Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Follow Guru Penyemangat di Google News agar tidak ketinggalan tulisan terbaru tentang edukasi, materi belajar, dunia keislaman, soal ujian, motivasi, investasi emas, kesehatan dan fiksi. Klik di sini.
Gulir ke bawah untuk membaca artikel.

Cerpen: Lebaran Keliling Desa saat Mudik

Cerpen: Lebaran Keliling Desa saat Mudik 

Oleh Sri Rohmatiah Djalil

Cerpen Lebaran
Cerpen: Lebaran Keliling Desa saat Mudik. Ilustrasi dari CANVA

“Assalamualaikum, Assalamualaikum.”

Suara lantang Ipin di depan sebuah rumah bambu.

Dari dalam rumah terdengar suara ibu-ibu menjawab salam Ipin, tetapi kami belum berani masuk ke dalam rumah. 

“Assalamualaikum,” ulang Ipin lebih keras.

“Waalaikumsalam, masuk saja, siapa ya?” tanya seorang ibu-ibu lagi.

Aku dan Ipin mendekati pintu rumah yang terbuka lebar.

“Bade lebaran, Bu,” sahut Ipin sambil menganggukkan kepala.

“Walah, walah, iya, iya, ayo masuk, Nak,” ujar ibu tadi dengan ramah.

Kami berdua menyalami Ibu dan Bapak yang duduk di kursi sofa. Di hadapannya ada beberapa tamu yang sedang silaturahmi sama seperti aku dan Ipin. 

Sambil salaman tidak lupa aku mengucapkan selamat selamat Idulfitri, sedangkan Ipin mengatakan sugeng Riyadi.

Sebenarnya kami berdua sudah menghafalkan kalimat permohonan maaf kepada orang tua. Namun entah kenapa, setiap masuk ke rumah warga, kalimat itu mendadak lupa. Aku hanya mengingat selamat Idulfitri saja.

Ini adalah kali pertama aku keliling silaturahmi ke rumah tetangga Mbah Uti karena ini mudik pertama juga. Kata Ayah, ketika aku berusia 4 tahun lebaran di Jawa, hanya aku tidak mengingatnya.

Itu artinya Ayah baru mengajak kami mudik 2 kali selama bertahun-tahun merantau di Lombok. Ada pengalaman baru selama lebaran di Jawa yang sebelumnya belum aku alami di perantauan.

Seluruh keluarga berkumpul di rumah Mbah Uti. Ayah memperkenalkan aku kepada kerabat-kerabatnya dan mereka memanggilku “Le”. Walaupun itu bukan namaku, ya  mau terima saja. Kata Ayah itu nama kesayangan untuk anak laki-laki.

Seperti ketika Mbah Uti memanggilku, “Le, ayo makan dulu!” aku pikir Mbah Uti memanggil Lele, ternyata menyuruhku makan.

Sejak itulah aku catat kalau di Jawa namaku jadi Le, tetapi bukan Lee Min-ho ya. Gantengnya sih mirip dikit, cuma banyak ke dia. 

Ipin saudara sepupu mengajakku lebaran ke rumah tetangga Mbah Uti, katanya biar kenal dan dapat angpao.

Ngomong-ngomong soal angpao, saat halal bihalal, Om dan Tante membagikan angpao satu lembar berwarna merah.

Adikku yang baru berusia lima tahun kegirangan, dia loncat-loncat sambil mengacungkan uang. 

“Ibu, aku dapat uang lagi.” Kami yang mendengar tertawa geli. 

“Ayo dimakan kuenya, Nak!” lanjut Ibu pemilik rumah mengagetkan lamunanku.

Aku belum menjawab tawaran Bu pemilik rumah, si Bapak yang tadi diam saja bertanya.

“Kalian rumahnya mana, ko bapak belum pernah lihat.”

Ipin, satu tingkat lebih besar dariku menjawab pertanyaan si Bapak pemilik rumah dengan tegas. 

“Kami cucunya Mbah Uti, Pak, rumah ujung itu.”

“Ooooh walah, kalian cucunya Mbah Uti, ko ya wes gede, kelas berapa sekolahmu, Nak?” tanya Tuan rumah.

“Kulo kelas 6 SD, kalau ini adik sepupu kelas 5 SD, Pak,” jawab Ipin. 

Setelah dipersilakan mencicipi jajanan di atas meja, tanpa basa-basi, aku dan Ipin langsung mengambil kue lebaran yang tak asing lagi, kue nastar, putri salju, semprit.

Ipin mengambil kue astor dan memakannya dengan lahap.

“Enak rasa cokelatnya terasa, kau coba lah, Dani!” seru Ipin menyodorkan satu astor. 

“Oh iya, enak, aku ambil lagi ya,” ujarku sembari mengambil dua astor. 

Setelah kenyang kami berpamitan dan melanjutkan silaturahmi ke rumah warga yang pintunya terbuka. Pukul 21.00 WIB, baru pulang ke rumah Mbah Uti dengan isi saku celana yang gendut.

Di sini keseruan lebaran dari rumah ke rumah. Kami mencicipi beraneka ragam makanan dan minuman. 

Ipin menyarankan, di setiap rumah mencicipi kue yang berbeda agar bisa tahu ragam rasa kue lebaran. Jangan ambil nastar melulu. 

Yang unik ketika di salah satu rumah warga, aku membuka kaleng Khong Guan. Angan-angan sih mau ambil kue wafer, tetapi ketika dibuka ko jadi reginang.

Ipin tersenyum sambil menutup mulutnya. Terlanjur kalengnya terbuka, aku sikat saja rengginang kesukaan Ayah.

***

Saatnya balik ke perantauan, tidak lupa malamnya aku dan Ipin bergadang membuka amplop yang bertuliskan “Selamat Idulfitri 1443 H”.

Amplop-amplop itu kami dapatkan ketika silaturahmi dari rumah ke rumah saat lebaran itu.

Isinya hampir sama antara Rp5.000-Rp10.000. Kata Ipin membagikan angpao sudah tradisi di desanya. 

Mbah Uti juga demikian, jika ada anak-anak desa lebaran ke rumahnya, Mbah Uti membagikan angpao dengan nilai yang sama.

Katanya itu cara orang tua mendidik sedekah, agar kelak anak-anak mereka bersedekah juga. Yang paling utama, zakatkan dulu harta yang kita punya karena itu wajib.*

Lanjut Baca: Cerpen Idulfitri Kata-kata Maaf yang Terlambat

Guru Penyemangat
Guru Penyemangat Menulislah untuk menebar manfaat kepada seluruh alam, karena menuangkan kata-kata juga merupakan jalan ninja menuju kebaikan.

Posting Komentar untuk "Cerpen: Lebaran Keliling Desa saat Mudik"