Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Bacaan Surah Al-Ahzab Ayat 21 Latin Beserta Terjemahan dan Tafsirnya

Bacaan Surah Al-Ahzab Ayat 21 Latin Beserta Terjemahan dan Tafsirnya
Bacaan Surah Al-Ahzab Ayat 21 Latin Beserta Terjemahan dan Tafsirnya. Dok. Gurupenyemangat.com

 “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.”

Al- Qur’an telah menjelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW menjadi teladan yang baik. Patut dicontoh dan ditiru sikap hidup serta perjuangannya. 

Perjalanan dan riwayat Nabi Muhammad SAW perlu dipelajari untuk dijadikan contoh teladan oleh umat manusia pada umumnya dan oleh kaum muslimin pada khususnya. 

Beliau telah memperlihatkan sikap dan tindakan berani dalam perjuagan mengembangkan dan mempertahankan agama, terutama dalam menghadapi saat-saat yang genting. 

Dengan penuh kesadaran beliau melalui peristiwa-peristiwa dan pengalaman pahit dengan tiada mengenal mundur atau berhenti separuh jalan. Semoga lantunan shalawat selalu tercurah kepada Baginda Nabi Muhammad SAW.

Berkenaan dengan sikap hidup dan akhlak Nabi Muhammad SAW dalam kehidupan beliau, ketika ditanyakan kepada Aisyah istri Nabi, dijawabnya dengan singkat dan tepat, bahwa akhlak beliau adalah Al-Qur’an, segala sesuatu yang diperintahkan Tuhan dalam Al-Qur’an berkenaan pada diri beliau.

Jika dibandingkan dengan umat muslim sekarang, khususnya di Negara kita Indonesia, akhlak merupakan hal yang paling minim yang dimiliki oleh umat Islam. 

Lihat saja, begitu banyak orang Islam yang ber-KTP Islam, namun pada kenyataannya ia adalah perampok, pencuri, NAPI, koruptor, dan sejenisnya. 

Di sisi lain, Al-Qur’an terkadang menjadi kitab suci yang tersimpan rapi di dalam lemari, hampir tak tersentuh sama sekali. 

Lalu, apakah yang menyebabkan umat Islam di zaman sekarang seperti itu? Apakah cerita-cerita dan kejadian masa lalu Nabi Muhammad SAW tidak teramalkan di zaman sekarang? Atau malah metode-metode pendidikan keteladanan yang salah atau tidak tepat?

Baiklah. Gurupenyemangat.com akan bahas tuntas bacaan Surah Al-Ahzab ayat 21 latin beserta terjemahan dan tafsirnya. Silakan disimak:

Bacaan Surah Al-Ahzab Ayat 21 Latin Beserta Terjemahannya

Bacaan Surah Al-Ahzab Ayat 21 Latin Beserta Terjemahannya
Bacaan Surah Al-Ahzab Ayat 21 Latin Beserta Terjemahannya. Dok. Gurupenyemangat.com

Berikut bacaan Surah Al-Ahzab ayat 21 latin beserta terjemahannya. Silakan dicermati dengan seksama untuk kemudian dihapalkan ya.

Guru Penyemangat telah menyiapkan bacaan latin lengkap dengan panjang pendek bacaan. Adapun bila ditemukan huruf "a" yang dobel menjadi "aa" artinya bacaan tersebut memiliki panjang 2 harakat.

لَّقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِي رَسُولِ ٱللَّهِ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ لِّمَن كَانَ يَرۡجُواْ ٱللَّهَ وَٱلۡيَوۡمَ ٱلۡأٓخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرٗا  [ الأحزاب:21]

Bacaan latin:

Laqod kaana lakum fii rosulillahi uswatun hasanah. Liman' kaana yarjullaahi walyaumal akhiri wa dzakarallaaha katsiroo.

Artinya:

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. [Al Ahzab:21]

Tafsir Kata-kata Penting dan Munasabah QS Al-Ahzab Ayat 21

Tafsir Mufradat

Dalam Tafsir Al-Misbah goresan Quraish Shihab, Ayat ini dikatakan sebagai kecaman kepada orang-orang munafik yang mengaku memeluk Islam, tetapi tidak mencerminkan agama Islam. 

Kecaman itu didasarkan pada kata laqad. Seakan-akan ayat itu menyatakan: 

“Kamu telah melakukan aneka kedurkahaan, padahal sesungguhnya di tengah kamu semua ada Nabi Muhammad SAW yang mestinya kamu teladani”.

Syahdan, Kalimat liman kana yarju  Allah wa-al yaum al-akhir/ bagi orang yang mengharapkan Allah dan Hari Kiamat berfungsi sebagai penjelas sifat orang-orang yang mestinya meneladan Rasulullah SAW. 

Untuk meneladan Rasulullah SAW secara sempurna diperlukan kedua hal yang disebut ayat di atas. Demikian juga dengan zikir kepada Allah dan selalu mengingat-Nya. 

Kata uswah atau iswah berarti teladan. Pakar tafsir, az-Zamakhsyari, ketika menafsirkan ayat di atas, mengemukakan dua kemungkinan tentang maksud keteladanan yang terdapat pada diri Rasul itu. 

Pertama, arti kepribadian beliau secara totalitasnya adalah teladan. Kedua dalam arti terdapat dalam kepribadian beliau hal-hal yang patut diteladani. Pendapat pertama lebih kuat dan banyak dipakai oleh para ulama. 

Kemudian, ada pula kata  fi yang tertuang dalam firman Allah, fi rasulillah yang berfungsi “mengangkat” dari diri Rasul satu sifat yang hendaknya diteladani, tetapi yang diangkatnya adalah Rasulullah SAW sendiri dengan seluruh totalitas beliau.

Munasabah Ayat

Masih dari Quraish Shihab, dalam ayat sebelumnya, Allah telah melukiskan kaum munafik dengan menyatakan mereka mengira karena demikian besar rasa takut mereka. 

Bahwa pasukan koalisi, yakni kaum musyrikin Mekkah yang bersekutu itu, belum pergi meninggalkan kota Yasrib. 

Padahal sejatinya mereka telah pergi; dan seandainya jika pasukan koalisi itu datang kembali, niscaya mereka karena sedemikian penakut sangat ingin berusaha keras berada di dusun-dusun.

Mereka bergerak bersama-sama orang Badwi sambil setiap saat menanyakan tentang berita-berita untuk memata-matai atau berpura-pura memberi perhatian terhadap kaum muslimin. 

Mereka tidak akan berperang bersama kaum muslimin kecuali sedikit, yakni sebentar saja yang sama sekali tiada artinya.

Tafsir Ayat QS Al-Ahzab Ayat 21 Tentang Metode Keteladanan ala Nabi Muhammad SAW

Keteladanan

Secara Ijmaliy, penggalan ayat di atas berisikan bahwa teladan yang baik bagi manusia itu benar-benar ada dan telah ada, yaitu pada diri Rasululah SAW. 

Jika kita menyelami teladan itu aplikasinya seperti apa, maka akan banyak pemaparan terkait teladan itu sendiri. 

Kalimat suri teladan tidak semata-mata hanya diartikan sebagai contoh yang baik, namun bisa diartikan menurut pemahaman yang bermacam-macam, di antaranya:

Menurut Imam Jalallain, “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian” dapat dibaca iswatun dan uswatun. 

Hasanah (yang baik) untuk diikuti dalam hal berperang dan keteguhan serta kesabarannya, yang masing-masing diterapkan pada tempat-tempatnya.

Berdasarkan gagasan tersebut, dapat kita ambil kata keteguhan dan kesabaran. Itu adalah salah satu teladan yang patut ditiru. 

Jika di masa Rasullullah dikatakan bahwa keteguhan dan kesabaran Rasulullah itu baik menjadi teladan di saat berperang, di masa kita sekarang ini keteguhan dan kesabaran dapat diaplikasikan terhadap banyak hal. 

Misalnya, kita belajar untuk teguh dalam pendirian, khususnya memegang erat Islam dan sabar dalam menerima ujian-ujian dari Allah SWT.

Bagaimanapun bentuk dan di manapun ujian atau cobaan tersebut tidak sampai menyebabkan kita umat Muslim menjadi murtad, keluar dari Islam, sungguh itu adalah hal yang sangat dimurkai Allah SWT.

Pernyataan bahwa teladan erat kaitannya dengan keteguhan hati juga diperkuat dengan firman Allah SWT QS Huud/11 ayat 120: 

“Dan semua kisah dari Rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.”

Bersandar pada ayat di atas, sejatinya kita diperintahkan agar belajar dari kisah atau cerita Rasul agar kita dapat memiliki keteguhan hati. Karena di dalam kisah-kisah Rasul tersebut terdapat kebenaran, pengajaran, dan peringatan bagi kita.

Tidak jauh berbeda, dalam QS Al-Qalam/68 ayat 4 juga diterangkan secara umum tentang makna teladan:

Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.

Diterangkan bahwa teladan Rasulullah itu berupa budi pekertinya, seperti sikap dan perbuatan Rasulullah SAW yang Amanah, Shiddiq, Tabligh, serta Fathanah. 

Diterangkan oleh Hamka, untuk mencapai sebuah keteguhan hati yang kuat itu sangat sulit karena banyak orang yang khususnya di masa Rasulullah SAW bergoncang pikirannya, berpenyakit jiwanya, pengecut, munafik, tidak berani tanggung jawab, bersedia hendak lari dari Badwi kembai ke dusun-dusun, tenggelam dalam ketakutan melihat dari jauh beta besarnya jumlah musuh yang akan menyerbu. 

Meski begitu keadaannya, masih ada lagi orang-orang yang mempunyai pendirian tetap, yang tidak putus harapan, tidak kehilangan akal, sebab mereka melihat sikap dan tingkah laku pemimpin besar mereka sendiri, Rasulullah SAW.

Pada QS Al-Ahzab ayat 21 ini Allah SWT memperingatkan orang-orang munafik bahwa sebenarnya mereka dapat memperoleh teladan yang baik dari Nabi SAW. 

Rasulullah SAW adalah seorang yang kuat imannya, berani, sabar, tabah menghadapi segala macam cobaan, percaya dengan sepenuhnya kepada segala ketentuan-ketentuan Allah dan beliaupun mempunyai akhlak yang mulia. 

Jika ada keinginan alias bercita-cita ingin menjadi manusia yang baik, berbahagia hidup di dunia dan di akhirat, jalan yang bisa ditempuh adalah mencontoh dan mengikuti Nabi.

Belum selesai sampai di sana, kalimat ¬uswatun hasanah juga mengandung implikasi peringatan, khususnya peringatan terhadap orang-orang munafik yang telah dijelaskan pada QS Al-Ahzab ayat sebelumnya (ayat 20). 

Jadi, jika mereka tidak mengikuti teladan Rasulullah SAW maka sama saja mereka tidak bercita-cita untuk menjadi manusia yang baik, dan tidak bercita-cita untuk berbahagia hidup didunia dan akhirat.

Walau berbicara dalam konteks perang Khandaq, ayat ini juga mencakup kewajiban atau anjuran meneladan Rasulullah. Ini karena Allah SWT telah mempersiapkan tokoh yang agung ini untuk menjadi teladan bagi semua manusia. 

Yang maha kuasa itu sendiri yang mendidik beliau. “Addabani Rabbi fa ahsana ta’dibi” (Tuhanku mendidikku, maka sungguh baik hasil pendidikanku).

Pakar tafsir dan hukum, al-Qurtubhi mengemukakan bahwa dalam soal-soal agama, keteladanan itu merupakan kewajiban, tetapi dalam soal-soal keduniaan maka ia merupakan anjuran. 

Dalam soal keagamaan, beliau wajib diteladani selama tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa ia adalah anjuran. 

Sementara ulama berpendapat bahwa dalam persoalan-persoalan keduniaan, Rasulullah SAW telah menyerahkan sepenuhnya kepada para pakar dibidang masing-masing sehingga keteladanan terhadap beliau yang dibicarakan dalam ayat ini bukanlah dalam hal-hal yang berkaitan dengan soal-soal keduniaan. 

Jadi, meskipun meneladan itu adalah suatu kewajiban ataupun anjuran, jika seseorang ingin hidup bahagia dunia akhirat maka sudah semestinya ia meneladan Rasulullah SAW.

Dengan meneladannya, otomatis di dunia kita akan menjadi sosok yang lebih penyabar dalam menghadapi suatu permasalahan soal keduniaan, jadi kita lebih bisa untuk berpikir realistis tanpa ego karena kita bisa menahan emosi atau amarah.

Mengenai keteladanan, ada pemilahan-pemilahan terperinci menyangkut ucapan/sikap Nabi SAW yang masing-masingnya patut kita teladani. 

Menurut Imam al-Qarafi, pemilahan-pemilahan tersebut sebagai berikut:

Nabi dan Rasul

Ucapan dan sikapnya pasti benar karena itu bersumber langsung dari Allah SWT atau merupakan penjelasan tentang maksud Allah SWT. 

Jadi, di sini perlu diperhatikan kalimat pasti benar dari ucapan atau sikap Nabi SAW. Karena kepastian yang datangnya dari Allah SWT baik secara langsung maupun berupa penjelasan itulah kita diperingatkan untuk meneladan keputusan sikap dan ucapannya Nabi SAW.

Mufti

Fatwa-fatwa seorang Mufti berkedudukan setingkat dengan butir pertama di atas karena fatwa beliau adalah berdasarkan atas pemahaman atas teks-teks keagamaan. 

Mufti diberi wewenang oleh Allah SWT untuk menjelaskannya. Setidaknya fatwa beliau sesuai dengan pernyataan Allah SWT dalam QS An-Nahl/16 ayat 44:

“Keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. dan Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.”

Bertumpu pada dalil ini, fatwa-fatwa Rasulullah SAW berupa perintah-perintah, larangan-larangan, aturan dan lain-lain yang terdapat dalam Al Quran. Dan fatwa beliau berlaku umum bagi manusia.

Jadi, dalam hal ini, cara kita meneladan Rasulullah SAW senada dengan bagaimana cara kita agar dapat melaksanakan perintah-perintah (Sunnah) beliau, larangan-larangan yang telah tercantum dalam Al-Qur’an, hingga aturan-aturan yang terdapat di dalam Al-Qur’an. Hakim 

Ketetapan hukum yang ditetapkan oleh hakim secara formal pasti benar tetapi secara material adakalanya keliru akibat kemampuan salah satu pihak yang berselisih menyembunyikan kebenaran atau kemampuannya berdalih dan mengajukan bukti-bukti palsu. 

Jadi, meneladan di sini dapat diwujudkan dengan menghindari perselisihan di antara kita dan tidak mengajukan bukti palsu. 

Karena, dengan kita berselisih dan mengajukan bukti-bukti palsu, berarti kita sama saja dengan orang-orang yang menentang kebenaran Rasulullah dan mempersulit beliau secara tidak langsung.

Pemimpin Masyarakat

Tentu saja petunjuk-petunjuk beliau dalam hal kemasyarakatan disesuaikan dengan kondisi masyarakat dan perkembangannya sehingga tidak tertutup kemungkinan lahirnya perbedaan tuntunan kemasyarakatan antara satu masyarakat dengan masyarakat lain.

Rasul SAW sendiri tidak jarang memberi petunjuk yang berbeda untuk sekian banyak orang yang berbeda dalam menyesuaikan antara masyarakat di daerah yang satu dengan daerah yang lainnya.

Lebih dari itu, tidak jarang pula ada ketetapan bagi masyarakatnya yang beliau ubah akibat perkembangan masyarakat itu, misalnya dalam sabda Rasulullah: “saya pernah melarang kalian menziarahi kubur, kini silahkan menziarahinya”. 

Izin ini disebabkan kondisi masyarakat telah berbeda dengan kondisi mereka pada saat larangan itu ditetapkan. 

Termasuk pula hal-hal yang diperagakan beliau dalam kaitannya dengan budaya masyarakat di mana beliau hidup, seperti model pakaian, rambut, cara makan, dan lainnya. 

Alhasil, cara kepemimpinan Rasulullah SAW dalam membuat ketetapan perlu diperhatikan keadaan masyarakat itu sendiri, karena suatu ketetapan itu akan menjadi perubahan yang baru bagi masyarakat yang dimaksud.

Pribadi

Kategori pribadi yang pertama adalah kekhususan.  

Kekhususan Rasulullah SAW yang tidak boleh dan atau tidak harus diteladani karena kekhususan tersebut berkaitan dengan fungsi beliau sebagai rasul.

Misalnya kebolehan menghimpun lebih dari empat orang istri dalam saat yang sama atau kewajiban shalat malam, atau larangan menerima zakat, dan lain sebagainya.

Adapun kategori Pribadi yang kedua adalah Nabi Muhammad sebagai manusia (terlepas dari kerasulannya). Hal tersebut dikenal juga dengan  istilah aradul basyariyah. Misalnya dalam soal selera, tidur, hingga makan.

Lalu, bagaimana sikap kita dalam meneladannya?

Jika suatu perbuatan dinilai berkaitan dengan upaya mendekatkan diri kepada Allah, seperti membuka alas kaki ketika shalat, ia termasuk bagian yang diteladani.

Tetapi jika tidak tampak adanya indikator bahwa hal tersebut dilakukan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT, seperti menggunakan pakaian tertentu, (misalnya sandal berwarna kuning, rambut gondrong, dan lain-lain), hal ini hanya menunjukkan bahwa yang demikian dapat diikuti, ia berstatus mubah. 

Lebih dari itu, bila ada yang mengikutinya dengan niat meneladan Nabi SAW, maka niat keteladanan itu mendapat ganjaran dari Allah SWT.

Alhasil, tergapailah gagasan bahwasannya kita meneladan Nabi SAW utamanya untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. 

Bukan semata-mata ingin mendapat pujian atau agar dianggap orang mirip seperti Rasul, namun meniatkan keteladanan kita agar mendapat ganjaran dari Allah SWT dan mendapat safa’at dari Rasulullah SAW nanti diakhir zaman. 

Sejatinya, dengan kita meneladan Nabi Muhammad SAW, berarti kita telah mendapat hikmah manfaat sebagai berikut:

  • Menjauhkan diri dari sifat kemunafikan
  • Menghindari kegoncangan hati dan pikiran
  • Senantiasa akan memiliki keteguhan hati
  • Menjadi sosok yang lebih sabar
  • Menjadi orang yang bertanggung jawab, teguh pendirian, jauh dari keputus asaan, dan lebih baik lagi dalam bertindak.

Kategori Mukmin dalam QS Al-Ahzab ayat 21 

Secara Ijmaly, di dalam QS Al-Ahzab ayat 21 juga mengandung tiga kategori orang mukmin, yaitu orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan banyak menyebut Allah.

Menurut Ibnu Katsir, “orang” di sini maksudnya adalah orang mukmin, yaitu orang yang mengharapkan rahmat dan ridha Allah dan yang beriman kepada hari kiamat serta selalu ingat kepada Allah. 

Bagi orang mukmin, melihat orang-orang munafik (bersekutu) adalah sebuah ujian bagi mereka, dan keadaan itu akan menambah mantapnya iman dalam dada mereka dan penyerahan diri kepada Allah SWT.

Pemikiran ini disandarkan pada QS Al-Ahzab ayat 22-nya:

“Dan tatkala orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata : "Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita". dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan.”

Sejatinya, orang mukmin yakin bahwa yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya itu ialah kemenangan sesudah mengalami kesukaran. Pernyataan ini juga sesuai dengan firman Allah dalam QS Al-Insyirah/94 ayat 5-6:

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.

Kalimat “sesudah kesulitan itu ada kemudahan” diulang dua kali. Jika kita tarik makna lebih dalam, maka makna pengulangan itu adalah sebuah penegasan dari Allah terkait kesulitan tersebut, dan Allah juga meyakinkan kepada orang mukmin bahwasannya pasti akan ada kemudahan. 

Makanya orang mukmin menganggap suatu kesulitan itu sebagai sebuah ujian yang datangnya kepada Allah, karena mereka yakin bahwa akan ada kemudahan pada akhirnya nanti. 

Lalu, bagaimana dengan kita? Apakah kita menganggap kesulitan dari Allah SWT sebagai ujian? Semoga saja.

Pernyataan yang sama juga dikemukakan Ahmad Mustafa Al-Maragi bahwasannya ketiga kategori di atas ditujukan kepada orang mukmin. 

Karena sesungguhnya norma-norma yang tinggi dan teladan yang baik itu telah ada pada diri Rasulullah SAW, itupun jika seandainya orang mukmin benar-benar menghendaki pahala dari Allah serta takut akan azab-Nya dihari semua orang memikirkan dirinya sendiri dan pelindung serta penolong ditiadakan. 

Dan, orang mukminlah yang selalu ingat kepada Allah SWT dengan ingatan yang banyak, sehingga seharusnya dengan ingat kepada Allah itulah yang membimbing orang mukmin untuk taat kepada-Nya dan mencontoh perbuatan-perbuatan Nabi SAW.

Tidak jauh perbedaan, Dr. Hamka mengemukakan bahwa ketiga kategori yang ditujukan potongan ayat di atas adalah orang beriman. 

Semata-mata menyebut iman saja tidaklah cukup. Iman harus disertai pengharapan, yaitu bahwa inti dari iman itu sendiri adalah harapan akan Ridha Allah dan harapan akan kebahagiaan diakhirat. 

Jika tidak ingat kedua hal itu, atau jika hidup tidak mempunyai harapan, ia tidak ada artinya. Maka unutk memelihara iman dan harapan hendaklah banyak mengingat Allah SWT.  

Barang mudah mengatakan mengikuti teladan Rasul dan barang mudah untuk mengatakan beriman, karena perlu meminta latihan batin yang dalam sekali untuk dapat menjalankannya. 

Seumpama orang yang mengambil alasan menuruti Sunnah Rasul yang membolehkan laki-laki beristeri dari satu sampai berempat, tetapi jarang orang yang mengikuti ujung ayat, yaitu meneladan Rasul di dalam berlaku adil kepada istri-istri.

Atau umumnya orang mengakui umat Muhammad tetapi tidak mau mengerjakan peraturan yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW.

Misalnya seperti orang tua yang tidak mengajarkan dan menyuruh anaknya mengerjakan shalat lima waktu, padahal anaknya telah berusia lebih dari 10 tahun. Namun, orang tua itu tetap mengaku beriman. 

Contoh lain di zaman sekarang, misalnya remaja yang tidak bisa menjaga pandangan terhadap lawan jenis, sehingga berpacaran terlalu bebas. 

Tentu saja hal seperti itu dapat merusak akhlak anak muda karena sejak kecil tidak ditanamkan nilai-nilai kecintaan terhadap Nabi Muhammad SAW.

Lanjut Baca: Cara Menumbuhkembangkan Kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW

Sumber:

  • -----. (2006). Terjemah Singkat Tafsir Ibnu Katsier 6. Surabaya: Bina Ilmu. Vol. 6.
  • Al-Maragi, Ahmad Mustafa. (1992). Terjemahan Tafsir Al_Maragi. Semarang: Toha Putra. Juz XXI, Cet kedua.
  • As – Suyuthi, Imam Jalaluddin. (2006).  Terjemahan Tafsir Jalalain. Bandung: Sinar Baru Algenindo. Cet-9. Jilid 1.
  • Hamka. (tt). Tafsir Al-Azhar. Jakarta: Pustaka Panjimas.
  • Shihab, M. Quraish. (2002). Tafsir Al-Misbah. Jakarta: Lentera Hati. Cetakan Kedua,Vol. 10.

Guru Penyemangat
Guru Penyemangat Menulislah untuk menebar manfaat kepada seluruh alam, karena menuangkan kata-kata juga merupakan jalan ninja menuju kebaikan.

Posting Komentar untuk "Bacaan Surah Al-Ahzab Ayat 21 Latin Beserta Terjemahan dan Tafsirnya"