Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ketika Kegiatan Penilaian Akhir Semester (PAS) Tidak Lagi Semenakutkan Dulu

Penilaian Akhir Semester
Ilustrasi Kegiatan Penilaian Akhir Semester. Foto oleh Janoon028 by Freepik.

Apa, Penilaian Akhir Semester Itu Menakutkan? Tidak salah?

Tidak!

Dulunya memang begitu. Penilaian Akhir Semester bin Ujian Semester bin Ulangan Semester atau yang disingkat dengan PAS adalah kegiatan yang cukup “menakutkan” bagi siswa.

Terlebih ketika kita masih belum mengenal apa itu Kurikulum CBSA, KTSP, hingga Kurikulum Pendidikan Karakter 2013. Duh, derajat ketakutannya malah semakin tinggi.

Mengapa demikian?

Sejenak, aku ingin mengajak kamu “merantau” menuju tahun 2000-an. Waktu itu aku masih duduk di bangku SD. Kurikulumnya kalau tidak salah, Kurikulum 1994 (K-94).

Di masa itu, gaungan kata “caturwulan” masih berdenging di telinga para guru hingga orangtua. Lebih lanjut, pembelajaran yang tertuang dalam K-94 sejatinya bersifat populis dan mengedepankan isi alias materi pelajaran.

Padat dong materinya?

Begitulah. Apa lagi semasa aku SD dulu. Kebanyakan hari-hari dilalui dengan mencatat materi hingga berlembar-lembar dengan sistem dikte.

Bahkan, seingatku, khusus mata pelajaran IPS catatannya paling banyak. Sang guru tak kenal lelah mendikte sehingga habislah 3-4 halaman buku tulis dalam sekali duduk. Kasihan jari-jari kami para siswa. Dari mulus jadi kesemutan, dari kesemutan jadi bulat-bulat.

Tapi, seperti kata pepatah, bahwa tak ada hasil yang mengkhianati sebuah usaha dan proses. Ternyata dari berlembar-lembar catatan hasil dikte guru tersebut, hampir semua materi masuk dalam soal Penilaian Akhir Semester. Baik itu ganjil maupun genap.

Hanya saja...

PAS zaman dulu aku kira cukup menyeramkan. Alasannya?

Dulu tak ada yang namanya sistem remedial. Berapapun nilai hasil ulangan semester yang didapat, biasanya akan berpengaruh besar terhadap bagus atau jeleknya nilai rapor nanti. 

Kalau nilai PAS merah, maka akan ada alamat bahwa nilai rapor juga merah. Terlebih lagi ketika nilai ulangan harian yang sudah dirata-rata hanya pas-pasan.

Maka dari itulah, tidak heran bila kemudian nilai rapor ada yang ditulis pakai pena tinta merah dan ada yang ditulis pakai pena tinta hitam. Tidak ada remedial di zaman K-94. Bagiku suasana itu cukup menakutkan.

Syahdan, dulu orientasi terhadap nilai aku kira masih bersandar kepada angka dan angka. Di rapor K-94 hanya ada dua kolom saja. Kolom pertama berisikan nilai (kognitif), sedangkan kolom kedua berisikan nilai rata-rata kelas.

Ilustrasi rapor K-94. Dok. Ozyalandika.com
Ilustrasi rapor K-94. Dok. Ozyalandika.com

Belum ada yang namanya nilai keterampilan, nilai sikap sosial, nilai sikap spiritual, apalagi deskripsi.

Alhasil, tampak jelas bahwa Kurikulum 1994 masih bersandar kepada nilai kognitif semata. Bukankah hal tersebut cukup menakutkan?

Kalaulah kemudian ketahuan oleh orangtua bahwa nilai kita merah di zaman itu, terkadang kisah kebahagiaan di masa kecil berubah menjadi kegalauan.

Yang kemarin masih boleh main sepeda, main layangan, hingga main toss gambar, setelah terima rapor harus les dan sebisa mungkin lebih rajin lagi belajar.

Agar?

Agar di Penilaian Akhir Semester berikutnya dapat nilai tinggi, dan kalau bisa dapat peringkat di kelas. Jika tidak dapat juara 1, masuk 3 besar sudah cukup membanggakan. Bahkan, hitungan ranking 10 di kelas juga masih cukup membahagiakan.

Tapi sayang, yang sedihnya adalah, sebagian orangtua terkadang begitu ingin membanding-bandingkan nilai rapor anaknya dengan nilai rapor teman si anak. ujung-ujungnya? Ya anaknya yang kemudian dibanding-bandingkan. 

Si A lebih pintar, si B nilai rata-ratanya lebih tinggi, dan, bla...bla...bla. Serasa hancurlah hati anak di saat itu, lalu semakin teranglah gagasan bahwa kegiatan Penilaian Akhir Semester di masa dulu cenderung menakutkan.

Sedangkan kabar hari ini, rasanya ketakutan terhadap PAS sudah mulai luntur, kan?

Ketika Kegiatan Penilaian Akhir Semester (PAS) Tidak Lagi Semenakutkan Dulu

Seiring dengan berkembangnya zaman, berkembang pula pola pikir dan sistem pendidikan. Sebagaimana yang kita rasakan bersama, kurikulum sudah berganti berkali-kali, dan tantangan pembelajaran jadi semakin kompleks.

Tidak terkecuali, juga dengan kegiatan Penilaian Akhir Semester. Dalam beberapa tahun terakhir, mungkin kesan bahwa nilai (angka) dan peringkat itu masih berasa primadona. 

Ada kebanggaan, bahkan ada hadiah tertentu bagi siswa yang mendapat ranking serta nilai tertinggi. Hadiah bisa datang dari guru, dinas pendidikan setempat, hingga dari orangtua sendiri.

Tapi, semakin ke sini, paradigma pembelajaran yang berorientasi kepada nilai perlahan mulai berubah. Bukan berubah sendiri melainkan dipaksa untuk berubah. Mengapa?

Lihat saja nilai rapor anak-anak hari ini. Ada yang 95, 97, bahkan ada pula yang menyentuh kesempurnaan alias angka 100. Tapi, perasaan kualitas pendidikan kita tidak meningkat sedrastis itu, kan?

Alhasil, semakin jelaslah gagasan bahwa nilai bukanlah segalanya. Nilai hari ini sudah tidak menjamin kemampuan dan kompetensi seorang siswa secara utuh. Bahkan banyak tuh, yang menyebut bahwa nilai yang terpampang di ijazah hanyalah formalitas saja.

Beda dengan masa lalu, masa di mana nilai yang tertuang di ijazah dianggap mewakili kepintaran seorang siswa. 

Buktinya? Daftar SMP dan SMA saja harus dengan standar NEM tertentu. Kalau mau belajar di sekolah favorit, ya, maksimalkan nilai di Ujian Nasional. Hemm

Tapi itu dulu, sedangkan kisah hari ini sudah berbeda jauh. Bahkan, kegiatan Penilaian Akhir Semester Ganjil yang sama-sama sedang kita lalui dalam beberapa hari ke depan tidak lagi semenakutkan dulu.

Apakah hal ini disinyalir gara-gara corona? O, tidak. Hari ini nilai rapor maupun ujian sekolah tidak selalu jadi patokan. Dalam artian, seorang anak tidak dituntut untuk pintar di semua mata pelajaran.

Pembelajaran hari ini lebih diarahkan kepada kebutuhan siswa. Seorang guru perlu mendekati siswa dari nilai unggulnya, sedangkan orangtua juga perlu memfasilitasi apa-apa saja yang menjadi minat alias kesenangan belajar anak.

Dengan begitu, anak akan merasakan proses sekaligus makna belajar tanpa harus tertekan dengan target nilai angka segini dan segitu. Mudah-mudahan ini kabar baik untuk kemajuan pendidikan kita, ya.

Siap mantap, dan semangat selalu.
Ditulis oleh Ozy V. Alandika.

Guru Penyemangat
Guru Penyemangat Menulislah untuk menebar manfaat kepada seluruh alam, karena menuangkan kata-kata juga merupakan jalan ninja menuju kebaikan.

Posting Komentar untuk "Ketika Kegiatan Penilaian Akhir Semester (PAS) Tidak Lagi Semenakutkan Dulu"

Promo Cashback & Voucher Shopee