Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kumpulan Puisi Motivasi Hidup Islami untuk Renungan Pemacu Semangat Diri

Sebagai insan lemah, kita selalu butuh dengan diksi-diksi motivasi hidup layaknya puisi. Diri ini butuh pemacu semangat islami agar tidak salah arah.

Tahu sendiri, kan? Dunia terkadang terlampau penuh dengan basa-basi. Pada masing-masing selanya kita dihadirkan segudang kecewa.

Puisi Motivasi Hidup Islami untuk Renungan Pemacu Semangat Diri
Puisi Motivasi Hidup Islami untuk Renungan Pemacu Semangat Diri. Photo by ‏πŸŒΈπŸ™Œ في ΨΉΫŒΩ† Ψ§Ω„Ω„Ω‡ on Unsplash

Sedihnya, kekecewaan itu berbekas hingga meruntuhkan motivasi diri. Tidaklah mudah mengembalikan semangat yang kemarin sudah dipupuk hingga subur dan berbuah.

Ada dua yang yang harus disentuh, yaitu antara pikir dan hati.

Pikiran mudah disentuh, dan barangkali dirimulah yang lebih paham dengan hal tersebut. Tapi bagaimana dengan hati?

Tak cukup hanya menanti hidayah, kita harus menjemput sendiri motivasi hidup islami untuk kemudian dijadikan renungan sekaligus refleksi semangat diri.

Mari jangan patah arang untuk berjuang menjadi pribadi yang lebih baik dari hari ini, lebih takwa seiring dengan bertambahnya usia.

Kali ini, Gurupenyemangat.com menghadirkan puisi motivasi hidup yang berisikan pesan-pesan Islam untuk bahan renungan. Semoga bermanfaat.

Puisi: Sesal Tiada Berguna

Jangan tanyakan apa kabar langit ketika duniamu memesona. Gemercik sesal tiada akan datang saat tawamu membuncah.

Dunia memang indah. Sebegitunya diri memeras keringat. Demi sesuap nasi. Tahan banting tapi berdusta kepada tulang. Kata hati telah terabaikan.

Sang Pencipta duduk manis menatap dunia, tepatnya di kala kau lalai mengingat tanah.

Hati yang tandus.
Jiwa yang terkikis oleh harta.
Tulang-tulang yang mulai rimpuh.
Kaca-kaca yang berkarat.
Sesal tiada berguna.

Jika datang mendung dari langit, mungkin angin sejuk tidak akan berguna lagi. Kau takkan bisa menjemur pakaian hati. Semua tinggal cerita yang bersiap menanti di singgahsana.

Terang atau gemuruh. Bahagia atau malah peluh. Sesal itu tiada berguna.

Bagaimana kau akan menuntut kembali?

Andai sesal ada di awal waktu, langkah pikir belum akan membelot. Napas akan berguna. Tulang akan semakin kokoh. Juga, kaca-kaca dalam hatimu tidak akan sekotor itu.

Puisi: Syukur Penyejuk Jiwa

Senyum itu semu ketika kulihat dari kacamata manusia. Terkadang senyum itu tumpah karena berbalas. Tapi hati manusia terbolak-balik.

Ketika kepenatan tiba, gerimis menyusul di belakang jiwa. Rangkaian senyum dengan bibir penyejuk seakan-akan runtuh tertimpa duka.

Begitulah manusia ketika tak berhamba. Laksana menggantung harapan di atas pungguk padi, kekecewaan pasti datang merunduk pilu pula.

Senyum jadi fatamorgana tanpa syukur penyejuk jiwa. Nikmat tiada akan bertambah. Napas pun enggan berubah berkah.

Segelontor kemewahan bakal menuntut pertanggungjawaban. Entah mau jawab apa, karena lalainya syukur telah membakar sukma.

Jiwa terlalu panas menelan bergunung-gunung nikmat dunia. Puas tanpa batas. Celaka di akhir bahkan tanpa bias.

Syukur semestinya menjadi penyejuk jiwa. Senyum tulus jadi pertanda. Bukan karena banyaknya harta, melainkan seberapa lancar diri melantunkan hamdalah dalam aksi nyata.

Puisi: Kufurmu Mencelakakan

Ingat dia tapi lupa dengan Tuhan. Aduhai mencelakakan. Tulus dalam pengorbanan tapi setengah hati dalam sujud. Tunggulah! Petir itu akan datang membawa segudang penyesalan.

Ketika kufur bersinggah, hati jadi semakin gersang. Tubuh yang lemah ini kering kerontang dan tiada berdaya berlindung di bawah naungan bintang.

Salah naungan. Nyatanya dunia bukan Tuhan. Semuanya hanya permainan yang bakal membuatmu lupa dengan satu-satunya naungan.

Maha Kasih Maha Sayang, aduhai rinduku kepada-Mu bukan kepalang. Rindu itu semestinya bukan bias, tapi nafsu dunia mencelakakan.

Sesungguhnya diri benar-benar berada dalam kerugian. Kufurmu menyengsarakan. Semua kisah akan semakin terang di hari pembalasan.

Sebelum hari itu tiba, datanglah kepada syukur dan duduklah di baitullah seraya bersandar pada satu naungan. Di sana, ucapan alhamdulillah akan lebih berharga daripada sekadar renungan.

Puisi: Hidupku Ada untuk Islam

Puisi Renungan Islam Pemacu Semangat Diri
Puisi Renungan Islam Pemacu Semangat Diri. Photo by ‏πŸŒΈπŸ™Œ في ΨΉΫŒΩ† Ψ§Ω„Ω„Ω‡ on Unsplash

Mata ini terpampang sempurna namun banyak tingkah. Lirikan kadang tajam kadang teduh. Tapi sayang, lapar mata membuatnya terperosok dalam dunia.

Tangan ini terlihat kuat ketika menggenggam. Terkadang malah semakin kokoh di saat merangkul jiwa-jiwa yang rimpuh. Jiwa yang hari ini dan kemarin sedang kelaparan.

Tapi sayang, sesekali bahkan sering kali jari-jarinya membelot. Berteriak kepada tetangga untuk menjemput dosa.

Kaki ini terlihat kuat saat melangkah. Rupanya tampil begitu sempurna menginjak tanah. Rumput-rumput tenggelam dalam lumpur, sedangkan kedua kaki selamat dari debu.

Sayangnya kaki sering kali terlampau sombong saat menerjang. Dia merasa kuat, padahal akan semudah itu dia patah. Setelah patah, akan berakhir dengan tiada guna.

Semestinya mata ini, tangan ini, dan kaki ini ada untuk Islam. Begitulah seharusnya hidupku. 

Napas ini berharga ketika lantutan syahadatain menggelora. Kaki ini akan berbangga ketika banyak orang datang ke rumah-Nya.

Sedangkan mata? Tersadar seraya mengetuk kelopak untuk bangun di sepertiga malam untuk memohon ampun atas segala dosa.

Hidupku ada untuk Islam. Jika hidupku jauh dari Islam, lalu apa gunanya aku hidup. Juga, apa gunanya aku mati bila pada akhirnya salah jalan untuk kembali.

Puisi: Panggilan Sayang dari Allah

Pergi ke tanah lapang, ragaku sayang. Berjalan dan berlari menyingkirkan kerikil keringat diri. Satu dan dua langkah belum cukup untuk berhenti. Jasad ini ingin mengumpulkan banyak materi.

Lelah dan biasa. Dua kata yang tak lagi peduli dengan temaram dan fatamorgana. Ke mana langit bertingkah, sekujur badan akan berteduh di bawah dunia.

Mobil mewah. Pondok bertingkat. Dompet berlapis emas. Hingga air putih yang menjadi manis karena napas.

Hingga akhirnya raga jadi lalai. Pernak-pernik dunia terus-terusan melambaikan kata sayang. Salah sayang lalu lupa siapa yang Maha Penyayang.

Panggilan sayang dari Allah sekarang tak terdengar begitu keras.

Dengkuran di waktu pagi. Pejamkan mata di waktu siang. Mengantuk di malam hari setelah begadang. Tak terdengar lagi kumandang azan.

Sebelum raga menyayat buku amal, aku harus menjemput panggilan sayang. Karena Allah sebaik-baiknya tempat cinta yang Maha Sayang.

Puisi: Surgamu Dekat Surgaku Jauh

Kita dilahirkan sama. Berasal dari saripati seorang hamba. Kita tumbuh lalu merangkak lalu berjalan lalu berlari lalu duduk lagi. Sempurna.

Mencicipi baju merah putih, putih biru, putih abu-abu, hingga kemeja. Manis rasanya dunia. Laksana madu para gibah.

Enggan berhenti tapi cukup resah untuk memulai. Semakin menatap surya, rasanya surgaku semakin dekat. Dunia ini menyenangkan. Tidak seperti kata orang-orang kumuh.

Duduk di kursi panas di sebalik tembok. Kopi susu selalu dibuatkan dengan takaran yang pas. Sepulangnya diantar-jemput. Rasanya surgaku semakin dekat.

Tapi setelah kulihat ke seberang. Aku resah. Surgamu yang dekat. Kulihat rumahmu laksana pondok sempit sederhana.

Tidak ada kopi susu. Tidak ada kendaraan antar-jemput. Juga, tidak ada pizza.

Hanya ada air putih dalam teko. Gelas plastik. Juga beberapa potong ketela rebus.

Kau terlihat bahagia saat bersarung. Pada sore hari, anak-anakmu pulang menyapa membawa kitab-Nya. Anak-anakmu sudah khatam.

Sedangkan aku sudah lupa apa kabar para huruf hijaiyah. Ke mana jim ke mana pula dal. Kemarin aku lancar ucap kha sekarang lidahku kelu berkata shad.

Surgamu dekat surgaku jauh. Jelang rimpuhnya diri. Aku ingin segera kembali. Izinkan aku mencicipi sepotong ketela rebus. Dan semoga Allah menunjukkan jalanku.

***

Demikianlah segenap puisi sederhana yang bisa Guru Penyemangat sajikan. Terkadang diksi-diksi motivasi islami bisa lebih memotivasi diri, terutama ketika dirimu sedang sendiri.

Tapi, apalah arti kata-kata indah ketika diri belum mencoba berbuat seraya berbenah. Lisan yang manis tanpa tindakan dan keringat tiada bakal menghasilkan apa-apa.


Salam.

Baca juga:


Guru Penyemangat
Guru Penyemangat Menulislah untuk menebar manfaat kepada seluruh alam, karena menuangkan kata-kata juga merupakan jalan ninja menuju kebaikan.

4 komentar untuk "Kumpulan Puisi Motivasi Hidup Islami untuk Renungan Pemacu Semangat Diri"

  1. Puisinya bagus2, banyak menyimpan makna.

    Terus berkarya mas, karena setiap karya pasti ada yang menikmatinya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahsiyyap, Bu. terima kasih atas apresiasi dan komentar penyemangatnya. Tiada bakal berhenti berkarya. :-)

      Hapus
  2. Saya pikir, nambah lagi brand untuk Pah Ozy. Pemuisi!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Heheehe, blm bisa muisi Ozy, Bu. Baru sebatas ini saja cara menuangkan diksinya :-)

      Hapus

Berkomentarlah sesuai dengan postingan artikel. Mohon maaf, link aktif di kolom komentar tidak akan disetujui.