Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cerpen Tentang Perilaku Disiplin: Disiplin Sejak Dini dan Jangan Membuang-buang Waktu

Hai Sobat Guru Penyemangat, menurutmu, seberapa penting perilaku disiplin dalam kehidupan sehari-hari?

Tentu saja sangat penting, ya, karena biasa perilaku disiplin bakal menjadi kebiasaan dan ciri khas seseorang selama hidupnya.

Barangkali cerita disiplin waktu di kelas maupun di rumah adalah hal yang sepele, tapi yakinlah bahwa perilaku kebaikan mengantarkan kebaikan pula.

Di sini Gurupenyemangat.com telah menyiapkan contoh cerpen tentang pentingnya perilaku disiplin terutama membiasakannya sejak dini.

Nah, langsung disimak saja ya:

Cerpen: Disiplin Sejak Dini

Oleh: Fahmi Nurdian Syah

Cerpen Tentang Perilaku Disiplin Sejak Dini
Cerpen Tentang Perilaku Disiplin Sejak Dini. Dok. Gurupenyemangat.com

Di sebuah Desa dengan penghuni yang tidak banyak, karena mulai bergiliran manusia yang hengkang. Bukan karena Desa itu seram melainkan mendapatkan pekerjaan di luar kota.

Terdapat sebuah rumah yang sedikit menjorok ke dalam dengan sinar yang agak redup. Dari arah luar terdengar suara gemuruh di dalam rumah tersebut. 

“Dimulai dari memasukkan buku-buku yang berukuran besar. Kemudian disusul dengan buku-buku yang berukuran lebih kecil. Setelah itu barulah kamu taruh kotak pensilmu di atasnya. Ingat, jangan sampai kamu salah dalam mengurutkannya. Karena jika kamu salah, maka akan membuat tasmu berantakan, dan tentu saja ketika kamu menggendong tasnya, punggungmu akan terasa tidak nyaman. Hal tersebut terjadi karena komposisi ruang di dalam tasmu tidak benar" ucap penjelasan Ibu.

Tak berhenti sampai di situ, Ibu kembali menjelaskan tata cara menata sekaligus menyusun perlengkapan sekolah ke dalam tas dengan komposisi yang berbeda. 

“Dan jika terdapat jadwal olahraga, kamu harus membawa seragam olahraga, kamu harus pastikan bahwa seragammu itu terlipat dengan rapi terlebih dahulu. Baik sebelum kamu pakai ataupun sesudahnya. Dan berjanjilah kamu untuk selalu melakukan hal tersebut. Paham kan, Beny?” tanya Ibu mengakhiri penjelasannya.

Boleh Baca: Cerpen Tentang Berkata Baik

Sementara aku tidak mengeluarkan sepatah kata dan hanya membalasnya dengan menganggukkan kepala. 

Malam itu merupakan malam persiapanku untuk masuk sekolah dasar, karena besoknya adalah hari pertamaku menginjakkan kaki di sekolah, duduk di bangku dan mendengarkan penjelasan guru.

Ibu sudah mengajariku bagaimana cara menata alat tulis atau perlengkapan sekolah ke dalam tas dengan rapi. Ia ingin aku bisa mandiri dan disiplin sejak dini. 

Semenjak awal masuk sekolah sampai sekarang, aku selalu menepati janji kepada Ibu. Semua alat tulis yang aku bawa tersusun rapi di dalam tas termasuk seragam olahraga.

Soalnya, Ibu memang benar-benar mengeceknya setiap hari. Baik sepulang sekolah maupun saat setelah belajar di malam hari.

Jika saja aku salah dalam menatanya, maka Ibu langsung menyuruhku untuk memperbaikinya.

Pada suatu hari, saat masih duduk di kelas 3, bekal air minumku habis pada jam terakhir pelajaran. Aku yang sudah merasa sedikit kelelahan dengan tak sabar memasukkan buku, baju olahraga dan botol air minum secara sembarangan ke dalam tas.

Tapi, ketika sesampai di rumah, saat Ibu mengecek dan melihat isi tasku yang berantakan, ia langsung marah dan membanting tasku ke lantai.  

Hal tersebut membuatku sedikit ketakutan dan seketika langsung meminta maaf sambil meneteskan air mata.

Ibu terlihat sangat jengkel melihat perilakuku yang tidak rapi. Namun ia merasa iba dan lekas memaafkanku. Ia memeluk tubuhku yang mungil dan segera membantuku menyusun kembali buku-buku itu sampai benar-benar rapi yang sesuai harapannya. 

Namun sungguh, kala itu aku benar-benar tidak tahu alasan kenapa Ibu begitu bersikap tegas mengenai kerapian menata barang-barang.

Ibuku bukanlah seorang seniman.

Ia juga tidak mengerti tentang fotografi dan cara mendesain sesuatu dengan baik. Ia hanya seorang wanita paruh baya lulusan SMP yang sehari-hari bekerja sebagai buruh tani. 

Ibu memiliki kebiasaan seperti menjahit dan membuat bunga-bunga tiruan dari barang yang sudah tidak terpakai. Dan kadang hal tersebut bisa mendatangkan beberapa peminat untuk membeli hasil karyanya.

Aku pernah berpikir bahwa teman-teman di kelas mungkin tidak ada yang mendapat perlakuan yang sama sepertiku.

Orang tua mereka pasti bisa memaklumi keadaan jika anaknya ceroboh atau kurang peduli terhadap kerapian isi tas mereka. 

Jadi, ibuku jelas berbeda.

Ia selalu berkata bahwa segala sesuatu yang tersusun dengan rapi akan terlihat indah untuk dipandang dan nyaman ketika dipakai.

Selain memberikan kenyamanan, kita juga akan mendapatkan ketenangan. Dengan memahami dan menjalani bahwa hidup memang harus teratur akan membuat adanya keseimbangan. 

Maka dari itulah aku tidak pernah berani untuk menolak berbagai aturan yang Ibu terapkan kepadaku. Dan Ibu juga berhak untuk marah jika aku melanggar ketentuan yang telah ia ajarkan kepadaku.

*

Nah, demikianlah tadi contoh cerpen tentang pentingnya perilaku disiplin sejak dini, baik itu disiplin waktu, serta disiplin di kelas dan sekolah.

Sejatinya, dengan tidak membuang-buang waktu kita sebenarnya sedang belajar untuk enggan melewatkan waktu yang berharga untuk hal yang sia-sia.

Okedeh, semoga cerpen di atas bermanfaat dan menginspirasi ya.

Salam.

Guru Penyemangat
Guru Penyemangat Menulislah untuk menebar manfaat kepada seluruh alam, karena menuangkan kata-kata juga merupakan jalan ninja menuju kebaikan.

Posting Komentar untuk "Cerpen Tentang Perilaku Disiplin: Disiplin Sejak Dini dan Jangan Membuang-buang Waktu"

Follow Guru Penyemangat di Google News agar tidak ketinggalan tulisan terbaru tentang Edukasi, Materi Belajar, Dunia Keislaman, Soal Ujian, Motivasi, Investasi Emas, Kesehatan, Tutorial, dan Fiksi. Klik di sini.