Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Follow Guru Penyemangat di Google News agar tidak ketinggalan tulisan terbaru tentang edukasi, materi belajar, dunia keislaman, soal ujian, motivasi, investasi emas, kesehatan dan fiksi. Klik di sini.
Gulir ke bawah untuk membaca artikel.

Pengalaman Saya Belajar Bahasa Inggris dari SD Sampai SMA, Pernah Otodidak!

Pengalaman Saya Belajar Bahasa Inggris dari SD Sampai SMA, Pernah Otodidak!
Pengalaman Saya Belajar Bahasa Inggris dari SD Sampai SMA, Pernah Otodidak! Dok. Gurupenyemangat.com

Hai Sahabat Guru Penyemangat, seberapa fasih kamu berbicara Bahasa Inggris?

Bisa jadi lebih lancarlah sahabat sekalian daripada diriku, ya. Soalnya belajar bahasa itu tak perlu banyak teori melainkan wajib banyak praktik secara terus-menerus.

Sama halnya seperti mengasah pisau. Jikalau pisau terus digunakan tapi tidak pernah diasah, maka ketajamannya perlahan akan berkurang dan segera menemui tumpul.

Bahasa Inggris pun begitu, dan diriku punya pengalaman panjang dalam mempelajarinya sejak SD, SMP, hingga SMA. Apakah sukses? Ada deh!

Baiklah, dalam kesempatan ini Gurupenyemangat.com ingin menuangkan pengalaman panjang dalam belajar Bahasa Inggris. Mungkinkah kisahku sama denganmu? Bisa jadi, dan mari disimak saja yah.

Pengalamanku Belajar Bahasa Inggris di SD

Pengalamanku Belajar Bahasa Inggris di SD
Pengalamanku Belajar Bahasa Inggris di SD. Dok. Gurupenyemangat.com

Diriku masuk SD tahun 2000, dan pada saat itu eksistensi Bahasa Inggris belumlah sementereng hari ini. Tambah lagi sekolahku adalah sekolah desa. Mana kenal kami dengan dunia luar!

Hemm.

Meski begitu, kabar baik sempat bertamu kepada kami tepatnya ketika aku naik ke kelas empat. Benar saja, waktu itu pelajaran muatan lokal ada dua. Pertama adalah Kaganga, dan kedua adalah Bahasa Inggris.

Duh, senang sekali rasanya aku dan teman-teman kelas empat yang jumlahnya tidak sampai 20 orang.

Dalam waktu dekat, kami pun langsung membeli kamus Indonesia-English cetakan dan sesampainya di sekolah, teman-teman pun mulai pamer.

“Nih, lihat kamusku, 3 miliar lho!”

“Eits, kamusku 5 miliar lho!”

“Yah, kamusku kok cuma 500 juta!”

Hahaha. Begitulah. Namanya juga anak SD. Karena jajanan waktu itu harganya masih 100-200 perak, kami pun begitu senang ketika melihat angka yang nolnya begitu banyak.

Namun ya, pengalaman belajar Bahasa Inggris di jenjang SD masihlah tentang dasar.Yup, tentang abjad, angka, buah-buahan, pekerjaan, hingga perkenalan.

Seingatku, sistem belajar Bahasa Inggris waktu itu tidak begitu ketat. Bahkan kami malah keseringan mendapat jam kosong gegara guru Bahasa Inggris di SD tidak tersedia secara khusus.

Sampai kelas enam SD begitu-begitu saja? Iya. Mau bagaimana lagi, toh belum ada tuntutan, kan?

Pengalamanku Belajar Bahasa Inggris di SMP

Pengalamanku Belajar Bahasa Inggris di SMP
Pengalamanku Belajar Bahasa Inggris di SMP. Dok. Gurupenyemangat.com

Berbeda dengan SD, kisahku di SMP sedikit lebih kompleks. Pengalaman belajar Bahasa Inggris di Sekolah Menengah Pertama itu lebih seru, serius, asyik, padat, dan menyenangkan.

Bahkan, saking senangnya; ternyata guru Bahasa Inggris di SMP masih mengingat namaku hinggalah hari ini. Aduh, aku tersentuh!

Adapun materi pelajaran Bahasa Inggris di SMP kala itu sudah lebih sulit daripada SD.

Diawali dengan pelajaran memperkenalkan diri, memperkenalkan teman yang satu kepada teman lainnya, hingga diminta melakukan conversation yang lebih panjang. Minimal 1 lembar kertas kala itu.

Apakah nilaiku selalu bagus? Tidak, Say. Kekadang nilaiku dapat 40, 50, 70, dan pernah pula dapat 100. Hehe.

Masa-masa belajar Bahasa Inggris di SMP itu sangat menyenangkan karena di sanalah perdana aku mengenal yang namanya Alfalink.

Padahal selama ini kita hanya mencari arti kata dari kamus yang isinya miliaran kata itu, kan? Bahkan pernah waktu itu guru Bahasa Inggris melarang penggunaan Alfalink karena dianggap terlampau memudahkan pekerjaan. Wkwkwk

Sedangkan kalau kamus? Kami beberapa kali lupa membawanya dan beberapa kali pula tidak segan-segan meminjam kamus ke kelas sebelah.

Pengalamanku, sejak masuk SMP kami mulai mengenal yang namanya tenses, teks recount, descriptive, narrative, report, hingga teks explanation.

Lebih kompleksnya lagi, ketika kelas IX SMP kami diberi tugas untuk menampilkan storytelling tanpa teks. Haduh! Beruntung aku bisa menyelesaikannya dengan lancar.

Hanya itu sih pelajaran SMP yang kuingat. Sisanya? Barangkali sudah tenggelam entah di mana. Hahaha.

Pengalamanku Belajar Bahasa Inggris di SMA

Pengalamanku Belajar Bahasa Inggris di SMA
Pengalamanku Belajar Bahasa Inggris di SMA. Dok. Gurupenyemangat.com

Sadar atau tidak masa-masa SMA adalah waktunya diri untuk berbenah, menjadi identitas “myself” dan mulai lebih peduli dengan diri sendiri.

Memang sih, tidak sedikit pula orang yang menghabiskan masa-masa SMA hanya untuk jalan-jalan, bermain playstation, hingga nongkrong tidak keruan.

Walau demikian, masih banyak kok para pelajar lain yang care terhadap dirinya. Soalnya hati mereka sudah mulai bergelora seraya bertanya “mau dibawa ke mana masa depanku nanti?”

Pengalamanku belajar Bahasa Inggris di SMA pula demikian.

Karena tingkat pelajarannya lebih intens dan kompleks, aku pun memutuskan untuk bergabung dengan English Club sembari mengikuti les private dengan salah seorang English Teacher dekat rumah.

Jujur saja, pelajaran Bahasa Inggris di kelas itu tidaklah cukup terutama untuk mengembangkan skill berbahasaku. Sedangkan di English Club, kami lebih banyak practices daripada teori. Di sanalah rasa percaya diriku mulai terasah.

Bahkan, pada tahun kedua English Club, aku pun pernah mengikuti lomba cerdas cermat Bahasa Inggris. Biarpun pada waktu itu kami kalah di fase knockout ketiga, tapi setidaknya diriku dan teman-teman sudah berjuang.

Seiring bertambahnya waktu, cara berbicara dan mendengarkan diksi-diksi Inggris sudah sedikit lebih baik.

Puncaknya adalah di kelas XII SMA. Pada sesi ujian praktik, kami diwajibkan untuk menyanyikan lagu Bahasa Inggris dengan fasih, tanpa teks, dan dengan pronunciation yang tepat.

Aku sendiri pun memilih lagunya Westlife yang berjudul “What About Now”.

Secara pribadi, tugas praktik menyanyi lagu Bahasa Inggris tidak terlalu berat terutama bagiku dan beberapa orang sahabatku. Soalnya semenjak kelas XI SMA kami sudah membuat grup band dan perbendaharaan lagu Bahasa Inggrisku lumayan banyak.

Sebut saja seperti lagunya Simple Plan, Avenged Sevenfold, Sum41, The Script, Westlife, hingga Linkin Park. Hehe

Lebih daripada itu, di SMA aku pula menemukan teman yang lidahnya sangat lentur dan aksen Bahasa Inggrisnya “British” banget.

Dia pun sangat lancar berbicara, fasih dalam berpidato Bahasa Inggris, serta punya perbendaharaan vocabulary yang melimpah.

Secara pribadi aku sangat kagum dan tertantang. Makanya aku memberanikan diri untuk menambah pengalaman belajar Bahasa Inggris dengan mengikuti klub.

Pengalaman Belajar Bahasa Inggris Secara Ototidak dan Mengikuti Bimbel TOEFL

Pengalaman Belajar Bahasa Inggris Secara Ototidak dan Mengikuti Bimbel TOEFL
Pengalaman Belajar Bahasa Inggris Secara Ototidak dan Mengikuti Bimbel TOEFL. Dok. Gurupenyemangat.com

Benar. Lagi-lagi pengalaman belajar Bahasa Inggris di bangku SD, SMP, hingga SMA tidaklah cukup untuk meningkatkan skill berbicara dan berbahasa asing.

Dalam beberapa bulan menjelang masuk kuliah, aku sempat mengasah diri dengan belajar Bahasa Inggris secara otodidak.

Boleh Baca: Pengalamanku Belajar Bahasa Inggris di Kampus

Bagaimana cara belajarku?

Jikalau sedang ada uang, aku lantas pergi ke warnet untuk men-download video pembelajaran dan percakapan Bahasa Inggris syahdan aku coba praktikkan di rumah.

Selain itu, aku pula sering menonton film berbahasa Inggris. Ya, waktu itu masih tahun 2012 di mana televisi swasta sering menyiarkan film-film aksi seperti Jackie Chan, Rambo, hingga Wiro Sableng. Eh, yang terakhir enggak ya. Wkwk

Tapi ya gitu deh. Nyatanya aku bukanlah Fiki Naki yang terlampau naksir dengan bahasa asing.

Bahkan, setelah tamat kuliah pun aku masih sempat mengikuti bimbel TOEFL. Tepatnya bimbel dari Bahasa Inggris Basic hingga Pro.

Waktu itu masih 2017, sempat terpikir olehku untuk berangkat ke Kampung Inggris di Pare, tapi dompet ini belum cukup tebal untuk menyeberang ke pulau Jawa.

Karena inginku adalah merengkuh beasiswa S2, akhirnya kucobalah kursus Bahasa Inggris. Biayanya? 5 jeti. Hehehe.

Mahal, sih. Tapi belajarnya memang face to face dan wajib praktik. Strategi pengajarnya pula menarik hingganya aku bisa menguasai rumus kalimat aktif~pasif semua tenses dalam waktu setengah jam saja.

Walau begitu, tebal buku kursusnya hingga seribu dua ratusan lembar loh! Hadeeh. Berat sekali rasanya bebanku. Wkwk

Namanya juga belajar, ya. Butuh keseriusan, dan di sebalik keseriusan itu ada risikonya.

Entah pengalaman itu penuh kesedihan atau bahkan kegagalan, nyatanya kita hanya perlu bersungguh-sungguh untuk melakukan yang terbaik sebagaimana yang kita bisa.

*

Nah, demikianlah sepucuk pengalaman yang bisa Guru Penyemangat hadirkan. Semoga untaian diksi dan kisahnya mampu menyemangati setidaknya untuk diriku sendiri.

Semangat!

Guru Penyemangat
Guru Penyemangat Menulislah untuk menebar manfaat kepada seluruh alam, karena menuangkan kata-kata juga merupakan jalan ninja menuju kebaikan.

2 komentar untuk "Pengalaman Saya Belajar Bahasa Inggris dari SD Sampai SMA, Pernah Otodidak!"

Berkomentarlah sesuai dengan postingan artikel. Mohon maaf, link aktif di kolom komentar tidak akan disetujui.

Diperbolehkan mengutip tulisan di blog Guru Penyemangat tidak lebih dari 30% dari keseluruhan isi (1) artikel dengan syarat menyertakan sumber. Mari bersama-sama kita belajar menghargai karya orang lain :-)