Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ragam Faktor Pembentuk Jiwa Keagamaan Seseorang

Ragam Faktor Pembentuk Jiwa Keagamaan Seseorang
Ragam Faktor Pembentuk Jiwa Keagamaan Seseorang. Foto: Pixabay

Jiwa keagamaan sejatinya tidak datang dengan sendirinya. Bahkan, di lingkungan yang sama, tidak menutup kemungkinan bahwa ada perbedaan cara beragama antara orang yang satu dengan yang lainnya.

Maka dari itu, untuk mengenal lebih jauh tentang “roh beragama” berikut dengan perkembangannya, kita perlu sedikit mengulik berbagai ragam pembentuk jiwa keagamaan seseorang. Langsung disimak saja, ya.

Ragam Faktor Pembentuk Jiwa Keagamaan Seseorang

Faktor Intern

Faktor intern meliputi faktor hereditas, tingkat usia, kepribadian, dan kondisi jiwa seseorang.

Faktor hereditas

Jiwa keagamaan memang bukan secara langsung sebagai faktor bawaan yang diwariskan turun-temurun, melainkan terbentuk dari berbagai unsur kejiwaan lainnya yang mencakup kognitif, afektif, dan konatif. 

Tetapi, dalam penelitian janin terungkap bahwa makanan dan perasaan ibu berpengaruh terhadap kondisi janin yang dikandungnya. 

Meskipun belum dilakukan penelitian mengenai hubungan antara sifat-sifat kewajiban anak dengan orang tuanya, namun tampaknya pengaruh tersebut dapat dilihat dari hubungan emosional. 

Rasul SAW menyatakan bahwa daging dari makanan yang haram, maka nerakalah yang lebih berhak atasnya. Pertanyaan ini setidaknya menunjukkan bahwa ada hubungan antara status hukum makanan (halal dan haram) dengan sikap.

Selain itu Rasul SAW juga menganjurkan untuk memilih pasangan hidup yang baik dalam membina rumah tangga, sebab menurut beliau keturunan berpengaruh. 

Benih yang berasal dari keturunan tercela dapat mempengaruhi sifat-sifat keturunan berikutnya. Karenanya menurut Rasul SAW selanjutnya: “hati-hatilah dengan Hadra Al-Diman yaitu wanita cantik dari lingkungan yang jelek.”

Perbuatan yang buruk dan tercela jika dilakukan menurut Sigmund Freud akan menimbulkan rasa bersalah sense of guilt dalam diri pelakunya. Bila pelanggaran yang dilakukan terhadap larangan agama, maka pada diri pelakunya akan timbul rasa berdosa. 

Dan perasaan seperti ini barangkali yang ikut mempengaruhi perkembangan jiwa keagamaan seseorang sebagai unsur hereditas. 

Sebab, dari berbagi kasus perilaku zina sebagian besar memiliki latar belakang keturunan dengan kasus serupa.

Contohnya, seorang suami memiliki perangai yang keras kepala, tidak mau dinasehati, dan selalu beranggapan bahwa dialah yang benar. 

Setelah lahir anaknya, ternyata anaknya pun lahir dan mulai usia kecil sudah tampak watak yang keras kepala, susah diperintah, dan membuat orang tua jengkel. 

Hal seperti inilah yang sebaiknya kita antisipasi sejak awal, yaitu sejak memilih pasangan agar keturunan yang didapat bisa dengan mudah dan baik dituntun kepada shiratal mustaqim.

Tingkat Usia

Tingkat perkembangan usia dan kondisi yang dialami para remaja ini menimbulkan konflik kejiwaan, yang cenderung mempengaruhi terjadinya konversi agama. 

Bahkan menurut Starbuck memang benar bahwa pada usia adolesensi sebagai rentang umum terjadinya konversi agama. 

Meskipun Robert H. Thouless bahwa konversi cenderung dinilai sebagai produk sugesti dan bukan akibat dari perkembangan kehidupan spiritual seseorang. Namun kenyataan itu tak sepenuhnya dapat diterima.

Hubungan antara perkembangan usia dengan perkembangan jiwa keagamaan tampaknya tak dapat dihilangkan begitu saja. 

Bila konversi lebih dipengaruhi oleh sugesti, maka tentunya konversi akan lebih banyak terjadi pada anak-anak, mengingat ditingkat usia tersebut merka lebih mudah menerima sugesti.

Terlepas dari ada tidaknya hubungan konversi dengan tingkat usia seseorang, namun hubungan antara tingkat usia dengan perkembangan jiwa keagamaan barangkali tak dapat diabaikan begitu saja. 

Berbagai penelitian psikologi agama menunjukkan adanya hubungan tersebut, meskipun tingkat usia bukan merupakan satu-satunya faktor penentu dalam perkembangan jiwa keagamaan seseorang. 

Yang jelas kenyataan ini dapat dilihat dari adanya perbedaan pemahaman agama pada tingkat usia yang berbeda.

Semakin lanjut usia maka akan terlihat adanya hubungan antar sikap keberagamaan dengan kehidupan sosial, sehingga perhatian terhadap kepentingan organisasi sosial keagamaan sudah berkembang.

Contohnya, orang tua yang selalu sakit-sakitan bertahun-tahun lamanya. Ia sudah mencoba berobat ke spesialis, keluar negeri. 

Sudah banyak uang yang ia habiskan, namun penyakitnya tak kunjung sembuh. Kemudian suatu waktu ia mendengar lantunan ayat Al-Qur’an. Saat itu pun ia sadar bahwa ia telah lalai mengerjakan ibadah kepada sang Pencipta. 

Dengan umur yang dihiasi dengan uban, ia pun bertobat dan kembali mengingat Tuhan. Jelas bahwa faktor usia seseorang mempengaruhi jiwa keagamaannya. 

Biasanya ketika umur sudah menginjak lansia seseorang sudah mulai melupakan dunia dan mulai memprioritaskan kehidupan akhirat nanti.

Kepribadian

Kepribadian menurut pandangan psikologi terdiri dari dua unsur, yaitu unsur hereditas dan pengaruh lingkungan. Hubungan antara unsur hereditas dengan pengaruh lingkungan inilah yang membentuk kepribadian. 

Adanya kedua unsur yang membentuk kepribadian itu menyebabkan munculnya konsep tipologi dan karakter. Tipologi lebih di tekankan kepada unsur bawaan, sedangkan karakter lebih ditekankan oleh adanya pengaruh lingkungan. 

jiwa keagamaan-kepribadian
Faktor Kepribadian. Foto: Pixabay

Berangkat dari pendekatan tipologis maupun karakterologis, maka terlihat ada unsur-unsur yang dapat berubah membentuk struktur kepribadian manusia. 

Unsur-unsur yang bersifat tetap berasal dari unsur bawaan, sedangkan yang dapat berubah adalah karakter. Namun demikian, karakter pun menurut  Erich Fromm relatif bersifat permanen.

Unsur pertama (bawaan) merupakan faktor intern yang memberi ciri khas pada diri seseorang. Dalam kaitan ini, kepribadian sering disebut sebagai identitas (jati diri) seseorang yang sedikit banyaknya menampilkan ciri-ciri pembeda dari individu lain diluar dirinya. 

Dalam kondisi normal, memang secara individu manusia memiliki perbedaan dalam kepribadian. Dan perbedaan ini diperkirakan berpengaruh terhadap perkembangan aspek-aspek kewajiban termasuk jiwa keagamaan. 

Di luar itu, dijumpai pula kondisis kepribadian yang menyimpang seperti kepribadian ganda (double personality) dan sebagainya. Kondisi seperti ini bagaimanapun ikut mempngaruhi perkembangan berbagai aspek kewajiban pula.

Contohnya, di dalam rumah tangga yang tidak harmonis sehingga anaknya yang masih remaja terbengkalai tidak diperhatikan. 

Kedua orang tuanya selalu bertengkar kemudian anaknya mulai kenal dengan pergaulan bebas. Melihat teman-temannya yang tidak beragama sepertinya selalu bahagia hidupnya, akhirnya anak ini meninggalkan agamanya. 

Akhirnya ia jauh dengan Tuhan sejak remaja. Inilah pentingnya pendidikan keluarga, yaitu bagaimanan membuat anak agar bisa beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Kondisi kejiwaan

Kondisi kejiwaan ini terkait dengan kepribadian sebagai faktor intern. Ada beberapa model pendekatan yang mengungkapkan hubungan ini. 

Model psikomidamik yang dikemukakan Sigmund Freud menunjukkan gangguan kejiwaan ditimbulkan oleh konflik yang tertekan dialam ketidak sadaran manusia. Konflik akan menjadi sumber gejala kejiwaan yang abnormal.

Barangkali, banyak jenis perilaku abnormal yang bersumber dari kondisi kejiwaan yang tak wajar ini. 

Tetapi, yang penting dicermati adalah hubungannya dengan perkembangan jiwa keagamaan. Sebab bagaimanapun seorang yang scbizoprenia akan mengisolasi diri dari berbagai halusinasi. 

Demikian pula mengidap phobia akan dicekam oleh perasaan takut yang irasional. Sedangkan penderita infantile autisme akan berperilaku seperti anak-anak dibawah usia 10 tahun.

Contohnya, seorang anak sangat takut, phobia  dengan hal-hal irasional, yang tidak tampak. Maka, orang tuanya pun memanfaatkan ketakutannya itu dengan menakut-nakutinya agar mau beribadah kepada Allah jika tidak mau diganggu dengan setan atau sejenisnya. 

Jadi, ketika kondisi kejiwaan seseorang itu sedang tumpang tindih, ia akan bingung dan menuruti atau mengerjakan seseuatu yang akan menjauhkannya dari ketakutannya itu.

Faktor Ekstern

Lingkungan keluarga

Keluarga merupakan satuan sosial yang paling sederhana dalam kehidupan manusia. Anggota-anggotanya terdiri atas ayah, ibu, dan anak-anak. Bagi anak-anak, keluarga merupakan lingkungan sosial pertama yang dikenalnya. 

Dengan demikian kehidupan keluarga menjadi fase sosialisasi awal bagi pembentukan jiwa keagamaan anak.

Pengaruh kedua orangtua terhadap perkembangan jiwa keagamaan anak dalam pandangan Islam sudah lama disadari. 

Oleh karena itu, sebagai intervensi terhadap perkembangan jiwa keagamaan tersebut, kedua orang tua diberikan beban tanggung jawab. 

Masa anak-anak merupakan masa pembentukan kepribadian. Bayi yang berusia 3 bulan sudah mulai menunjukkan karakteristiknya, seperti tingkat aktivitas, rentang atensi, kemampuan beradapsi pada perubahan lingkungan, dan mood.

Seorang bayi mungkin aktif, mudah dialihkan perhatiannya, dan tidak mudah ditenangkan jika sedang gelisah, sedangkan bayi lainnya mungkin banyak diam, tekun dalam memusatkan perhatian pada satu aktivitas, dan mudah ditenangkan.

Di dalam Islam, tanggung jawab orangtua meliputi:

  • Memelihara dan membesarkan anak. Ini adalah bentuk yang paling sederhana dari tanggung jawab setiap orang tua dan merupakan dorongan alami untuk mempertahankan kelangsungan hidup manusia.
  • Melindungi dan menjamin kesamaan, baik jasmaniah maupun rohaniah, dari berbagai gangguan penyakit dan dari penyelewengan kehidupan dari tujuan hidup yang sesuai dengan falsafah hidup dan agama yang dianutnya.
  • Memberi pengajaran dalam arti luas sehingga anak memperoleh peluang untuk memiliki pengetahuan dan kecakapan seluas dan setinggi mungkin yang dapat dicapainya.
  • Membahagiakan anak, baik dunia maupun akhirat, sesuai dengan pandangan dan tujuan hidup muslim.

Ada semacam rangkaian ketentuan yang dianjurkan kepada orang tua, yaitu mengazankan telinga bayi yang baru lahir, mengakikah, memberi nama yang baik, mengajarkan kecintaan kepada Nabi dan membaca Al-Qur’an, membiasakan shalat serta bimbingan lainnya yang sejalan dengan perintah agama. 

Keluarga dinilai sebagai faktor yang paling dominan dalam meletakkan dasar bagi perkembangan jiwa keagamaan.

Contohnya, semenjak hamil Rina dan suaminya selalu membacakan ayat suci Al-Qur’an, berbicara hal-hal baik, serta berupaya untuk berkomunikasi kepada si janin.  

Setelah lahir dan tumbuh menjadi anak-anak, ternyata anak mereka sangat pandai membaca Al-Qur’an dan menjaga sopan santun kepada semua orang. 

Seperti inilah contoh pendidikan keluarga, dimulai sejak anak itu masih dalam kandungan, sedikit banyak pasti akan berpengaruh kepada jiwa keagamaan anak tersebut.

Lingkungan institusional

Lingkungan institusional yang ikut mempengaruhi perkembangan jiwa keagamaan dapat berupa institusi formal seperti sekolah ataupun yang nonformal seperti berbagai perkumpulan dan organisasi. 

Sekolah sebagai institusi pendidikan formal ikut memberi pengaruh dalam membantu perkembangn kepribadian anak. 

Menurut Singgih D. Gunarsa pengaruh itu dapat terbagi kedalam tiga kelompok, yaitu: kurikulum dan anak, hubungan guru dan murid, dan hubungan antar anak. 

Dilihat dari kaitannya dengan perkembangan jiwa keagamaan, tampaknya ketiga kelompok tersebut ikut berpengaruh. Sebab, pada prinsipnya perkembangan jiwa keagamaan tak dapat dilepaskan dari upaya untuk membentuk kepribadian yang luhur.

Dalam ketiga unsur tersebut tersirat unsur-unsur yang menopang pembentukan jiwa keagamaan seperti ketekunan, disiplin, kejujuran, simpati, sosiabilitas, toleransi, keteladanan, sabar, dan keadilan. 

Perlakuan dan pembiasaan bagi pembentukan sifat-sifat seperti itu umumnya menjadi bagian dari program pendidikan disekolah.

Melalui kurikulum, yang berisi materi pengajaran, sikap, dan keteladanan guru sebagai pendidik serta pergaulan antar teman dinilai berperan dalam menanamkan kebiasaan yang baik. 

Pembiasaan yang baik merupakan bagian dari pembentukan moral yang erat kaitannya dengan perkembangan jiwa keagamaan seseorang.

Contohnya, guru PAI disuatu SD selalu mengajarkan muridnya untuk mengawali setiap perbuatan dengan mengucapkan basmalah. 

Dengan filosofis bahwa semua hal yang diawali dengan basmalah akan membawa berkah bagi setiap hal yang dilakukan itu. 

Akhirnya anak muridnya pun menerapkannya dilingkungan umum dengan membiasakan mengucapkan basmalah. Hal seperti ini tentu baik untuk pembentukkan dan perkembangan jiwa keagamaan anak itu.

Lingkungan masyarakat

Boleh dikatakan setelah menginjak usia sekolah, sebagian besar waktu anak dihabiskan di sekolah dan masyarakat. 

Berberdan dengan situasi dirumah dan disekolah, umunya pergaulan di masyarakat kurang menekankan pada disiplin atau aturan yang harus dipatuhi secara ketat.

Meskipun tampaknya longgar, namun kehidupan bermasyarakat dibatasi oleh berbagai norma dan nilai-nilai yang didukung warganya. 

Karena itu, setiap warga berusaha untuk menyesuaikan sikap dan tingkah laku dengan norma dan nilai-nilai yang ada. Dengan demikian, kehidupan bermasyarakat memiliki suatu tatanan yang terkondisi untuk dipatuhi bersama.

Sepintas, lingkungan masyarakat bukanlah merupakan lingkungan yang mengandung unsur tanggung jawab, melainkan hanya merupakan unsur pengaruh belaka, tetapi norma dan tata nilai yang ada terkadang lebih mengikat sifatnya, bahkan terkadang pengaruhnya lebih besar dalam perkembangan jiwa keagamaan, baik dalam bentuk positif maupun bentuk negatif. 

lingkungan masyarakat
Jiwa Keagamaan juga dipengaruhi oleh lingkungan. Foto: Pixabay

Misalnya, lingkungan masyarakat yang memiliki tradisi keagamaan yang kuat akan berpengaruh positif bagi perkembangan jiwa keagamaan anak, sebab kehidupan keagamaan terkondisi dalam tatanan nilai maupun institusi keagamaan. 

Keadaan seperti ini bagaimanapun akan berpengaruh dalam pembentukan jiwa keagamaan warganya.

Sebaliknya, dalam lingkungan masyarakat yang lebih cair atau bahkan cenderung sekuler, kondisi seperti itu jarang dijumpai. 

Kehidupan warganya lebih longgar, sehingga diperkirakan turut mempengaruhi kehidupan keagamaan warganya.

Contohnya, ada suatu desa yang masyarakatnya hancur dari segi moralitas. Warganya suka main judi, main wanita, minum minuman keras, sabung ayam, dan sebagainya. 

Anak yang lahir disana pun mau tidak mau pasti akan terpengaruh dengan kehidupan dimasyarakat itu, sehingga ia jauh dari agama, jauh dari Tuhan, dan jauh dari akhlak, susila, moral, dan etika yang baik.

Fanatisme dan ketaatan

Suatu tradisi keagamaan dapat menimbulkan dua sisi dalam perkembangan jiwa keagamaan seseorang, yaitu fanatisme dan ketaatan. 

Mengacu pada pendapat Erich fromm bahwa karakter terbina melalui asimilasi dan sosialisasi, maka tradisi keagamaaan memenuhi kedua aspek tersebut.

Suatu tradisi keagamaan membuka peluang bagi warganya untuk berhubungan dengan warga lainnya (sosialisasi). 

Selain itu juga, terjadi hubungan dengan benda-benda yang mendukung berjalannya tradisi keagamaan tersebut (asimilasi), seperti intitusi keagamaan dan sejenisnya. Hubungan ini menurut Erich Fromm berpengaruh terhadap pembentukan karakter seseorang.

David Riesman melihat ada tiga model konfirmitas karakter, yaitu: arahan tradisi (tradition directed), arahan dalam (inner directed), dan arahan orang lain (other directed). 

Pendapat tersebut mengungkapkan bahwa karakter terbentuk oleh pengaruh lingkungan dan dalam pembentukan kepribadian, aspek emosional dipandang sebagai unsur dominan. Fanatisme dan ketaatan terhadap ajaran agaknya tak dapat dilepaskan dari peran aspek emosional. 

David Riesman melihat bahwa tradisi kulturan sering dijadikan penentu dimana seseorang harus melakukan apa yang telah dilakukan nenek moyang. 

Dalam menyikapi tradisi keagamaan tak jarang juga munculnya kecenderungan seperti itu. Jika kecenderungan taklid keagamaan tersebut dipengaruhi oleh unsur-unsur emosional yang berlebihan, maka terbuka peluang bagi pembenaran spesifik. 

Kondisi ini akan menjurus kepada fanatisme. Sifat fanatisme dinilai merugikan bagi kehidupan beragama. 

Sifat ini dibedakan dari ketaatan. Sebab, ketaatan merupakan upaya untuk menampilkan arahan dalam (inner directed) dalam menghayati dan mengamalkan ajaran agama.

Contohnya, setiap ingin membuat rumah, mendirikan rumah baru biasanya diatasnya diletakkan kelapa, pisang, atau sejenisnya. 

Kiranya bagi umat Islam hal seperti itu sudah menjadi kebiasaan dan adat istiadat yang selalu diterapkan setiap warga. 

Padahal kita tahu bahwa di zaman Rasul dan sahabat hal seperti itu tidak pernah dilakukan. Sebaiknya, sebelum kita taklid, kita perlu tahu apa tujuan dilakukannya hal itu. 

Jika hanya ikut-ikutan saja, dikhawatirkan akan menyebabkan khurafat (syirik kecil) dan akhirnya menimbulkan dosa.

Semoga bermanfaat.

Taman baca:

Akmal Hawi, Ilmu Jiwa Agama, (Palembang: IAIN Raden Patah Press, 2005)
Jalaluddin, Psikologi Agama, (Raja Grafindo Persada, 2012)
Muallifah, Psycho Islamic Smart Parenting, (Yogyakarta: Divva Press, 2009
Zakiah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2011)

Guru Penyemangat
Guru Penyemangat Menulislah untuk menebar manfaat kepada seluruh alam, karena menuangkan kata-kata juga merupakan jalan ninja menuju kebaikan.

Posting Komentar untuk "Ragam Faktor Pembentuk Jiwa Keagamaan Seseorang"

Promo Cashback & Voucher Shopee