Widget HTML #1

Apa yang Memotivasi Anda Menjadi Guru Penggerak? Contoh Jawaban Esai Guru Penggerak

Apa yang Memotivasi Anda Menjadi Guru Penggerak?
Apa yang Memotivasi Anda Menjadi Guru Penggerak? Designed by GuruPenyemangat.com

Hai Sobat Guru Penyemangat! Berikut disajikan contoh jawaban esai untuk keperluan daftar Guru Penggerak secara lengkap.

Mari disimak ya:

Apa yang memotivasi Anda menjadi Guru Penggerak? Apa yang Anda lakukan dalam mewujudkan motivasi tersebut?

Motivasi saya menjadi Guru Penggerak ialah ingin menjadi guru yang menginspirasi, mampu menggerakkan diri sendiri maupun rekan kerja dalam menyukseskan kegiatan yang berkaitan dengan kemajuan pendidikan. Untuk menggapai keinginan tersebut saya berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih kreatif, inovatif, berani mencoba, serta tidak takut untuk melakukan hal-hal yang baru. Saya senantiasa berusaha untuk memotivasi diri saya sendiri agar tetap berada pada situasi termotivasi, semangat dan gembira terutama dalam melaksanakan tugas keprofesian sebagai guru. Karena guru adalah profesi panggilan hati, maka rasanya saya perlu terjun lebih dalam dan menguasai beragam kompetensi utama seorang guru supaya nantinya bisa memberikan hasil dan kebermanfaatan yang maksimal kepada anak-anak didik di sekolah maupun di masyarakat. Untuk menjadi seorang guru inspirator, saya berusaha untuk melakukan hal-hal baru. Tidak terlalu muluk-muluk. Rumus yang saya gunakan ialah ATM; yaitu amati, tiru, dan modifikasi. Saya menyadari bahwa setiap siswa itu berbeda dan tidak menutup kemungkinan bahwa perbedaan itu pula dipengaruhi oleh lingkungan tempat tinggal dan pergaulan mereka. Supaya bisa menggerakkan siswa, saya berusaha untuk mempelajari bahasa daerah Serawai, kemudian melakukan pendekatan personal, serta belajar untuk memahami setiap karakteristik dari masing-masing siswa.

Apa kelebihan yang mendukung peran Anda sebagai Guru Penggerak? Jelaskan alasannya dan berikan contohnya!

Apa kelebihan yang mendukung peran Anda sebagai Guru Penggerak? Jelaskan alasannya dan berikan contohnya!

Kelebihan yang mendukung peran saya sebagai Guru Penggerak, di antaranya:

1. Ceria

Saya adalah tipe pribadi pengajar yang ceria. Bagi saya marah-marah itu sungguh hanya membuang-buang tenaga dan membuat seseorang menjadi tidak fokus. Pun demikian ketika saya berhadapan dengan siswa. Saya menyadari bahwa sejak mengajar di SD tantangannya lebih kompleks, terutama ketika saya berhadapan dengan anak-anak. Karena dulunya saya adalah guru honorer di SMP, maka ada yang harus berubah dari diri saya ketika berhadapan dengan anak-anak SD, terutama cara saya menyapa mereka, berbicara kepada mereka, serta mimik wajah saya saat menyampaikan pembelajaran. Alhasil, saya pun mencoba untuk tampil lebih ceria di depan anak-anak misalnya dengan menyanyikan lagu-lagu sederhana, ice breaking, serta sesekali tampil sebagai guru yang story teller.

2. Menyukai Dunia Anak-Anak

Sejak kelas 2 SMA saya sudah dekat dengan anak-anak, karena di masa itu saya sudah menjadi seorang guru private, guru bimbel, sekaligus guru mengaji di rumah. Saya suka bercengkaramah dengan anak-anak, mendengarkan kisah mereka, pengalaman mereka, keluh kesah mereka, serta ragam kegiatan harian yang biasa mereka lakukan terutama ketika berada di rumah dan lingkungan luar sekolah. Dari cerita mereka saya seringkali mendapatkan ide-ide baru dalam mengajar, serta meng-upgrade target pembelajaran. Contohnya: anak-anak ingin belajar lebih dalam tentang ilmu Al-Qur'an karena mereka punya cita-cita jangka pendek untuk mendaftar di MTs atau sekolah berbasis agama setelah tamat SD. Atas keinginan tersebut, saya pun akhirnya berinisiatif mendirikan esktrakulikuker di SD yang pembelajarannya diadakan sebanyak seminggu sekali. Walaupun saya sebagai pembina ekskul tidak mendapat bayaran karena memang kapasitas anggaran sekolah yang terbatas, namun karena dunia anak-anak itu menyenangkan, saya pun bisa menjaga semangat dan niat.

3. Kreatif

Dalam mengajar dan menjalankan profesi sebagai guru saya tidak terlalu menyukai hal-hal yang sifatnya terlalu teoritis. Misalnya seperti metode pembelajaran. Jikalau kita baca RPP atau buku teori pembelajaran rasa-rasanya metode ajar yang tertera di sana terlalu kaku, bahkan seringkali malah tidak relevan dengan keadaan siswa. Atas hal tersebut, saya biasanya sering meracik dan menerapkan metode pembelajaran sendiri yang disesuaikan dengan kemampuan siswa dan keadaan fasilitas. Misalnya, saya membuat media pembelajaran berupa pohon kebaikan, mengajak siswa belajar sembari karya wisata, dan sebagainya.

4. Senantiasa Siap Beradaptasi

Saya adalah pribadi yang cukup sering melakukan evaluasi diri, terutama dalam hal pembelajaran. Evaluasi ini biasanya saya lakukan sebagai buah dari adaptasi. Misalnya ketika saya melakukan kegiatan pembelajaran selama 2-3 minggu syahdan mengadakan Ujian Harian. Bila ternyata hasil dari ujian tersebut tidak begitu memuaskan, maka saya bakal mengubah cara mengajar dan memikirkan kembali metode seperti apa yang kiranya cocok untuk saya terapkan di jenjang dan rombel kelas di SD. Tambah lagi ketika saya baru saja pindah ke SD, rasanya selama hampir 3 bulan saya masih terbawa-bawa gaya mengajar di SMP hingganya anak-anak kurang bisa menyerap ilmu secara maksimal. Alhamdulillah saya masih sering menyadari hal-hal yang kurang dari diri saya sehingga inisiatif untuk memperbaiki diri terus menggema di hati.

Berikan contoh perubahan, inovasi, pemberdayaan, gerakan, atau lainnya yang memberikan dampak nyata berdasarkan inisiatif Anda sendiri. Apa yang mendorong Anda melakukan hal tersebut? (Jawaban Anda harus mencakup waktu kejadian, dampak atas inisiatif Anda, upaya yang Anda lakukan agar inisiatif tersebut terlaksana, peran Anda dan pihak lain yang terlibat bila ada)

Selama mengajar terutama di Satminkal yang sekarang, yaitu di SD; saya telah dan sedag melakukan inovasi dan gerakan yang diharapkan dapat memberikan dampak nyata terutama bagi anak-anak dan lingkungan di sekitar sekolah, di antaranya:

1. Mengadakan kegiatan PHBI dan Menunjuk Siswa Sebagai Panitia Penyelenggara

Karena anggaran yang terbatas, kegiatan Peringatan Hari Besar Islam (PHBI) di SDN "Guru Penyemangat"  tidak maksimal, dan bahkan seringkali tidak digelar sama sekali. Menyikapi hal tersebut, saya selaku guru agama pun mengambil inisiatif untuk menggelar kegiatan PHBI sederhana dan minim dana. Jujur saja, sejak awal kepindahan saya ke sekolah ini tepatnya pada 3 tahun lalu saya sempat kaget karena kebanyakan anak-anak di sini takut tampil di depan umum, apalagi public speaking.

Atas fenomena tersebut, saya pun mulai meracik kegiatan PHBI dan lomba-lomba keislaman sederhana minim dana dan memilih para panitia penyelenggara semuanya dari siswa. Dampaknya? Alhamdulillah sekarang siswa sudah mulai tumbuh rasa percaya dirinya. Selain sudah tidak gagap dan kaku dalam menjadi panitia penyelenggara kegiatan sekolah seperti Perpisahan, serta pertemuan lainnya, siswa-siswi pun mulai terbiasa untuk bergorganisasi. Yang membuat saya lebih bahagia ialah mereka sudah mulai berani untuk mengambil inisiasi dan mengemukakan pendapat.

2. Mengadakan Kegiatan Keislaman Rutin di Sekolah dengan Siswa Sebagai Petugasnya

Perubahan berikutnya yang telah dan sedang saya lakukan ialah mengadakan kegiatan Keislaman Rutin di sekolah dengan siswa sebagai petugasnya. Nama kegiatannya ialah Jumat Penyejuk Hati. Kegiatan ini berawal dari keresahan saya karena setahun yang lalu sempat ada kejadian siswa memilih untuk tidak masuk sekolah gara-gara diberi tugas kultum di hari Jumat. Sontak saya kaget, padahal tugas tersebut tidak terlalu berat, namun saya berpikir bahwa memang si siswa tadi yang belum terbiasa atau belum bermental untuk tampil di depan umum.

Alhasil dengan kegiatan ekskul yang sudah digelar secara rutin dan PHBI pun jalan, saya tambahkanlah dengan kegiatan Jumat Penyejuk Hati sebagai pelengkap agar para siswa lebih antusias dan mental mereka terbentuk sejak dini. Dampaknya sekarang pun mulai terasa. Dari yang dulunya petugas hanya dari kalangan siswa kelas 6, sekarang kelas 4 pun sudah tidak gentar-gentar lagi tampil ke depan bila diberi amanah mengisi acara.

3. Mengadakan Kegiatan Sholat Zuhur Berjamaah di Masjid dekat sekolah dan menjadwalkan petugas Azan

Salah satu keresahan yang hingga saat ini masih saya temui di lingkungan sekolah tempat saya mengajar ialah ketidaksesuaian antara keinginan orang tua dengan keadaan di masyarakat setempat. Kami adalah sekolah negeri dan di desa yang sama sedang bersaing dengan MIN. Karena muatan pembelajaran agama di MIN relatif lebih kompleks dan lengkap dibandingkan dengan SD Negeri, maka kebanyakan orang tua lebih memilih untuk menyekolahkan anaknya di MIN. Alhasil, semakin bertambah tahun jumlah siswa yang mendaftar di SD kami semakin sedikit. Para orang tua ingin anak-anak mereka belajar muatan agama lebih banyak, namun sayangnya aktivitas keagamaan di rumah ibadah di desa ini cukup sepi. Hal ini dikarenakan mayoritas penduduknya yang berprofesi sebagai petani hingganya sering menginap di ladang. Atas latar belakang inilah saya pun berinisiasi untuk menjadwalkan kegiatan Shalat Zuhur berjamaah di Masjid dekat SD dengan para siswa yang bertugas sebagai Muazin. Alhamdulillah dampaknya luar biasa, bahkan saya pribadi pun merinding. Mengapa? Beberapa kali ketika saya ada kegiatan lembur di sekolah (tanpa sepengetahuan siswa) kemudian saya mendatangi masjid dekat SD jelang ashar, ternyata ada beberapa anak SD kami yang sudah bersiap untuk mengumandangkan azan. MasyaAllah! Sebagai gurunya saya merasa bangga, karena anak tadi datang atas kehendak pribadi dan ia pun sudah terpanggil untuk mencintai masjid.

***

Dari beberapa kegiatan di atas, ada satu dampak positif lain yang sangat berarti bagi saya. Ya, tepatnya sebulan yang lalu guru senior di sini pernah bercerita bahwa masyarakat setempat mulai menganggap ada kemajuan di SD Negeri "Guru Penyemangat"  terutama dari segi kualitas dan kompetensi keagamaan siswa. Atas cerita baik itulah murid kami yang kelas 1 tahun ini yang mendaftar menyentuh angka 11 orang, padahal 2 tahun sebelumnya hanya 2 orang dan tahun kemarin hanya 5 orang. Secara pribadi saya merasa bersyukur karena ternyata dampak kegiatan-kegiatan sederhana yang saya utarakan tadi sangat terasa.

Dan saat ini--kira-kira sudah 2 bulan berjalan-- saya mulai mengambil inisiasi untuk menggerakkan kepedulian siswa dengan mengadakan kegiatan Infak Jumat. Nantinya dalam setiap bulan hasil dari Infak Jumat tersebut kami belikan beras dan kami bagikan kepada warga yang kurang mampu, terutama dari kalangan orang tua siswa yang bersekolah di sini terlebih dahulu. Mudah-mudahan kegiatan ini bisa terus berjalan dan mendapat ridha dari Allah. 

***

Semoga Bermanfaat
Salam.

Guru Penyemangat
Guru Penyemangat Guru Profesional, Guru Penggerak, Blogger, Public Speaker, Motivator & Juragan Emas.

Posting Komentar untuk "Apa yang Memotivasi Anda Menjadi Guru Penggerak? Contoh Jawaban Esai Guru Penggerak"