Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Puisi Tentang Manusia yang Lalai dan Lupa Hingga Ia Celaka dalam Kesunyian

Manusia yang Lalai dan Lupa
Manusia yang Lalai dan Lupa. Gambar dari khazanahalquran.com

Puisi: Surat dari Seorang Manusia yang Lalai dan Lupa

Dunia terlalu fana untuk dibuat bangga. Yang abadi hanya Sang Pencipta. Tapi sayangnya, manusia yang sombong ini terkadang lupa bahwa perannya hanya sebagai hamba.

Sang Pencipta patut untuk berbangga. Dan manusia terlalu cinta akan berbangga. Bukankah itu hal yang salah?

Dunia terlalu fana untuk dicinta. Yang pantas hanyalah Sang Pencipta. Tapi sayangnya, manusia malah mencintai yang tidak seharusnya ia cinta.

Abadi itu selamanya.
Fana itu sementara.
Sementara hanya sebentar saja.
Selamanya selalu ada.

Lantas, mengapa kita mencintai yang sementara jika yang selamanya selalu ada?

Manusia hanyalah makhluk yang lemah. Tak mengetahui apa-apa. Tapi merasa bahwa ia segala. Bahkan bersyukur untuk hari ini pun lupa.

Tapi, kau tahu tidak?

Saking cintanya Sang Pencipta, Dia selalu memaafkan hamba-Nya. Dia selalu cinta, selalu menjaga, selalu ada, selalu menjadi tempat bercerita. Walau, manusia yang Dia cipta, selalu saja berbuat salah.

Ini surat dari seorang manusia, manusia yang lalai dan lupa.

Puisi Karya: Aulia AN.


Puisi: Tentang Orang yang Celaka di Kehidupan Abadi

Dingin membelenggu tubuh di antara hitam dan putih. Keabu-abuan pandangan kornea, menjadikan dunia hijau menjadi pudar. Hanya terlihat merah darah yang jelas di mata cokelat pekat itu.

Hitam tinta terukir menodai kertas putih di hati. Memengaruhi seluruh tekanan batin. Menjadikan yang suci sebagai seorang yang tak pantas dikasihi.

Awalnya putih mendominasi menjadi abu-abu yang berambisi. Masih di dalam sebuah kenaifan, yang kurang teguh pendirian jiwa dan hatinya.

Hijau luaran sana yang indah, dianggapnya tak menarik kembali. Akibat kekalutan hitam di hatinya. Ditanya, sebab berubah putihnya. Ternyata tak dikuatkannya iman taqwa kepada Sang Pencipta.

Merah darah? Ah, tidak. Bahkan akibat pengaruh perubahan bukan hanya merah darah yang dihadapinya. Tapi juga laut api kekelaman menghampirinya.

Sehingga netral cokelat, tak lagi bisa membantunya.

Ketidakpercayaan terhadap Qadarullah menjadikannya terjerumus ke lubang hitam.

Lingkaran kesesatan. Tak ada lagi yang bisa menyadarkannya. Allah menutup pintu hatinya. Menjadi orang celaka di kehidupan abadi didapat akhirnya.

Puisi Karya:   Khairia Nurlita.


Puisi: Kekerasan Abadi

Kehilangan akal membuat hati menimba kelam. Memikirkan gelimpang harta, menyesatkan kehidupan. Tak tahu berapa banyak ranjau terikat. Tak terhitung betapa besar kekejaman sebagai jati diri.

Saat telah sampai di padang perhitungan sebagai tempat berpijak, tak ada lagi canda tawa tersalurkan. Saat bunyi panggilan menggelegar, tak ada lagi kemenangan dibanggakan.

Hati berusaha menjauhkan raga dari lubang hitam.

Menangis batin ini, tersendu meratap kebodohan raga. Terluka jiwa ini. Terasa jauh dari Sang Maha Esa. Seberapa jauh kesesatan mengkalutkan. Seberapa terlenanya, karena kebahagiaan sementara.

Tak sadarkah? Ditinggalkan kunci kebahagiaan abadi. Dibangun tembok di antara pintu suci. Terarah membangun kesesatan abadi. Dilangkahkan kaki, menuju lingkaran Makhluk tak terampuni.

Saat api bergejolak  dan tampak, barulah sadar akan kelakuan. Saat panas telah menembus, barulah meratap kebodohan diri. Saat dihantam kekerasan abadi, barulah meminta ampunan kembali.

Puisi Karya: Khairia Nurlita.


Puisi: Sunyi Menuju Ilahi

Di tengah sunyinya pagi, gadis itu terbangun mendengar kokokan ayam. Lantas, ia segera ke luar rumah. Memompa seember air, di sebuah sumur tua. Lalu menuangkannya ke dalam segayung air. Membersihkan diri tuk menghadap Illahi.

Dibentangkannya sajadah, dan memulai salatnya.

Tapi, entah mengapa salat ini terasa berbeda dari biasanya. Terasa lebih tentram hati dan jiwanya. Hingga tibalah ia di sujud terakhirnya. Ia pun memulai percakapannya.

“Ya Allah, mengapa Engkau timpakan ini kepada kami? Kapankah ini berakhir? Siapa yang salah di sini? Mengapa mereka masih saja menjajah? Laa ilaaha illallaahu, wa asyhaduanna Muhammadar Rasulullah” rintihnya.

Lalu, ia memejamkan mata. Dalam pejaman matanya, terdengar dentuman besar.

“Ah, tidak aku sedang sujud” Gumamnya

Ketika membuka mata. Gelap suasananya. Serasa seluruh tubuhnya mati rasa. Kemudian, ia tersenyum dan berkata:

“Alhamdulillah.“

Puisi Karya: Aulia AN

Baca juga:

Guru Penyemangat
Guru Penyemangat Menulislah untuk menebar manfaat kepada seluruh alam, karena menuangkan kata-kata juga merupakan jalan ninja menuju kebaikan.

2 komentar untuk "Puisi Tentang Manusia yang Lalai dan Lupa Hingga Ia Celaka dalam Kesunyian"

Berkomentarlah sesuai dengan postingan artikel. Mohon maaf, link aktif di kolom komentar tidak akan disetujui.