Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Lebih Dekat dengan Aksiologi, Teori Tentang Nilai dalam Pendidikan Islam

Aksiologi-Teori-Tentang-Nilai
Aksiologi; Teori Tentang Nilai. Dok. Gurupenyemangat.com

Sering mendengar kata “aksiologi”? Agaknya sering, ya. Dalam berbagai literatur filsafat, aksiologi juga dikenal dengan teori tentang nilai.

Aksiologi merupakan istilah yang berasal dari kata Yunani yaitu; axios yang berarti sesuai atau wajar. Sedangkan logos yang berarti ilmu.

Kajian epistemologi dan ontologi pendidikan Islam tidak lepas dari aksiologinya, karena aksiologi merupakan muara bagi keduanya. 

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, aksiologi adalah kajian tentang nilai, khususnya tentang etika. Aksiologi sendiri mengandung pengertian yang didalamnya ada nilai. Artinya, aksiologi adalah suatu bidang yang menyelidiki nilai-nilai (value). 

Lebih lanjut, menurut John Sinclair, dalam lingkup kajian filsafat nilai merujuk pada pemikiran atau suatu sistem seperti politik, sosial serta agama. 

Sistemnya mempunyai rancangan tentang bagaimana sebuah tatanan, rancangan dan aturan sebagai satu bentuk pengendalian terhadap satu institusi dapat terwujud. 

Menurut Muzayyin Arifin, aksiologi merupakan suatu pemikiran tentang masalah nilai-nilai, termasuk nilai-nilai tinggi dari Tuhan. 

Misalnya nilai moral, nilai agama, nilai keindahan (estetika). Aksiologi ini memandang pengertian lebih luas daripada etika atau higher values of life.

Di sisi lain, Brameld membedakan tiga bagian didalam aksiologi, yaitu:

  • Moral Conduct, yaitu tindakan moral. Bidang ini melahirkan disiplin khusus yaitu etika.
  • Esthesic Expression, yaitu ekspresi keindahan yang melahirkan estetika.
  • Socio-political life, yaitu kehidupan sosial politik. Bidang ini melahirkan ilmu filsafat sosio-politik.

Kalau kita mulai berkisah tentang nilai, maka kita juga bercerita tentang prinsip atau hakikat yang menentukan harga atau nilai dan makna bagi sesuatu. 

Dalam perekonomian, penentu nilai ialah emas atau apa yang ditentukan dalam bidangnya. 

Syahdan, dalam kehidupan akhlak manusia, yang menentukan nilai manusia dan harga diri, amal serta sikapnya ialah prinsip-prinsip tertentu seperti kebenaran, kebaikan, kesetiaan, keadilan, persaudaraan, ketulusan, dan keikhlasan, kesungguhan dalam kebenaran, persaudaraan, keprihatinan, dan kerahiman.

Noor Syam menerangkan bahwa bahwa nilai adalah suatu penetapan atas suatu kualitas objek yang menyangkut suatu jenis apresiasi atau minat.

Untuk mengatakan bahwa sesuatu itu bernilai baik bukanlah hal yang mudah, apalagi menilai dalam arti mendalam untuk membina kepribadian yang ideal.

Macam-macam Nilai

Menurut Yinger, nilai terbagi ke dalam tiga kategori, yaitu:

  • Nilai sebagai fakta watak, yaitu sebagai indikasi seberapa jauh seseorang berusaha menjadikannya sebagai pegangan dalam pembimbingan dan pengambilan keputusan.
  • Nilai sebagai fakta kultural, yaitu sebagai indikasi diterimanya nilai tersebut dan menjadikannya kriteria normatif dalam pengambilan keputusan oleh anggota masyarakat.
  • Nilai sebagai konteks struktural, yaitu nilai yang ada, baik sebagai fakta, watak, maupun sebagai fakta kultural, mampu memberikan dampak pada struktur sosial yang bersangkutan.

Dilihat dari orientasinya, sistem nilai dapat dikategorikan dalam empat bentuk, yaitu:

  • Nilai etis, yang mendasari orientasinya pada baik dan buruk.
  • Nilai pragmatis, yang mendasari orientasinya pada berhasil dan gagalnya.
  • Nilai affek sensorik, yang mendasari orientasinya pada yang menyenangkan atau menyedihkan.
  • Nilai religius, yang mendasari orientasinya paada dosa dan pahala, halal dan haramnya.

Di sisi lain, menurut Mudlor Ahmad, pada dasarnya, nilai-nilai dapat dikelompokkan menjadi dua bagian, yaitu:

  • Nilai formal, yaitu nilai yang tidak ada wujudnya tapi memiliki bentuk, lambang, serta simbol-simbol. Nilai ini juga terbagi dua macam, yaitu:
  • Nilai sendiri, seperti sebutan “Bapak Lurah” bagi seseorang yang memangku jabatan.
  • Nilai turunan, seperti sebutan “Ibu Lurah” bagi seseorang yang menjadi istri pemangku jabatan lurah.

Nilai material, yaitu nilai yang berwujud dalam kenyataan, pengalaman, rohani, dan jasmani. Nilai ini juga terbagi beberapa macam, yaitu:

  • Nilai rohani
  • Nilai jasmani atau panca indera.
  • Nilai rohani, terbagi lagi menjadi tiga macam, yaitu:
  • Nilai logika

Nilai logika mencakup pengetahuan, penelitian keputusan, penuturan, pembahasan, teori atau cerita. Nilai ini bermuara pada pencarian kebenaran. Kebenaran terletak pada subjek, objek, tempat berpijak, sudut pandang, serta keadaan perantara pengamat.

  • Nilai etika

Nilai ini mengandung prinsip bahwa tolak ukur kebaikan dan amal perbuatan adalah efek yang terjadi pada perilaku bebas tentang kesempurnaan rohani dan pikiran manusia. 

Dalam menjelaskan tolak ukur ini, perlu dicamkan bahwa kesempurnaan jiwa yang harus dicapai manusia melalui tindakan bebas yang baik ialah kedekatan kepada Allah (mencapai keridhaan Allah).

  • Nilai religius

Dalam Islam, nilai religius mengandung dua kategori bila dilhat dari segi normatif, yaitu pertimbangan baik dan buruk, benar dan salah, haq dan bathil. 

Sedangkan jika dilihat dari segi operatif, nilai ini mengandung 5 kategori yang mengandung prinsip standarisasi perilaku manusia yang meliputi wajib, sunnah, mubah, makruh, dan haram.

Tidak jauh berbeda, Dalam bukunya Prasetyo, dikemukakan beberapa nilai-nilai sekaligus contoh-contohnya dari hal-hal yang mengandung nilai tersebut, yaitu:

  • Nilai hidup, misalnya hal-hal yang berkaitan dengan sehat-sakit, lestari-binasa, lihat-buta, menelan-memuntahkan.
  • Nilai nikmat, misalnya hal-hal yang berkaitan dengan suka-duka, harum-busuk, manis-pahit, menggganjar-menghukum.
  • Nilai guna, misalnya hal-hal yang berkaitan dengan manfaat-mudharat, perkakas-bekas, mengambil-membuang, mengenakan-menanggalkan.
  • Nilai intelek, misalnya hal-hal yang berkaitan dengan cermat-ceroboh, cerdas-bebal, mengingat-melupakan, mengaku-menyangkal.
  • Nilai estetika, misalnya hal-hal yang berkaitan dengan mulus-cacat, mekar-kuncup, memikat-menjemukan, mengembang-mengempis.
  • Nilai etika, misalnya misalnya hal-hal yang berkaitan dengan bakti-durhaka, jujur-curang, menghormati-mengejek, mengasihi-membenci..
  • Nilai religi, misalnya hal-hal yang berkaitan dengan tauhid-syirik, mustahil-mungkin, berharap-berpantang, meyakini-mencurigai.

Dari ketujuh nilai tersebut, seringkali terlihat bahwa nilai hidup berpasangan dengan nilai nikmat, nilai intelek berdampingan dengan nilai estetika, dan nilai etika bersamaan dengan nilai religi, dalam agama tampakklah bagaimana nilai etika mengiringi amalnya.

Itu tidak berarti bahwa nilai agama itu senantiasa menyertai nilai etika.

Nilai hidup itu bersangkut-paut dengan pangan, sandang, dan papan, berebut makanan, berlomba dalam berpakaian, hingga persoalan jabatan.

Dalam situasi yang berbeda, perbuatan etis tidak jarang di sangkutkan dengan nilai religi, sebagaimana yang di kandung dalam ungkapan itu tidak baik, itu adalah dosa merupakan hal yang banyak dijumpai dalam kehidupan sehari-hari sekalipun mungkin tidak berdasar. 

Sebagaimna yang telah dikemukakan di atas bahwasannya kemampuan bawaan itu mengandung nilai. 

Dengan demikian nilai intelek pun terdapat didalamnya. Yang berkenaan dengan nilai intelek inilah yang merupakan suatu kemampuan seseorang yang disebutnya dengan mampu tahu. 

Mampu tahu mengandung implikasi bahwa setiap orang itu memiliki kesanggupan untuk tahu dan tidak tahu.terhadap pernyataan ini Imam al-Ghazali mengutip pendapat al-Khalil bin Ahmad tentang adanya empat pengertian tahu yaitu: 

  • Tahu bahwa dirinya tahu 
  • Tahu bahwa dirinya tidak tahu
  • Tidak tahu bahwa dirinya tahu
  • Tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu

Tahu bahwa dirinya tahu adalah keadaan seseorang memastikan dirinya mengetahui sesuatu, ia yakin benar tentang sesuatu. 

Sedangkan tahu bahwa dirinya tidak tahu adalah keadaan seseorang mengaku buta terhadap sesuatu. 

Ia adalah orang yang lurus hati karena tidak menyembunyikan kekurangan dirinya. Sebaliknya, tidak tahu bahwa dirinya tahu adalah keadaan seseorang tidak menyadari kesanggupan dirinya, maka ia lalai terhadap dirinya sendiri. 

Adapun tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu adalah keadaan seseorang tidak menginsafi kelemahannya sendiri, maka ia tumpul otak, tidak memahami perihal dirinya. 

Kajian Aksiologi Dalam Sistem Pendidikan Islam

Sebagaimana yang kita ketahui bersama, ajaran Islam merupakan perangkat sistem nilai, berisi pedoman hidup secara Islami, hidup sesuai dengan tuntutan Allah SWT, juga sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah.

Secara garis besar, sistem nilai yang terangkum dalam konsep al-Ahlaq al-Karimah

Dengan demikian, dalam konteks pendidikan Islam kajian aksiologinya mengacu kepada masalah yang menyangkut nilai manfaat dan fungsi pendidikan Islam dalam hubungan dengan tujuan ajaran Islam yang dimaksud.

Kajian aksiologi dalam sistem pendidikan Islam diarahkan pada perumusan nilai-nilai al-Ahlaq al-Karimah, rumusan nilai-nilai yang di jadikan rujukan atau pedoman sikap dan tingkah laku. 

Berhasil atau tidaknya pendidikan Islam itu di cerminkan sepenuhnya oleh perwujudan dari sikap dan perilaku al-ahlaq al-karimah itu dalam kehidupan sehari-hari, baik kehidupan perorangan, masyarakat, maupun selaku umat. 

Adapun kerangka sIstem nilai yang termuat dalam konsep al-ahlaq al-qarimah yang dimaksud mencakup:

  • Akhlak terhadap Allah.
  • Akhlak terhadap Rasul.
  • Akhlak terhadap Al-qur’an.
  • Akhlak terhadap pribadi (diri).
  • Akhlak dalam rumah tangga.
  • Akhlak terhadap orang tua.
  • Akhlak terhadap anak.
  • Akhlak terhadap tetangga
  • Akhlak terhadap sesama muslim.
  • Akhlak terhadap sesama manusia.
  • Akhlak terhadap lingkungan hidup atau terhadap sesama makhluk.

Manusia hidup bersama dengan hasil cipta rasa dan karsanya yang disebut kebudayaan. Selain itu manusia hidup dengan keyakinan maupun kepercayaannya. 

Manusia juga hidup dengan ilmu serta pengalaman yang diperolehnya dalam kehidupan. 

Berdasarkan latar belakang kehidupan ini pula kemudian terbentuk tradisi dalam kehidupan manusia, tradisi merupakan unsur sosial budaya yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat dan sulit berubah. 

Seperti yang dinyatakan oleh Hasan Langgulung,  bahwa pendidikan di luar pengembangan potensi individu pendidikannya dapat dilihat dari sudut pandang sosial pendidikan.

Hal ini dapat diartikan sebagai pewaris nilai-nilai kepada generasi muda agar tetap terpelihara dan terlestarikan. 

Dalam konteks ini yang dimaksud dengan pewarisan nilai-nilai tersebut adalah nilai-nilai ajaran Islam.nilai-nilai yang telah terbentuk dalam tradisi dan budaya Islam dan menjadi sebuah peradaban Islam. 

Dengan demikian berdasarkan pendekatan aksiologi sistem pendidikan Islam memiliki fungsi dan peran strategis dalam pembentukan, pewarisan serta pelestarian nilai-nilai ajaran Islam. 

Ajaran Islam merupakan sistem nilai, bentuk sistem nilai yang terkandung dalam al-ahlak al-karimah  dan berisi misi pemeliharaan: pemeliharaan agama, jiwa, akal, harta, dan keturunan. 

Kajian aksiologi pendidikan Islam sebagai cabang filsafat dapat kita bedakan menjadi  dua, yaitu :

Etika dan Pendidikan

Etika merupakan teori tentang nilai, pembahasan secara teoritis tentang nilai, ilmu kesusilaan yang meuat dasar untuk berbuat susila. Sedangkan moral pelaksanaannya dalam kehidupan.

Jadi, etika merupakan cabang filsafat yang membicarakan perbutan manusia. Cara memandangnya dari sudut baik dan tidak baik, etika merupakan filsafat tentang perilaku manusia. 

Filsafat Pendidikan Islam dan Etika Pendidikan antara ilmu (pendidikan) dan etika memiliki hubungan erat. 

Masalah moral tidak bisa dilepaskan dengan tekad manusia untuk menemukan kebenaran, sebab untuk menemukan kebenaran dan terlebih untuk mempertahankan kebenaran, diperlukan keberanian moral. 

Sangat sulit membayangkan perkembangan IPTEK tanpa adanya kendali dari nilai-nilai etika agama. 

Untuk itulah kemudian ada rumusan pendekatan konseptual yang dapat dipergunakan sebagai jalan pemecahannya, yakni dengan menggunakan pendekatan etik-moral.

Di sana, setiap persoalan pendidikan Islam coba dilihat dari perspektif yang mengikut sertakan kepentingan masing-masing pihak, baik itu siswa, guru, pemerintah, pendidik serta masyarakat luas. 

Ini berarti pendidikan Islam diorientasikan pada upaya menciptakan suatu kepribadian yang mantap dan dinamis, mandiri dan kreatif. 

Tidak hanya pada siswa melainkan pada seluruh komponen yang terlibat dalam penyelenggaraan pendidikan Islam. 

Terwujudnya kondisi mental-moral dan spritual religius menjadi target arah pengembangan sistem pendidikan Islam. 

Oleh sebab itu, berdasarkan pada pendekatan etik moral pendidikan Islam harus berbentuk proses pengarahan perkembangan kehidupan dan keberagamaan pada peserta didik ke arah idealitas kehidupan Islami.

Tentunya, dengan tetap memperhatikan dan memperlakukan peserta didik sesuai dengan potensi dasar yang dimiliki serta latar belakang sosio budaya masing-masing. 

Estetika dan Pendidikan

Estetika merupakan nilai-nilai yang berkaitan dengan kreasi seni dengan pengalaman-pengalaman kita yang berhubungan dengan seni. 

Hasil-hasil ciptaan seni didasarkan atas prinsip-prinsip yang dapat dikelompokkan sebagai rekayasa, pola, bentuk dan sebagainya. 

Filsafat Pendidikan Islam dan Estetika Pendidikan. Adapun yang mendasari hubungan antara filsafat pendidikan Islam dan estetika pendidikan adalah lebih menitik beratkan kepada “predikat” keindahan yang diberikan pada hasil seni. 

Dalam dunia pendidikan hendaklah nilai estetika menjadi patokan penting dalam proses pengembangan pendidikan yakni dengan menggunakan pendekatan estetis-moral.

Dari sana, setiap persoalan pendidikan Islam coba dilihat dari perspektif yang mengikut sertakan kepentingan masing-masing pihak, baik itu siswa, guru, pemerintah, pendidik serta masyarakat luas. 

Ini berarti pendidikan Islam diorientasikan pada upaya menciptakan suatu kepribadian yang kreatif, berseni (sesuai dengan Islam).

Karena aksiologi pendidikan Islam berkaitan dengan visi, misi, etika, estetika, tujuan, dan target yang akan dicapai dalam pendidikan, maka tujuan pendidikan dapat dilihat setelah dilakukan suatu evaluasi pendidikan.

Evaluasi pendidikan sangat bergantung pada tujuan pendidikan. 

Apabila tujuan pendidikan adalah untuk membentuk anak didik yang ber-akhlakul karimah, cerdas, terampil, beriman, dan bertakwa, sistem evaluasi yang diterapkan harus mengarah pada tujuan yang dimaksudkan.

Jadi, dapat dikatakan bahwasannya kajian aksiologi dalam pendidikan Islam itu menyangkut urusan nilai-nilai moral dan kebiasaan dalam perspektif Islam.

Nilai-nilai tersebut selain menjadi dasar, acuan, landasan, dan patokan juga menjadi salah satu pendekatan yang bersifat etis. 

Artinya, dalam menatap tujuan pendidikan Islam, realisasi nilai-nilai perlu menjadi salah satu pokok evaluasi dalam pendidikan Islam itu sendiri.

Semoga bermanfaat. Salam

Taman Baca:Arifin, Muzayyin. (2010). Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara

Aziz, Abd. (2009). Filsafat Pendidikan Islam. Yogyakarta: Teras
Basri, Hasan. (2009).  Filsafat Pendidikan Islam. Bandung: Pustaka Setia
Jalaluddin. (2011).  Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Kalam  Mulia
Prasetyo. (1997). Filsafat Pendidikan. Bandung: Pustaka Setia

Guru Penyemangat
Guru Penyemangat Menulislah untuk menebar manfaat kepada seluruh alam, karena menuangkan kata-kata juga merupakan jalan ninja menuju kebaikan.

Posting Komentar untuk "Lebih Dekat dengan Aksiologi, Teori Tentang Nilai dalam Pendidikan Islam"

Promo Cashback & Voucher Shopee