Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Contoh Teks Pidato Tentang Ghibah Singkat, Lengkap dengan Dalilnya

Hai Sobat Guru Penyemangat, apakah Sobat sering mendengar atau melihat gosip di televisi maupun di sekitar kita?

Ya, perilaku mengumpat alias berghibah rasa-rasanya sangat dekat dengan kehidupan kita. Sekarang ini, tidak hanya Emak-Emak yang suka bergosip melainkan juga Bapak-Bapak.

Mengumpat orang lain sudah seperti keseruan yang amat rugi bila ditinggalkan, padahal sebenarnya perilaku tersebut adalah bagian dari dosa besar yang ancamannya sungguh mengerikan.

Nah berikut GuruPenyemangat.com sajikan contoh teks pidato tentang ghibah singkat yang lengkap dengan dalilnya.

Mari disimak ya:

Pidato Tentang Ghibah

Contoh Teks Pidato Tentang Ghibah
Contoh Teks Pidato Tentang Ghibah. Dok. GuruPenyemangat.com

Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh

Alhamdulillahirobbil’alamin. Assalatu wassalamu ‘ala asyrofil anbiya iwal mursalin wa ‘ala alihi wasohbihi ajma’in. Asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna muhammadar rasulullah. Allahumma sholli ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala ali sayyidina Muhammad.

Bapak/Ibu Ketua........yang saya hormati,
Bapak/Ibu Tamu Undangan yang saya hormati
Serta rekan-rekan yang berbahagia

Pertama di atas segalanya, marilah kita ucapkan alhamdulillah seraya bersyukur kepada Allah SWT atas segala nikmat yang diberikan kepada kita hingganya hari ini bisa berkumpul bersama di tempat ini dalam keadaan tiada kurang sesuatu apa pun.

Sholawat berhiaskan salam marilah kita sampaikan kepada Nabi Teladan Umat, Nabi Muhammad SAW. Semoga dengan mengucapkan allahumma sholli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad, kita dimudahkan untuk mendapatkan pertolongan beliau di Hari Akhir nanti.

Bapak, Ibu, serta rekan-rekan yang berbahagia;

Pernahkah kita mendengar ungkapan “Mulutmu Harimaumu!”, “Lidahmu Setajam Pisau!” atau kalimat-kalimat yang serupa?

Nah, pada kesempatan yang mulia ini saya ingin menyampaikan pidato tentang ghibah, atau yang lebih dikenal dengan mengumpat, menggunjing, dan mengumbar aib orang lain.

Hadirin yang berbahagia;

Dalam kehidupan sehari-hari, setiap orang pasti bakal sering berkomunikasi. Entah itu membicarakan masalah pekerjaan, kegiatan sehari-hari, kenangan, keseruan, membahas berita di televisi, hingga membahas hal-hal lain yang dirasa cocok sebagai bahan diskusi.

Saat berbicara dan bercerita kepada orang-orang, terkadang beberapa dari kita sampai lupa waktu. Namun yang lebih mengerikan ialah di saat kita sudah lupa mana batas pembicaraan yang masih dianggap wajar.

Tapi, apa sih batas kewajaran tersebut?

Sejatinya batas kewajaran dalam berbicara ialah terhadap hal-hal yang baik saja dan tidak mengumbar aib orang lain. Jikalau sudah masuk ranah aib, maka pembicaraan harus disetop karena hal tersebut bakal mengarah kepada prasangka, ghibah, bahkan fitnah.

Iya kalau prasangkanya adalah yang baik-baik dan positif, tapi bagaimana bila prasangkanya adalah yang buruk-buruk?

Misalnya seperti ada tetangga yang baru saja beli motor baru. Karena selama ini kita melihat tetangga tersebut adalah sosok yang kurang mampu, lalu seenaknya saja kita menuduh mereka cuma kredit motor, pinjam uang, atau bahkan mencuri motor; maka hal tersebut sudah masuk kepada ranah ghibah yang harus dihindari.

Allah SWT berfirman dalam QS Al-Hujurat ayat 12:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

Artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”

Nah, dari ayat di atas, Allah menegaskan bahwa kita sebagai orang yang beriman disuruh untuk menjauhi segala jenis perilaku prasangka, terutama prasangka buruk karena sebagian besar darinya adalah dosa.

Lebih daripada itu, ternyata ancaman prasangka buruk alias ghibah di sini amatlah mengerikan yaitu memakan bangkai daging saudaranya sendiri yang sudah mati. Sungguh menjijikkan, bukan?

Boleh Baca: Pidato Agama Islam Tentang Akhlak Seorang Pelajar

Hadirin yang berbahagia;

Rasulullah SAW menerangkan bahwa ghibah adalah di saat seseorang berbicara tentang orang lain dan pembicaraan tersebut adalah pembicaraan yang tidak disukai.

Jikapun pembicaraan tersebut adalah fakta, maka itu adalah ghibah, dan jika itu adalah kebohongan maka itulah yang namanya fitnah.

Lalu, apa saja jenis pembicaraan yang termasuk kategori ghibah? Diterangkan oleh Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Adzkar bahwa:

“Ghibah adalah membicarakan orang lain dengan sesuatu yang tidak disenanginya, baik dari segi fisiknya, agamanya, duniawinya, psikisnya, perawakannya, wataknya, dan lain-lain yang berkaitan dengan mereka.”

Hadirin yang berbahagia;

Perilaku ghibah adalah salah satu perilaku tercela yang besar ancamannya juga mudharatnya. Menggunjing akan merusak hubungan persaudaraan sesama muslim, menghilangkan reputasi seseorang, bahkan bisa berakibat mendatangkan permusuhan.

Ghibah sama halnya dengan maksiat lisan yang dosanya hanya bisa diampuni jikalau pihak yang dighibahi memaaafkan si pengghibah.

Maka darinya, di sisa-sisa umur kita saat ini hendaknya kita menjaga lisan kita. Terhadap hal-hal baik maka sudah sepantasnya kita berbicara baik, dan terhadap hal-hal buruk dan yang berkaitan dengan aib maka sudah seharusnya kita diam.

Tapi, bagaimana jikalau kita sedang melihat orang lain mengghibah? Karena mengumpat adalah bagian dari kemungkaran maka sebisa mungkin kita jangan diam saja melainkan mencegahnya. Cegah dengan cara yang baik supaya segera mengganti topik pembicaraan.

Boleh Baca: Contoh Teks Pidato Tentang Menjauhi Sifat Takabur

Hadirin yang berbahagia;

Menjaga lisan adalah salah satu perilaku terpuji yang harus kita biasakan. Lidah ini tiadalah bertulang, yang berarti bahwa seseorang bisa saja tidak pegal-pegal lidahnya hanya karena membicarakan keburukan orang lain.

Hidup ini hanyalah sementara. Daripada kita gunakan lisan ini untuk menggunjing, maka sungguh amatlah baik bila lisan ini disibukkan untuk berzikir mengingat Allah SWT.

Orang lain pasti tidak akan suka jikalau kita membicarakan hal-hal buruk tentangnya. Pun demikian juga dengan kita, kita pula tidak senang bila mendengar pembicaraan yang buruk. Maka darinya, mari kita sama-sama menjaga lisan dan menjauhi diri dari ghibah.

Kiranya sebatas inilah pidato yang bisa saya sampaikan. Mohon maaf atas segala khilaf dan salah. Kepada Allah marilah sama-sama kita memohon ampun.

Saya tutup dengan doa kafaratul majelis:

Subhanakallahumma wabihamdika, asyhadu alla ilaha illa anta, astaghfiruka wa atubu ilaik.

Akhirul kalam, wabillahi taufik wal hidayah, wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh.

***

Itulah tadi sajian GuruPenyemangat.com berupa contoh teks pidato tentang ghibah yang lengkap dengan dalilnya.

Semoga bermanfaat ya
Salam.

Lanjut Baca: Contoh Naskah Pidato Mensyukuri Nikmat Allah

Guru Penyemangat
Guru Penyemangat Menulislah untuk menebar manfaat kepada seluruh alam, karena menuangkan kata-kata juga merupakan jalan ninja menuju kebaikan.

2 komentar untuk "Contoh Teks Pidato Tentang Ghibah Singkat, Lengkap dengan Dalilnya"

Berkomentarlah sesuai dengan postingan artikel. Mohon maaf, link aktif di kolom komentar tidak akan disetujui.

Diperbolehkan mengutip tulisan di blog Guru Penyemangat tidak lebih dari 30% dari keseluruhan isi (1) artikel dengan syarat menyertakan sumber. Mari bersama-sama kita belajar menghargai karya orang lain :-)

Promo Cashback & Voucher Shopee