Widget HTML #1

Pengalaman Liburan ke Palembang Bersama Istri Naik Kereta Api Eksekutif

Pengalaman Liburan ke Palembang Bersama Istri Naik Kereta Api Eksekutif
Pengalaman Liburan ke Palembang Bersama Istri Naik Kereta Api Eksekutif.

Liburan telah tiba! Liburan telah tiba!

Begitu teriak hatiku dan istriku usai pembagian hasil belajar siswa, tepatnya pada hari Sabtu, tanggal 16 Desember 2023 lalu.

Menjalani masa-masa liburan, agaknya berdiam di rumah, keliling ke persawahan milik mertua, hingga jajan nasi ayam goreng sambal bawang di Curup Kota Idaman masih kurang lengkap bila tidak dibarengi dengan jalan-jalan.

Saat memikirkannya, aku sempat bingung mau ke mana. Di awal-awal, sebelum liburan akhir tahun tiba, aku berencana untuk berlibur ke Jakarta, sekaligus menghadiri acara tahunan Kompasiana.

Akan tetapi, ketika aku memeriksa ongkos naik pesawat, aku sempat terkaget-kaget. Ongkosnya ternyata naik dua kali lipat sehingga nyaris tembus ke angka 2 juta/orang untuk tujuan Bengkulu-Jakarta.

Kuhitung-hitung, setidaknya kami perlu menyiapkan uang minimal Rp10 juta untuk bisa berkunjung ke sana. Itu belum termasuk oleh-oleh lho!

Alhasil, niat seru tersebut urung alias ditunda dulu untuk hari-hari selanjutnya.

Seketika menikmat hari-hari santai, istriku pun berkisah bahwa dirinya ingin sekali naik kereta api. Soalnya dia belum pernah menaikinya. Aku juga sama sih sebenarnya.

Tanpa berpikir panjang, pada malam Jumat dan Sabtu kami mulai membuat perencanaan biaya dan rute perjalanan ke Palembang.

Mengapa Palembang? Karena ada jalur kereta api di sana, tepatnya untuk rute perjalanan dari Lubuk Linggau ke Palembang.

Karena kami tinggal di Dusun Curup, maka untuk berangkat ke Lubuk Linggau kami akan menaiki travel, dengan ongkos Rp50.000/orang.

Setelah menghitung biaya kotor perjalanan, kami langsung memesan tiket kereta api. Aku pun membuka beberapa situs tiket online.

Ternyata! Semua tiket ekonomi kereta api tujuan Lubuk Linggau-Palembang sudah ludes. Yang tersedia hanyalah tiket kereta bisnis dan ekslusif dengan keberangkatan pukul 19.45 WIB-03.10 WIB.

Aku bersama istri pun berpikir ulang, menghitung ulang, dan merenung sejenak sembari memeriksa tabungan yang ada saat itu.

Tanpa berlama-lama, akhirnya kami pun kompak untuk setuju dan berangkat ke Palembang dengan memesan tiket kereta api bisnis seharga Rp170.000/orang.

Pada hari Senin, 25 Desember 2023 kami pun berangkat menuju Lubuk Linggau, menaiki travel. Berangkat pukul 14.45 WIB, kami pun tiba di masjid As-Salam Lubuk Linggau kurang lebih pukul 16.00 WIB.

Beristirahat di depan masjid As-Salam Lubuk Linggau
Beristirahat di depan masjid As-Salam Lubuk Linggau.

Kami pun menunaikan shalat Ashar dan beristirahat sejenak di tempat ibadah ikonik di Lubuk Linggau tersebut.

Aku pun memeriksa Maps, sembari melihat berapa jarak dari masjid As-Salam menuju stasiun kereta api. Ohh, ternyata Cuma 900 meter.

Sembari membeli siomay, istriku pun bertanya kepada pedagang tersebut, apakah ada angkot menuju stasiun. Pedagang siomay tadi pun merekomendasikan kami untuk naik becak saja.

Ya sudah, kami pun naik becak berdua menuju stasiun kereta api Lubuk Linggau.

Sesampainya di stasiun, kami pun segera bertanya ke layanan Costumer Service kereta untuk mencetak Boarding Pass Ticket. Maklum, ini perdana kami naik kereta api.

Suasana di depan stasiun Kereta Api Lubuk Linggau
Suasana di depan stasiun Kereta Api Lubuk Linggau

CS di sana pun cukup ramah, dan ia pun menjelaskan kepada kami bahwa e-ticket tidak perlu dicetak, karena kami sudah mencetaknya melalui Traveloka. Alhasil, kami hanya perlu konfirmasi tiket beberapa waktu sebelum menaiki kereta.

Tepat pukul 18.00 WIB, ada petugas tiket yang mulai berjaga dan meminta para penumpang untuk mengonfirmasi tiket dan segera memasuki ruang tunggu stasiun.

Kami pun ikut antre dengan menunjukkan kartu identitas dan tiket yang telah dipesan, kemudian, segera memasuki ruang tunggu keberangkatan.

Sembari menunggu jam keberangkatan, kami pun menunaikan sholat magrib, sekaligus menjamaknya dengan isya’.

Ba’da sholat, kami pun diminta untuk segera memasuki gerbong kereta api. Nah saat itu aku bersama istri menaiki kereta Api Sindang Marga kelas Bisnis gerbong kedua.

kereta Api Sindang Marga kelas Bisnis
kereta Api Sindang Marga kelas Bisnis Lubuk Linggau-Palembang.

Pertama kali memasuki gerbong kereta bisnis, ternyata kursinya cukup empuk, bagasinya cukup besar dan tersedia ruang untuk charger HP pada setiap barisan kursinya. Setiap baris kursi terdiri atas 2 tepat duduk masing-masing di bagian kiri dan bagian kanan. Di antara beberapa baris kursi ada AC yang otomatis menyala.

Tepat pukul 19.45 WIB, kereta api Sindang Marga secara perlahan mulai melaju. Dibandingkan dengan menaiki bus, naik kereta api getarannya relatif lebih pelan dan lebih nyaman. Alhasil kami pun merasa nyaman dan tidak mabuk perjalanan.

Lebih cepat dari yang dikira, sekitar jam 02.20 WIB dini hari kami pun sudah tiba di stasiun Kertapati, Palembang.

Sembari menanti matahari terbit, kami pun beristirahat di mushola yang ada di Stasiun hingga Subuh. Usai Subuh, kami pun berjalan ke luar stasiun sembari mencari kopi hitam dan ngirup cuko, alis mencicipi makanan khas Palembang, yaitu Pempek.

Setelah asyik bersantai menikmati lalu lalang kendaraan pagi yang cukup sepi, kami pun segera memesan transportasi online, menggunakan Maxim dengan tujuan ke stadion Jakabaring, Palembang.

Berkunjung ke Stadion Jakabaring Palembang
Berkunjung ke Stadion Jakabaring Palembang

Berkunjung ke Stadion Jakabaring Palembang
Berkunjung ke Stadion Jakabaring Palembang.

Sesampainya di stadion, kami pun berjalan masuk ke taman stadion dan mencoba mengelili lapangan di area luar stadion. Tapi, misi ini gagal karena stadion gelora sriwijaya ini sangatlah luas, yaitu 325 hektar.

Sembari menunggu matahari terbit, kami pun bersantai, berfoto, serta mengamati kemegahan markas Sriwijaya FC.

Menjelang pukul setengah 8 pagi, kami pun berkunjung ke masjid Al Islam Muhammad Cheng Hoo Sriwijaya Palembang, 850 meter dari stadion Jakabaring. Karena dirasa dekat, kami pun jalan kaki.

Tampak Luar Masjid Cheng Hoo Palembang
Tampak Luar Masjid Cheng Hoo Palembang.

Tampak dalam masjid Al Islam Muhammad Cheng Hoo Sriwijaya Palembang
Tampak Luar masjid Al Islam Muhammad Cheng Hoo Sriwijaya Palembang.

Prasasti masjid Al Islam Muhammad Cheng Hoo Sriwijaya Palembang.
Prasasti masjid Al Islam Muhammad Cheng Hoo Sriwijaya Palembang.

Di masjid ini, kami pun sempat berkeliling, membaca sejarah, serta beribadah di sana hingga kira-kira pukul 09.00 WIB. Sesudahnya, kami pun berkunjung ke pasar 26 sembari mencicipi bakso di sana. Lumayan, mi ayam + bakso sapi harganya Rp12.000. Murah meriah.

Menjelang zhuhur barulah kami berkunjung ke Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo, Palembang untuk beribadah dan beristirahat sejenak. Ya, sembari menunggu jam check-in hotel.

Tampak Luar Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo, Palembang
Tampak Luar Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo, Palembang.

Masjid ini ternyata sangat luas, dan di sana ada tempat khusus beristirahat yang luas pula. Alhasil, tidak sedikit kami lihat ada banyak pendatang yang singgah, bahkan bermalam di sana.

Ibadah sudah, istirahat juga cukup. Kami pun kembali berjalan menuju Monpera (Monumen Perjuangan Rakyat) Palembang yang berada tepat di seberang masjid agung.

Berpose di depan Monpera Palembang
Berpose di depan Monpera Palembang.

Sembari berkeliling melihat monumen bersejarah ini, mata kami pun melirik-lirik ke samping monumen. Ada apa? Ya, ada jembatan ampera yang tampak dari sisi samping Monpera.

Kami pun berjalan-jalan ke sana, sembari membeli buah dan nasi bungkus hingga pukul 14.00 WIB, kami berangkat menuju Wisata Hotel yang berjarak sekitar 1 KM dari masjid agung.

Di hotel ini kami beristirahat hingga malam, dan ba’da magrib perjalanan kami kembali berlanjut menuju masjid agung Sultan Mahmud Badaruddin dan bersantai di sana hingga isya.

Ba’da isya, kami pun kembali berjalan kaki menuju wisata khasnya wong kito galo Palembang, yaitu jembatan ampera.

Berpose di Spot Foto Jembatan Ampera, Palembang.
Berpose di Spot Foto Jembatan Ampera, Palembang.

Berpose di Spot Foto Jembatan Ampera, Palembang.
Berpose di Spot Foto Jembatan Ampera, Palembang.

Kami mengunjungi beberapa spot foto dan tempat nongkrong yang ada di sisi jembatan ampera. Tak lupa, aku pun sempat mencicipi kopi hitam sembari mengamati jam besar yang ada di pucuk tiang jembatan ampera. Karena suasana liburan, ramai pengunjung yang datang ke sini, pun demikian dengan para pedagang yang berjualan di sana.

Sekitar pukul setengah 10 malam, kami pun segera kembali ke hotel, dan kisah di Palembang berlanjut ke pagi hari pada keesokan harinya.

Pagi hari di hotel, kami terlebih dahulu menikmati sarapan gratis. Setelahnya, kami pun segera berangkat menuju Bayt Al-Qur’an alias wisata Al-Qur’an raksasa yang ada di Palembang. Jaraknya lumayan jauh dari hotel, yaitu sekitar setengah jam. Kami tiba di sana pukul 10.15 WIB.

Tampak dalam Bayt Al-Qur'an Palembang
Tampak dalam Bayt Al-Qur'an Palembang.

Sesampainya di Bayt Al-Qur’an, aku dan istri segera berkeliling dan mengamati keindahan tulisan dan lembaran ayat-ayat Al-Qur’an raksasa yang ada di sana.

Namun demikian, istriku sempat mengeluh karena saat ini di wisata ini pedagangnya makin padat alias sangat banyak. Jadinya, kesan wisata Bayt Qur’an ini lebih mirip-mirip seperti pasar, bukan lagi wisata rohani.

Ramainya pedagang di Wisata Bayt Al-Qur'an Palembang
Ramainya pedagang di Wisata Bayt Al-Qur'an Palembang.

Ramainya pedagang di Wisata Bayt Al-Qur'an Palembang
Ramainya pedagang di Wisata Bayt Al-Qur'an Palembang.

Karena waktu dirasa cukup sempit, kami pun segera bergegas menuju Palembang Icon Mall, salah satu Mall terbesar yang ada di Palembang. Bukan untuk jajan sih, cuman pengen cuci mata aja, hehe.

Jam sebelas lebih 10 menit, akhirnya kami pun tiba di Icon Palembang. Mall ini terdiri atas 5 lantai, dan ketika kami masuki ternyata pengunjungnya sangat sedikit. Aku sih niatnya ingin main basket dan wahana game lainnya, namun sejauh kami mencari, barulah kami menemukannya di lantai 4.

Ketika ingin main dan memesan koin, aku dan istriku pun terkejut. Ternyata ada minimal pembelian koin di sini, yaitu minimal Rp100.000. Padahal istriku saat itu hanya mengeluarkan uang Rp20.000 saja. Akhirnya? Kami batal main. Hehe

Aku pikir, wajar saja di sini sepi, ternyata biaya untuk bermain di wahana permainannya mahal dan bagi kami tarif tersebut sudah di luar jangkauan wajar.

Karena sudah pukul setengah 12 lewat, kami pun segera kembali ke hotel untuk berkemas dan check-out. Setelah check-out, kami kembali berkunjung ke Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo untuk menunaikan shalat Zhuhur.

Beruntungnya, di masjid ini ada tempat penitipan barang sehingga kami pun bisa lebih leluasa untuk mencari oleh-oleh untuk dibawa ke Curup Kota Idaman.

Usai zhuhur, kami kembali berkunjung ke pasar 26 untuk membeli oleh-oleh. Ya, oleh-oleh apa lagi kalau bukan Pempek.

Buah tangan sudah didapat, kami pun kembali ke masjid agung untuk beristirahat. Memang benar, ya, tempat terbaik itu adalah masjid. Karena setelah tiba di masjid, lelah yang kami rasakan saat perjalanan pun hilang tak bersisa.

Setelah ashar, kami pun tetap beristirahat di ruangan khusus masjid sebelum berangkat menuju stasiun Kertapati.

Ya, sore itu kami akan segera pulang ke Curup menaiki kereta Api Sindang Marga kelas Eksekutif.

Mengapa kami order kelas Eksekutif? Karena kursi kelas bisnis sudah tersisa sangat sedikit. Harga kursi KAI kelas Eksekutif jurusan Palembang-Lubuk Linggau saat itu adalah Rp210.000/orang.

Kondisi ruangan dan kursi Kereta Api Sindang Marga Jurusan Palembang-Lubuk Linggau

Memasuki kereta kelas bisnis, suasananya pun agak berbeda. Dibandingkan dengan kelas bisnis, kereta api Sindang Marga kelas Eksekutif kursinya lebih luwes dan bisa digerakkan. Adapun bagasinya memiliki penutup yang mirip seperti laci. Lebih daripada itu, AC-nya tertutup, dan setiap penumpang yang ada dipinjamkan selimut.

Ya, lumayan pokoknya fasilitas kelas Eksekutif.

Kami berangkat pukul 20.15 WIB, dan tiba di stasiun Lubuk Linggau pukul setengah 3 dini hari. Setelah tiba di Lubuk Linggau, kami pun tidak sempat istirahat karena ternyata mobil travel yang kami pesan sudah menunggu di sana.

Alhasil, kami langsung menaiki travel dan segera pulang menuju Curup. Pada pukul 04.00 WIB dini hari kami pun sudah tiba di rumah. Alhamdulillah.

***

Begitulah sekilas kisah perjalanan liburan kami untuk menutup tahun 2023. Pengalaman liburan ke Palembang sudah menjadi catatan ingatan dan kenangan yang tak terlupakan.

Salam.

Guru Penyemangat
Guru Penyemangat Guru Profesional, Guru Penggerak, Blogger, Public Speaker, Motivator & Juragan Emas.

Posting Komentar untuk "Pengalaman Liburan ke Palembang Bersama Istri Naik Kereta Api Eksekutif"