Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Faktor-faktor Penyebab Terjadinya Konversi Agama (Secara Mendadak dan Berproses)

Faktor-faktor Penyebab Terjadinya Konversi Agama (Secara Mendadak dan Berproses)
Deddy Corbuzier bersama Ma'ruf Amin dan Gus Miftah. Foto: KapanLagi.com/Bayu Herdianto
Pernahkah kamu mendengar istilah konversi agama?

Kata konversi berasal dari bahasa Inggris “conversion” yang artinya “berlawanan arah”. Sedangkan kata “agama” berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti tradisi.

Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dikatakan bahwa agama adalah sistem atau prinsip kepercayaan kepada Tuhan, atau juga disebut dengan nama Dewa atau nama lainnya dengan ajaran kebaktian dan kewajiban-kewajiban yang bertalian dengan kepercayaan tersebut. 

Dengan begitu dapat dikatakan bahwa konversi agama berarti terjadinya perubahan keyakinan yang berlawanan dengan keyakinan semula.

Menurut Walter Houston Clark, konversi agama adalah suatu macam pertumbuhan atau perkembangan spiritual yang cukup berarti, dalam sikap terhadap ajaran dan tindakan agama. 

Lebih jelas dan lebih tegas lagi, konversi agama menunjukkan bahwa suatu perubahan emosi yang tiba-tiba kearah mendapat hidayah Allah secara mendadak telah terjadi, yang mungkin saja sangat mendalam atau dangkal. Dan mungkin pula terjadi perubahan tersebut secara berangsur-angsur.

Alhasil, dapat direngkuh gagasan bahwa konversi agama adalah suatu pertukaran atau perubahan keyakinan spiritual yang ada pada dirinya yang bisa terjadi secara tiba-tiba ataupun melalui sebuah proses yang panjang yang melibatkan sebuah proses dan reaksi kebatinan. 

Dari definisi tersebut dapat dibayangkan betapa sukarnya mengukur dan meneliti fakta konversi tersebut. Sama halnya dengan fakta-fakta psikis lainnya. 

Kita tidak dapat meneliti secara langsung proses kejadian konversi agama tersebut, dan keadaan jiwa apa yang memungkinkan terjadinya peralihan keyakinan secara mendadak itu.

Faktor Penyebab Terjadinya Konversi Agama

Sejatinya, ada beberapa faktor penyebab yang terjadi dan terdapat dalam suatu peristiwa konversi agama, antara lain:

Pertentangan batin (konflik jiwa) dan ketegangan perasaan

Menurut Ibnu Khaldun, konflik jika dilihat dari aspek psikologis merupakan dasar sentimen dan ide yang membangun hubungan sosial di antara berbagai kelompok manusia (keluarga, suku, ras, agama, dan lainnya). 

Kecenderungannya dimanifestasikan dalam berbagai aktivitas seperti kerjasama, kesetiaan, solidaritas, dan saling bantu membantu dalam berbagai hal.

Rupanya orang-orang yang gelisah, yang didalam dirinya bertarung berbagai persoalan, yang kadang-kadang dia merasa tidak berdaya menghadapi persoalan atau problema itu mudah mengalami konversi agama. 

Di antaranya ketegangan batin yang dirasakan orang, ialah ketidak-mampuan dalam mematuhi nilai-nilai moral dan agama dalam hidupnya. 

Ia tahu bahwa yang salah itu salah, akan tetapi ia tidak dapat menghindarkn dirinya dari perbuatan salah itu, dan dia tahu mana yang benar, akan tetapi tidak mampu berbuat benar.

Itulah sebabnya kadang-kadang kita mendengar seorang penjahat besar, pencuri, perampok, dan pelanggar susila memberi nasihat seolah-olah ia orang yang betul-betul baik. 

Dan tidak jarang pula kita melihat pemain-pemain judi dan wanita serta pelanggar hukum yang dengan segala dalih dan alasan menentang ajaran agama, mengejek pemimpin-pemimpin, bahkan berusaha mencelakakan mereka. 

Orang-orang itu kadang sadar bahwa dalam dirinya sedang berkecamuk aneka persoalan yang tidak dapat dihadapinya, tapi banyak pula orang yang tidak sadar bahwa dalam dirinya ada konflik yang terpendam dialam ketidak-sadarannya.

Di samping itu sering pula dirasakan ketegangan batin, yang memukul jiwa, merasa tidak tenteram, gelisah, yang kadang-kadang terasa ada sebabnya dan kadang-kadang tidak diketahui. 

Belakangan ini tidak sedikit orang yang merasa gelisah dan sangat cemas dengan keguncangan keluarga, hubungan suami dan istri yang menjadi retak dan pecah, karena salah satunya tidak setia dan ada yang disebabkan oleh putus asa dalam mendidik anak.

Di luar sana, banyak lagi kekecewaan yang dapat menyebabkan jiwa tertekan dan kadang-kadang menjadi kebingungan tidak tentu apa yang akan dilakukan.

Dalam kepanikan atau kegoncangan jiwa itulah kadang-kadang seseorang tiba-tiba terangsang melihat orang sembahyang atau mendengar adzan, hatinya merasa tertarik ingin merasa tenteram, merasa diampuni, dirangkul oleh kasih sayang Allah SWT. 

Demikian pula halnya dengan Umar bin Khattab yang sedang diombang-ambing oleh konflik jiwa, karena ingin menguasai orang, tetapi adik perempuannya sendiri telah memilih jalan yang berlawanna dengan kemauanny. 

Dalam puncak kegelisahan itu didengarnya ayat-ayat yang seolah-olah menegur dirinya sendiri. “Al-Quran bukan untuk menyusahkan, tapi peringatan” dan seterusnya. 

Dalam konversi agama dapat dikatakan bahwa latar belakang yang terpokok adalah konflik jiwa (pertentangan batin) dan ketegangan perasaan, yang mungkin disebabkan oleh berbagai keadaan.

Pengaruh hubungan dengan tradisi agama

Memang benar, bahwa konversi agama bisa terjadi dalam sekejap mata, namun tidak ada peristiwa konversi agama yang tidak mempunyai riwayat. 

Di antara faktor-faktor penting dalam riwayat konversi itu adalah pengalaman-pengalaman yang mempengaruhinya, sehingga terjadi konversi tersebut. 

Pengaruh terpenting adalah pendidikan orang tua di waktu kecil. Memang orang-orang yang mengalami konversi itu acuh tak acuh bahkan menentang agama pada hidupnya menejlang konversi itu terjadi. 

Namun jika dipelajari riwayat hidupnya sejak kecil akan didapati misalnya ibu atau bapaknya adalah orang yang kuat agamanya, atau salah satu dari orang tuanya tekun dalam beragama.

Jika kita analisa, pendidikan dan suasana keluarga diwaktu kecil itu mempunyai pengaruh besar terhadap diri orang-orang, yang kemudian terjadi padanya konversi agama secara tiba-tiba.

Mau tidak mau suasana dan pengalaman diwaktu keci itu akan teringat dan membayang-bayang secara tidak sadar didalam dirinya. 

Sebenarnya pendidikan dalam keluarga itu bukanlah satu-satunya faktor yang mempengaruhi jiwa orang-orang yang gelisah acuh tak acuh kepada agama itu. Faktor lain seperti lembaga keagamaan, masjid atau gereja-gereja. 

Aktivitas lembaga keagamaan mempunyai pengaruh besar terutama aktivitas pergi ke masjid, surau atau langgar, di mana banyak pula teman sebayanya yang sama-sama mendapat pendidikan dari lembaga tersebut dan sama-sama belajar mengaji.

Belum selesai, ada pula kegiatan mendengar pelajaran-pelajaran yang diteragkan guru dengan baik, upacara Khatam Qur’an, mengikuti didikan subuh, ikut membagikan zakat fitrah, daging kurban, dan sebagainya. 

Kebiasaan-kebiasaan yang dialami diwaktu kecil melalui bimbingan keagamaan itu, termasuk salah satu faktor penting yang memudahkan terjadinya konversi agama jika pada umur dewasanya ia kemudian menjadi acuh tak acuh pada agama dan mengalami konfilik jiwa ketegangan batin yang tidak teratasi.

Ajakan, seruan dan sugesti

Banyak pula terbukti, bahwa di antara peristiwa konversi agama, terjadi karena sugesti dan bujukan dari luar. 

Kendatipun pengaruh sugesti dan bujukan itu pada mulanya dangkal saja atau tidak mendalam, tidak sampai kepada perubahan kepribadian, namun jika orang yang mengalami konversi itu dapat merasasakan kelegaan dan ketentraman batin dalam keyakinan yang baru, maka lama kelamaan akan masuklah keyakinan itu keddalam keprbadiannya.

Orang-orang yang gelisah, yang sedang mengalami kegoncangan batin akan sangat mudah menerima sugesti atau bujukan-bujukan itu. 

Karena orang yang sedang gelisah atau goncang jiwanya itu, ingin segera terlepas dari penderitaannya, baik penderitaan itu disebabkan oleh keadaan ekonomi, sosial, rumah tangga, pribadi atau moral. 

Bujukan atau sugesti yang menbawa harapan akan terlepas dari kesengsaraan batin itu akan segera diikutinya. 

Memang, ajakan itu tidak kekal tapi dapat diperkuat sedikit demi sedikit dengan pembuktian bahwa ketegangannya itu makin berkurang dan berganti dengan ketentraman batin dalam keyakinan yang baru. 

Inilah barangkali salah satu hikmah terpenting dalam ajaran Islam yang memasukkan orang-orang muallaf dalam kategori orang-orang yang mendappat perhatian dan pertolngan sekaligus salah satu golongan yang boleh diberi zakat.

Karena itu, dakwah atau seruan agama yang ditujukan kepada orang-orang yang berdosa, acuh tak acuh kepada agama, atau orang yang menentang agama, yang sedang mengalami ketegangan dan konflik batin, hendaklah bersifat mendorong dan membawanya kepada ketentraman batin. 

Jangan sampai mereka digelisahkan, ditakut-takuti dengan dosa, neraka, dan kemarahan Tuhan. 

Ajakan yang disertai dengan ancaman-ancaman, atau menakut-nakuti tidak akan membawa kepada pertumbuhan keyakinan baru, bahkan pertumbuhan keyakinan baru itu akan pudar. 

Karena kegelisahan yang semula tidak hilang, bahkan bertambah pula dengan pemikiran tentang dosa dan kemarahan Tuhan yang dijelaskan oleh juru dakwah tersebut.

Bantuan-bantuan moral dan material serta kesempatan-kesempataan untuk mengungkapkan rasa dosa (salah), diberikan dengan penuh perhatian dan kasih sayang oleh pemuka-pemuka agama tersebut, akan membuat hati yang bingung dan gelisah tadi menjadi tenteram dan tertarik kepadanya.

Faktor-faktor emosi

Dalam penelitian George A. Coe terhadap orang yang mengalami konversi agama, ditemukannyalah bahwa konversi agama lebih banyak terjadi pada orang-orang yang dikuasai oleh emosinya. 

Akan tetapi, W.H. Clark mengatakan bahwa dalam menerima penemuan Coe itu kita harus hati-hati walaupun emosi itu memang ada pengaruhya dalam peristiwa konversi agama.

Kalau kita kembali kepada orang-orang yang emosinya lebih mudah mendorongnya untuk bertindak, biasanya mereka sangat tajam (ekstrim) apabila melihat sesuatu yang menyenangkan perasaanya, sesuatu itu akan dipujinya setinggi langit, dan sebaliknya ia akan menghantam habis-habisan orang yang berbeda pendapat dengan dia. 

Orang-orang yang demikian itu kadang-kadang berkeras membela kesalahan yang dibuat, kendatipun ia tahu bahwa yang dibuatnya itu salah, namun ia tidak mampu untuk menghindarinya.

Orang-orang yang emosional mudah kena sugesti, apabila ia sedang mengalami kegelisahan. 

Kendatipun faktor emosi, secara lahir tampaknya tidak terlalu banyak pengaruhnya, namun dapat dibuktikn bahwa itu merupakan salah satu faktor yang ikut mendorong mterjadinya konversi agama, apabila ia sedang mengalami kekecewaan.

Umur remaja terkenal dengan umur kegoncangan emosi, maka peristiwa konversi agama sebenarnya banyak terjadi pada remaja-remaja tersebut.

Seperti ditemukan oleh G. Stanley Hall dalam penelitiannya terhadap-mahasiswa-mahasiswa tingkat I Jurusan ilmu Jiwa Pemuda, bahwa umur iniah yang paling dekat dan membawa konversi agama. 

Kemudian, Starbuck mengemukakan pula bahwa umur yang menonjol bagi konversi agama pada laki-laki adalah umur 16 tahun 4 bulan dan bagi wanita 14 tahun 8 bulan. 

Apabila kita kembali kepada kenyataan hidup, tidak sedikit peristiwa konversi yang terjadi pada usia diatas 40 atau 50 tahun. 

Memang pada banyak peristiwa, emosi memegang peranan penting dalam mempengaruhi pengkonvensian agama seseorang.

Kemauan

Rupanya kemauan juga memainkan peranan penting dalam konversi agama. Dimana dalam beberapa kasus, terbukti bahwa peristiwa konversi itu terjadi sebagai hasil dari perjuangan batin yang ingin mengalami konversi. 

Hal ini dapat kita ikuti dari riwayat hidup imam Al Ghazali, yang mengalami sendiri bahwa pekerjaan dan buku-buku yang dulu dikarangnya bukanlah dari keyakinan, tapi datang dari keinginan untuk mencari nama dan pangkat.

Di sisi lain, William James dalam bukunya the varieties of Religious Experience  dan Max Heirich dalam bukunya Change of Heart banyak menguraikan faktor yang menyebabkan terjadinya konversi agama. 

Dalam buku tersebut diuraikan pendapat dari para ahli yang terlibat dalam disiplin ilmu, masing-masing mengemukakan pendapat bahwa konersi agama disebabkan oleh faktor yang cenderung didominasi oleh lapangan ilmu yang mereka tekuni. 

Para ahli agama menyatakan, bahwa yang menjadi faktor pendorong terjadinya konversi agama adalah petunjuk ilahi. Pengaruh supranatural berperan secara dominan dalam proses terjadinya konversi agama pada diri seseorang atau kelompok.

Para ahli sosiologi berpendapat, bahwa yang menyebabkan terjadinya konversi agama adalah pengaruh sosial. Pengaruh sosial yang mendorong terjadinya konversi itu terdiri dari adanya berbagai faktor antara lain:

Pengaruh hubungan antar pribadi baik pergaulan yang bersifat keagamaan atau non agama (kesenian, ilmu pengetahuan, ataupun bidang kebudayaan yang lain). 

  • Pengaruh kebiasaan yang rutin

Pengaruh ini dapat mendorong seseorang atau kelompok untuk merubah kepercayaan jika dilakukan secara rutin hingga terbiasa, misalnya: mengahadiri upacara keagamaan, ataupun pertemuan-pertemuan yang bersifat kegamaan baik pada lembaga formal ataupun non-formal.

  • Pengaruh anjuran atau propaganda dari orang-orang yang dekat misalnya: karib, keuarga, family, dan sebagainya.
  • Pengaruh pemimpin keagamaan.

Hubungan yang baik dengan pemimpin agama merupakan salah satu faktor pendorong konversi agama. 

  • Pengaruh perkumpulan yang berdasarkan hobi.

Perkumpulan yang dimaksud seseorang berdasarkan hobinya dapat pula menjadi pendorong terjadinya konversi agama.

  • Pengaruh kekuasaan pemimpin.

Yang dimaksud di sini adalah pengaruh kekuasaan pemimpin berddasarkan kekuatan hukum. Masyarakat umumnya cenderung menganut agama yang dianut oleh kepala Negara atau Raja mereka (Cuius region illius est religio).

Para ahli psikologi berpendapat bahwa yang menjadi pendorong terjadinya konversi agama adalah faktor psikologis yang ditimbulkan oleh faktor intern maupun ekstern. 

Faktor-faktor tersebut apabila mempengaruhi seseorang atau kelompok hingga menimbulkan semacam gejala tekanan batin, maka akan terdorong untuk mencari jalan keluar yaitu ketenangan batin. 

Dalam kondisi jiwa yang demikian itu secara psikologi kehidupan batin seseorang menjadi kosong dan tak beraya sehingga mencari perlindungan kekuatan lain yang mampu memberinya kehidupan jiwa yang terang dan tentram. 

Dalam uraian William James yang berhasil meneliti pengalaman berbagai tokoh yang mengalami konversi agama menyimpulkan sebagai berikut:

  • Konversi agama terjadi karena adanya suatu tenaga jiwa yang menguasai pusat kebiasaan seseorang sehingga pada dirinya muncul persepsi baru, dalam bentuk suatu ide yang bersemi secara mantap.
  • Konversi agama dapat terjadi oleh karena suatu krisis ataupun secara mendadak (tanpa suatu proses).

Faktor yang melatarbelakanginya timbul dari dalam diri (intern) dan dari lingkungan (ekstern). 

Faktor intern, yang ikut mempengaruhi terjadinya konversi agama adalah:

Kepribadian

Secara psikologi tipe kepribadian tertent akan mempengaruhi kehidupan jiwa seseorang. Dalam penelitian William James ia menemukan, bahwa tipe melankolis yang memiliki kerentanan perasaan lebih mendalam dapat menyebabkan terjadinya konversi agama dalam dirinya.

Faktor pembawaan

Menurut penelitian  Guy. E. Swanson bahwa ada semacam kecederungan urutan kelahiran mempengaruhi konversi agama. 

Anak sulung dan anak yang bungsu biasanya tidak mengalami tekanan batin sedangkan anak-anak yang dilahirkan pada urutan keduanya sering mengalami stress jiwa. Kondisi yang dibawa berdasarkan urutan kelahiran itu banyak mempengaruhi terjadinya konversi agama.

Faktor Ekstern (faktor luar diri)

Di antara faktor luar yan mempengaruhi terjadinya konversi agama adalah: 

  • Faktor keluarga, keretakan keluarga, ketidak serasian, berlainan agama, kesepian, kesulitan seksual, kurang mendapatkan pengakuan kaum kerabat, dan lainnya. 

Kondisi yang demikian menyebabkan seseorang akan mengalami tekanan batin sehingga sering terjadi konversi agama dalam usahanya unutk meredakan tekanan batin yang menimpa dirinya.

  • Lingkungan tempat tinggal

Orang yang merasa terlempar dari lingkungan tempat tinggal atau tersingkir dari kehidupan di suatu tempat merasa dirinya hidup sebatang kara. 

Keadaan yang demikian menyebabkan seseorang mendambakan ketenangna dan mencari tempat untuk bergantung hingga kegelisahan batinnya hilang. 

  • Perubahan status

Perubahan status, terutama yang berlangsung secara mendadak akan banyak mempengaruhi terjadinya konversi agama, misalnya: perceraian, keluar dari sekolah atau perkumpulan, perubahan pekerjaan, kawin dengan orang yang berlainan agama, dan sebagainya.

  • Kemiskinan

Kondisi sosial ekonomi yang sulit juga merupakan faktor yang mendorong dan mempengaruhi terjadinya konversi agama. 

Masyarakat awal yang miskin cenderung untuk memeluk agama yang menjanjikan kehidupan dunia yang lebih baik. Kebutuhan mendesak akan sandang dan pangan dapat mempengaruhi.

Simpul penulis, konversi agama bisa terjadi ketika seseorang sudah mengalami pergolakan jiwa, perasaan yang tumpang tindih, serta ketegangan batin. 

Baik itu karena kemiskinan, masalah keluarga, penyakit yang diderita, kondisi badan yang serba kekurangan, pengaruh lingkungan, dan sebagainya. 

Intinya, seseorang akan berkonversi agama ketika ia menemui sebuah keyakinan baru yang bisa membuatnya nyaman dan tentram batin, sehingga otomatis ia akan menggapai keyakinan tersebut.

Konversi Agama Secara Mendadak?

Bagi setiap orang Islam yang mengenal sejarah Islam, tentunya tidak akan asing baginya riwayat Umar bin Khattab sebelum dan sesudahnya masuk Islam. 

Umar mengalami konversi agama yang sangat ekstrim. Perubahannya sangat besar, terjadi dengan tiba-tiba, seolah-olah tidak ada proses jiwa yang mendahuluinya.

Umar adalah seorang bangsawan Arab yang terkenal berani, keras, kasar, pantang kalah dalam perkelahian, pintar bicara, pandai ain dan selalu memperlihatkan kekuatan dan kebengisannya. Setiap orang di Mekkah takut kepadanya. 

Ketika Nabi Muhammad SAW, mulai secara sembunyi-sembunyi menyiarkan ajaran Islam kepada sahabat-sahabatnya yang terdekat, Umar telah mendengarnya. Ia ingin menghentikan seruan Nabi Muhammad itu, akan tetapi tempat Nabi tidak diketahuinya. 

Pengikut Nabi Muhammad makin lama makin bertambah besar, walaupun mereka takut kepada Umar.

Pada suatu hari, dalam perjalanan pulang dari berburu, Umar bermaksud akan langsung mencari Muhammad dan membunuhnya. 

Ketika masuk kota, orang yang pertama kali bertemu dengannya adalah suami adiknya, yang telah masuk Islam. Umar bertanya, “dimana Muhammad?” matanya tampak berapi-api. Adik iparnya dengan cemas menjawab, “untuk apa tuan cari Muhammad?”

Umar terkejut mendengar pertanyaan adik iparnya itu, kenapa ia berani berkata begitu. Sambil menjawab, “saya memerlukannya, akan saya bunuh supaya ia berhenti dari perbuatan mengembangkan keyakinan baru itu.” 

Umar marah dengan perkataan adik iparnya, serta menanyakan, “apakah engkau telah menjadi pengikut Muhammad?”

Tanpa ragu-ragu ia menjawab, “Ya.”

Umar semakin marah, dia merasa sangat terkejut mendengar bahwa adiknya telah menjadi pengikut Muhammad pula, iparnya itu ditinggalkannya dan ia langsung menuju kerumah adiknya. 

Waktu sampai di pintu, terdengar olehnya adiknya sedang membaca Al-Qur’an. Pintu diketoknya dengan keras. 

Adiknya segera membuka pintu, ketakutan. Begitu pintu terbuka, Umar menanyakan apakah betul adiknya telah menjadi pengikut Muhammad sambil memukulnya langsung. 

Adiknya menjawab, “Ya, saya ikuti dia, karena ada hal yang baik yang saya pelajari dari padanya.” 

Kemarahan Umar semakin bertambah mendengar jawaban itu, sehingga bertambah keras pukulannya, sampai adiknya luka-luka dan bajunya berlumuran darah. Melihat adiknya berlumuran darah seperti itu, ia lalu berhenti dan bertanya:

“Apa yang tadi kedengaran oleh saya dari luar?”

Kata adiknya, “Ayat Al-Qur’an.”

“Mana dia, perlihatkan kepadaku!” bentak Umar.

Kata adiknya, “Tidak, engkau kotor, tidak boleh menyentuhnya, engkau harus mandi dulu sebelum menyentuhnya.”

“Baiklah,” kata Umar, ia pergi mandi. Setelah itu kembali kepada adiknya. Lalu Umar mengambil lembaran-lembaran yang ditulis diatasnya tadi ayat-ayat, lalu dibacanya 

“Thaahaa (Muhammad). Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah; tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah). Yaitu diturunkan dari Allah yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi.” (QS Thaahaa ayat 1-4).

Setelah dibacanya ayat itu dia diam sebentar, kemudian menanyakan, “dimana Muhammad?”. Adiknya telah melihat perubahan air muka Umar, lalu menujukkan tempat berkumpulnya Muhammad dan sahabat-sahabatnya secara sembunyi-sembunyi itu. 

Umar langsung menuju ketempat itu. Sesampainya disana sahabat-sahabat merasa takut, jangan-jangan Umar datang akan membunuh Muhammad. Tapi Muhammad menyuruh salah seorang dari mereka untuk membuka pintu.

Begitu pintu terbuka, begitu Umar langsung menuju Muhammad, Muhammad memegangnya sambil berkata: “Wahai Umar, belum datangkah masanya bagimu untuk beriman?”

Umar menjawab, “Ya, sekarang saya percaya bahwa tiada Tuhan selain Allah dan engkaulah Rasul-Nya.” Semua sahabat yang hadir terharu mendengar pengakuan Umar yang tidak disangka-sangka itu, dan mereka serentak membaca Allahu Akbar.

Umar berkata, “Ya Muhammad, bukankah kita berada dijalan yang benar?”

Muhammad menjawab, “Ya.”

Lalu Umar berkata, “mengapa kita harus sembunyi-sembunyi seperti ini, tidakkah lebih baik kita mengajak orang secara terang-terangan dan mereka mengenal kita?”

Demikianlah sesudah itu, pengikut Muhammad semakin banyak dan semakin kuat, karena semenjak Umar masuk Islam, perjuangan Muhammad tidak lagi sembunyi-sembunyi seperti dahulu, tapi dengan terang-terangan.

Setelah masuk Islam, segala sifat Umar yang buruk berubah sama sekali, kekerasan dan kekejamannya berganti dengan penyantun dan pengasih dalam menghadapi orang-orang dan mencinai mereka. Dari benci kepada Muhammad, berubah menjadi pencinta dan pembelanya.

Sepintas lalu kita melihat bahwa proses konversi agama pada Umar terjadi dalam sekejap mata, hanya karena medengar ayat-ayat Al-Qur’an yang mengobati hatinya. 

Ia berbalik 180 derajat dalam sifat-sifat, tindak, tingkah laku dan perasaannya. Inilah hidayah Allah. 

Ahli-ahli agama tidak akan mengingkari soal petunjuk Allah yang diberikan-Nya kepada siapapun, yang dikehendaki-nya dan kapan saja. Dia yang Maha Pengatur, hati manusia sekalipun.

Konversi Agama juga Merupakan Sebuah Proses

Seorang pedagang kaya berasal dari satu daerah yang terkenal kuat agamanya dan adat kebiasaannya. 

Si pedagang ini seringkalibepergian kedaerah lain dan ke luar negeri untuk urusan dagang. Apabila ia berada didaerahnya, dia berlaku pura-pera alim, ikut ke masjid dan pura-pura tekun menjalankan ibadah. 

Akan tetapi, apabila berada diluar daerahnya, ia berbuat apa saja yang disukainya, minum minuman keras, berjudi, main wanita dan sebagainya. 

Isterinya tinggal di daerahnya.hidup yang seperti itu berlarut-larut dan semakin  jauh dari agama. Isteri dan anak-anaknya mengetahui hal tersebut, tapi ia tetap berpura-pura ketika beradda di tengah-tengah mereka. 

Bahkan kalau kebetulan pada bulan puasa ia berada di daerahnya, setiap sore menjelang magrib, dia berjalan kaki membawa kelapa muda. 

Apa isi kelapa muda itu? Tidak ada yang tahu. Isinya telah diganti dengan minuman keras.

Pada suatu ketika dalam asyik-asyiknya ia bersenang-senang dan berfoya-foya dengan wanita yang tidak baik, waktu mengendarai mobilnya terbalik dan ia luka parah, diangkut kerumah sakit setelah ia sadar dan mengalami perawatan beberapa hari dirumah sakit, tahulah bahwa tangannya patah dan mukanya cacat. 

Betapa sedih hatinya, mengingat dirinya akan cacat, padahal dia seorang yang sangat memperhatikan dan merawat tubuhnya, supaya selalu tampak meranik kepada wanita-wanita, memang rupa dan tampangnya baik. 

Semangatnya untuk hidup sudah hilang. Untuk kembali minta ampun kepada Tuhan, ia takut jangan-jangan Tuhan sudah tidak sudi mengampuninya. Sehingga ia merasa sedih dan putus asa.

Dalam konflik jiwa yang memuncak itu, terdengarlah sugesti dari temannya yang membawa penyesalan. 

Kata-kata: “Patah tangan tidak menjadi apa, asal jangan patah hati. Tuhan Maha Pengampun Maha Penyayang” selalu terngiang-ngiang di telinganya seolah-olah itulah satu-satunya penyelesaian yang dapat ditempuhnya. 

Ada keinginan bahwa ia harus hidup untuk merasa keampunan dan kesayangan Allah. 

Dengan harapan dan semangat baru, ia makin cepat sembuh dan konflik jiwa sudah hilang, yang tinggal hanya harapan, dosa telah terampun, ketampanan dan kondisi jasmaniahnya tidak menjadi soal lagi. 

Pikirannya kepada soal-soal didunia telah hilang sama sekali, tak ada lagi tergila-gila kepada kesenangan. Hatinya tenteram, lega, dan merasa bahwa segala dosanya telah diampuni Tuhan. Dalam keadaan itulah dia mati.

Berdasarkan kedua contoh di atas, sebenarnya dapat kita simpulkan bhawasannya konversi agama itu terjadi secara mendadak dan juga berproses. 

Ketika konversi itu terjadi secara mendadak, maka hidayah Allah telah berlaku di sana. 

Mengenai hidayah ini, tidaklah dapat di analisa ataupun diteliti oleh ahli Psikologi Agama sekalipun, karena hidayah datangnya dari Allah, tidak tahu kapan, dan secepat apa seseorang yang mendapat hidayah itu berubah, yang jelas tidaklah disangka-sangka.

Dan ketika konversi agama itu berlangsung secara proses, maka akan diawali dengan gejolak, goncangan batin. 

Sebagaimanapun kita lupa dengan pencipta tetap saja kita akan teringat dengan Tuhan, karena sudah fitrahnya. 

Setiap kita manusia mempunyai tabiat insaniyah yang sudah tertanam sejak kita lahir. 

Jadi, lewat kegoncangan batin itulah seseorang akan merasa bahwa ia perlu dengan Tuhan, perlu beribadah kepada Tuhan sebagai konsekuensinya sebagai seorang hamba.

Semoga bermanfaat. Salam

Taman Baca:

Zakiah Daradjat, Ilmu Jiwa Agama, (Jakarta: Bulan Bintang, 1991)
Syarifuddin Jurdi, Sosiologi Islam, (Yogyakarta: Teras, 2008)
Jalaluddin, Psikologi Agama, (Raja Grafindo Persada, 2012)

Guru Penyemangat
Guru Penyemangat Menulislah untuk menebar manfaat kepada seluruh alam, karena menuangkan kata-kata juga merupakan jalan ninja menuju kebaikan.

Posting Komentar untuk "Faktor-faktor Penyebab Terjadinya Konversi Agama (Secara Mendadak dan Berproses)"