Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pembelajaran Jarak Jauh Menurunkan Kualitas Pendidikan Karakter Bagi Generasi Muda, Benarkah?

Pembelajaran Jarak Jauh Menurunkan Pendidikan Karakter Bagi Generasi Muda
Pembelajaran Jarak Jauh Menurunkan Pendidikan Karakter Bagi Generasi Muda, benarkah? Dok. Gurupenyemangat.com

Setahun lebih pandemi terus menghantui wajah pendidikan Indonesia. Gaungan alias jargon Merdeka Belajar rasa-rasanya sudah meredup seiring dengan digelarnya pembelajaran jarak jauh.

Lho, mengapa begitu?

Bukankah PJJ membuat kita semakin gercep beradaptasi dengan teknologi?

Iya, sih. Benar. Tapi, jangan lupa untuk sering-sering bertanya, bagaimana kabar karakter para generasi muda?

Jangan-jangan mereka malah sibuk main TikTok hingga menginstal aplikasi android yang bisa mengunduh video TikTok tanpa watermark. Eh

Waktu demi waktu berlalu, barangkali kita semua harus setuju bahwa sistem Pembelajaran Jarak Jauh belumlah optimal.

Masalah kuota internet, sinyal, listrik, fasilitas teknologi hingga segudang kendala lainnya seakan memperlebar kesenjangan antara pendidikan pusat dan daerah.

Jika hadir pernyataan berupa; Pembelajaran Jarak Jauh praktis menurunkan pendidikan karakter bagi generasi muda, mungkinkah kalimat ini bisa diterima?

Sah-sah saja, sih. Namanya juga argumentasi. Tambah lagi jika didasarkan atas pengalaman pribadi plus fenomena miris yang ada di lapangan saat ini.

Sejak beberapa bulan ke belakang, santer terdengar di telinga kita bahwa Mas Mendikbudristek Nadiem Makarim sering berkisah tentang Profil Pelajar Pancasila.

Profil Pelajar Pancasila yang Terselip dalam Pendidikan Karakter
Profil Pelajar Pancasila yang Terselip dalam Pendidikan Karakter. Source: cerdasberkarakter.kemdikbud.go.id

6 Karakter Pelajar Pancasila
6 Karakter Pelajar Pancasila. Source: cerdasberkarakter.kemdikbud.go.id

Ada 6 karakter yang dicomot dari dasar negara untuk diteladan oleh siswa mulai dari beriman dan bertakwa, mandiri, berkebhinekaan global, gotong-royong, kreatif, hingga bernalar kritis.

Kesemuanya adalah harapan bangsa yang terselip di dalam pendidikan karakter yang selama ini diupayakan untuk dituangkan dalam pembelajaran jarak jauh.

Namun, belum ada pengalaman khusus bahwa keenam nilai dasar karakter tadi bisa diimplementasikan dalam pembelajaran hari ini.

Terang saja, masing-masing profil karakter Pancasila tersebut menghadapi tantangan bernama pandemi corona yang belum ada pada tahun-tahun sebelumnya.

Jauh mundur ke beberapa tahun ke belakang, terkait dengan teori 40 butir nilai-nilai Pancasila saja kebanyakan dari kita sudah lupa bin kelabakan, bukan?

Nah! Maka dari itulah, PJJ yang belum optimal dan aksesnya masih setengah-setengah sangat mungkin menurunkan pendidikan karakter bagi siswa kita para generasi muda.

Pembelajaran Jarak Jauh Bisa Saja Membentuk Generasi Muda yang Cerdas Secara Intelektual, tapi Tidak dengan Sikap Sosial dan Spiritual

Begitulah. Dampak PJJ benar-benar terasa jika kita tilik dari sikap sosial dan spiritual. Lho, tentang teori?

Ah, gampang. Semua siswa yang hadir dan mengerjakan tugas semasa belajar daring bisa saja dengan mudahnya merengkuh nilai 100.

Jikalau guru hanya menghadirkan soal kognitif bertipe Low Order Thinking Skill (LOT), maka siap-siap Google Assistant yang bakal membantu siswa menjawab tugas tersebut.

Termasuk soal karakter? Bisa jadi, terutama jikalau soalnya hanya meminta siswa untuk menjawab apa itu pengertian jujur, apa itu ciri-ciri mandiri, dan sejenisnya.

Semua itu masih teori, dan kelemahan belajar teori adalah:

“Hari ini belajar, hari ini hapal, lalu besok lupa. Besok diulang, tulis resume, lusanya lupa lagi. Ujung-ujungnya? Teori nyaris tidak berpengaruh ketika siswa menghadapi pengalaman baru di dunia nyata.”

Oke, fix! Itu adalah masalah besar bagi generasi muda kita saat ini. Sudah banyak saran dan kritik terkait dengan implementasi pembelajaran jarak jauh, tapi entah bagaimana action-nya.

Pemerintah seakan sibuk dengan pendistribusian kuota internet, ugprade portal rumah belajar, tapi adem ayem dengan fenomena pelik belajar luring.

Intinya, siswa sebagai generasi penerus bangsa butuh kehadiran guru, butuh teladan, serta butuh pendampingan.

Lho, kan sudah ada kliping kegiatan karakter selama pembelajaran jarak jauh berlangsung?

Ada foto dan video kegiatan siswa yang melaksanakan sholat, membantu orang tua di rumah, menyetrika pakaian, hingga merapikan perabotan di dapur. Bukankah hal tersebut adalah karakter?

Benar, itu namanya kliping karakter. Tapi…entah kalau di dunia nyata. Sejatinya, kita tidak kekurangan orang-orang pintar, melainkan kekurangan para pelajar yang berkarakter.

Risiko Learning Loss Menganga, Kabar Karakter Siswa Entah ke Mana

O ya, izinkan Gurupenyemangat.com mengutik pernyataan tegas ala Saepuloh selaku Ketua Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Jabar:

"Barangkali pekerjaan memberikan materi pembelajaran bisa diganti dengan teknologi. Namun pendekatan batin, pembentukan karakter, dan pembiasaan spiritual oleh guru tak bisa tergantikan."

Rasanya, argumen di atas secara tidak langsung telah menguatkan asumsi bahwa Pembelajaran Jarak Jauh telah menurunkan kualitas pendidikan karakter bagi generasi muda.

Siswa hari ini tidak kekurangan ilmu, melainkan kekurangan pendekatan dan sentuhan batin.

Lho, kan ada orang tua selaku pendamping?

Iya sih, itu teorinya. Tapi kenyataan tidaklah sesederhana itu.

Ada pula orang tua yang belum teredukasi dalam kegiatan pembimbingan anak sehingga mereka menyerahkan sepenuhnya tugas pembelajaran kepada guru.

Dan sedihnya, semakin PJJ tidak efektif digelar, maka bukan hanya pendidikan karakter yang menurun melainkan juga fenomena learning loss akan turut menganga.

Di sini siswa belajar dengan asyik bin menyenangkan dengan Zoom, Google Meet, Kahoot, Portal Rumah Belajar, hingga sederet platform kekinian yang sedang tren.

Sedangkan jauh di sana? Di sekolah 3T?

Bahkan siswa rela naik gunung, rela panjat pohon, hingga rela numpang di warun kopi demi merengkuh sinyal internet.

Hasilnya?

Ya tetap buram. Jika dipaksakan dengan sinyal internet seadanya, maka siswa juga tidak akan mendapat banyak hal kecuali keluhan pembelajaran daring.

Jika sekolah dan guru tidak peka dan kurang bijaksana dalam mengatasi fenomena semacam itu, maka siap-siap saja kesenjangan kualitas pendidikan kita akan semakin melebar.

Kualitas pendidikan karakter menurun, tambah lagi banyak siswa tidak mendapat akses pembelajaran yang sepadan.

Alhasil, solusi terbaik sebenarnya adalah Pembelajaran Tatap Muka.

Dari sana guru bisa mulai dari “nol” lagi untuk mengetuk sikap sosial dan spiritual seraya menanamkan kembali tunas-tunas karakter yang mulai layu.

Tapi ya, faktanya hari ini pandemi masih mengguncang Bumi Pertiwi. Mau tidak mau, suka tidak suka, PJJ tetap menjadi opsi terbaik sekaligus pilihan yang paling aman.

Tiadalah mengapa. Terkadang kita perlu sabar sembari lebih perhatian.

Sukseskan pembelajaran luring, lancarkan pembelajaran daring, dan wujudkanlah Pembelajaran Jarak Jauh yang Efektif dan Menyenangkan.

Gunakanlah teknologi secara bijaksana, adil, dan sesuai dengan kemampuan, tapi jangan lupakan bimbingan, dukungan, dan sentuhan batin demi menumbuhkan karakter Pancasila.

Salam.

Lanjut Baca: Karangan Tentang Pengalaman Belajar Online di Rumah

Guru Penyemangat
Guru Penyemangat Menulislah untuk menebar manfaat kepada seluruh alam, karena menuangkan kata-kata juga merupakan jalan ninja menuju kebaikan.

Posting Komentar untuk "Pembelajaran Jarak Jauh Menurunkan Kualitas Pendidikan Karakter Bagi Generasi Muda, Benarkah?"