Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kuburan, Destinasi Religi sebagai Sarana Mengingat Mati

Hai, Kapan Ke Sini?

Tulisan di atas begitu akrab dengan kita yang selama ini punya teman, rekan, serta sahabat yang sering jalan-jalan.

Baik itu kunjungan wisata ke luar negeri maupun destinasi lokal terbaru daerah sendiri, sebagian kita sering menitip foto bertuliskan nama dengan background tertentu dari wisata tersebut.

Niatnya tidak lain tidak bukan agar kita yang belum ke sana bisa menyusul di hari-hari esok.

Bahkan, ada yang ingin sekali menitipkan namanya di Tanah Suci agar bisa menjadi doa sekaligus motivasi untuk disegerakan menuju Baitullah.

Namun, kita tetap saja tidak tahu bahwa kesempatan itu akan datang atau tidak.

Umur kita yang absurd ini belum tentu akan diperpanjang Allah untuk bisa menuju ke destinasi wisata yang kita inginkan.

Apakah itu wisata duniawi seperti pantai, gunung, hingga taman bunga, atau malah destinasi religi.

Kuburan Adalah Destinasi Religi

Gambar dari @ArhamKendari

Jujur saja, banyak dari kita yang begitu ingin pergi jauh-jauh namun lupa dengan yang terdekat.

Kita susah-susah mengumpulkan uang untuk beli tiket transportasi hanya untuk numpang foto dan meninggalkan jejak keringat di sana.

Setelah itu? Uang akan hangus, dan kita akan kembali dengan kenangan.

Apakah itu indah? Sejatinya tiadalah yang indah kecuali surga, dan tiadalah kenangan yang indah kecuali dengan beribadah.

Sayangnya, konsistensi beribadah cukup sulit untuk dirawat, berbeda ketika kita selalu dilakukan ibarat kita bekerja bersusah payah untuk mengumpulkan uang.

Kenapa? Tentu saja, karena tujuannya kuburan, dan kita sendiri tak tahu kapan nyawa ini dicabut.

Siapa yang mau kembali ke kuburan cepat-cepat? Kebanyakan kita pasti tidak mau, karena lagi-lagi amal ini belum bertambah, sedangkan dosa selalu membara.

Paling-paling yang memilih cepat kembali adalah mereka yang sudah bosan hidup atau memiliki masalah yang sangat berat. Hmm, jangan sampai!

Kematian Datang, Tidak Menunggu Kita Siap

Nyatanya, kita tidak perlu berdiskusi dengan kematian walau hanya sekadar menanyakan “Hai, kapan ke sini?” karena kita tidak akan pernah siap. Tapi, kita pasti akan mati dan mati akan mendatangi kita.

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. (QS:3:185)

Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya. (QS 7:34)

Apakah kita merinding sesaat setelah membaca kedua ayat di atas? Harusnya iya.

Jika tidak, maka ada yang salah dengan diri kita, dan ada yang keliru dalam hidup kita selama ini. barangkali sibuknya pekerjaan mengeraskan hati kita hingga cinta dengan dunia.

Atau, barangkali uang sudah membutakan mata ini untuk tersentuh saat melihat kuburan?

Kalau saja pertanyaan di alam kubur bisa kita jawab dengan bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, atau bahkan bahasa daerah, amanlah kita.

Sayangnya, malaikat hanya mau mendengar jawaban dari amal-amal kita.

Apakah kita siap untuk menjemput kematian dengan indah?

Mari sejenak jadikan kuburan sebagai wisata religi terbaik untuk melembutkan hati. Berusaha untuk menjadi lebih baik mulai dari hari ini.

Iringi pula dengan menjenguk orang sakit, takziah, dan sering mengingat mati. Dengan cara itulah motivasi beribadah akan meningkat, dan hati kita menjadi lembut. Sungguh, berhijrah takperlu menunggu tua.

Salam.
Ditulis oleh Ozy V. Alandika

Baca juga:

Guru Penyemangat
Guru Penyemangat Menulislah untuk menebar manfaat kepada seluruh alam, karena menuangkan kata-kata juga merupakan jalan ninja menuju kebaikan.

4 komentar untuk "Kuburan, Destinasi Religi sebagai Sarana Mengingat Mati"

  1. Berkunjung ke kuburan bukan untuk keperluan klenik, tapi untuk merenungkan kematian yang pasti akan datang dan mengingat asal usul.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju dan siap, Pak. Agarsemakin rendah hati. Tengkyu pak Budi atas hadirnya 🙋‍♂️

      Hapus
  2. Emang ada yang bosahi (bossn hidup), cung? Suruh dia gantung diri di pohon terong. He he ...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha. Palingan nanti jadi ngerebus terong, Nek. 🤣

      Hapus

Berkomentarlah sesuai dengan postingan artikel. Mohon maaf, link aktif di kolom komentar tidak akan disetujui.

Diperbolehkan mengutip sebagian tulisan di blog ini dengan catatan menyertakan sumber Gurupenyemangat.com atau link artikel terkait.