Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cerpen Tentang Vaksin Covid-19: Marsilea Si Gadis Takut Jarum Suntik

Hai, Sobat Guru Penyemangat, Dirimu Sudah Vaksin Hari ini?

Bisa belum, maka segeralah mengikuti vaksinasi Covid-19, ya. Soalnya kita tidak pernah tahu kapan pandemi akan benar-benar berhenti.

Selain itu, sebagai hamba Allah, kita juga diwajibkan untuk berusaha menjauhkan diri dari wabah dengan cara membersihkan diri, lingkungan dan juga hati.

Vaksinasi adalah wujud ikhtiar kita kepada Allah? Tentu saja, tepatnya, vaksin adalah usaha seorang hamba untuk mengantisipasi terkenanya wabah Covid-19.

Bila nanti suatu hari bakal terkena? Itu urusan Allah. Setelah ikhtiar kita bisa memasrahkan diri kepada Allah.

Nah, pada kesempatan ini Guru Penyemangat akan menghadirkan sebuah cerpen bertema vaksin Covid-19 yang ditulis oleh Agan Fahmi.

Mari kita simak ya:

Cerpen: Marsilea Si Gadis Takut Jarum Suntik

Fahmi Nurdian Syah 

Cerpen Tentang Vaksin Covid-19
Cerpen Tentang Vaksin Covid-19. Gambar oleh cromaconceptovisual dari Pixabay 

Seorang perempuan dengan alis yang tipis sedang duduk menapung dagu dengan kesal.

Bibir yang mungil pun tak ingin ketinggalan dalam mengekspresikan kekesalan yang sedang ia rasakan. 

Gadis itu bernama Marsilea Crenata. Sedari tadi tak berhenti menghela napas dengan menatap kertas putih yang diberikan kepadanya sepulang sekolah.

Kertas itu berisikan informasi tentang diadakannya vaksinasi covid di sekolah.

"Dua hari lagi?" ucapnya tercengang melongo tak percaya. 

Marsilea yang kini duduk di bangku kelas sepuluh itu memang sudah takut jarum suntik sejak masih kecil.

Ketika dia sakit dokter yang menyarankan untuk disuntik selalu ditolaknya. Ia hanya meminta untuk dikasih obat saja. 

"Ah gak mau, gak mau disuntik," teriak gadis itu di kamar lalu melempar kertasnya secara sembarangan. 

Meskipun vaksin masih dua hari lagi, namun informasi tersebut membuat malam ini Marsilea tak bisa tidur nyenyak.

Entah kenapa dirinya begitu merasa cemas, seperti hendak ketemu macan saja. Baginya jarum suntik itu lebih buas daripada macan. 

Malam semakin larut dan sunyi, hanya hembusan angin yang berbisik lirih memain korden jendela kamar. Perlahan Marsilea mulai tenang dan memejamkan matanya. 

Suara ayam berkokok menggema ke segala penjuru arah.

Kini langit telah menampakkan rona jingganya, dari arah timur pun sinar matahari yang cerah menyapa Marsilea lewat sela-sela jendela.

Gadis itu pun terbangun dan mengedarkan pandangannya ke jam dinding. 

"Baru juga jam enam, kok udah cerah banget," decaknya protes.

Boleh Baca: Cerpen Alangkah Baiknya Bilang Dulu Sebelum Meminjam

Dengan sedikit terpaksa ia berjingkat dari ranjang dan bergegas bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah.

Tak lupa, seperti biasanya ia selalu menerapkan protokol kesehatan yang ditetapkan oleh sekolah. 

Sesampainya di sekolah, Marsilea langsung menuju ke kelas dan duduk di tempatnya. Saat baru saja duduk, tiba-tiba Nafiza menghampirinya. 

"Eh Mar, tugas Biologimu udah selesai belum?" tanya Nafiza yang menggebu. 

"Apaan si kamu, baru juga sampai udah nanya tugas aja," jawab Marsilea tak terima.  

"Tau kan, Pak Wahyu tuh galak," ucap Nafiza mengingatkan sifat Pak Wahyu kepada Marsilea. 

"Iya tau, tapi aku sudah ngerjain," gumamnya dengan yakin. 

Nafiza pun menatap temannya itu dan hanya membalas dengan anggukkan kepalanya. Tak lama kemudian Pak Wahyu pun masuk ke dalam kelas.

Suara sepatu pantofel pria berkumis tebal yang tertutup oleh masker itu menggema ke seluruh ruangan, begitu heningnya keadaan kelas ketika Pak Wahyu masuk. 

"Anak-anak silakan bukunya dikeluarkan." Ucap Pak Wahyu. 

"Baik Pak," jawab seluruh murid di dalam kelas.

Ketika seluruh siswa sudah mengeluarkan bukunya, Marsilea masih sibuk mengubek-ubek tasnya. Nafiza melihat wajah temannya itu yang sedikit tampak panik. 

"Kenapa kamu?" tanya Nafiza penasaran. 

"Bukuku ketinggalan," jawabnya lirih. 

"Haha, tamatlah riwayatmu nak," celetuk becanda Nafiza. 

"Hari ini kita akan membahas tentang bab selanjutnya, yaitu tentang virus. Untuk tugasnya kita bahas minggu depan saja,"  ucap Pak Wahyu dengan suara yang lantang. 

Mendengar ucapan Pak Wahyu, Marsilea tampak begitu lega setelah hampir kehabisan oksigen lantaran menahan napas yang begitu kuat.  

Pak Wahyu pun memulai pelajarannya, ia memaparkan materi dengan begitu jelas.

Semua murid tampak memperhatikan penjelasannya dengan serius. Sampai tak terasa telah memasuki penghujung waktu pelajaran. 

"Baik anak-anak, ada yang mau ditanyakan?"  

"Saya Pak, besok kan sekolah mengadakan vaksinasi, sebenarnya apa sih Pak fungsi atau peran dari vaksin?" tanya Nafiza.

Ilustrasi Kegiatan Vaksinasi
Ilustrasi Kegiatan Vaksinasi. Gambar oleh Richard Duijnstee dari Pixabay

"Baik, ketika tubuh kita divaksin, maka akan membuat tubuh kita mengenali bakteri/virus penyebab penyakit tertentu atau dalam hal ini adalah Coronavirus. Sehingga bila terpapar bakteri/virus tersebut tubuh kita akan menjadi lebih kebal. Cakupan imunisasi yang tinggi dan merata akan membentuk kekebalan kelompok (Herd Immunity) sehingga dapat mencegah penularan maupun keparahan penyakit," jawab Pak Wahyu.

"Makanya, besok harus vaksin semua. Jangan sampai ada yang tidak vaksin," sambungnya. 

"Pak, suntik vaksin sakit gak?" tanya Marsile polos. 

"Sakit banget, tujuh hari tujuh malam gak hilang-hilang." 

Mendengar jawaban Pak Wahyu, decak tawa seluruh murid pun tak terbendung. Terkecuali Marsilea, ia malah kelihatan begitu panik dengan wajah yang sedikit memerah setelah mendengarnya. 

Pak Wahyu pun menutup pelajaran hari ini, dan disambung dengan pelajaran berikutnya. 

Hingga tibalah waktu pulang, terlihat para murid berhamburan keluar dari kelasnya masing-masing. Namun tidak dengan Marsilea, ia tampak duduk termenung.

Gadis itu masih memikirkan jawaban Pak Wahyu yang dianggapnya serius. Ia semakin ketakutan. 

Nafiza yang sadar, bahwa temannya itu takut untuk divaksin mencoba menenangkan dan menyakinkan kepadanya bahwa vaksin itu tidak sakit.

Hanya seperti digigit semut saja rasanya. Akan tetapi usaha Nafiza untuk meyakinkan sepertinya sia-sia, lantaran Marsilea tak percaya dengan penjelasannya. 

"Percayalah, kamu tau aku kan? Aku tak pernah membohongimu di kala seperti ini, rasa sakit vaksin itu tidak seberapa. Kamu pasti berani kok." Ujar Nafiza kembali meyakinkan. 

Gadis itu tampaknya tersentuh, hingga air mata pun tak terbendung menetes jatuh ke pipi yang imut. 

"Eh, kok malah nangis," ucap Nafiza sembari menghapus air mata Marsilea.

Boleh Baca: Cerpen Dira Bukanlah Beban Keluarga

"Makasih ya udah meyakinkan diriku, aku tak tahu harus bagaimana, aku hanya bisa pasrah kepada Allah." ucapnya tersedu-sedu. 

"Iya, vaksin ini kan salah satu bentuk ikhtiar kita supaya dijauhkan dari penyakit." 

"Sekarang aku yakin, aku berani vaksin." 

Mendengar kata itu keluar dari bibir Marsilea, rona wajah Nafiza begitu bahagia. Usahanya untuk meyakinkan tak sia-sia. Kemudian dengan senyum ia memeluk temannya itu. 

Keesokan harinya, para murid sudah duduk antri menunggu namanya dipanggil.

Meskipun di dalam dirinya sudah ada keyakinan untuk berani, namun dari badannya masih tampak panik dan sedikit gemetar. 

"Sudah jangan panik, Gak sakit kok, ingat! Seperti digigit semut," ucap Nafiza yang tak habis-habisnya menyemangati temannya. 

Marsilea hanya menganggukkan kepalanya. 

"Kamu gak takut kan?" tanya Nafiza sembari memegang tangan Marsilea yang terasa dingin. 

Seperti sebelumnya, gadis itu hanya memberi kode dengan menggelengkan kepalanya. 

"Marsilea Crenata" suara petugas memanggil. 

"Berani, semangat!" ujar Nafiza untuk terakhir kalinya sebelum Marsilea divaksin. 

Marsilea pun berjingkat dari tempat duduknya, ia melangkahkan kakinya menuju ke sumber suara dengan pelan. Ia duduk di tempat yang sudah disediakan.

Melihat jarum suntik yang begitu panjang, hati Marsilea meronta-ronta seperti ingin mati saja daripada harus divaksin.

Namun pikiran negatif tersebut dialihkan dengan ia pasrah kepada Allah, seperti kata Nafiza ia vaksin merupakan bentuk ikhtiar supaya dijauhkan dari penyakit. 

Dengan tatapan matanya yang kosong, ia masih bergulat dengan pikirannya. Sampai tak terasa kini jarum suntiknya telah menembus sela-sela pori-pori kulitnya.

Marsilea yang melamun tak merasakan sakit yang selama ini ia bayangkan. 

"Sudah," ucap petugas. 

Kata itu membuat rona wajah Marsilea berubah drastis. Semula yang panik dan gemetar sekarang menjadi senyum bahagia. Ia pun kembali ke tempat duduknya semula. 

Setelah semua murid mendapatkan jatahnya masing-masing. Kini para murid diperbolehkan untuk pulang, namun Sebelum pulang Marsilea berbincang di kelas. 

"Sekali lagi, makasih ya Nafiza, telah mensupport untuk berani vaksin, gak tau deh kalau gak ada kamu," ucap Marsilea sembari memeluk temannya itu. 

Nafiza diam sejenak menunggu temannya melepaskan pelukannya. 

"Berterima kasihlah kepada Allah yang telah meyakinkan dirimu berani vaksin, aku disini hanya perantaranya saja, lagi pula kalau Allah tidak membuka hatimu, ucapanku hanyalah sekedar angin yang lewat." 

Mendengar jawaban temannya itu membuat Marsilea semakin kagum kepadanya, dan sangat bersyukur punya teman yang cerdas. 

"Iya, pokoknya terimakasih ya." pungkasnya. 

Nafiza melemparkan senyuman dan menganggukkan kepalanya. Mereka pun berjalan keluar dan pulang bersama.

~ Selesai ~

Nah, demikianlah tadi secarik cerpen tentang vaksinasi yang bisa Guru Penyemangat sajikan pada kesempatan kali ini.

Bersandar dari cerita pendek di atas, kita bisa memetik pelajaran bahwa kegiatan vaksinasi adalah bentuk dari ikhtiar kita dalam rangka meningkatkan kesehatan dan kekebalan tubuh sehingga dijauhkan dari penyakit seperti Covid-19.

Semoga bermanfaat, ya.
Salam.

Guru Penyemangat
Guru Penyemangat Menulislah untuk menebar manfaat kepada seluruh alam, karena menuangkan kata-kata juga merupakan jalan ninja menuju kebaikan.

Posting Komentar untuk "Cerpen Tentang Vaksin Covid-19: Marsilea Si Gadis Takut Jarum Suntik"