Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Puisi Tentang Hujan, Senja, dan Semangat di Bulan Maret

Bulan Maret telah tiba dengan hujan? Aih, biarlah. Biarkan dirimu berpayung baik prasangka agar tidak kebasahan oleh putus asa. Di sebalik hujan Maret bakal ada senja, tenang saja.

Meski begitu, ketenangan semata tidaklah cukup. Segenap diri perlu menghadirkan semangat yang perlu terus bertumbuh. Semangat yang bertunas dari akar harus ditinggikan, kendati perjuangannya begitu terjal. Hemm, barangkali puisi berikut bisa memotivasi diri.

Puisi Tentang Hujan, Senja, dan Semangat di Bulan Maret
Hujan, Senja, dan Semangat di Bulan Maret. Foto oleh Bich Tran dari Pexels

Puisi: Hujan dan Tangisan Senja Bulan Maret

tik... diktum tangisan bumi jatuh membasahi sendiri
berangkat dari kepulan awan kelam
ia roboh lalu jatuh mengerdil-ngerdil tubi
memberitahu perengkuh nikmat tanah bahwa hari segera kelam

Pada bulan maret ia jatuh tergusur
sayangnya ia jatuh hanya untuk penyendiri
hanya untuk dirasa oleh sendiri
hanya berasa bagi sendiri
sejuk dan apatis
hangat tapi meringis
panas lalu tangis
hujan kemudian gerimis

terang ia menangis
penantian cahaya sesungguhnya adalah senja

terang ia apatis
ruang tunggu harusnya beralaskan sinar bagaskara

terang ia meringis
diktum hujan mengais-ngais sepi di sebalik dimensi sunyi

terang ia tangis
bulan maret telampau kosong
kosong tapi mengaku cerah
cuma sekoteng tapi mengiyakan cahaya

benar seutuhnya
ia adalah senja
pemungut air mata yang tumpah
dan hujan itu adalah diktum tangisnya


Puisi: Selamat Datang Bulan Maret

Kemarin langit februari berpamitan kepadaku. Katanya maret akan segera bersemi. Februari membawa segunung cinta, lalu hanya menitipkan sepi di saku hati.

Lalu, apa kabar bulan maret?

Sekumpulan awan februari mungkin masih menyisakan kenangan. Maret telah hadir di sebalik senja kemarin. Ada sepi, ada gundah, juga ada tangis. Maret masih kesepian tanpamu.

Tapi, biarlah. Maret yang kesepian tidak mau bercerita tentang masa lalu. Hari kemarin mungkin hujan, barangkali kebasahan, lalu hari ini diri bersemi.

Rintik hujan terlewati bersama jejak semangat di bulan maret. Impian yang kemarin basah, hari ini kukeringkan. Angin di bulan maret juga cukup menyejukkan, seirama dengan melodi perasaanmu.

Selamat datang bulan maret. Aku yang lama menunggumu sekarang. Engkau membawa hujan tapi aku tak mau kedinginan. Engkau menggendong sepi tapi aku tak mau duduk sendiri dalam kekosongan.

Aku hanya mengejar maret yang meneduhkan, agar hatiku enggan kembali tandus karena terlindas purnama masa lalu.

Selamat datang bulan maret. Engkau datang menerobos gerbang harapan. Tapi hadirmu akan kubenci andai engkau merobohkan impian. Aku berharap lebih, tapi tidak berharap banyak.


Puisi: Semangat di Bulan Maret

Bagaimana kabarmu, duhai impian?

Barangkali ia sedang muram. Duduk di sebelah meja sembari menanti bunyi alarm. Lalu mengamati surat lamaran yang semakin buram.

Sesekali impian bersitegang dengan asa. Tentang asa yang terjemur lama lalu layu. Tentang asa yang terlampau sering tertolak lalu sendu. Juga tentang impianmu.

Berbulan-bulan, lebih setahun, hingga berbelas tahun, impian gagal tergapai. Ia tergelincir dalam tekanan. Ia terperosok ke dalam sumur perjuangan yang terlalu dalam. Lalu ingin istirahat sejenak.

Semangat di bulan maret, barangkali di sanalah impian akan berbaikan. Gagal di hari kemarin biarlah terhempas gemuruh. Merawah semangat agar tiada runtuh.

Berat, tapi sanggup.

Curup, 01 Maret 2021
Ozy V. Alandika

Baca juga:

Guru Penyemangat
Guru Penyemangat Menulislah untuk menebar manfaat kepada seluruh alam, karena menuangkan kata-kata juga merupakan jalan ninja menuju kebaikan.

Posting Komentar untuk "Puisi Tentang Hujan, Senja, dan Semangat di Bulan Maret"