Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Memulai Sesuatu Itu Mudah, Mengasah Keteguhan Hati yang Susah!

Cenderung berubah-ubah dan seringkali berdalih. Tak perlu disanggah bahwa begitulah hati seorang insan. 

Terkadang begini, syahdan begitu, dan hatta begini lagi mengulang perilaku yang sama. Jarang ditemukan karakter insan yang sangat mudah untuk ditebak. Beberapa orang barangkali mampu menebak kecenderungan perilaku orang lain. Tapi...

Memulai Sesuatu Itu Mudah, Mengasah Keteguhan Hati yang Susah!
Memulai Sesuatu Itu Mudah, Mengasah Keteguhan Hati yang Susah! Dok. Gurupenyemangat.com

Hanyalah tebak-tebakan, sesuatu hal yang sangat diragukan kredibilitas gagasnya. Itulah bukti bahwa keteguhan hati merupakan hal yang cukup sulit untuk diasah. Beda dengan memulai sesuatu.

Rasanya perilaku seseorang cenderung bergantung atas segenap hasrat yang ada di sekujur lubuk hati. 

Dalam kalamnya, Nabi berkata bahwa hatilah yang menentukan baik atau buruknya action alias perilaku seseorang. Kalau perilakunya senantiasa baik, berarti hati sudah mengarahkan yang baik-baik sedari niatnya. 

Tapi kalau sebaliknya? Ya tumpah! Eh, maksudnya action yang buruk.

Bersandar dari sana, maka sangat dianjurkan bagi masing-masing untuk selalu membersihkan sekaligus mengasah keteguhan agar hati cenderung memunculkan niat baik.

Namun, problematikanya adalah, tidak semua insan ingin mengikuti kata hati yang menghadirkan kecenderungan baik.

Contohnya seperti ini, seseorang sering membaca story atau postingan di medsos tentang segunung kebaikan. Alhasil, hatinya syahdan menyetujui untuk melakukan. Tapi? Sayang enggan disayang! 

Untuk memulai sesuatu yang baik bahkan sudah terlihat contoh, sulitnya sungguh bukan kepalang. Padahal, tinggal klik tombol start saja, kan? Ternyata keteguhan hati benar-benar harus diasah.

Memulai Sesuatu Itu Mudah

Lagi-lagi tak ada sanggahan bahwa memulai sesuatu itu enteng. Segenap diri bisa melakukannya. Bahkan, nyatanya tak perlu ada motivasi besar bagi diri untuk memulai sesuatu yang baru sekaligus baik. 

Mengapa kok begitu?

Tidak sulit menjawabnya, bahwa ada banyak perwujudan perilaku diri kita yang sebenarnya bermula dari ikut-ikutan.

Misalnya begini, dirimu diajak teman untuk jalan-jalan ke taman bunga. Padahal awalnya dirimu tidak ingin. Tapi, karena mungkin suasana hati sedang menemui titik kegembiraan, akhirnya dirimu pun iseng ikut ke taman bunga, bahkan hingga ikut-ikutan cari destinasi foto untuk PP baru. Cihui!

Nah, rasanya kegiatan lain lain juga begitu. Diawali dengan keisengan yang sejatinya nyaris tidak melibatkan motivasi instrinsik, diri ini tanpa sadar telah memulai suatu kegiatan sekaligus mengasah perilaku baru.

Baik atau tidak perilakunya? Ya mana aku tahu.

Agaknya hal tersebut dikembalikan lagi kepada bagaimana kinerja lingkungan dalam memengaruhi karakter seseorang. 

Maksudku begini. Kalau teman kita baik, bisa jadi diri ini senantiasa bakal tergoda untuk ikut menjadi baik. Sebaliknya? Tumpah! Eh, kalau kebanyakan temannya kurang baik, maka seseorang tadi juga akan ikut-ikutan kurang baik..

Contoh, ada 3 sosok insan baik bersahabat dengan 1 insan yang rada nakal. Perhatikan, 3 kebaikan lawan 1 kenakalan, maka yang menang adalah 3 dan lama-kelamaan, insan yang 1 tadi bisa jadi baik.

Tapi jika kita balik, 3 insan rada nakal versus 1 insan baik, maka sosok yang baik tadi akan rawan terhasut menjadi insan yang berperilaku nakal. Jadi, lagi-lagi kita lagi kepada gagasan bahwa sejatinya memulai sesuatu itu gampang. 

Memulai Sesuatu Itu Mudah, Mengasah Keteguhan Hati yang Susah, Tapi Bisa!

Memulai itu mudah, tapi untuk tetap tegak seraya istiqomah di atas apa yang telah kita mulai, maka itulah yang susah. Mengapa susah?

Mengasah keteguhan hati, Bisa!
Mengasah keteguhan hati, Bisa! Dok. Gurupenyemangat.com

Pertama, karena hati kita mudah terbolak-balik. Dan kedua, berkompetisi melawan diri sendiri itu tidak selalu membuahkan kemenangan. Lawannya berat, padahal cuma diri sendiri.

Seyogyanya, makin terjal dan berbahaya suatu jalan, maka makin besar pula tantangan dan usaha yang diperlukan untuk melaluinya. Diri ini butuh keberanian, dan gara-gara keberanian, tidak banyak orang yang bisa tetap teguh pada pilihannya (yang baik).

Sulit, kan? 

Tentu saja sulit bin susah, apalagi kalau hanya dipikir sembari mengkhayal. Hahaha. 

Tidak, ya. Maksudku begini, bertahan dalam keteguhan (kecenderungan yang baik) itu sulit karena kita harus mengasah diri sekaligus menepikan segenap isu buruk dari lingkungan.

Berkompetisi dengan diri sendiri ibarat pertandingan kita melawan segunung hal yang bernama kebosanan. Ada saat di mana seorang insan merasa jenuh dan bosan untuk untuk berbuat baik dan istiqomah atas kebaikan. Demi memenangkannya, kita perlu kembali kepada penataan niat.

Di sisi lain, pengaruh lingkungan juga luar biasa menggoda. Kebaikan, tidak semua orang mau meliriknya secara tulus. Kecuali orang tadi tingkat husnudzannya tinggi. 

Wajar, kan? Tapi tenang saja. Barangkali orang-orang di sebelah merasa iri dengan buah dari kebaikan yang telah kita dapatkan. Soalnya, buah kebaikan rasanya itu pasti manis. Untuk dunia sekaligus akhirat.

Nah, bercermin dari sini, maka kita tarik sedikit gagasan:

"Setitik kebaikan saja masih dipandang setengah mata, apalagi keburukan!"

Alhasil, meskipun tidak banyak orang yang bisa tetap berdiri di atas keteguhannya, diri ini jangan pula mau ikut-ikutan dengan “kebanyakan” itu. Benar bahwa mengasah keteguhan hati terhadap hal-hal baik itu begitu susah, tapi hal tersebut bukanlah alasan diri untuk menyerah, kan?

Yes. Kita tak selemah itu, Bro!

Lebih baik kita tetap menjadi orang “yang tidak banyak”, karena orang-orang yang teguh pendirian alias istiqomah itu spesial.

Jikalau niat sudah hadir, jikalau sesuatu yang baik sudah dimulai, maka diri ini hanya perlu melanjutkan apa yang telah dimulai. Caranya? 

Aku dan dirimu bisa mendekati orang-orang baik, bercengkramah dengan mereka, serta jangan lupa untuk terus melantunkan doa kepada Allah. Berdoa agar hati kita tetap diteguhkan dengan kebaikan.

“Yaa Muqallibal Qulubi Tsabbit Qalbii ‘alaa diinika”

“Wahai Dzat yang Membolak-balik Hati, Teguhkan Hatiku dalam Agama-Mu”

Salam.
Ditulis oleh Ozy V. Alandika

Boleh Baca Juga: Manajemen Kecewa, Menjadi Sahabat bagi Diri Sendiri

Guru Penyemangat
Guru Penyemangat Menulislah untuk menebar manfaat kepada seluruh alam, karena menuangkan kata-kata juga merupakan jalan ninja menuju kebaikan.

6 komentar untuk "Memulai Sesuatu Itu Mudah, Mengasah Keteguhan Hati yang Susah!"

  1. Lebih baik berpikir sambil berhayal daripada berhayal dalam mimpi.

    BalasHapus
  2. Mantul perang badar terbesar melawan diri harus bikin resolusi deh kunjung balik

    BalasHapus
  3. Memang ya paling susah melawan nafsu dalam diri.
    Makasih ya udh berbagi ini, semoga bisa meneguhkan

    BalasHapus

Berkomentarlah sesuai dengan postingan artikel. Mohon maaf, link aktif di kolom komentar tidak akan disetujui.