Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Contoh Cerita Pendek Tahun Baru Islam 1443 Hijriah, Sambut Muharram dengan Sukacita

Contoh Cerita Pendek Tahun Baru Islam 1443 H, Sambut Muharram dengan Sukacita
Contoh Cerita Pendek Tahun Baru Islam 1443 H, Sambut Muharram dengan Sukacita. Dok. Gurupenyemangat.com

Alhamdulillah, ya Sahabat Guru Penyemangat. Akhirnya kita tiba di tahun yang baru dalam kalender Hijriah. Sekarang kita sudah duduk di tahun 1443 Hijriah pada awal bulan Muharram.

Meskipun sekarang suasananya masih pandemi, tentu ada banyak cerita dan pengalaman baru yang terkait dengan Tahun Baru Islam.

Tapi, semoga saja kisah tersebut adalah kisah yang bahagia dan penuh syukur, ya. Soalnya, Tahun Baru Islam perlu kita sambut dengan sukacita seraya dijadikan momentum untuk memperbaiki diri.

Jikalau dulu Nabi Muhammad hijrah dari Mekkah ke Madinah untuk menyinari dunia dengan cahaya Islam, maka sekarang kita juga bisa meneladan perjuangan beliau dengan hijrah menjadi lebih takwa.

Maka dari itulah, di sini Gurupenyemangat.com bakal menghadirkan kisah inspiratif menyambut momentum Muharram 1433 H.

Tepatnya cerita pendek bertema Tahun Baru Islam sekaligus mengajak kita untuk berbenah, meneladan sifat Nabi, dan senantiasa bersyukur.

Silakan langsung disimak saja, ya:

Contoh Cerita Pendek Tahun Baru Islam 1443 H, Sambut Muharram dengan Sukacita

Contoh 1:

Muharram dan Teladan Nabi

Pagi itu cukup cerah dan Andi segera bersiap untuk berangkat kerja. Sepeda ontel sudah ia setel dan ban pun sudah dipompa. Andi harus segera sampai di pasar, atau jika tidak, lapak jualannya akan lebih dulu ditempati para pedagang lain.

Muharram tahun ini tanggal merah, tapi tidak bagi kamus kerja Andi. Baginya tak ada hari libur, kecuali memang dirinya yang sudah tak mampu bangun dari kasur reot.

Sehari-hari Andi harus menggelar lapak demi berjualan sayur di pasar. Untuk hari ini, ia menjual cabai, terong, kangkung, bawang merah dan bawang putih, serta beberapa kilogram jengkol.

“Bang, cabainya baru dipetik, ya? Berapa sekilo?” sapa calon pembeli yang tiba-tiba datang, padahal Andi belum selesai menggelar lapak dan membentangkan terpal.

“Wah, iya Bang. Alhamdulillah, ini cabai merah baru Saya petik di lahan sendiri kemarin sore. Harga perkilonya Rp25.000, Bang.”

“O gitu, kok lebih murah, ya. Okelah, Saya beli 2 kilogram, tolong dibungkus ya Bang.”

Alhamdulillah! Andi kala itu sangat sumringah. Padahal dia baru saja tiba tapi sudah ada saja rezeki yang datang dengan tiba-tiba. Sepertinya momentum Muharram membawa keberkahan tersendiri bagi Andi.

Pemuda sebatang kara ini pun semakin semangat menjajakan barang dagangan seraya melantunkan doa kepada Allah agar dagangannya habis.

“Mas Andi, kok tadi ngasih harga cabainya murah banget ya? Saya aja cabai Rp25.000 itu untuk cabai keriting yang sudah lebih dari 2 hari petik. Kalo begini ceritanya, pembeli bisa pindah ke Mas semua dong. Naikin aja harganya ya Mas!”

Tiba-tiba saja ada pedagang sebelah yang usil dengan rezeki Andi. Padahal hari masih pagi, jadi wajar saja pelanggan masih sedikit.

“Diturunkan bagaimana, Mas? Saya kan mencoba memberitahu yang sebenarnya kepada calon pembeli bahwa kualitas yang begini harganya juga begini. Lagian alhamdulillah Saya juga sudah dapat untung, Mas. Jadi rasanya tidak perlu Saya naikkan harganya,” jawab Andi dengan tenang.

“Lha, kan bisa Mas bilang bahwa itu cabai baru jadi wajar harganya mahal. Biar pembeli juga mau beli di lapak saya gitu Mas.”

“Jangan, Mas. Sebagaimana teladan Nabi Muhammad SAW, kita harus berniaga dengan jujur dan amanah, Mas. O ya, satu lagi. Perkara rezeki udah ada takarannya masing-masing dari Allah Mas. Sekarang kita yang penting cari berkahnya.”

Boleh Baca: Cerita Singkat Tentang Kejujuran, yang Baik Selamanya Akan Selalu Baik

Pedagang tadi pun langsung berpaling dengan muka masam seraya kembali ke lapak dagangannya. Ia terlihat kesal dan belum bisa menerima anjuran dari Andi.

Namun, sebagaimana awal yang baik di pagi hari tadi, ternyata sebelum waktu Ashar tiba dagangan sayur Andi sudah habis. Banyak pembeli yang datang dan bahkan memborong dagangannya. Alasan para pembeli ini satu, yaitu sikap Andi yang jujur.

Sembari bersyukur dan bahagia, Andi segera berkemas dan bersiap untuk pulang. Momentum Tahun Baru Islam 1 Muharram kali ini ternyata membawa berkah dan membuka rezeki yang luas untuk Andi.

Contoh 2:

Tahun Baru Islam dan Arang Hitam

Bulan sabit telah datang kembali bersamaan dengan gelap malam yang menyejukkan. Suasana di hari itu menjadi semakin hangat karena ramai orang berkumpul.

“Malam ini sudah satu Muharram! Tahun Baru Islam 1443 Hijriah!”

Tahun baru, suasana baru, semangat baru. Demikian pula dengan keluarga Salim. Pada malam 1 Muharram tersebut Pak Salim, istri, dan ketiga orang anaknya mulai bersiap-siap membentangkan karpet di halaman rumah.

Mereka mengeluarkan berbagai peralatan masak dan panggangan. Dalam menyambut momentum Tahun Baru Islam kali ini keluarga Salim ingin bakar-bakar jagung dan ayam. Tidak lupa, mereka juga menyiapkan speaker sembari menyetel musik remix.

Jagung sudah dibakar, pun begitu dengan ayam. Keluarga Salim akhirnya makan bersama di halaman rumah dengan diiringi musik remix. Sayangnya waktu itu jam sudah menunjukkan angka 22.00 WIB. Dari tepi jalan terlihat banyak jamaah yang baru keluar dari masjid.

“Lho, Pak Salim kok tidak menghadiri kegiatan Muharram di masjid? Tadi kita tadarusan, dengar ceramah, dan makan-makan juga lho Pak? Apa Pak Salim belum dapat undangan ya?” terang salah satu warga yang kebetulan melewati pagar rumah Pak Salim.

“Oalah, iya nih Pak. Dapat kok, dapat. Hanya saja Saya sudah ada acara bersama keluarga nih Pak. Kami ingin seru-seruan. Enjoy begitulah Pak. Namanya juga Tahun Baru, kan?” jawab Pak Salim.

“Hemm. Sayang, Pak. Padahal sekarang kita menyambut Tahun Baru Islam lho, seharusnya yang kita seru-serukan adalah hijrah, Pak. Bukan malah enjoy-enjoy semacam ini. Bapak ingat nggak kisah hijrah Rasulullah dari Mekkah ke Madinah?”

“Hehehe, iya, Pak. Ingat, Pak. Nabi Muhammad SAW terus terancam keselamatannya demi menegakkan agama Islam di muka bumi.”

“Nah, ternyata Bapak sudah mengerti. Maka dari itu, di sisa umur yang singkat ini sebaiknya kita lebih dekat dengan Allah dan masjid kan Pak?”

“Astagfirullahaladzim. Siap, Pak. Mohon maafkan kami yang khilaf ini.”

“Tiada mengapa, Pak Salim. Kita sesama manusia memang tugasnya saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran. Silakan arangnya dimatikan ya Pak, soalnya sekarang sudah malam dan warga ingin beristirahat. Tiada mengapa arangnya jadi hitam kembali, asalkan jangan hati kita,” tutup warga seraya berpamitan.

Keluarga Salim pun menyadari kesalahannya bersama keluarga. Ia sekarang sadar bahwasannya Tahun Baru Islam adalah momentum untuk memperbaiki diri agar lebih takwa, bukan malah berfoya-foya atau malah berpesta.

***

Oke, demikian tadi cerita pendek bertema Tahun Baru Islam 1443 Hijriah yang bisa Guru Penyemangat hadirkan. Semoga menginspirasi, ya. Mari kita sambut Muharram dengan sukacita.

Salam.

Lanjut Baca: Kumpulan Pantun Tentang Tahun Baru Islam 1443 Hijriah

Guru Penyemangat
Guru Penyemangat Menulislah untuk menebar manfaat kepada seluruh alam, karena menuangkan kata-kata juga merupakan jalan ninja menuju kebaikan.

Posting Komentar untuk "Contoh Cerita Pendek Tahun Baru Islam 1443 Hijriah, Sambut Muharram dengan Sukacita"