Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Begini 5 Adab Penuntut Ilmu Terhadap Diri Sendiri dalam Kitab Taisirul Khollaq

"إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِ امْرِئٍ مَا نَوَى..."

“Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. …” (H.R. Bukhari Muslim)

Potongan hadits nabi di atas sudah sangat familiar di telinga kita, bukan?

Iya, segala amal perbuatan sesuai dengan apa yang diniatkan. Niat menjadi tolak ukur seberapa seriusnya kita melakukan sebuah amalan. 

Ketika dari awal melakukan sesuatu sudah diniatkan dengan teguh, maka proses yang dilakukan serta hasil yang akan dicapai sudah pasti akan lebih maksimal. 

Begitupun sebaliknya, ketika niat sedari awal sudah setengah hati dan kurang bersungguh-sungguh, maka jangan ditanya lagi bagaimana proses dan hasilnya, sudah bisa dipastikan tidak akan mencapai derajat kesempurnaan.

Hadits tersebut dapat kita kaitkan pada bagaimana seorang penuntut ilmu menjalani proses belajarnya. 

Sudah barang tentu, seseorang yang belajar pasti sudah ada niat yang terbesit di hatinya untuk menimba ilmu, meskipun barangkali niat tersebut masih sebiji sawi.

Adab Penuntut Ilmu Terhadap Diri Sendiri dalam kitab taisirul kholaq
Adab Penuntut Ilmu. Foto: Diolah dari MOHAMMAD ZIA dari Pixabay

Nah, seorang penuntut ilmu yang serius mengabdikan dirinya untuk menuntut ilmu, maka sudah pasti ia akan menghadirkan niat yang tulus dan ikhlas atas perjalanan menuntut ilmu yang akan ia arungi. 

Bagaimanapun keadaannya nanti, niat tidak akan goyah.

Maka dari itu, sesungguhnya perlu adanya kesadaran pada diri seorang pencari ilmu akan bagaimana seharusnya menyikapi dirinya sendiri pada saat proses menuntut ilmu.

Tentu saja hal itu diusahakan agar niat untuk belajar yang sudah ditanamkan dalam hati akan terus bertumbuh dan terhindar dari sifat berbangga-bangga diri akan ilmu yang sudah dimiliki.

Maka untuk membarengi niat tulus menuntut ilmu, seorang pelajar perlu memperhatikan bagaimana adab dalam menuntut ilmu. 

Karena dengan adab yang baik, maka seorang penuntut ilmu akan mudah memahami ilmu, sebagaimana apa yang dikatakan oleh seorang ulama Yusuf bin Husain bahwa:

بِالْأَدَبِ تَفْهَمُ الْعِلْم

“Dengan adab, maka engkau jadi mudah memahami ilmu” 

Dalam kitab Taisirul Khollaq yang disusun oleh Hafidz Hasan Al-Mas’udi telah dituliskan bahwa ada beberapa adab yang seharusnya dilakukan oleh seorang penuntut ilmu terhadap dirinya. Apa sajakah itu?

1. Meninggalkan sifat sombong

    (تَرْكُ الْعُجُبِ )

Sifat sombong adalah salah satu dari penyakit hati. Ketika hati sudah berpenyakit, maka penyakit-penyakit lain akan rawan tumbuh mengikutinya. 

Seorang penuntut ilmu hendaknya menjauhkan dirinya dari sifat sombong, diantaranya seperti merasa diri paling pintar, berbangga-bangga akan ilmunya, dan menganggap orang lain rendah.

Jikalau dirasakan mulai muncul sifat membanggakan diri, maka sebagai seorang pencari ilmu hendaklah bersegera untuk membaca istighfar dan memohon ampun kepada Allah SWT. Karena sombong adalah sifat setan yang sudah jelas musuh bagi manusia.

2. Rendah Hati dan Jujur 

    (التَّوَاضُعُ وَالصِّدْقُ)

Dituliskan dalam kitab ini bahwa seorang pelajar yang bersikap rendah hati dan jujur, maka orang-orang akan mudah mencintai dan mempercayainya.

Tentu saja, siapa yang tidak suka dengan seseorang selalu merendahkan hatinya dan selalu jujur dengan perkataan-perkataannya? 

Sudah pasti banyak orang yang mencintainya.

Seorang penuntut ilmu perlu sekali menanamkan sifat ini agar terhindar dari sifat congkak dan lihai berbohong. Kebohongan satu akan menciptakan kebohongan lainnya.

Maka, ketika seorang pelajar sudah berani berbohong, maka tak mengherankan jika gurunya dan orangtuanya pun sampai dibohongi.

Semisal terdapat kasus seorang pelajar yang meminta uang SPP bulanan kepada orangtuanya, ternyata malah digunakan untuk bermain game ataupun jajan. 

Ini bahaya sekali. Maka penanaman akan sifat jujur pada seorang pelajar perlu diperhatikan juga oleh guru dan orangtua agar menjadi kebiasaan yang baik hingga dewasa. 

3. Berjalan dengan Tenang

   (وَقُوْرًا فِى مِشْيَتِهِ)

Berjalan dengan tenang dapat kita maknai dengan berjalannya seorang penuntut ilmu yang mencirikan sikap rendah hati. 

Hendaknya tiap-tiap pencari ilmu mengatur cara berjalannya agar orang yang memandang tidak menganggapnya tidak punya adab atau sopan santun. 

Lebih dari itu pula, sifat tenang perlu juga dihadirkan pada diri seorang penuntut ilmu. 

Tidak tergesa-gesa dalam menuntut ilmu juga menjadi kunci agar ilmu yang dipelajari dapat difahami dengan baik secara keseluruhan dan terhindar dari kesalahan yang fatal.

4. Menjauhkan Pandangannya dari Segala Sesuatu yang Diharamkan 

    (غَاضًّا طَرْفَهُ عَنِ النَّظَرِ إِلَى الْمُحَرَّمَاتِ)

Orang yang terjaga matanya dari memandang hal-hal yang diharamkan, maka dia adalah orang yang beruntung dalam hidupnya. 

Mengapa bisa demikian?

Memandang hal-hal yang haram dapat mematikan hati, melemahkan ingatan, dan menimbulkan kesukaran dalam memahami ilmu dan menerima kebenaran.

Tentu saja jika hal tersebut terjadi pada seorang penuntut ilmu, maka ia akan kesusahan dalam menyerap ilmu yang dipelajari. 

Alhasil, menjaga mata dari melihat hal-hal yang diharamkan akan memberikan kemudahan bagi seorang penuntut ilmu dalam memahami ilmu dan mengamalkan apa yang telah dipelajarinya.

Apa saja hal-hal yang diharamkan itu? 

Kita ambil contoh seperti melihat video porno, melihat lawan jenis yang bukan mahram dengan sengaja dan berlama-lama serta menikmatinya, dll.

5. Bersikap Jujur atas Ilmu yang Diajarkan di Dalamnya 

    (أَنْ يَكُوْنَ أَمِيْنًا عَلَى مَا أوْتِيَهُ مِنَ الْعِلْمِ)

Nah, ini menjadi poin yang sangat penting dalam mengamalkan ilmu. Seorang pejuang ilmu sudah semestinya melakukan dan mengamalkan ilmu yang dipelajarinya. 

Hal tersebut sebagai bukti bahwa apa yang ia pelajari telah berkesan di dalam hatinya dan bermanfaat untuk diri sendiri dan juga orang lain.

Namun, yang perlu diperhatikan dalam mengamalkan ilmu adalah jujur atas ilmu yang dimilikinya.

Adab Penuntut Ilmu Terhadap Diri Sendiri
Adab Penuntut Ilmu Terhadap Diri Sendiri. Foto: Prithpal Bhatia dari Pixabay
Sedikit dan sebanyak apapun ilmu yang dimiliki, maka seorang penuntut ilmu menyampaikan ilmu sesuai dengan batas apa yang telah diketahuinya.

Jika dirinya menyampaikan atau menjawab sebuah pertanyaan di luar dari ilmu yang telah ia miliki, maka dikhawatirkan akan terjadi kesalahan paham dan penyebaran ilmu yang tidak benar alias sesat pada orang lain. 

Seperti itulah beberapa adab yang seharusnya dimiliki orang seorang penuntut ilmu untuk dirinya sendiri ketika menuntut ilmu. 

Semua hal tersebut sudah pasti untuk kebaikan penuntut ilmu itu sendiri dalam perjalanan menuntut ilmunya.

Beberapa poin adab yang sudah dituliskan di atas diberikan oleh orang sholih dalam kitab beliau yang banyak dipelajari di pesantren-pesantren dan madrasah diniyah. 

Semoga kita selalu mau mengambil ilmu dan hikmah dari orang-orang sholih. 

Semoga bermanfaat.
Ditulis oleh Firda Fatimah

Baca juga:

Guru Penyemangat
Guru Penyemangat Menulislah untuk menebar manfaat kepada seluruh alam, karena menuangkan kata-kata juga merupakan jalan ninja menuju kebaikan.

6 komentar untuk "Begini 5 Adab Penuntut Ilmu Terhadap Diri Sendiri dalam Kitab Taisirul Khollaq"

  1. Wah ternyata kak Firda sudah jadi koncoan nih, hihihi

    Sangat bermanfaat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahahaha, koncoan jauh, Bang. wkwk
      Tengkyu, Bang Fre
      Salam hangatku

      Hapus
  2. Maa syaa Allah ilmunya sangat bermanfaat sekali

    BalasHapus
    Balasan
    1. MasyaAllah, terima kasih banyak, kak 😇🙏
      Terima kasih sudah singgah 💐

      Hapus
  3. MasyaAllah sangat bermanfaat 😁

    BalasHapus

Berkomentarlah sesuai dengan postingan artikel. Mohon maaf, link aktif di kolom komentar tidak akan disetujui.