan meraih prestasi itu adalah prospek jangka panjang. Tidak mungkin hasilnya instan. Sebagai suporter, kami memaklumi,” tegas perwakilan suporter

“O ya. Karena sekarang keuangan klub masih cukup stabil, Saya di sini ingin merencanakan pembangunan ruang manajemen klub, terutama untuk ruangan kerja. Maunya saya, ruangan ini nantinya dibikin dua tingkat,” ujar Diki seraya memotong pembicaraan

“Loh, lah, loh. Apa-apaan semua ini. Para pemain belum sempat digaji, Rolando pun sudah diburu klub papan atas dan bisa jadi akan segera pergi. Masa kok kamu malah sibuk mengurusi dirimu sendiri!” tegas perwakilan suporter seraya menyanggah

“Lah, memangnya apa yang salah? Bukannya aku sudah banyak jasa di klub ini. Aku loh yang merencanakan pembangunan klub. Aku pahlawannya di sini. Coba kalau dulu tidak ada aku, mungkin kalian tidak akan bisa menikmati permainan DIDI FC yang apik!” sahut Diki seraya membela diri.

“Aduh, bagaimana bisa kebersamaan kita menjadi seperti ini. Bagaimana DIDI FC mau maju!”

Diskusi di meja internal manajemen tersebut nyatanya tidak menemui kesimpulan dan berakhir antiklimaks.

Diki pun tidak mau mengalah, sedangkan Dika dan para suporter yang sejak awal loyal dengan klub juga tidak ingin DIDI FC hancur sebelum berkembang.

Sayangnya sejak diskusi panas pada hari itu, tiada lagi rapat-rapat berikutnya. Pada akhirnya, DIDI FC tidak pernah lagi menunjukkan tajinya. Rolando pun sudah lama hengkang dan di akhir musim DIDI FC hanya mampu finish di peringkat 17 klasemen Liga Desa. TAMAT

***

Boleh Baca: Cerpen Tentang Pemuda dan Pentingnya Merawat Bahasa Persatuan

Begitulah sedikit untai kisah tentang pahlawan. Gara-gara cerpen di atas, Guru Penyemangat jadi ingat kata-kata Bung Bung Hatta, “Pahlawan yang setia itu berkorban, bukan buat dikenal namanya, tetapi semata-mata membela cita-cita.”

Di sisi yang sama, sikap diri sungguh bakal menentukan keberlanjutan kisah hidup kita di hari esok sebagaimana kata Raden Ajeng Kartini, “Banyak hal yang bisa menjatuhkanmu. Tapi satu-satunya hal yang benar-benar dapat menjatuhkanmu adalah sikapmu sendiri.”

***

Nah, semoga cerpen di atas bermanfaat ya!

Selamat Hari Pahlawan Tahun 2021.

Guru Penyemangat
Guru Penyemangat Menulislah untuk menebar manfaat kepada seluruh alam, karena menuangkan kata-kata juga merupakan jalan ninja menuju kebaikan.

Posting Komentar untuk "Cerpen Tema Hari Pahlawan: Pahlawan, Bukan Sok Pahlawan"

Follow Guru Penyemangat di Google News agar tidak ketinggalan tulisan terbaru tentang Edukasi, Materi Belajar, Dunia Keislaman, Soal Ujian, Motivasi, Investasi Emas, Kesehatan, Tutorial, dan Fiksi. Klik di sini.