Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

8 Cara Belajar Efektif Menurut Islam, Mulailah dengan Niat Semata Karena Allah

Cara Belajar Efektif Menurut Islam
Cara Belajar Efektif Menurut Islam. Diolah oleh Gurupenyemangat.com dari Canva

Bismillah. Hai, Sobat Guru Penyemangat, tahukah Kamu bahwa menuntut ilmu merupakan kewajiban tiap-tiap insan di bumi ini?

Yup. Sebagaimana hadits Nabi Riwayat Ibnu Majah Nomor 224, menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim baik itu muslim laki-laki maupun muslim perempuan.

Disampaikan pula dalam Hadits Muslim bahwa ilmu yang bermanfaat merupakan salah satu jalan amal yang pahalanya akan terus mengalir walaupun diri ini sudah meninggal.

Adapun dua hal lainnya yaitu sedekah jariyah dan doa anak yang sholeh.

Tapi, pertanyaannya, bagaimana cara belajar efektif dalam Agama Islam sesuai pedoman Al-Qur’an dan Hadits?

Guru Penyemangat telah mengumpulkan 8 cara belajar efektif menurut Islam di mana memulai dengan niat adalah kunci utamanya.

Nah, langsung disimak saja, ya:

Cara Belajar Efektif Menurut Islam, Mulailah dengan Niat Semata Karena Allah
Cara Belajar Efektif Menurut Islam, Mulailah dengan Niat Semata Karena Allah. Diolah oleh Gurupenyemangat.com dari Canva.

1. Mulai dengan Niat Semata karena Allah

Yup. Inna a’malu binniyat. Segala sesuatu yang kita kerjakan perlu dimulai dengan niat. Begitu pula saat belajar dan menimba ilmu.

Dalam Islam, niat yang baik ialah niat yang diseiramakan dengan tujuan utama kita hidup di dunia ini, yaitu menyembah Allah SWT.

Maka dari itulah, wajib bagi kita untuk memulai kegiatan belajar dengan membaca Basmalah sekaligus membaca doa sebelum belajar.

Adapun doa sebelum belajar lafaznya yaitu:

رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا، وَارْزُقْنِيْ فَهْمًا وَاجْعَلْنِيْ مِنَ الصَّالِحِيْنَ

Robbi zidnii 'ilmaa, Warzuqnii fahmaa, Waj'alnii minash-sholihiin

Artinya: "Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku, dan berilah aku karunia agar dapat memahaminya, Dan jadikanlah aku termasuk golongannya orang-orang yang soleh."

رَضِيْتُ بِاللهِ رَبًّا وَبِالإِسْلَامِ دِيْنًا وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا وَرَسُوْلًا رَبِّ زِدْنِيْ عِلْمًا وَارْزُقْنِيْ فَهْمًا

Rodlitubillahirobba, wabilislaamidiina, wabimuhammadin nabiyyi warasulla, Robbi zidni ilman warzuqni fahma.

Artinya: "Aku ridha Allah SWT sebagai Tuhanku, dan Islam sebagai agamaku, dan Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rasulku. Ya Allah tambahkanlah kepadaku ilmu dan berikanlah aku pemahaman yang baik."

Serta banyak pula pilihan doa sebelum belajar yang lainnya.

Dengan memulai belajar dengan niat, insyaAllah efektivitas pemahaman kita terhadap ilmu akan meningkat karena ada keberkahan.

2. Mohon Doa dan Restu Kedua Orang Tua

Ridhollahi Fi Ridhol Walidain! Yup. Ridho Allah bergantung kepada Ridho kedua orang tua. Dan perlu kita ketahui bahwa doa kedua orang tua itu langsung menembus langit.

Sekarang, bayangkan bila kedua orang tua senantiasa mendoakan kita agar diberikan ilmu yang bermanfaat, diberikan kesehatan agar bisa pergi ke sekolah, serta didoakan agar diberikan kemudahan menggapai ilmu.

Apa yang terjadi?

Doa tersebut bahkan diaminkan oleh malaikat dan dikabulkan oleh Allah SWT karena Allah Ridho.

Maka dari itulah, doa dan restu dari kedua orang tua adalah jalan kita untuk mampu belajar efektif sesuai dengan anjuran Islam.

Kalau Allah dan orang tua sudah ridho, metode apa pun yang kita pakai untuk belajar mudah-mudahan senantiasa dimudahkan.

3. Belajar Membaca yang Tidak Sekadar “Baca”

Di era digitalisasi seperti saat sekarang ini sering kita dengar gaungan pemerintah tentang ajakan literasi, kan?

Nah, sebenarnya jauh sebelum kita mengenal macam-macam literasi, Islam telah menerangkan bahwa cara belajar efektif itu salah satunya ialah membaca sebagaimana yang diterangkan dalam Surah Al-Alaq.

Namun, maksud membaca di sana bukan sekadar membaca melainkan juga meliputi aktivitias menelaah, menganalisa, serta membaca tanda-tanda dan fenomena yang terjadi di dunia ini untuk kemudian dijadikan bahan pelajaran.

Dalam implementasinya di dunia pendidikan, kiranya hal ini tetaplah sama.

Oleh guru, kita diajarkan untuk tidak sekadar menghapal teori melainkan juga mengaplikasinnya di dunia nyata, dikaitkan dengan pengalaman, serta menyandingkannya dengan fenomena agar kita bisa menyelesaikan suatu masalah.

Jadi, belajar membaca sederhananya ialah membaca yang tidak sekadar hapal lalu lupa melainkan untuk dipahami, dimengerti, diaplikasikan, dianalisis, hingga dievaluasi.

4. Memaksimalkan Indra Pendengaran, Penglihatan, dan Hati

Apakah belajar yang efektif cukup hanya sekadar membaca?

Nyatanya tidak. Isyarat Quran utamanya dalam QS An-Nahl ayat 78 menerangkan bahwa Allah telah membekali indra utama untuk belajar yaitu pendengaran, penglihatan, dan hati.

Apa maksudnya? Ternyata hal pertama yang ditekankan oleh Al-Quran untuk belajar efektif bukan membaca melainkan dimulai dengan aktivitas mendengar.

Memang benar bahwa dalam QS Al-Alaq ada perintah membaca, tapi bagaimana cara Allah mewahyukan Surah pertama tersebut kepada Rasulullah?

Yup, melalui malaikat Jibril di mana Nabi Muhammad SAW mendengar dan mengulang ayat demi ayat.

Dengan demikian, Islam menyarankan bahwa belajar yang efektif itu utamanya dimulai dari aktivitas mendengar, melihat, lalu gunakan pula hati untuk meresapi ilmu dan meraih kebermaknaan pengetahuan.

5. Senantiasa Mengulang Pembelajaran

Sobat Guru Penyemangat, sejenak mari kita simak hadits tentang metode pengulangan dalam pembelajaran berikut:

صحيح ابن خزيمة 461: نا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ بُنْدَارٌ، وَأَحْمَدُ بْنُ عَبْدَةَ، وَيَحْيَى بْنُ حَكِيمٍ، وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ بِشْرِ بْنِ الْحَكَمِ  قَالُوا: حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ، نا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ، حَدَّثَنِي سَعِيدُ بْنُ أَبِي الْمَقْبُرِيِّ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ  عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ الْمَسْجِدَ، فَدَخَلَ رَجُلٌ فَصَلَّى، ثُمَّ سَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  فَرَدَّ عَلَيْهِ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّممَ: «ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ، حَتَّى فَعَلَ ذَلِكَ ثَلَاثًا مِرَارٍ» ، فَقَالَ الرَّجُلُ: وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ مَا أَعْلَمُ غَيْرَ هَذَا، فَقَالَ: «إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلَاةِ  فَكَبِّرْ، ثُمَّ اقْرَأْ بِمَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنَ الْقُرْآنِ، ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْتَدِلَ قَائِمًا، ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا، ثُمَّ  ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا، وَافْعَلْ ذَلِكَ فِي صَلَاتِكَ كُلِّهَا» قَالَ أَبُو بَكْرٍ: هَذَا حَدِيثُ بُنْدَارٍ 

Shahih Ibnu Khuzaimah 461: Muhammad bin Basysyar Bundar dan Ahmad bin Abdah dan Yahya bin Hakim dan Abdurrahman bin Baayar bin Al Hakam mengabarkan kepada kami, mereka berkata, Yahya bin Said menceritakan kepada kami, Ubaidillah bin Umar mengabarkan kepada kami, Sa'id bin Abu Al Maqburi menceritakan kepadaku dari ayahnya dan Abu Hurairah, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah memasuki masjid, lalu seorang laki-laki juga masuk kemudian ia melaksanakan shalat, lalu ia mengucapkan salam kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, lalu beliau membalasnya. Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam kemudian bersabda, 'Kembalilah lalu shalatlah sesungguhnya engkau belum melaksanakan shalat' beliau mengucapkan hal tersebut sebanyak tiga kali. Laki-laki tersebut berkata, 'Demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak pernah mengetahui selain hal ini. Beliau bersabda, 'Apabila engkau hendak mendirikan shalat, maka ucapkanlah takbir, lalu bacalah bacaan Al Qur’an yang mudah bagimu kemudian lakukanlah rukuk hingga engkau tuma’ninah di dalam rukuk tersebut, kemudian bangkitlah hingga engkau berdiri melakukan i'tidal, lalu sujudlah hingga engkau tuma'ninah dalam sujud, lalu bangunlah sampai engkau tuma'ninah di dalam duduk di antara dua sujud dan lakukanlah hal tersebut di dalam ibadah shalatmu semuanya.”

Sekilas, hadits Shahih Ibnu Khuzaimah di atas menerangkan betapa pentingnya tuma’ninah dalam sholat.Tapi, pertanyaannya;

Mengapa Nabi Muhammad SAW tidak langsung menunjukkan cara sholat dengan tuma’ninah pada perintah pertama?

Malahan Rasul meminta laki-laki tersebut mengulangnya hingga tiga kali tanpa mengetahui apa saja sesuatu yang salah.

Yup, di situlah poin pentingnya bahwa Nabi Muhammad SAW sedang menerapkan metode pengulangan dalam pembelajaran sholat.

Dalam dunia pendidikan, metode pengulangan adalah salah satu metode belajar efektif yang berdampak sangat baik terhadap pemahaman kita tentang ilmu.

Dengan mengulang materi pelajaran di sekolah, segenap indra kita akan mengingat ilmu dan materi belajar tadi akhirnya bisa menempel lama di ingatan.

6. Mencatat Ilmu dan Pengetahuan Baru

Setiap orang bisa saja menghapal ilmu dan mengingatnya dalam sekejap. Tapi, apakah ilmu tersebut mampu bertahan lama?

Karena ingatan manusia itu terbatas, maka belajar dengan cara menghapal dan mengingat bukanlah cara yang efektif.

Maka dari itulah penting bagi kita untuk mencatat ilmu dan setiap pengetahuan baru yang didapat.

Imam Syafi’i pernah berkata bahwa ilmu itu seperti hewan buruan yang bisa saja lepas sewaktu-waktu. Cara terbaik agar ilmu tersebut tidak “melarikan diri” ialah dengan mengikatnya (menulis).

Ya, Islam juga mengajarkan bahwa menulis ilmu dan pengetahuan merupakan cara belajar yang efektif.

7. Mengutamakan Akhlak dan Memuliakan Guru

Dalam kitab Ta’lim Muta’allim yang ditulis oleh Imam Asy-Syaikh Az-Zarnuji diterangkan bahwa seorang penuntut ilmu tiada bakal mendapatkan ilmu berikut dengan kebermanfaatannya kecuali dengan mengagungkan dan memuliakan guru. Selengkapnya bisa baca di: Adab Siswa Terhadap Guru

Keterangan tersebut menandakan bahwa penting bagi seorang pelajar untuk mengutamakan akhlak dan memuliakan guru.

Kita bisa belajar hari ini, bisa berhitung, hingga bisa membaca semuanya karena guru. 

Percayalah bahwa semakin kita memuliakan guru dan meninggikan sopan santun terhadap mereka, kegiatan belajar kita akan menjadi lebih mudah, efektif, efisien, dan menyenangkan.

Mengapa Guru Penyemangat berkata begitu?

Jika perilaku menghormati dan memuliakan guru akan membuat suasana kelas menjadi kondusif sehingga siswa bisa lebih serius dan siap dalam menerima pelajaran.

Alhasil, kegiatan belajarnya bakal mendulang derajat efektivitas dan efisiensi yang lebih tinggi. O ya, jangan lupa bahwa ada keberkahan.

8. Jangan Berputus Asa

Gurupenyemangat.com menyadari betul bahwa aktivitas belajar sehari-hari tidak selalu mudah. Kadang kita semangat belajar, tapi terkadang pula datang kejenuhan dan kemalasan.

Ada berbagai faktor munculnya kemalasan belajar (selengkapnya di: Faktor Penyebab Kemalasan dalam Belajar) yang menjadikan aktivitas menuntut ilmu jadi terasa sulit dan tidak efektif.

Mungkin pelajarannya sulit dan kurang diminati, atau mungkin pula salah satu di antara kita baru saja mendapatkan nilai rendah.

Dari sana, tidak jarang rasa putus asa menghampiri.

Walau begitu, sebagai seorang pelajar, kita jangan pernah putus asa karena biar bagaimana pun, segala ujian harus kita hadapi.

Allah menjanjikan bahwa setiap satu kesulitan itu akan ada dua kemudahan yang bakal menghampirinya (QS Al-Insyirah Ayat 5-6). Maka dari itulah kita harus tetap semangat.

Sejatinya rasa putus asa bakal menghancurkan efektivitas belajar. Jadi, di saat terjatuh kita harus segera bangkit dan jangan terlalu lama berteman dengan kemalasan, ya. Semangat!

*

Nah, demikianlah tadi sajian Guru Penyemangat tentang cara belajar efektif menurut Islam yang disertai dengan dalil-dalil Al-Quran dan Hadits.

Semoga bermanfaat.

Lanjut Baca: Cara Belajar Efektif dan Efisien di Rumah Maupun di Sekolah

Guru Penyemangat
Guru Penyemangat Menulislah untuk menebar manfaat kepada seluruh alam, karena menuangkan kata-kata juga merupakan jalan ninja menuju kebaikan.

Posting Komentar untuk "8 Cara Belajar Efektif Menurut Islam, Mulailah dengan Niat Semata Karena Allah"

--