Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Puisi Cinta untuk Mama, Seorang Malaikat Ketulusan yang Tiada Tanding

Mama, Emak, Bunda, Ibu, Ibunda. Semua julukan itu begitu spesial karena dihadirkan untuk malaikat yang memiliki ketulusan cinta tiada tanding.

Bagaimana tidak, Mama telah mengandung kita bersusah-payah, berpeluh keringat lelah selama 9 bulan 10 hari. Kadang kurang, tapi kadang pula lebih.

Bukanlah sesuatu pekerjaan yang mudah ketika seorang Ibu membawa beban berkilo-kilo di perutnya ke mana-mana. Jangankan untuk jalan-jalan, bahkan untuk tidur pun beliau susah.

Alhasil, sudah semestinya kita sebagai anak selalu berusaha untuk membalas cinta untuk Mama.

Benar. Mama adalah malaikat yang tulusnya tiada tanding. Mama adalah sosok insan mulia yang rela memberi tanpa harap kembali.

Puisi Cinta untuk Mama, Seorang Malaikat Ketulusan yang Tiada Tanding
Puisi Cinta untuk Mama, Seorang Malaikat Ketulusan yang Tiada Tanding. Gambar oleh bingngu93 dari Pixabay

Mama rela berjemur di terik matahari yang panasnya menggigit hanya demi sesuap bubur, buah-buahan, dan nasi. Hanya demi kesuksesan kita di hari ini dan di masa depan.

Untuk itu, izinkan Gurupenyemangat.com hadirkan puisi cinta untuk Mama, seorang malaikat yang tulusnya tiada tanding.

Puisi cinta ini cocok untuk dibacakan oleh anak SD, SMP, SMA, bahkan oleh masyarakat pada umumnya. Diksi-diksi yang tersusun disajikan secara sederhana sehingga mudah untuk dipahami.

Puisi untuk Ibu: Insan Mulia, Memberi Tanpa Harap Kembali

Layaknya hujan itu, jasanya mengalir deras tak terhenti. Jika bintang malam telah bersuka ria menampakkan diri, maka dia satu yang paling bersinar di antaranya.

Pada taman yang selalu ramai akan bunganya, dialah matahari yang membantu metamorfosis bersama kehangatan.

Payung akan hancur diterpa hujan badai, tapi hatinya tetap kukuh meski dihantam jutaan umpatan.

Semua yang terencana dapat hancur, hanya karena pengkhianat. Namun ilmunya tak pernah terputus, hingga akhir hayat.

Terkadang kelopaknya merah, terkadang juga putih. Namun terhanyut batin, karena putih yang mendominasi.

Kasihnya, sayangnya, sabarnya, mengalahkan amarah hatinya.

Dia insan mulia, memberi tanpa mengharap kembali.

Dia cahaya teknologi, tak ada kehadirannya tak ada globalisasi.

Dia superhero semesta, dengan bangga menyandang julukan 'Mama' terkenal akan segala ilmu, terkenang dengan penuh kasih.

Menciptakan sebuah generasi, yang berbakti dan mengabdi setulus sepenuh hati.

Hanya satu kalimat lagi "Terima kasih karena selalu hadir di dunia kami".

Puisi Karya: Khairia Nurlita.


Puisi: Perjuangan Malaikatku, Bunda

Puisi Perjuangan Malaikatku, Bunda
Puisi Perjuangan Malaikatku, Bunda. Gambar oleh Sabine van Erp dari Pixabay

Teruntuk seorang malaikat peluluh hati. Tak kenal susah, letih, dan lelah untuk menyayangi.

Tak peduli sakit yang datang untuk diriku menjadi bahagia di sini. Semoga surga selalu ada untukmu, doaku kepada Sang Ilahi.

Teruntuk seorang malaikat penyemangat diri. Mendidik, merawat, dan menopang raga ini ke jalan yang berakhlak terpuji.

Membelai lembut setulus kalbu, memberikan pelukan hangat di kala sedih.

Teruntuk seorang malaikat yang tiada letih membasuh diri. Merangkul raga ke rumah Allah SWT.

Senantiasa berdoa keselamatan dan kesuksesan jati diri.

Selalu berharap dan bermohon kebahagiaan hati ini. Senantiasa meminta di dalam ibadah akan kejayaan raga.

Teruntuk seorang malaikat tiada tanding. Seorang yang disebut sebagai Bunda. Tak terhingga beribu maaf atas kesalahan yang kubuat.

Tak pernah terucap kata cinta dan sayang dari bibir kemerahanku. Tak pernah bisa kubalas budiku untukmu.

Terima kasih akan kehidupan, kebahagiaan, arahan, dan kesempatanmu.

Dan teruntuk seorang malaikat yang kusebut Bunda. Akan kupastikan senja berpihak kepadaku.

Lentera selalu menerangi jalanku. Dan perjuanganmu tak sia-sia dalam membesarkanku.

Karya: Khairia Nurlita. 


Puisi: Hati Bunda

Pernah terbesit di hatimu tentang letihnya perjuangan seseorang? Sesosok malaikat yang mempertaruhkan segalanya untukmu.

Bilamana dingin menyentuh, kehangatan yang melindungimu tiada tersaingi. Kamu yang menyapa kehancuran, dia yang khawatir akan kesengsaraan.

Tak ada yang menyaingi, bening permata di hatinya. Tiada yang bisa menggantikan. Senyum manisnya menghangatkan.

Tertawa, kau!

Tertawa batinku!

Terkoyak hatiku! 

Kau!

Pernah kau melihat perjuangannya?

Pernahkah sedikit pun ada belas kasih kau kepadanya?

Pernah kau memikirkan keadaannya?

Jangan hanya memikirkan, menoleh pun kau tidak.

Tak ingatkah kau?

Bagaimana lembutnya sentuhan membelaimu?

Hangatnya pelukan melindungimu?

Peluhnya keringat membesarkanmu?

Hingga tega kau sekarang tak menorehkan sebuah pembalasan untuknya.

Di mana hatimu? 

Kau sibuk beralasan.

"Ada seseorang yang harus ku jaga"

Siapa, siapa yang kau jaga? 

Ibumu, kau jadikan terlantar di ujung senja. Ibumu, kau lupakan bersama redupnya rembulan. Lantas, siapa yang kau jaga? 

Jika ibumu tak kau hiraukan, Bagaimana bisa kau peduli kepada orang lain?

Hei!

Di mana hati nuranimu! 

Hatinya rapuh. Kau tahu, tapi tak pernah terucap sepatah kata darimu, "Bu, aku rindu!" 

Tergores hatinya, Saat kau mengacuhkannya. Terluka batinnya, saat kau meninggalkannya tanpa jejak.

Tak pernah dapat terucap dari bibirnya, Namun hati rapuhnya selalu berkata "Ibu rindu, kapan kau datang? Tak rindukah kau pada ku?" 

Berteriak hatinya, bercucuran peluh air mata, Tak kuasa menahan isak tangis. Tak kuasa lagi bibir ini terucap. Dia menunggumu jauh di perantauan. 

Menunggu engkau kembali, hingga terhapus sepercik rindu mematikan.

Bersama hati rapuh yang susah diobati. Dengan ujung senja yang kian menemani. Dan redupnya rembulan yang menunggu hatinya pergi.

Karya:  Khairia Nurlita.


Puisi: Mama, Cintaku Padamu Tak Pernah Patah

Mama, Cintaku Padamu Tak Pernah Patah
Mama, Cintaku Padamu Tak Pernah Patah. Gambar oleh Марина Вельможко dari Pixabay

Mama. Dulu engkau hadir begitu memesona. Mengajariku tersenyum tulus. Menawarkanku bubur yang lezat. Juga menghadiahkanku baju yang cantik.

Hari ini ternyata Mama masih sama. Di tengah mendungnya hatiku yang sempat tergerus sepi, engkau datang laksana keramaian.

Sepiku jadi senyum. Senyumku jadi tawa. Dan, tawaku jadi sumrigah penuh gairah.

Sesekali, kulihat masa depan itu kembali cerah. Padahal kemarin hatiku pernah patah. Tersebab si dia, tersebab si dia, si dia, dan si dia.

Awalnya mereka semua memamerkan sebuah ketulusan cinta. Tapi, pada akhirnya aku yang dibuatnya kecewa.

Cintaku patah, Ma!

Saat itu aku ingin mengadu kepada awan. Tapi, awan terlalu sibuk berteman dengan gemuruh.

Aku pula ingin memanggil angin semilir. Tapi sayang, angin lebih peduli untuk bertiup ke gunung-gunung tinggi yang memesona.

Mama, kepada engkaulah aku mengadu!

Mama lebih dari sekadar awan yang sesekali tipis, sesekali tebal, lalu menghilang. Mama pula lebih dari sekadar angin yang sesekali sejuk tapi sesudahnya mencelakai.

Karena Mama, cintaku tak pernah patah. Mama, seorang malaikat dengan ketulusan yang tiada tanding.

Karya: Ozy V. Alandika

Lanjut Baca: 👉 Aku Sayang Ibu, Ini Pantun Cinta untuk Mama

Guru Penyemangat
Guru Penyemangat Menulislah untuk menebar manfaat kepada seluruh alam, karena menuangkan kata-kata juga merupakan jalan ninja menuju kebaikan.

2 komentar untuk "Puisi Cinta untuk Mama, Seorang Malaikat Ketulusan yang Tiada Tanding"

  1. Keren ananda Ozy. Ditunggu puisi yang lain, selamat malam.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, Nek. Ahsiyyap Nek. Selamat Malam

      Hapus

Berkomentarlah sesuai dengan postingan artikel. Mohon maaf, link aktif di kolom komentar tidak akan disetujui.