Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cerpen: Sahabat Sejati

Ilustrasi Sahabat Sejati
Ilustrasi Sahabat Sejati. Gambar oleh u_uf78c121 dari Pixabay

Hai, Sobat Guru Penyemangat. Tahukah Sobat tentang apa yang dimaksud dengan sahabat sejati dan perbedaannya dengan teman biasa?

Ehem. Yang sering berjibaku di dunia pertemanan pasti bisa menjawabnya dengan mudah, nih.

Sederhananya, sahabat sejati itu ialah orang yang ada di saat diri sedang duka maupun ceria.

Tapi, real-nya tidak sesederhana itu, kan? Nah, mari simak salah satu cerpen tentang sahabat sejati untuk mencerahkannya.

Cerpen: Sahabat Sejati

Oleh Sri Rohmatiah Djalil

Sejak surat perjanjian persahabatan ditandatangani oleh ketiga remaja di kelas 10 IPA 1, mereka selalu bersama, Naima, Kinan dan Rita.

Persahabatan mereka tidak membatasi pergaulan di sekolah atau di luar. Seperti Naima yang lebih memilih duduk dengan Nila si pendiam dan manis.

Tidak masalah bagi Naima, walaupun Nila pendiam, tetap cukup pintar bergaul. Dia sering juga terlibat obrolan dengan sahabatnya Naima.

Persahabatan Naima dengan Kinan, Rita bukan sekadar sahabat, mereka sudah seperti saudara. Dalam segala hal saling mendukung.

Bukan itu saja, sahabat tidak berarti membenarkan yang salah. Sebuah ikrar, jika sahabat harus saling mengingatkan.

Seperti siang itu, ketika pulang sekolah Naima langsung hendak tancap gas motornya. Sementara Kinan dan Rita tidak menghendakinya.

"Naima, kita salat dhuhur dulu!" ajak Rita.

Naima memang sering menunda salat, selalu ada saja alasannya. “Nanggung lagi ini,” ujar Naima.

Alasannya membuat kesal Rita dan Kinan. Kekesalan mereka berdua tidak ditunjukkan dengan menjauhi Naima, tetapi segera mendekatinya. 

"Ceramah lagi," seru Naima ketika Kinan menasihatinya.

"Ok, ok kalau kamu gak mau diceramahi, sadar sendiri dong. Jangan menunda ibadah salat. Aku gak mau kau ajak kami ke neraka," terang Rita sembari menjewer telinga Naima.

"Janji deh aku gak akan menunda lagi," kata Naima, tangannya tidak lupa memeluk kedua sahabatnya.

Setiap akhir pekan pun mereka selalu menghabiskan waktu bersama. Jika tidak ada jadwal les, belanja bareng ke supermarket atau rekreasi bersama keluarga Naima.

Ibunya senang saja, karena Naima putri tunggal. “Kalian ikut saja jika kami rekreasi, biar tante yang minta izin sama orang tua kalian.”  Itu yang sering dikatakan ibunya Naima.

***

Boleh Baca: Cerpen Lucu Tentang Persahabatan

Persahabatan pun diuji dengan perpisahan. Mereka harus melanjutkan pendidikan sesuai minat dan kemampuan orang tua.

Kinan walaupun orang tuanya mampu mengirimnya ke luar negeri untuk kuliah, tetapi, gadis itu tidak berkehendak. Dia lebih memilih mengambil D3 Poltekkes di kotanya sendiri, Yogyakarta.

“Universitas di Yogyakarta keren-keren, kenapa harus ke luar kota atau luar negeri?” tanyanya ketika Naima memilih Kota Malang untuk melanjutkan sekolah.

“Suasana baru, sayang, mencari pengalaman,” saut Naima.

Berbeda dengan Rita, dia lebih tertarik Kota Jakarta. “Aku biar jadi anak ibu kota, Say,” ujar Rita tersenyum.

“Terserah kalian deh, mau keliling dunia pun, aku tak peduli, pada akhirnya akan kembali ke Yogyakarta,” ketus Kinan.

Lagu Yogyakarta, Kla Project pun berkumandang dari kedua gadis itu hanya untuk membuat Kinan tersenyum.

Indah persahabatan tanpa penghalang walaupun jarak memisahkan. Obrolan selanjutnya tidak bertatap muka, hanya menghadap rasa. Melalui pesan WhatsApp grup, vidio call, cara mereka melepas rindu.

Seiring berjalan waktu, tak terasa tiga tahun sudah mereka berpisah demi sebuah cita-cita luhur, meraih impian.

Kinan orang pertama yang lulus, dia hanya diizinkan kuliah hingga D3, lagi-lagi bukan masalah biaya atau kurang cerdas. Orang tuanya penganut “Anak perempuan jangan sekolah tinggi-tinggi”. 

Pesan di WhatsApp grup sahabat pun tersampaikan, “Kalian datang ya, aku akan tunangan sekaligus merayakan kelulusanku, pekan depan!”

Pesan terbaca, tetapi tak ada yang membalas. Hari kesatu, kedua, ketiga belum ada yang membalas juga. 

Kinan maklum, mungkin mereka sibuk kuliah, belajar hingga tak sempat balas pesan. Hari selanjutnya, Kinan mulai kecewa. 

Hari di mana wisuda pun tiba, tetapi sahabat sejati tidak ada.

Kinan masih tampak gundah, hari yang seharusnya bahagia malah suram. Ibunya berusaha menghibur dan berkata, “Mereka sibuk kuliah, jangan suram gitu, gak enak dengan calon suamimu.”

“Baiklah, baiklah, aku rayakan kebahagian ini bersama keluargaku,” gumam Kinan lirih.

Acara usai, walaupun sudah membesarkan hati, kekecewaan masih tampak di mata Kinan.

Dia melangkah keluar gedung dengan lunglai, kedua orang tuanya mendampingi. Sementara yang disebut calon suami menyiapkan kendaraan di area parkir.

Tiba-tiba, dari arah jauh dua remaja cantik berlari sambil teriak-teriak memanggil nama Kinan.

“Kinan, Kinan sayang … selamat ya, sorry kami terlambat.” Naima dan Rita membawa bunga dan segunung rindu untuk Yogyakarta, terutama sahabat tercinta.

***

Lanjut Baca: Cerpen Ambisi yang Meretakkan Persahabatan

Guru Penyemangat
Guru Penyemangat Menulislah untuk menebar manfaat kepada seluruh alam, karena menuangkan kata-kata juga merupakan jalan ninja menuju kebaikan.

2 komentar untuk "Cerpen: Sahabat Sejati"

  1. Bagus cerpennya Bu Sri. Jadi ingat masa-masa indah SMA dulu, hehehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih, Bu Leni Cahya P
      Bacanya sambil ingat sahabat juga ya. Salam sehat Bu

      Hapus

Berkomentarlah sesuai dengan postingan artikel. Mohon maaf, link aktif di kolom komentar tidak akan disetujui.

Diperbolehkan mengutip tulisan di blog Guru Penyemangat tidak lebih dari 30% dari keseluruhan isi (1) artikel dengan syarat menyertakan sumber. Mari bersama-sama kita belajar menghargai karya orang lain :-)

Promo Cashback & Voucher Shopee