Widget HTML #1

Mengapa Berharap Kepada Manusia Itu Sungguh “Menyakitkan”?

Pertanyaan yang tertuang pada judul di atas rasanya sangat menggelitik.

Dirimu, diriku, bahkan diri kita mungkin ada yang akan menjawab bahwa berharap kepada manusia itu pasti menyakitkan. Apalagi jikalau harapan yang kumaksud terlalu tinggi. Ehem.

Secara logis, barangkali bisa dimaklumi, ya, bahwasannya tiap-tiap diri punya perasaan, dan perasaan itulah yang kerap kali menimbulkan berpuluh hingga beribu harap.

Syahdan, kalau kita kembali berkisah tentang harapan kepada hamba, barangkali akan lebih banyak tertuang kisah tentang kebahagiaan materi, ketulusan, keseriusan, hingga cinta. 

Mengapa Berharap Kepada Manusia Itu Sungguh “Menyakitkan”
Mengapa Berharap Kepada Manusia Itu Sungguh “Menyakitkan” Dok. Gurupenyemangat.com

Tak terpungkiri memang, karena di satu sisi kita semua diciptakan sebagai makhluk yang berperasaan.

Meski begitu, di sisi yang lain, semakin diri ini berharap kepada manusia, semakin menyakitkanlah rasa, fakta, dan bahkan pengalaman yang dialami.

Contohnya begini. Misal, ya, kita menanti seseorang di sebuah taman bunga dengan waktu yang telah dijanjikan.

Kita tentu berharap agar pertemuan tersebut mampu berjalan tepat waktu, kan? 

Sedihnya, penantian tersebut tidak jarang malah menghadirkan perasaan kecewa gara-gara si dia “ngaret” atau bahkan tiba-tiba membatalkan meet up jelang kedatangan.

Diri ini sedih? Barangkali, iya! Terlebih ketika diriku dan dirimu menaruh harapan besar atas pertemuan tadi. 

Barangkali, di pertemuan itu kita semua berharap akan terjalinnya kerjasama. Barangkali, di pertemuan itu kamu berharap hubungan bakal lebih akrab. Atau, pertemuan tersebut berstatus krusial gegara ingin segera mengungkapkan cinta? 

Wow...Cadas!

Pada dasarnya, pengharapan kepada manusia itu akan sungguh menyakitkan. Bahkan, Sayyidina Ali bin Abi Thalib pernah mengudar gagasan bahwa:

“Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup, dan yang paling pahit ialah berharap kepada manusia.”

Tuturan Sayyidina Ali tak mungkin berdusta, kan?

Bahkan yang pasti, tiap-tiap diri kita pernah merasakannya. Sempat merasakan bagaimana sakitnya berharap namun tiada bakal terwujud. Hehehe

Nah, setelah sampai di tengah kisah ini, mari kita bongkar alasan mengapa berharap kepada manusia itu “menyakitkan”.

Hati Manusia Mudah Terbolak-Balik

Sekarang bilang A, sore nanti ucap B. Sekarang niat C, besoknya niat itu hilang. Nah, benar. Begitulah hati manusia. Hati manusia selaku hamba mudah plintat-plintut alias tidak melulu teguh pendiriannya. 

Kadangkala, niat seseorang bakal berubah karena kondisi, dan bahkan, niat itu bisa saja malah dibatalkan di tengah-tengah perjuangan.

Sekarang, mari kita sandarkan kepada hadis, bahwa Rasulullah SAW bersabda: 

“Sungguh, hati manusia itu lebih mudah terbolak-balik daripada air dalam bejana yang telah mendidih.” HR. Muslim no. 24317

Dari hadis di atas, yang cukup mencuri perhatian kita adalah tentang analogi yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW, hati seseorang lebih gampang terbolak-balik dibandingkan gumpalan butir/molekul air yang telah mendidih. 

Padahal, ketika kita lihat sendiri, air yang mendidih saja sudah tidak beraturan lagi terbolak-baliknya.

Gimana kalo hati manusia!

Nah, alhasil alasan bahwa berharap kepada manusia itu menyakitkan sesungguhnya semakin logis.

Sedangkan ketika kita berharap agar air mendidih tidak terbolak-balik saja sudah tidak mungkin, apalagi meneguhkan hati manusia!

Wajar bila kemudian harapan itu diseiramakan dengan kata sakit. Jangan berharap kepada manusia, karena hati dan perasaan mudah berpindah arah.

Terkadang Manusia Berucap yang Manis-Manis di Kala Senang

Alasan kedua mengapa berharap kepada manusia itu menyakitkan adalah, seorang insan alias hampa terkadang suka bertutur yang manis-manis ketika sedang senang. 

Kesenangan ini bisa bermula dari hal-hal baik yang telah mereka dapatkan, baik itu perihal materi, status/jabatan, maupun kecintaan.

Hanya saja, lagi-lagi hati yang mudah terbolak-balik akan membuat seseorang bercampur rasa antara senang dan sedih. 

Perasaan pada mulanya memang begitu, kan? Sebentar senang, tiba-tiba langsung marah-marah, syahdan kecewa, kesal, bahkan sakit hati.

Keadaan tersebut begitu mengkhawatirkan sehingga selalu ada kesempatan bahwa segenap ucapan manis tadi bisa terlupa atau pun sengaja dilupakan oleh si penutur.

Maka dari itulah, Sayyidina Ali bin Abi Thalib pernah berkata bahwa:

“Jangan mengambil keputusan ketika sedang marah, jangan membuat janji ketika senang.”

Ketika kita hubungkan dengan betapa mudahnya hati manusia terbolak-balik, maka semakin jelaslah pernyataan bahwa sejatinya berharap kepada manusia itu menyakitkan. 

Hadir kekecewaan di belakang harap, apa lagi ketika harapan itu sudah terlalu tinggi. Hiks

Berharap Kepada Manusia? Bakal Tak Sesuai dengan yang Diharapkan

Ketika dirimu dan diriku berharap kepada seseorang, tidak selalu harapan tadi akan terkabul alias tercapai 100 persen nyaris sempurna dengan apa yang kita harapkan. 

Misalnya, ada seorang direktur perusahaan yang berharap agar selama satu bulan ini karyawannya tidak pernah bolos dan sukses menjalankan program kerja.

Untuk menunjang ketercapaian harapan, sang direktur membuat peraturan yang detail sehingga karyawannya bisa lebih disiplin.

Pertanyaannya, apakah dengan cara ini program kerja bakal berjalan sesuai dengan harapan? Belum tentu! Belum tentu.

Bahkan, sang direktur malah akan sangat kecewa bila saja dari awal ia terlalu menggantungkan harapan besar kepada para karyawan.

Sedangkan para karyawannya ada pula yang angin-anginan. Ibarat kata, ketika sang direktur tadi berharap, seakan-akan ia telah patah hati secara sengaja.

Jadi, Jalan Terbaik Adalah Berharap Hanya Kepada Allah

Berharap Hanya Kepada Allah
Berharap Hanya Kepada Allah. Gambar oleh mohamed Hassan dari Pixabay

“Wamaa ‘indallahi khoir”

Apa yang ada di sisi Allah lebih baik.

“Wa ilaa robbika farghob”

Dan hanya kepada Allah-lah hendaknya kita berharap. 

Sengaja aku hadirkan dua potongan Kalamullah di atas untuk menegaskan betapa pentingnya kita menaruh harapan yang lurus arahnya.

Sebaik-baiknya berharap adalah berharap kepada Allah. Mengapa? Alasannya, karena berharap kepada Allah tidak pernah mengecewakan.

Barangkali, ada beberapa di antara kita yang merasa bahwa apa yang diri ini mau, apa yang diri ini harap belum dikabulkan oleh Allah. 

Dirimu dan diriku yakin bahwa sesungguhnya harap itu belum dikabulkan karena waktunya kurang tepat, atau malah akan Allah gantikan kepada perihal yang lebih baik di hari esok.

Terlebih, dalam Kalam-Nya ditegaskan bahwa Allah seirama dengan prasangka hamba-Nya, kan? 

Artinya, makin sering diri ini berharap kebaikan dan berprasangka baik (yakin, doa, ikhtiar), maka Insyaa Allah akan ada kebaikan yang akan menghampiri diri kita.

Alhasil, jalan terbaik adalah berharap hanya kepada Allah semata.

Selalu libatkan Allah dalam setiap harap duniawi sekaligus akhirat kita, sehingga apa-apa saja yang kita harapkan bisa bernilai pahala di sisi Allah. Aamiin ya Rabb.

Salam.
Ditulis oleh Ozy V. Alandika.

Baca juga:

Guru Penyemangat
Guru Penyemangat Guru Profesional, Guru Penggerak, Blogger, Public Speaker, Motivator & Juragan Emas.

6 komentar untuk "Mengapa Berharap Kepada Manusia Itu Sungguh “Menyakitkan”?"

Comment Author Avatar
Berharap kepada selain Allah adalah pekerjaan sia-sia.
Comment Author Avatar
Ahsiyyap setuju selalu dengan ini. Makasih ya Nek.
Comment Author Avatar
Berharap kepada selain Allah adalah pekerjaan sia-sia.
Comment Author Avatar
Berharap kepada selain Allah adalah pekerjaan sia-sia.
Comment Author Avatar
Setuju sekali, sangat menginspirasi pak, terima kasih artikelnya☺
Salam, Lampung🙏
Comment Author Avatar
Asik asik mantab. Makasih mbak Rani atas hadir dan apresiasinya. Salam hangat dari Curup

Berkomentarlah sesuai dengan postingan artikel. Mohon maaf, link aktif di kolom komentar tidak akan disetujui.

Diperbolehkan mengutip tulisan di blog Guru Penyemangat tidak lebih dari 30% dari keseluruhan isi (1) artikel dengan syarat menyertakan sumber. Mari bersama-sama kita belajar menghargai karya orang lain :-)