Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cerpen Tentang Menabung untuk Menggapai Sepeda Impian

Hai, Sobat Guru Penyemangat, Sudahkah Engkau Menabung Hari Ini?

Pada dasarnya kisah menabung itu boleh dibilang gampang-gampang susah, ya.

Lho, kok Guru Penyemangat bilang begitu sih?

Soalnya banyak orang bersemangat untuk menabung tapi laksana peribahasa, semangat itu hanya sebatas “hangat-hangat tahi ayam” karena lahir berjibun alasan.

Mau beli kebutuhan ini lah, itu lah, dan lah lah lah yang lainnya. Ehem.

Sebenarnya cara agar konsisten menabung ialah kita menyisikan uang di awal waktu, bukan malah menunggu sisanya. Dan, yang paling penting adalah tetapkan terlebih dahulu tujuannya.

Pada postingan kali ini Gurupenyemangat.com bakal menghadirkan cerpen tentang menabung.

Cerpen bertema menabung ini berkisah tentang seorang anak yang rela menyisihkan uangnya di celengan untuk menggapai sepeda impian.

Bagaimana kisahnya?

Oke, langsung kita simak saja ya:

Cerpen: Sepeda Impian

Oleh Fahmi Nurdian Syah

Cerpen Tentang Menabung untuk Menggapai Sepeda Impian
Cerpen Tentang Menabung untuk Menggapai Sepeda Impian. Dok. Gurupenyemangat.com

Semilir angin menerpa di kala siang yang begitu terik. Menyapa Riko yang sedang duduk termenung bergulat dengan pikirannya di teras rumah.

Riko adalah seorang anak laki-laki yang mempunyai satu keinginan di hati kecilnya. Namun karena keterbatasan kondisi keluarganya membuat ia tak berani mengungkapkan keinginannya itu kepada orang tuanya. 

Tatapan matanya yang kosong membuatnya tak sadar jika sudah ada dua temannya yang menghampirinya. 

Kring...kring...kring... 

Begitulah bunyi suara sepeda milik Zaki dan Yahya. Sontak membuat Riko berjingkat kaget dari tempat duduknya. 

"Heii… Riko, ayok main bareng kita!" ajak Zaki yang masih duduk di atas sepedanya. 

"Mau main apa?" tanya Riko sembari mengerutkan keningnya. 

"Main keliling kampung, sambil lihat pemandangan sawah," jawab Yahya. 

"Kalau keliling kampung, jalan kaki capek," sahutt Riko. 

"Iya bawa sepeda dong, masa jalan kaki," ucap Yahya dan Zaki bersamaan. 

"Yaudah aku gak ikut, duluan aja," sambung Riko memberi kepastian. 

Riko yang masih diam di tempat, memerhatikan kedua temannya itu perlahan pergi menjauh dari tempat berdirinya. Setelah tak tertangkap netra, Riko pun bergegas masuk ke dalam rumah dan menuju ke kamarnya. 

Klinting... klinting...

Sepeda Impian
Seorang Anak yang Mendambakan Sepeda Impian. Gambar oleh Jupi Lu dari Pixabay

"Sudah berapa ya?" ucap Riko yang menghitung uang tabungannya. 

Uang tabungan Riko yang kebanyakan pecahan lima ratus rupiah itu baru berjumlah seratus tujuh puluh lima ribu rupiah, padahal sudah berbulan-bulan ia rajinmenabung.

Ia juga tak tahu harga sepeda baru itu berapa, bocah laki-laki tersebut berniat menanyakan harga sepeda kepada temannya. 

Keesokan harinya, Riko berangkat sekolah dengan berpamitan kepada orang tuanya.

Seperti biasa ia berangkat dengan berjalan kaki, di dalam hatinya sudah sangat bergejolak ingin segera memiliki sepeda baru, namun ia sudah sadar bahwa uang celengannya tidak akan cukup. 

Sesampainya di sekolah, ia mengikuti dan memerhatikan pelajaran yang dijelaskan oleh guru dengan seksama. Hingga tak terasa bel istirahat telah berbunyi, para siswa pun berhamburan keluar pergi ke kantin untuk membeli makanan dan minuman.

Namun tidak dengan Riko, dengan bekal botol air minum ia memilih diam di tempat duduknya sembari menunggu bel masuk berbunyi. Lantaran Ia ingin menabung uang saku yang dikasih oleh ibunya itu. 

Setelah teman-temannya kembali masuk ke dalam kelas, Riko menghampiri kedua temannya yang tak lain adalah Zaki dan Yahya. 

Boleh Baca: Cerpen Tentang Pentingnya Perilaku Disiplin Sejak Dini

"Aku mau tanya, sepeda kalian itu harganya berapa?" tanya Riko yang agak ragu. 

"Sepeda baruku itu dibelikan oleh ayahku, dan harganya satu juta dua ratus lima puluh ribu," jawab Yahya. 

"Kalau sepedaku harganya satu juta lima ratus ribu, lebih mahal punyaku, kan." celetuk Zaki yang sedikit sombong. 

Mendengar jawaban kedua temannya membuat Riko sedikit tercengang, ia bingung bagaimana bisa mendapatkan uang sebanyak itu hanya sekedar untuk membeli sepeda baru. 

Sepulang sekolah, ia menaruh uang sakunya yang masih utuh itu di tempat celengannya. 

Setelah itu ia menuju ke meja makan dan mengisi perutnya dengan makanan yang seadanya. Riko yang tengah asik melahap makanannya, tanpa sadar ibunya telah menghampirinya.

Ia memberitahu jika pamannya sedang panen di kebun rambutannya itu. 

Riko yang diberi kabar tersebut, ia berinisiatif ingin membantu panen pamannya daripada hanya sekadar berdiam diri di rumah. Setelah selesai makan, ia langsung bergegas menuju ke kebun pamannya yang letaknya memang tak jauh dari tempat tinggalnya. 

"Paman, bolehkah aku membantumu?" tanya Riko menghampiri pamannya. 

"Iya itu rambutan yang sudah pada jatuh taruh ke keranjang, ya." ucap laki-laki berkumis tipis itu.

"Baik, Paman," jawab Riko.

Riko pun memasukkan rambutan yang sudah berjatuhan ke dalam keranjang dengan penuh semangat. Lahan kebunnya yang begitu luas membuat sehari tak dapat terselesaikan. 

Hari sudah nampak mulai petang, paman pun mencukupkan panennya hari ini dan akan dilanjutkan keesokan harinya.

Boleh Baca: Cerpen Tentang Pendidikan Karakter

Namun, sebelum Riko pulang ia dikasih selembar kertas uang berwarna merah. Riko pun dengan hati yang penuh bahagia mengucapkan terima kasih kepada pamannya.

Keesokan harinya, ketika di sekolah Riko nampak begitu bersemangat dan tak sabar ingin segera pulang dan membantu pamannya yang sedang panen. 

Teeett...Teeett...

Waktu yang ditunggu-tunggu pun akhirnya tiba, bergegaslah Riko pulang menuju rumahnya. Setelah selesai ganti baju dan makan siang, tanpa berlama-lama ia langsung menuju ke kebun rambutan milik pamannya itu.

Sesampainya di sana, ia tak lagi mengobrol dulu dengan pamannya, tetapi langsung membantu seperti sudah tahu apa yang harus dilakukan.

Semangat Riko membuat panennya dapat terselesaikan hari ini, sebagai imbalannya pamannya memberikan rambutan hasil panen yang ditaruh plastik berwarna hitam dan dua lembar kertas uang berwarna merah.

Riko tak menyangka diberi uang sebanyak itu oleh pamannya, dalam dua hari saja, ia mendapatkan tiga ratus ribu. Ia pun sangat-sangat mengucapkan terima kasih.

Kemudian ia pulang dan memberitahu kepada orangtuanya jika ia sudah bmempunyai uang yang cukup dan ingin membeli sepeda baru. Lantaran jika ditambah dengan celengannya, sudah bisa membeli sepeda baru walau tidak semahal punya Zaki dan Yahya.

Di hari minggu yang cerah, Riko pun pergi bersama orangtuanya ke toko sepeda yang tak jauh dari rumahnya.

Riko sangat bahagia sekali, karena sekarang keinginannya yang lama terpendam akhirnya terwujud. Dan sekarang dia bisa bermain bersama temannya keliling kampung sembari melihat pemandangan sawah.

***

Nah, demikianlah tadi cerpen singkat tentang menabung yang bisa Guru Penyemangat hadirkan.

Belajar dari kisah di atas, kita bisa memetik hikmah bahwa untuk menggapai sebuah impian diperlukan kerja keras dan usaha. Bukan malah berpangku tangan dan menengadahkan tangan di atas dompet orang lain.

Dari hasil kerja keras itulah kita bisa menabung. Bukan soal berapa jumlah, melainkan soal keseriusan menggapai impian dan konsistensi.

Salam.

Guru Penyemangat
Guru Penyemangat Menulislah untuk menebar manfaat kepada seluruh alam, karena menuangkan kata-kata juga merupakan jalan ninja menuju kebaikan.

2 komentar untuk "Cerpen Tentang Menabung untuk Menggapai Sepeda Impian"

  1. Duh, saya ingin sepeda, tabungannya belum cukup, makasih idenya, salam sukses selalu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lha, sepeda udah ada banyak kok masih mau lagi Bu. wkwk

      Hapus

Berkomentarlah sesuai dengan postingan artikel. Mohon maaf, link aktif di kolom komentar tidak akan disetujui.

Diperbolehkan mengutip tulisan di blog Guru Penyemangat tidak lebih dari 30% dari keseluruhan isi (1) artikel dengan syarat menyertakan sumber. Mari bersama-sama kita belajar menghargai karya orang lain :-)