Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Puisi untuk Senja: Rasa Lelah Penjaga Kalbu

Segenap hatimu mungkin mencintai senja. Sama denganku, aku pula begitu. Tapi, senja tak selalu indah sebagaimana senyum di bibirmu. Terkadang lelah, terkadang muak menata rasa, dan terkadang pula teguh sebagai penjaga kalbu.

Banyak keringa tercurah untuk senja, tapi terkadang rindu untuk bertemu rawan timpang dan enggan untuk bertemu.

Maka darinya, sebagai penguat rindu yang selama ini berbaris tak menentu serta dirundung ketidakseruan kalbu, aku hadirnya tiga puisi tentang senja. Semoga kamu kuat, ya.

puisi-untuk-senja
Puisi untuk Senja: Rasa Lelah Penjaga Kalbu. Foto diolah dari Free-photos Pixabay

Puisi untuk Senja (1): Aku Lelah

Kuceritakan sebuah kisah tentang peluh hari ini. Kuberjalan melewati rawa yang penuh dengan kosong dan hampa. Di dalamnya terdapat sebuah tanda bahaya. Bahwa akan kulewati beberapa hal yang melelahkan.

Semua teratasi, tentunya dengan bantuan mereka lagi. Berterima kasih karna telah ada menemani. 

Ternyata tak sampai di situ, muncul kekalutan lain lagi. Dan kuselesaikan sendiri tanpa merepotkan mereka lagi.

Rembulan menemani, hati lelah akan hari ini . Pikiran tertumpuk tentang apa yang terjadi. Sesuatu, bukan cinta, bukan rasa dan bukan pula perpisahan.

Letih hatiku. Kucoba tak membuat mereka terpengaruh. Kupura-pura bodoh dengan tertawa. Kuminta sang bintang untuk menghibur dan dituruti keinginanku.

Terpenuhi keinginanku, membaik ternyata sedikit letihku. Saat kurasa akan membaik. Semua kembali hancur tanpa tahu siapa yang akan memperbaikinya lagi.

Tolong, aku lelah. Tolong, aku butuh genggaman semangat itu.

Curup, 10-01-2021
Kharia Nurlita (58)


Puisi untuk Senja (2): Menggambar Perasaan

Galaksi dan semesta?! Galaksi berlalu dengan semesta menunggu. Galaksi tak menentu, mengedarkan rasi Tuhan tentang dia di masa lalu hingga sang semesta pun tahu dan mengajak hati berlagu tentang melodi kenangan lalu kala dia menggenggam tangan itu.

Dia rupawan, dengan lancang mencuri perasaan sembari membawa hati. Dititis air hujan, yang membasahi orbit Tuhan, dialunkan olehnya sebuah melodi tentang makna perasaan. Bersama harmoni dari kekuatan dan kelemahan malam kota itu.

Sungguh kuiingin dia mengerti, betapa ruang hati menginginkan dia mengisi. Banyak kekurangan yang tertutupi, hanya karena darah mendesir untuk memiliki.

Dia, dia sang penakluk hati. Dia yang berwujud sebenarnya dirimu. Sesuatu yang kuprosakan, kutujukan untuk dirimu. Menggambarkan tentang perasaanku terhadap alur ceritamu.

Dirimu, dirimu sang hujan, dirimu juga sang pelangi, dirimu sebagai matahari, dirimu merangkup sebagai rembulan relung dan naluri.

Curup, 10-01-2021
Kharia Nurlita (59)


Puisi untuk Senja (3): Penjaga Kalbu

Senja menghampiri, bertepatan dengan camar yang tengah mengukir aksara. Dia tengah berkisah tentang canda tawa rasa kolosal. Disuarakannya sebuah kebahagiaan, tentang kesederhanaan sebuah rasa.

Dia pelik terhadap cuaca, namun peka terhadap arah.

Dia ragu terhadap peradaban, namun percaya akan keagungan.

Di antara semarak riangnya cicitan camar, tersirat sendu suara remang kunang-kunang. Terlewat tanpa sadar, akan sang fajar yang silih terhenti.

Bertepatan dengan mentari yang lemah bersuara. Tertoreh sebuah warna pelapis alam. Bersama jutaan makna setitik embun pagi, teriring merdu ombak semilir hati.

Dia biasa, dengan penopang yang luar biasa. Kuterdiam di ufuk senja. Menatapnya sendu dengan pikir tak menentu.

Hanya ingin dia tahu, di sini hati berusaha menjaga kalbu. Berharap senja menjadi persimpangan, yang tiada akhir untuk menunggu.

Curup, 10-01-2021
Kharia Nurlita (60)

Guru Penyemangat
Guru Penyemangat Menulislah untuk menebar manfaat kepada seluruh alam, karena menuangkan kata-kata juga merupakan jalan ninja menuju kebaikan.

2 komentar untuk "Puisi untuk Senja: Rasa Lelah Penjaga Kalbu"

Berkomentarlah sesuai dengan postingan artikel. Mohon maaf, link aktif di kolom komentar tidak akan disetujui.