Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Follow Guru Penyemangat di Google News agar tidak ketinggalan tulisan terbaru tentang edukasi, materi belajar, dunia keislaman, soal ujian, motivasi, investasi emas, kesehatan dan fiksi. Klik di sini.
Gulir ke bawah untuk membaca artikel.

Pengalaman Saya Belajar Bahasa Inggris di Kampus, Tanpa Praktik Hasilnya Nol Besar!

Pengalaman Saya Belajar Bahasa Inggris di Kampus
Pengalaman Saya Belajar Bahasa Inggris di Kampus. Dok. Gurupenyemangat.com

Belajar Bahasa Inggris tidak semudah yang dikatakan orang-orang, kan? Nyatanya iya, kekadang mereka yang bilang bahwa “Speak English” itu mudah karena memang dirinya sudah lancar. Sedangkan aku?

Hemm. Sejak SD, SMP, hinggalah SMA, perasaan Bahasa Inggris-ku begini-begini saja. Kosakata yang nempel di otak paling-paling hanya “I Love You”, “I Hate You”, dan “You and Me, End!” Hahaha

Walau begitu, perlu ditegaskan bersama bahwa Bahasa Inggris itu penting untuk dikuasai. Para bule sering berkisah bahwa dengan berbahasa Inggris kita bisa berkeliling dunia. Soalnya kan memang bahasa nomor satu di dunia!

Nah, dalam kesempatan kali ini, Gurupenyemangat.com ingin mengisahkan pengalaman pribadi saat belajar bahasa Inggris di kampus. Yup, kampus yang notabenenya Islam dan bukan jurusanku.

Lah, kalo memang jurusanku Bahasa Inggris, mungkin pengalaman ini bakal berakhir sukses, kan?

Bisa jadi, karena memang calon guru atau sarjana Bahasa Inggris memang dituntut untuk bisa. Sedangkan pengalamanku? Bisa saja berakhir “Tragis”! Haha. Serem dah.

Pengalaman Belajar Bahasa Inggris di Kampus, Dimulai dari Niat, Disesuaikan dengan Kebutuhan

Pengalaman Belajar Bahasa Inggris di Kampus, Dimulai dari Niat, Disesuaikan dengan Kebutuhan
Pengalaman Belajar Bahasa Inggris di Kampus, Dimulai dari Niat, Disesuaikan dengan Kebutuhan. Dok. Gurupenyemangat.com

Saat masuk ke jenjang kuliah, aku mengambil program studi pendidikan agama Islam. Lho, jadinya gak penting-penting amat kan belajar dan menguasai Bahasa Inggris?

Iyasih, malahan, mungkin lebih penting bagiku untuk menguasai Bahasa Arab daripada Bahasa Inggris.

Biarpun begitu, tetap saja, kalau semisal mendengar pidato para menteri atau mendengar video Ome TV ala Fiki Naki, rasa-rasanya derajat keirianku naik drastis. Hahaha

Beruntungnya, pada tahun 2013 lalu dosen Bahasa Inggris kami adalah seorang gadis cantik. Wkwk.

Ya, karena bukan jurusan utama, di kampus kami hanya belajar bahasa Inggris sebanyak dua semester saja dengan total 4 SKS.

Apa materi yang kami pelajari? Apakah rumus tenses seperti past tense, past future, atau bahkan present continous tense?

Ternyata tidak. Pengalamanku, kami lebih belajar tentang bagaimana berbicara bahasa Inggris, serta bagaimana pula belajar menerjemahkan kalimat Bahasa Inggris menjadi Bahasa Indonesia.

Bahkan, sang dosen waktu itu meminta kami untuk terus berlatih translate arti ayat Quran yang sebelumnya berbahasa Inggris.

Apakah kami sekelas kepusingan?

Agak sih, tapi karena waktu itu sudah ada kamus bahasa Inggris yang berbentuk aplikasi, maka pekerjaan kami pun terasa lebih gampang. Tambah lagi sang dosen juga cantik, maka rasa kantuk ini langsung kabur entah ke mana. Ehem.

Walaupun begitu, sebagai mahasiswa pemula, aku dan teman-teman tetap saja kesulitan untuk menerjemahkan sebuah kalimat. Soalnya kalau menggunakan kamus, itu artinya perkata, kan?

Tapi syukur alhamdulillah, pada mata kuliah Bahasa Inggris di semester pertama kami sekelas rata-rata mendapat nilai A dan B serta bisa berkomunikasi alias melakukan percakapan sederhana dengan menggunakan Bahasa Inggris.

Lumayan dong, mahasiswa PAI, tapi “Speak English” bisa dikit-dikit.

Adapun di semester berikutnya, kami pun masih belajar Bahasa Inggris namun dengan dosen yang berbeda. Hanya saja, dosen yang satu ini berbeda karena beliau sudah menikah. Ehem

Seingatku, kami pada waktu itu fokus belajar tentang beragam teks cerita sembari menambah kosakata Bahasa Inggris.

Jika dipikir-pikir pelajarannya sama seperti semasa SMP-SMA kan? Tapi di bangku kuliah, penekanannya lebih kepada praktik. Ya gitu sih, karena sebenarnya Bahasa Inggris yang tentang “itu-itu” saja materinya. Tinggal kitanya yang dituntut lebih percaya diri dalam “take action”.

Mengasah Kosakata Bahasa Inggris di Kampus dengan Mengikuti Lomba Scrabble dan Baca Puisi

Mengasah Kosakata Bahasa Inggris di Kampus dengan Mengikuti Lomba Scrabble dan Baca Puisi
Mengasah Kosakata Bahasa Inggris di Kampus dengan Mengikuti Lomba Scrabble dan Baca Puisi. Dok. Gurupenyemangat.com

Jujur, ya, belajar Bahasa Inggris di kelas itu tidak akan pernah cukup. Seperti judul ini, bahwa belajar tanpa praktik itu hasilnya bakal “Nol Besar”.

Kita mungkin lancar saat diminta menulis rumus beragam tenses menurut waktunya, tapi apakah seketika itu diri ini juga lancar saat berbicara? Padahal yang cukup penting dari Bahasa Inggris itu ialah kemampuan speaking dan listening.

Yuup, siapa tahu esok hari dirimu bertemu dengan bule. Masa iya cuma sekadar say hello kepada mereka trus berkata “Can I Take a Photo With You?”. Hanya sebatas itu, lalu selesai. Kan gak lucu dan terlampau formal banget. Hahaha

Adapun pengalamanku pada 3-4 semester terakhir di bangku kuliah, aku bersama teman-teman terutama mahasiswa satu jurusan mulai mengakrabkan diri dengan mahasiswa jurusan Bahasa Inggris yang tergabung dalam organisasi intrakampus.

Beruntungnya gedung sekretariat kedua organisasi saling berdekatan sehingga beberapa kali kami secara bergantian saling berkunjung dan bersilaturahmi.

Karena sudah semakin sering berkumpul, kami akhirnya diajak oleh para mahasiswa jurusan Bahasa Inggris untuk bermain Scrabble dan diminta meramaikan kegiatan lomba baca puisi.

Aku pun mengiyakan karena kebetulan kami tidak terlampau banyak kegiatan pada waktu itu.

Hari demi hari, kami pun makin sering bertanding scrabble. Seru loh bermain scrabble itu. Malahan, berkali-kali lipat lebih seru daripada main TTS. Hehe

Perasaanku, makin sering bermain scrabble, jumlah vocabulary yang nempel di otak kami makin banyak. Sesekali kami pun mulai mencoba mencari apa sih arti dari kosakata yang kami mainkan dan akhirnya diterapkan saat bermain di episode berikutnya.

Ya, mau bagaimana lagi, di kampus sudah tidak ada mata kuliah Bahasa Inggris karena cuma dua semester saja.

Aku pun berinisiatif mengasah percakapan Bahasa Inggris sederhana dengan cara bermain Scrabble, melirik puisi, serta sesekali menonton film.

Kalau di era milenial seperti saat sekarang ini, nyatanya belajar Bahasa Inggris semakin mudah, kan? Tersedia beragam situs alias website Belajar Bahasa Inggris gratis yang bisa diakses di mana saja.

Tinggal kitanya lagi, tanyakan kepada diri sendiri; apakah sudah ada niat, atau malah belum.

Secara pribadi, motivasiku tetap menjaga kemampuan Bahasa Inggris walau hanya seadanya tiada lain untuk menambah kompetensi sih. Karena siapa tahu kan esok hari aku dapat tiket jalan-jalan ke luar negeri, atau siapa tahu suatu saat ada bule singgah ke rumahku.

Hari kemudian, kita tidak ada yang tahu. Maka dari itulah, seiring bertambahnya waktu, kita perlu meningkatkan dan mengasah skill berbahasa.

Jadi, bagaimana dengan nasib lomba scrabble dan puisi tadi? Aku dan teman-teman langsung kalah. Hahaha, biarlah. Kami tetap menikmati. Wkwk

***

Nah, demikianlah tadi segenap untai kisah dan pengalamanku saat belajar Bahasa Inggris di Kampus. Yang namanya belajar tentu butuh proses dan latihan secara terus-menerus.

Tambah lagi bila pelajarannya adalah Bahasa Inggris. Kuncinya yaitu practice, practice, practice and keep confident.

Salam.

Boleh Lanjut Baca: Pengalamanku Membuka Bimbel di Rumah, Penghasilannya Lumayan!

Guru Penyemangat
Guru Penyemangat Menulislah untuk menebar manfaat kepada seluruh alam, karena menuangkan kata-kata juga merupakan jalan ninja menuju kebaikan.

2 komentar untuk "Pengalaman Saya Belajar Bahasa Inggris di Kampus, Tanpa Praktik Hasilnya Nol Besar!"

  1. "Untuk bisa harus praktik"
    Aku tertarik dengan ini, karena B. Inggrisku nol besar. Makasih Bang GP, jadi termotivasi, pingin belajar lagi.
    Sukses selalu, salam, Bang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lha, wajar dapat Nol Bu, kn kmren kertas ulangannya gakpernah dikumpul. Hahaha

      Tengkyu Bu

      Hapus

Berkomentarlah sesuai dengan postingan artikel. Mohon maaf, link aktif di kolom komentar tidak akan disetujui.

Diperbolehkan mengutip tulisan di blog Guru Penyemangat tidak lebih dari 30% dari keseluruhan isi (1) artikel dengan syarat menyertakan sumber. Mari bersama-sama kita belajar menghargai karya orang lain :-)