Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Puisi Tentang Benda-benda yang Menggerogoti Waktu hingga Tua

Terkadang benda-benda aneh menggerogoti waktu hingga tua. Tidak bagi mata, melainkan bagi hati. Yang kemarin segar, sekarang bisa saja segera rimpuh.

Biar bagaimanapun, benda telah menjadi saksi. Ketika kebahagiaan tertumpah atau malah bertukar dengan isak tangis. Bahkan tidak hanya waktu, kota pula ikut menua.

Benda-benda yang Menggerogoti Waktu hingga Tua
Benda-benda yang Menggerogoti Waktu hingga Tua. Gambar oleh Free-Photos dari Pixabay

Berikut segenap puisi tentang benda-benda yang menggerogoti waktu hingga tua.

Puisi: Jam Usang dan Kursi Tua

Tik tok tik tok, lihat jam itu usang dan tua. Setiap hari menjadi saksi bisu jatuhnya embun netraku.

Bau tanah yang bersentuhan air Tuhan menjadikan senja ini menjadi lebih apik dibandingkan saat mentari menampakkan diri.

Kursi tua ini pula menjadi saksi, di mana kaki berpijak di alunan musik klasik dengan orkestra menjadi pengiring tangis pilu. Merasa diri adalah orang yang paling tak beruntung.

Menyelesaikan taman di ujung pulau, dengan fakta taman itu sebuah taman milik serigala. Saat kembali ke taman sendiri, hati tercengang apa yang terjadi.

Ternyata, bahagia bukan diukir dari sebuah peluh tangis, keluh dan kesah.

Taman hatiku sendiri indah bersama jam tua sebagai ciri khas, embun netra yang menghias, air Tuhan yang berkunjung, kursi tua yang menemani.

Karya: Khairia Nurlita.


Puisi: Pinwheel

Tatapan redup, menatap senja nan kian menghilang. Jauh di sana?

Kupikir angin dingin senantiasa bertiup. Tertawa untukmu, Aku merasa sedih. Ini seperti dekorasi. Baling-baling yang sangat kecil berdiri sendiri.

Merasa bodoh, meski kehilangan arah dan membutuhkan waktu lama. Di masa depan yang jauh, kau bisa berbalik, melihat, dan kembali ke arahku.

Aku rasa saat ini hanya bersembunyi di balik sisi lain.

Aku benci kejauhan. Sibuk melandasi segala hal. Hanya bisa menunggu dan terus menunggu. Menunggumu sepanjang waktu.

Aku tak suka hal yang salah. Aku tak bisa melakukannya. Ah, tetap saja aku akan menunggumu sepanjang waktu.

Aku tak akan menyesal untuk masa depan yang jauh, karenamu. Banyak orang di luaran. 

Namun, cukup tanyakan kepada sang angin kenapa tak menangkapku? Bahkan, masih penuh di pikiran. 

"Kenapa harus aku? meninggalkan berlian seperti mu? Kau menyuruhku" Hingga tebersit di benakku" Aku batu yang tak pantas untuk berlian cantik sepertimu."

Dan sekarang aku hanyalah kincir kecil yang berdiri tanpa penopang di gurun gersang tiada huni bertepatan dengan senja yang kian menepi.

Karya:   Khairia Nurlita.


Puisi: Kertas Lusuh

Di secarik kertas lusuh, warna senja pudar mendominasi. Mengukir pelayaran di awan tinggi, menorehkan pahit, asam, manis perjalanan.

Di secarik kertas lusuh, terlukis irama mimpi nan berlabuh. Bersama iringan pipit menyejukkan kalbu, mengartikan perjalanan yang tiada lelahnya.

Di secarik kertas lusuh, kuceritakan gundah, lara, juga tawa. Kusuarakan dengan tinta keemasan, yang berhiaskan kemewahan dari keberhasilan.

Di secarik kertas lusuh, kuletakkan mawar hitam pekat berduri. Kuiringi dengan syahdu menyakitkan lily kuning, Dan kulengkapi dengan kehangatan peony putih.

Di secarik kertas lusuh, kugambarkan racun kehangatan, Berharap ketakutan kian menghilang, dengan sirup aster yang memabukkan.

Di secarik kertas lusuh, kuakhiri sebuah arti pelayaran. Dengan kejayaan yang kian menghantam kuselesaikan sebuah lukisan. 

Dengan serumpun edelweis sebagai pelengkap kusudahi sebuah irama, syahdu suara haru.

Karya: Khairia Nurlita


Puisi: Kota Tua

Di kota tua ini, terukir sejarah kelam nan mengharukan. Tertunduk kepala melawan hantaman.

Darah segar, merah pekat, sebagai pelega dahaga. Milyaran air mata menjadi lautan. Tanah menjadi saksi bisu akan pertumpahan.

Di kota tua ini, Derap kaki menyusuri kenyataan. Tertoleh kepala ke arah berlawanan. Isakan tangis memenuhi pendengaran.

Permohonan akan kebutuhan. Kekejaman akan kekuasaan. Memenuhi lika-liku penjuru jalanan.

Di kota tua ini, tersebar rintihan burung pipit, tertuju pada elang yang berkuasa. Memenuhi pendengaran, dengan ocehan yang sama. Tak terhiraukan, karena kekuasaan yang tak sama.

Di kota tua Ini, awan menangis menatap keadaan. Langit termenung, karena sebukit kerakusan. Sinar mentari redup, ia malu menatap kekuasaan. Tanah pun begitu jua. Tak sanggup menghadapi ketamakan.

Lagi, di kota tua ini harapan telah berbuah ketelantaran. Kebahagiaan ini kosong menjadi kehancuran. 

Senyuman hancur menjadi isak tangis. Dan pada akhirnya, perjuangan kembali menjadi sebuah pengkhianatan.

Karya: Khairia Nurlita

Baca juga:

Guru Penyemangat
Guru Penyemangat Menulislah untuk menebar manfaat kepada seluruh alam, karena menuangkan kata-kata juga merupakan jalan ninja menuju kebaikan.

3 komentar untuk "Puisi Tentang Benda-benda yang Menggerogoti Waktu hingga Tua"

  1. Duh, tadi sudah komen. Kok bisa hilang, cucunda.

    BalasHapus
  2. Duh, tadi sudah komen. Kok bisa hilang, cucunda.

    BalasHapus

Berkomentarlah sesuai dengan postingan artikel. Mohon maaf, link aktif di kolom komentar tidak akan disetujui.