Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Adab Dulu Baru Ilmu, Karena Ilmu Tanpa Adab Bagaikan Api Tanpa Kayu Bakar

Para ulama, orangtua kita, guru ngaji dan guru sekolah kita, tetangga kita, hingga sahabat karib yang baik selalu mengingatkan diri agar senantiasa mengutamakan adab daripada ilmu.

Hadirnya adab begitu penting demi meraih ilmu yang bermanfaat, agar ilmu masuk ke otak, serta diikhlaskan oleh para penyebar ilmu.

O ya, Masih ingatkah kita di masa SD, di kala kita ingin upacara bendera saban hari Senin? Jelang upacara, begitu banyak tuntutan yang harus kita penuhi sebagai siswa.

Sebut saja seperti tuntutan barisan yang wajib apik, baju lengkap dengan topi, dasi, dan kaus kaki putih polos, juga mulut kita wajib dikunci rapat-rapat.

Ngerinya, jikalau ada salah satu dari atribut serta ketentuan ini kita langgar, maka bersiaplah kita untuk "dihinakan" di tengah lapangan sekolah, bahkan dijadikan objek pidato guru. Hebat, kan? Bahkan untuk melaksanakan upacara saja kita harus punya adab.

Adab Dulu Baru Ilmu, Karena Ilmu Tanpa Adab Bagaikan Api Tanpa Kayu Bakar
Adab dulu baru Ilmu. Dok. Gurupenyemangat.com

Tertuang dalam KBBI, adab dilekatkan pada kehalusan, kebaikan budi pekerti, budi, kesopanan, serta akhlak.

Masing-masing sikap yang disebutkan diperuntukan demi menggapai kemajuan lahir batin (peradaban). Maknanya, kebaikan adab akan menentukan kemajuan kita ke depannya. Sedangkan kebalikannya, makin kurang adab seseorang, maka dirinya bakal makin "rawan" tenggelam dalam jurang kehinaan.

Sekali lagi, adab begitu penting dalam kehidupan kita. Buktinya, kita diajarkan adab semenjak dini. Konsekuensinya jika tidak diberi rewards berbentuk pujian, seseorang akan diberi punishment sebagai teguran agar segera jera. 

Misalnya kala siswa tiba terlambat, dia diberikan tugas piket wc, menyiram bunga serta sejenisnya. Diharapkan dengan tugas itu siswa tidak bakal mengulangi pelanggaran adab sekolah lagi.

Nah, dari sekolah, kita dapat mengukur keutamaan adab dibanding ilmu. Teruji dengan rentetan tata krama sekolah yang wajib ditaati siswa saat sebelum belajar.

Tapi, ya...agak pelik rasanya bila kita memandang masa saat ini. Perlahan karakter anak-anak bangsa mulai dilanda fenomena berbau kebisingan adab. Sebut saja seperti perundungan sesama teman, korupsi, kolusi, nepotisme, OTT, hingga eksploitasi anak.

Bila permasalahannya cuma berkisah tentang mencuri suatu roti sebab kelaparan, ataupun mencuri sebiji telur sebab terdesak, bisa jadi kita lumayan mengelus dada tanda prihatin.

Tapi bagaimana jika permasalahannya berkisah tentang orang-orang yang punya gelar, cerdas, punya jabatan tapi malah korupsi. Sedih kita, ilmu mereka benar-benar timpang terhadap adab, ibarat api tanpa kayu sebagaimana yang diutarakan oleh Abu Zakariya An Anbari ra.

Mari kita melihat lagi para siswa SD. Siswa SD laki-laki bila rambutnya telah panjang melebihi daun kuping, umumnya dipotong paksa oleh guru BK. Itu adalah teguran agar rambut mereka dirapikan. 

Tetapi, sadarkah kita bahwa seluruh pelakon korupsi rambutnya apik guys? Begitu celetuk Dodit Mulyanto dalam event Suci 4 Kompas Televisi.

Lagi-lagi perlu kita tanyakan, apakah mereka para pelakon korupsi tidak sedang menghinakan diri mereka sendiri?

Mengapa malah anak SD seakan-akan lebih" beradab" serta mulia dibanding para pejabat yang telah banyak gelar? Kita wajib renungkan diri ini!

Sejatinya secara tidak sadar kita telah diajari untuk mengutamakan adab daripada ilmu, adab dulu baru kemudian ilmu. 

Ya, di usia beberapa bulan kita sudah diajarkan adab senyum, di usia balita kita sudah diajarkan adab berjabat tangan kepada orang yang lebih tua, sedangkan menjelang remaja kita dididik untuk senantiasa berempati.

Itulah bukti bahwa adab tanpa ilmu bagaikan jasad tanpa ruh. Orang yang miskin adab bagaikan orang "mati" yang secara tidak sengaja telah menghinakan dirinya sendiri. Hemm

Baik adab dan ilmu memang sama-sama penting. Tetapi, adab lebih utama karena merupakan wujud dari kemuliaan serta kelembutan hati manusia. Hingganya, jangan kita hinakan diri ini dengan aktivitas antipati yang mengeraskan hati.

Rumusnya, makin keras hati, makin tidak peka, lalu makin tidak beradab. Padahal ilmu dihadirkan untuk melembutkan hati serta mencerahkan benak. Kian berilmu kian beradab, bukannya kian meninggikan hati!

Salam.
Ditulis oleh Ozy V. Alandika

Baca juga:

Guru Penyemangat
Guru Penyemangat Menulislah untuk menebar manfaat kepada seluruh alam, karena menuangkan kata-kata juga merupakan jalan ninja menuju kebaikan.

Posting Komentar untuk "Adab Dulu Baru Ilmu, Karena Ilmu Tanpa Adab Bagaikan Api Tanpa Kayu Bakar"

Promo Cashback & Voucher Shopee