Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cerpen Tentang Penyesalan

What? Penyesalan? Sering kali yang mengesalkan itu selalu hadir belakangan, ya. Jikalau hadirnya di awal, mungkin kita bisa memperbaiki kisah tersebut.

Tapi...

Ya gitu deh. Entah itu penyesalan cinta, penyesalan seorang bunda, hingga penyesalan akan cinta semuanya berasa cukup sulit untuk diperbaiki.

Laksana keramik yang jatuh dan terpecah, kita bakal sangat sulit untuk memperbaiki pecahan tersebut agar mampu kembali seperti sedia kala.

Mungkin bisa kembali, tapi setelah penyesalan, semuanya akan berjalan sebagai kisah yang baru. Tidak akan sama walau alur kisahnya diulang.

Dan dalam hal ini, Gurupenyemangat.com bakal menghadirkan kisah penyesalan dalam bentuk cerpen. Oke, disimak saja, ya:

Cerpen Tentang Penyesalan
Cerpen Tentang Penyesalan. Gambar oleh kalhh dari Pixabay

Cerpen 3: Selamat Menikmati Malam Ini, Gadis Kecil!

Hey-! Dengarkan -! Hati kecil tengah berbisik. Mengoceh tentang sebuah cerita. Datang, rasakan dan beri tahu apa yang juga kau rasakan.

Ah, mari kusampaikan, ada kurcaci kecil melangkah menyusuri hutan gelap, berjalan dengan ketakutan sendirian tanpa ada yang menemani.

"'Srek srek"

Terdengar dari arah barat daya, membuat kurcaci makin ketakutan. Akan kukenalkan, dia Northern, kurcaci kecil yang tinggal di arah terbenamnya matahari di Skotlandia.

Dia hidup sendiri tanpa ada yang menemani, siapa sangka? Dia seorang gadis kecil. Kekeeke, kau pasti terkejut bukan. Baiklah mari lanjutkan.

Tak dihiraukannya, tentang suara yang didengarnya, tetap ditelusurinya hutan itu dengan bermodalkan kunang - kunang yang berkeliaran. Ah, untunglah malam ini sang rembulan berpihak kepadanya. Cahayanya terang lebih terang dari malam lainnya.

Berjalan, berjalan, berjalan... Semakin jauh, semakin jauh, semakin jauh.

'Kenapa sangat mengerikan di sini'  pikiran North berkecamuk dalam sepi. Tak ada jam, tak tahu waktu, semakin berjalan suasana semakin mencekam. Kau saja tak terbayangkan,, hihh mengerikan.

Lelah, entah sudah seberapa jauh North berjalan malam ini, hingga dia melihat cahaya dari arah timur. Disipitkan mata, dilihatnya sebuah kastil tua.

"Hufth.. Syukurlah, setidaknya bisa bermalam hingga menunggu pagi" rasa senang dan bahagia menjalar di hati North.

Dikiranya, sudah selesailah perjalanan mencekam malam ini. Dilangkahkan kakinya dengan cepat ke arah kastil tua itu. Hmm,, seperti tak berpenghuni saat sampai di depan gerbang ternyata ada penjaga, sudah agak tua dengan senyum menyambut North.

"Selamat datang gadis kecil, ada apa gerangan menuju ke istana Ratu Arthery?" kata penjaga tetap dengan senyuman manis.

"Ratu? Ah maaf, Tuan, saya tidak tahu ini istana Ratu, saya dari negeri arah terbenamnya matahari Skotlandia, saya tadi di hutan dan tersesat. Saya melihat ada kastil. Hmmm.. Jika boleh apa saya boleh bermalam di sini? Di luar gerbang pun saya tak apa."

Seperti keluhan dan sindiran Kekeke, dasar gadis nakal bukan.  "Tidak Nona, sang Ratu orang yang baik hati. Dia pasti mengizinkan anda menginap di sini. Mari saya hantarkan" Sumrigah wajah North, senang di rasakannya.

"Tentu tentu,, ahh saya sangat berterima kasih"

Hey! Apa dia tak tau bahwa malam ini akan berakhir seperti yang tak diharapkannya. Jangan menerka-nerka teman, ikuti alurnya. Aku belum selesai menyampaikan cerita hati kecil. Mari lanjutkan.

Dibawa North menemui Arthery, Ratu cantik yang sudah akan menua. Ah, kau tau dia sangat cantik bahkan sudah akan beranjak di usia kepala 5 pun wajahnya masih seperti putri raja. Siapa yang tidak iri haha.

"Selamat datang Nona manis, anggap seperti rumahmu sendiri." Itu suara Sang Ratu, manis sungguh manis senyumnya.

"A ~ ah, ten ~ tentu yang mulia. T ~ terima kasih atas kemurahan hatimu" hihi, hey betapa bodohnya North. Gadis kecil yang malang. Ah, kau tau tak boleh spoiler bukan. Kulanjutkan kembali

"Saya yang akan menghantarkan Nona manis ini ke kamarnya, kau boleh pergi, Vent" Sekarang penjaga itu pergi, setelah memberikan hormat dengan membungkukkan badan ke arah Ratu. Hanya ada mereka berdua, North dan Ratu cantik.

"Mari Nona~ saya hantar kan ke ruanganmu" Senyuman Ratu mendominasi. Aku yakin siapapun yang melihatnya akan ikut tersenyum. Mata biru yang memabukkan. Kau bisa membayangkan sendiri bagaimana indahnya ciptaan Tuhan itu.

"A ~ ah, terima kasih yang mulia" Beriringan mereka berjalan memasuki sebuah ruangan. Indah bahkan sangat indah. Tapi, bukan berhenti semakin jauh mereka berjalan. Berdiri mereka, di pintu tua usang. Bingung, adalah hal yang dirasakan oleh North sekarang.

" E ~ emh, yang mulia Ratu, k ~ kita akan ke mana?" Berani sekali gadis itu, hahaha.  Ratu hanya menatapnya tajam. Membuat North semakin ketakutan

" Tak apa Nona manis kita akan ke kamarmu" Perkataan yang dingin, membuat North ingin kembali saja rasanya.

' Cklek ~~'

Dibukanya pintu itu, digenggamnya tangan North, dibawanya masuk. Membulakan mata lebar, North lakukan sekarang. Hey ayolah-! Siapa yang tak terkejut jika isi kamarnya alat dan benda tajam. Layaknya kamar eksekusi dan penyiksaan.

" K ~ kkk~ kenapa sss~saya dd ~ dibawa ke sini yang mulia," Dilemparkan badan North hingga tergores pisau tajam yang menancap di dinding.

"Haha, kau tahu Nona manis. Harum darahmu seperti bunga mawar. I like it" senyum mematikan ditunjukkan.

North semakin ketakutan " J ~ jangan ap ~ apa apa kan ss ~ saya R ~ Ratu s ~ saya mohon" tergagap, gemetar ketakutan, ahh North yang malang!

"Selamat menikmati malam ini, gadis kecil" Siapa yang tahu, Ratu cantik itu adalah seorang keparat wanita. Didekatinya North, di goresnya pipi North dengan belati tajam.

"Aa ~ akhh yang muliaa ss ~ sakit"  tak ada balasan dari Arthery. Semakin kejam dia. Diambilnya batu dipukulkan ke kepala North.

"Aa ~ akhhh" teriakan North sangat mendominasi. Bau darah menyeruak ke seluruh penjuru ruangan. Kepala North yang berdarah akibat batu itu. Kau harus tahu, batu yang dilemparkan tajam dan besar. Sungguh Arthery sangat menikmatinya.

"Sentuhan terakhir, manis!" Diambilnya pedang tajam. Tak segan-segan dipenggalnya kepala North. Tak ada lagi suara North.

Diambilnya kepala North " Sungguh kau tahu, ini adalah koleksi kepala terbaikku. Terima kasih, gadis kecil.”

Ah, bagaimana ceritaku? Ah, bukan cerita sang hati kecil. Lain kali akan kusampaikan cerita yang lebih menyenangkan. Jangan menjadi North kau tahu. Jangan mudah terperdaya. Dan jangan gegabah. Memang sungguh gadis yang malang bukan. Kekekeke

Karya: Khairia Nurlita


Cerpen 4: Irama Scenery Dalam Sesal

Tatapan sendu dari seorang gadis bersama kursi rodanya, di taman sepi bertabur bunga. Ditemani buku kecil, lengkap dengan penanya. Entahlah. Apa yang sedang dia lakukan.

Dingin angin yang menusuk tulang membuat siapapun lebih memilih bergelut dengan selimut hangat di rumah, dibandingkan beraktivitas sekarang.

Tak terasa, jatuh setetes air dari mata coklat pekat itu, entah apa yang sedang dipikirkan, kesedihan sudah pasti mendominasi. Dari earphone yang tertempel di telinga, terdengar lagu ‘Scenery’ milik Kim Taehyung.

I put my feelings in the garden
(aku meletakkan perasaanku di taman)

Bunyi handphone menghentikan lagunya yang terputar, terlihat nama ‘Bunda’ di layar pipih itu. Seketika tubuh Aya serasa membeku, orang yang sangat dirindukannya selama beberapa bulan terakhir ini. Jemari lentik itu menggeser lambiang hijau, dan mengangkat panggilan itu.

“Assalamu’alaikum,Aya.”

Suara yang mampu menggetarkan hati Aya, bibir pucat itu bergetar menahan sesuatu yang menghantam dadanya.

“Wa’alaikumussalam, Bun. Bunda apa kabar? Baik, kan? Aya kangen, Bun.”

Kekehan di akhir adalah upaya Aya menutupi rasa sedihnya.

“Bunda baik, baik banget, kamu gimana? Baik, kan?”

Ah, ingin sekali Aya mengatakan “Aya ga baik – baik aja, Bun. Bunda gak mau pulang liat Aya?” Namun, situasinya seakan tak mendukung. Lidah Aya begitu kelu untuk mengatakannya.

“Alhamdulillah, Bun, A-Aya baik, hehe. Bun, Aya boleh minta sesuatu,gak?”  Tanya Aya, sedikit berhati – hati.

“Tentu, sayang. Aya mau apa? Nanti bunda belikan.” Aya tersenyum kecut mendengar hal itu.

“Aya pengen, bunda pulang dan peluk Aya. Aya mohon.”

Setetes air lolos, untuk kesekian kalinya. Sudah tak terhitung betapa banyak kesedihan yang dialami Aya.

“Iya, Aya. Minggu depan Bunda pulang. Bunda akan peluk Aya banyak-banyak.”

Awalnya senyum terukir di bibirnya, namun mendengar perkataan akhir tadi malah membuat senyum kecut yang mendominasi. Apa lebih penting pekerjaan dibanding anaknya? Pikir Aya.

“Apa ga bisa besok, Bun? Aya mohon. Untuk yang terakhir. A- Aya janji.”Isak Aya.

“Bunda usahain, ya sayang. Bunda usahain lusa pulang. Udah dulu, ya. Bunda harus lanjut kerja. Assalamu’alaikum.”

Belum sempat Aya menjawab, telpon sudah terputus secara sepihak. Isakan Aya semakin menjadi-jadi.

I still wonder beautiful story
(Aku masih bertanya tentang kisah indah)

“ Ah, aku selalu ragu tentang sebuah kisah indah yang benar-benar nyata. Namun tetap saja aku menginginkan hal itu terjadi.”

Hembusan kasar napas dari Aya mengisi kesunyian saat ini.

Tap..Tap..Tap…

Derap langkah kaki terdengar di telinga Aya, ditolehkan kepala menghadap ke asal suara. Seorang wanita, dengan baju khusus perawat, mendekat ke gadis cantik itu.

“Nona, mari masuk. Udara sudah sangat dingin sekarang.”

Aya hanya menebar angukkan. Suster membawanya masuk ke dalam rumah sakit. Sungguh tak enak rasanya. Baru selangkah masuk ke dalam, bau obat sudah menusuk ke indra penciuman.

Kalau kembali ingin bertanya-tanya tentang penyakit yang dideritanya, sungguh sulit untuk dipercaya. Tapi apa daya, memang itu yang dialami seorang Anaya Anindya.

Kanker otak stadium akhir, penyakit mematikan yang tak segan segan mengambil alih raga sang pemilik dengan ganas dan tiada ampun. Membayangkannya saja kita tak sanggup,bukan? Bagaimana dengan Aya yang mengalaminya.

I ventured into the next story
(Aku berkelana ke kisah selanjutnya)

Masih di tempat yang sama, waktu yang sama, di hari yang berbeda. Terlepas dari kisah menyedihkan, di lampau waktu, akankah hari ini lebih menyedihkan? Entahlah. Tak ada yang bisa mengatur takdir tuhan.

Namun, hey! Ada apa ini! Ada apa dengan wajah perawat-perawat ini! Kenapa mereka panik!

Ada apa di ruangan itu? Pertanyaan pasti terlontar dari orang – orang di rumah sakit.

Ruangan Anaya dipenuhi dengan alat-alat bantu dan dokter. Aya terbaring lemah di tempat tidurnya, masih setia ditemani buku kesayangannya. 

Ada seorang wanita paruh baya duduk di depan kamarnya, terisak sendu tak henti-hentinya melontarkan do’a dan nama Sang Pencipta.

Still wonder best part
( masih bertanya, tentang bagian terbaik)

Mungkinkah iniakan jadi akhir? Ah, memang tak pernah salah, di mana penyesalan selalu datang di akhir. Pria dengan baju khas dokter keluar dari ruangan Aya, melontarkan kalimat yang sangat sangat menyayat hati siapapun yang mendengarnya.

“kami sudah melakukan yang terbaik, Tuhan lebih sayang kepada Anaya. Takdir Tuhan memberikan penyakit menjadi perantaranya. Kami minta maaf yang sebesar-besarnya.”  

Kau pasti tahu rasanya, bukan? Lebih sakit daripada dihantam ribuan pisau? Mungkin. Tapi, itulah yang dirasakan orang tua Anaya.

When You Lose Time
(Ketika kamu kehilangan waktu)

Sekarang, siapa yang harus disalahkan? Terisak-isak Bunda memeluk jasad Anaya. Ia hanya bisa menangis dan menyesal.

“Aya, bangun sayang, ini bunda. Bunda datang sayang. Meluk kamu lho ini. Hiks,, s-sayaang.. hiks hiks bunda minta maaf sayang. Sayang hiks..”

Hey! Untuk apa? Kenapa baru sekarang? Apa kamu tak sadar, betapa menderitanya Anaya selama ini? Bahkan permintaan terakhirnya pun tak dapat kau kabulkan. Bukankah lebih baik seperti ini, kan?

Feel sorry,and hope to get chance
(merasa bersalah, dan berharap mendapat kesempatan)

Mawar merah yang diubah mawar hitam, sekarang dihancurkan menjadi bunga mawar yang layu. Menyedihkan! Bahkan sangat menyedihkan. Berharap bahwa sebuah penyesalan bisa menjadi kesempatan hanyalah omong kosong yang terlampau.

“Bu, ini titipan dari nona Anaya,”

Ah, buku coklat kesayangan Anaya. Penasaran dengan isinya, kan? Saat dibuka, foto bunda Aya dominan mengisi kosongnya kertas putih. Sebegitu pedulinya Aya? Tentu! Rasanya, banyak hal yang terlewatkan. Tiba di lembar terakhir, tulisan indah Anaya memenuhi lembaran itu.

‘Anaya Anindia’

Aya, gadis kecil Bunda yang tak disadari sekarang telah menjadi gadis dewasa, Bunda. Walau kekecewaan mendominasihati Aya dan kesedihan menjadi akhir dari kerinduan Aya, tetap saja Aya sayang, Bunda. Aya tahu, Bunda bekerja keras untuk Aya. Tapi, hidupku ini bukan hanya tentang harta. Kasih sayang lebih diharapkan untuk bahagia.

Bunda ga ada waktu untuk Aya. Menjadikan rasa sunyi sebagai teman Akrab Aya. Rintihan hujan yang menggambarkan kepedihan hati, sebagai pengobat di kala sepi. Ah, tak ada yang bisa diceritakan lagi sekarang.

Banyak ungkapan terima kasih, Aya sampaikan kepada Bunda yang mau membesarkan Aya.

Keinginan terakhir Aya, Bunda bisa ada di samping Aya dan meluk Aya walau hanya dalam beberapa hitungandetik.

Dan sepertinya, secerca harapan akan menjadi hal yang mustahil. Aya sayang Bunda, bagaimana pun keadaaannya. Aya bahagia masih bisa denger suara bunda untuk terakhir kalinya.

I love you Bunda

Ahh,, isak tangis menjadi-jadi memenuhi ruang kedukaan. Kolaborasi antara penyesalan, kesedihan, ketakutan, dan kehancuran menguasai wanita itu. Wanita paruh baya yang sedang merutuki kebodohannya sendiri.

Haha, dunia seakan menertawakannya. Angin yang menjadi saksi bisu, seakan ikut bahagia atas penyesalannya. Awan pun tak sudi mengeluarkan tangisan atas kesalahan yang dilakukan. Sang surya mengejek isakan dari bibirnya.

And for this regret, the arises a hope of repeating the past
(Dan untuk penyesalan ini, tebersit secercah harapan pengulangan waktu)

Karya: Khairia Nurlita
Guru Penyemangat
Guru Penyemangat Menulislah untuk menebar manfaat kepada seluruh alam, karena menuangkan kata-kata juga merupakan jalan ninja menuju kebaikan.

Posting Komentar untuk "Cerpen Tentang Penyesalan"

Promo Cashback & Voucher Shopee