Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pengalaman Saya Membuka Bimbel di Rumah, Menyenangkan Sekaligus Menguntungkan

Pengalaman Saya Membuka Bimbel di Rumah
Pengalaman Saya Membuka Bimbel di Rumah. Dok. Gurupenyemangat.com

Hai, Sobat Guru Penyemangat, apakah dirimu menyukai dunia belajar-mengajar?

Nah, jika iya, mungkin kamu mau dan punya niat untuk segera membuka bimbingan belajar. lumayan untuk bisnis sampingan sekaligus tempat menimba pengalaman.

Dari tahun ke tahun maupun sewindu demi sewindu, eksistensi bimbel senantiasa pasang. 

Mungkin dalam dua tahun terakhir kegiatan les berkurang minatnya gara-gara UN yang diganti menjadi asesmen. Tapi, tidak semua kok. Masih banyak ceruk bimbel lain yang bisa digeluti.

Sebut saja seperti bimbel calistung, bimbel Baca Tulis Al-Quran, bimbel Bahasa Inggris, Bahasa Jepang, Bahasa Korea, bimbel CPNS, hingga bimbel mata pelajaran.

Biayanya? Lumayan, teman. Setahuku, bimbingan belajar mata pelajaran tertentu untuk anak-anak usia SD-SMA saja berkisar antara Rp150.000-400.000/bulan untuk setiap satu siswa.

Bayangkan bila siswanya ada 10 orang saja, atau 20, atau 30? Wow. Lumayan, kan. Maka dari itulah, jika teman-teman ingin membuka usaha bimbel, silakan tata niat dan segenap usaha.

Gurupenyemangat.com di sini akan menceritakan pengalaman pribadi membuka bimbel, tepatnya bimbel rumahan.

Diriku bakal menceritakan seluk beluk usaha dan perjuangan sekaligus apa-apa saja tahap alias langkah-langkah mendirikan usaha bimbel di rumah.

Nah, langsung disimak saja, ya:

Perencanaan Usaha Bimbel di Rumah yang Saya Lakukan

Perencanaan Usaha Bimbel di Rumah yang Saya Lakukan
Perencanaan Usaha Bimbel di Rumah yang Saya Lakukan. Dok. Gurupenyemangat.com

Cara memulai usaha bimbel sejatinya tidaklah sulit. Meski demikian, jangan pula kita remehkan tanpa mempertimbangkan situasi, keadaan, atau malah tanpa persiapan.

Meskipun hanya bisnis kecil-kecilan di rumah, sepengalamanku perencanaan usaha bimbel di rumah itu menjadi hal yang paling krusial bin penting.

Bukan tanpa alasan; semua orang tentu ingin agar usahanya berkembang dan mendapat kredibilitas di lingkungan masyarakat, kan? Nah, berikut daftar perencanaan utama bisnis bimbel:

Menentukan Sasaran Bimbel

Pengalamanku, sasaran bimbel adalah pijakan utama bagi dirimu yang ingin membuka usaha di bidang pendidikan dan pengajaran.

Apakah calon peserta didik yang menjadi objek bimbel adalah siswa SD, SMP, SMA, atau bahkan dirimu juga menargetkan peserta umum semuanya patut dipikirkan matang-matang.

O ya, sesuaikan pula dengan kemampuan dan kompetensi yang kamu miliki.

Jangan memaksakan diri dan mengaku bahwa “Saya bisa mengajar semua mata pelajaran bimbel” karena orang-orang ikut bimbel karena mereka ingin menguasai kompetensi keilmuan yang lebih, juga dengan sistem pengajaran yang jauh lebih baik, kondusif, serta efektif dibandingkan sekolah.

Jika dirimu ingin membuka bimbel rumahan dengan jumlah mata ajar yang cukup banyak dan kompleks, pertimbangkan pula untuk membentuk team teaching alias para pengajar.

Tapi, usahakan cari tim guru bimbel yang berkompeten dan serius, ya.

Mengenal Lingkungan Sasaran Bimbel

Sembari menentukan sasaran bimbel, memperhatikan keadaan lingkungan masyarakat sekitar juga penting. Periksa keadaan masyarakat di lokasi tempatmu tinggal atau lokasi tempat bimbel.

Apakah di sana ada banyak calon sasaran bimbel? Apakah di sana banyak anak sekolah? Apakah di sana ada usaha bimbel saingan? Dan sebagainya.

Makin kompleks keadaan di lingkunganmu, maka semakin panjang pula daftar pertanyaan yang bakal kamu jadikan pertimbangan. Tidak masalah, karena kita ingin bimbel yang dikelola bakal berkembang, kan?

Menyiapkan Fasilitas Bimbel

Pengalamanku, membuka bimbel di rumah modalnya tidaklah mahal. Aku cukup menyediakan papan tulis (whiteboard) kecil, dua buah spidol, buku panduan mengajar, plus dua buah meja.

Sederhana sekali, kan?

Soalnya anak-anak yang datang untuk mengikuti les niatnya ialah untuk mendapat ranking di kelas. Mereka menargetkan minimal bisa masuk 10 besar di kelasnya.

Selain itu, aku juga membuka bimbel Membaca Qur’an pada sore harinya. Jadi, meskipun siswanya ada lebih dari 20 orang, satu-dua ruang tamu masih cukup. Hehe

Tapi, jikalau dirimu memang ingin menambah fasilitas ruang kelas, rapor, LCD Proyektor, hingga berbagai pernak-pernik bimbel lainnya juga tidak masalah, kok.

Hanya saja, pikir-pikir lagi dan pahami terlebih dahulu sasaran bimbel. Pertanyaanku sederhana; apakah peserta les bakal mampu membayar kualitas yang kamu tawarkan?

Mengapa tadi aku cuma menyiapkan papan tulis kecil, spidol, dan beberapa buah meja sederhana; itu karena peserta bimbelku kebanyakan berasal dari keluarga tani.

Mereka hanya kekurangan waktu belajar dan pendampingan dengan orang tuanya sehingga memilih untuk ikut les. Tapi ya, bukan les alias bimbel yang mahal-mahal.

Ketika nanti kegiatan bimbel sudah jalan, dirimu juga bisa mengajukan proposal usaha bimbel rumahan terutama kepada desa/kompleks setempat.

Apakah dulu aku melakukannya?

Tidak, karena kebetulan warga desa, perangkat desa, hingga pengurus masjid sudah tahu bahwa diriku membuka bimbel. Jadi,  mereka sudah terlebih dahulu pengertian dan peka. Hehehe

Menentukan Nama Bimbel yang Unik

Sadar atau tidak, nama bimbel itu boleh dibilang penting atau tidak penting. Hal ini lagi-lagi bergantung kepada situasi, kondisi, serta keadaan lingkungan di mana dirimu bakal membuka bimbel.

Dulu, sejak duduk di kelas 2 SMA aku sudah membuka bimbel tepatnya pada tahun 2010. Apakah bimbelku bertahan lama? Alhamdulillah, bahkan terus berkembang hingga aku kuliah di semester akhir.

Aku sengaja menutup bimbel karena harus fokus menyelesaikan studi.

Lucunya, biarpun muridku waktu itu sudah menyentuh angka puluhan, aku sama sekali tidak punya nama bimbel. Soalnya masyarakat di sini sudah tahu dan kenal dengan namaku.

Tapi bagi dirimu yang ingin serius menekuni bimbel, nama lembaga itu penting. Ya, walaupun lembaga yang kumaksud di sini adalah usaha bimbel di rumah.

Carilah nama bimbel yang unik. Unik di sini bisa berarti bahwa nama bimbelmu mewakili kualitas, atau bisa pula menggunakan namamu sembari meningkatkan penjenamaan diri (personal branding).

O ya, aku hampir lupa!

Agar bimbel yang kamu kelola di rumah berkesan profesional, tidak ada salahnya bagi kita untuk menyiapkan formulir pendaftaran bimbel maupun brosur yang bisa dicetak sendiri menggunakan printer.

Silakan liat contoh brosur dan download formulir bimbingan belajar pada link berikut: [Download] Dokumen Formulir Bimbel

Cara Saya Membuat Kurikulum Bimbel Sederhana

Cara Saya Membuat Kurikulum Bimbel Sederhana
Cara Saya Membuat Kurikulum Bimbel Sederhana. Dok. Gurupenyemangat.com

Meskipun namanya bimbel rumahan, bukan berarti kita bisa semena-mena dan “asal mengajar” saja. Diperlukan kurikulum yang jelas biarpun usaha bimbel yang kita kelola masih terbilang sederhana.

Bagaimana Saya membuat kurikulum bimbel? Pengalamanku, untuk membuat materi ajar bimbel yang berkualitas, kita harus menyesuaikannya dengan tujuan orang ikut bimbel.

Misalnya; jika dirimu ingin membuka bimbel calistung untuk anak-anak usia SD, maka cara membuat kurikulumnya ialah dengan mengumpulkan, membandingkan, hingga menganalisis buku-buku ajar terkait dengan calistung dari berbagai pengarang.

Gunakan pula metode, pendekatan, dan strategi pembelajaran yang berbeda, efisien, dan efektif.

Buatlah rencana mengajar bimbel sekaligus targetnya. Tidak perlu terlalu formal layaknya RPP guru di sekolah, tapi sedikitnya ada target capaian ajar pada setiap pertemuan, setiap minggu, atau pun setiap bulan.

Rencana yang detail seperti itu sangat penting sebagai bahan analisis bagi kita pada jelang akhir semester bimbel. Sejauh mana mutu dan kualitas semuanya akan segera terbongkar. Ehem.

Cara Saya Menentukan Harga Bimbel

Cara Saya Menentukan Harga Bimbel
Cara Saya Menentukan Harga Bimbel. Dok. Gurupenyemangat.com

Salah satu hal yang perlu kita pahami bahwa harga bimbel bergantung kepada kualitas yang ditawarkan. Secara teori, orang-orang ingin membayar lebih untuk kualitas. Tapi…

Kenyataannya tidaklah sesederhana itu. Tidak sedikit pula orang tua yang menginginkan biaya les yang sesuai dengan isi kantong keluarga.

Maka dari itulah, para orang tua bakal mencoba untuk mencari tempat bimbel terdekat dan murah.

Mengapa kok tempat les terdekat bin murah yang dicari? Soalnya jika anak-anak mereka masih kecil, keamanan, keselamatan, dan kepercayaan terhadap usaha bimbel turut menjadi pertimbangan utama.

Dengan demikian, sandarkanlah ketetapan harga bimbel dengan niat untuk menghasilkan peserta bimbel yang kompeten. Mengambil keuntungan itu penting, tapi tetap manusiawi.

Promosi Bimbel Itu Penting

Promosi Bimbel Itu Penting
Promosi Bimbel Itu Penting. Dok. Gurupenyemangat.com

Sekarang enak, ya. Di zaman digital kita mudah saja mengenalkan usaha rumahan, salah satunya ialah dengan cara menyebar caption promosi bimbel di berbagai media sosial.

Kita bisa membuat copywriting yang menarik sekaligus menggugah serta gaya promosi bimbel yang menarik baik secara online.

Namun, sebaik-baiknya promosi bagi bimbel rumahan ialah kualitas. Yup, pengalamanku, cerita anak-anak dan orang tua peserta yang menjadi alasan bimbel yang aku kelola kian berkembang.

Maka dari itulah, seperti yang kukatakan tadi, jangan terlalu fokus membuka bimbel hanya untuk meraup keuntungan karena bisa jadi nanti orang-orang bakal kecewa.

Soalnya, dulu aku pernah juga ikut bimbel dengan biaya yang cukup mahal, namun diriku cuma mendapat sertifikat lulus dengan hasil yang menurutku cuma “seadanya”. Tidak sesuai dengan harga.

*

Demikianlah cerita tentang pengalamanku membuka bimbel. Kepada teman-teman yang ingin membuka lembaga bimbel di rumah, bersemangatlah.

Salam.

Guru Penyemangat
Guru Penyemangat Menulislah untuk menebar manfaat kepada seluruh alam, karena menuangkan kata-kata juga merupakan jalan ninja menuju kebaikan.

2 komentar untuk "Pengalaman Saya Membuka Bimbel di Rumah, Menyenangkan Sekaligus Menguntungkan"

  1. Ngeles = ngebimbel. Gitu ya hehe
    Keren. Terima kasih, Guru Penyemangat 🙏😇

    BalasHapus

Berkomentarlah sesuai dengan postingan artikel. Mohon maaf, link aktif di kolom komentar tidak akan disetujui.

Diperbolehkan mengutip tulisan di blog Guru Penyemangat tidak lebih dari 30% dari keseluruhan isi (1) artikel dengan syarat menyertakan sumber. Mari bersama-sama kita belajar menghargai karya orang lain :-)