Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Berhijrah untuk Menjadi Lebih Baik, Tak Perlu Menunggu Tua

Alhamdulillah hari ini Islam terus meluas melalui dakwahnya yang sudah bisa ditempuh melalui media. Alhasil, makin banyak pintu-pintu kebaikan yang dapat kita masuki untuk berhijrah.

Tapi...jikalau hijrah yang dimaksud hanyalah sekadar pindah, rasanya hijrahmu palsu, temans!

Berhijrah untuk Menjadi Lebih Baik, Tak Perlu Menunggu Tua
Berhijrah untuk Menjadi Lebih Baik, Tak Perlu Menunggu Tua. Gambar oleh Darwis Alwan dari Pixabay

Hijrah, secara bahasa berarti berpindah. Pemaknaannya bukan sekadar bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain, tetapi kepindahan itu menjadikan kita lebih pedekate dengan Allah Azza Wa Jalla.

Jikalau semisal ada urusan pekerjaan, kita pindah rumah ke dekat panti asuhan, tetapi kita tidak pernah sekalipun menderma ke panti tersebut maka itu bukan hijrah namanya. 

Lho, kok gitu sih?

Karena perpindahan itu tak membuat kita lebih dekat kepada Allah. Hijrahnya cuma sekadar pindah, itu pun gegara peristiwa pindah kerja.

Beda hal jika kita berniat hijrah untuk mendekatkan diri kepada Allah. Misalnya kita beli kontrakan di dekat masjid, dan kontrakan itu mengantarkan kita menjadi sosok yang lebih sering ke datang masjid. 

Yup, itulah salah satu contoh hijrah yang sebenarnya. 

Jadi, jika suatu saat kita pindah entah ke Kalimantan Timur, entah ke Papua, ataupun ke Luar Negeri, maka jadikanlah perpindahan itu sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah. Apalagi ketika hijrah untuk menjadi lebih baik sudah direncanakan, wah, MasyaAllah banget!

Sebenarnya, bagaimana sih caranya berhijrah?

Hijrah pula tak mesti harus pindah sana-sini. Berhijrah bisa dengan dilakukan dengan menata diri untuk menjadi lebih akrab dan sering mengingat Allah.

Namun, lagi-lagi harus jelas pemaknaan dan tingkah lakunya. Misalnya, kita berhijrah dari perilaku malas beribadah menuju taat beribadah. Tapi hijrah ini hanya secara fisik saja, yaitu dengan memakai pakaian muslim rapi, dan bahkan membawa Al-Qur'an ke mana-mana.

Bila begitu kisahnya, berarti fisik dan penampilan saja yang berubah. Syahdan bagaimana kabar hati dan iman. Apakah bertambah? 

Jika benar-benar hijrah harusnya iya!

Jangan sampai kata-kata hijrah kita jadikan perisai agar dipandang alim oleh orang lain, agar dipandang lebih sholeh oleh orang lain, dan bahkan dijadikan perisai untuk mengkafirkan orang lain. Itu namanya salah niat. Kita perlu revisi lagi tujuan diri untuk berhijrah.

Cara hijrah yang baik dan benar adalah dengan berpindah dari perkara kejelekan menuju hal-hal kebaikan secara fisik dan batin. Tapi, niatlah yang paling utama karena segalanya berawal dari niat.

Menjemput Hidayah, Tak Harus Menunggu Tua

Sebagai petunjuk dari Allah, adanya hidayah bakal membimbing kita ke jalan yang lurus. Hanya saja, fenomena yang berkembang saat ini memberikan kesan bahwa hidayah itu diberikan kepada orang-rang yang sudah tua saja. 

Tidak sedikit masyarakat yang berpikir bahwa beribadah di masa muda itu "kurang populer". Masa muda malah dihabiskan untuk memuaskan diri dan bersenang-senang. Alasannya?

"Kapan lagi... selagi muda nikmatilah dan bersenang-senanglah!"

Jujur saja kukatakan bahwa pemikiran semacam itu agaknya akan menjauhkan kita dari Allah.

Jika umur kita akan bertahan sampai tua, keriput, dan renta sih tidak masalah, karena di hari tua kita bisa berhijrah, bertaubat dan berubah. Tapi...

Yang jadi masalah adalah kita tidak tahu umur ini panjang atau tidak. Bisa saja sebentar lagi kita diwafatkan, bisa juga besok, lusa, atau tahun depan. Sayangnya, perkara mati ini tak bisa ditunda walau sedetik pun.

Tertuang dalam Quran Surah An-Nahl ayat 61:

"Maka apabila telah tiba waktu (yang ditentukan) bagi mereka, tidaklah mereka dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak (pula) mendahulukannya".

Ajal alias kematian sungguh akan datang dadakan, dan bisa saja tak tertebak. Kadang, pagi tadi kita masih mengobrol dengan teman, kita lihat ia sehat-sehat saja. Tiba-tiba sore harinya, teman itu meninggal. Uniknya, Riwayat sakit tidak ada, kecelakaan pun tidak. 

Tapi.... Ya, itulah kematian.

Kematian adalah rahasia Allah yang dulunya sudah diberitahukan kepada kita ketika ruh ditiupkan ke dalam raga.

Maka darinya, jangan sampai perkara kesenangan dunia ini malah membuat kita lalai dan menunda untuk berhijrah, serta menjemput hidayah dari Allah. 

Berhijrah tak harus menunggu tua, dan menjemput hidayah adalah bersegera. Itu prinsip utama menjemput hidayah yang berbekalkan dengan mindset kita tentang waktu.

Darinya, kita perlu terus menguntaikan doa:

"Ya Allah, tunjukkanlah kami kepada jalan yang lurus!". Al-Qur'an Surah Al-Fatihah ayat 6.

Berhijrah untuk Menjadi Lebih Baik Bisa Dimulai dengan Latihan Kepekaan

Hidayah datangnya dari Allah, dan semua orang bakal setuju dengan gagasan ini. Hidayah akan Allah hadirkan kepada segenap hamba pilihan Allah. 

Di berbagai situasi, tentu pernah kita temui seseorang yang kemarin adalah ahli maksiat, pencuri, bahkan pezina, hari ini telah hijrah dan taubat seutuhnya. 

Meskipun tidak ada angin, tidak ada hujan, bahkan tidak ada mendung sekalipun,  tapi jika sudah berlaku hidayah Allah kepada seseorang, maka berubahlah orang itu untuk menjadi lebih baik.

Apakah hidayah akan Allah berikan kepada semua orang? Tentu saja. Kemudian, mengapa banyak orang yang merasa belum mendapat hidayah dari Allah? 

Jawabannya adalah sudah, namun kita yang mungkin kurang peka. Lho, dasarnya dari mana?

Sejatinya, hidayah akan Allah berikan kepada tiap-tiap hamba-Nya ada dua, yaitu hidayah berupa pertolongan, dan hidayah berupa teguran atau tanda.

Hidayah berupa pertolongan Allah, atau yang kita kenal dengan "taufik" secara utuh dan murni bakal datang dari Allah, dan Allah yang memberikannya. Tak ada siapapun yang bisa memaksakan orang lain untuk menjadi "baik" kecuali Allah yang menolongnya lewat hidayah. 

Dari sana, hadir pemaknaan bahwa hidayah turun dari Allah, dan tidak kita minta.

Di sisi lain, tersirat pesan untuk kita yang senantiasa mengajak orang lain kepada kebaikan agar jangan bawa-bawa perasaan. 

Maksudnya, ketika kita mengajak orang melakukan kebaikan dan orang itu tidak menerima/melakukan ajakan itu, kita tak perlu mutung, tak perlu kesal, atau bahkan malah memaksa orang itu. 

Suatu saat nanti, hidayah Allah akan turun. Maka dari itu, kita perlu tetap berbuat baik dan mengajak orang lain melakukan kebaikan.

Lalu, bagaimana dengan kita yang hingga saat ini belum menerima hidayah Allah? Apakah kita hanya duduk, diam, dan menunggu hingga badan ini rapuh bahkan rambut memutih?

Tentu tidak, dan di sinilah hidayah berupa teguran/keterangan Allah berlaku. Allah memberikan dan menghadapkan kepada kita fenomena-fenomena yang sejatinya meminta kita untuk peka, dan ini juga hidayah. 

Meski begitu, hidayah yang seperti ini harus kita jemput dengan kepekaan, bukan malah kita tunggu, atau bahkan kita tolak.

Misalnya, ketika kita melihat orang yang kesusahan dan kekurangan. Apa tindakan kita? ingin menolongnya, atau malah membiarkannya? 

Dari sana, sejatinya Allah telah meminta kita menjemput hidayah melalui apa yang terlihat. Jika kita peka, kita akan membantu orang yang kesusahan tadi walaupun nilainya tidak seberapa. 

Sebaliknya, jika kita tidak peka kita akan memaksa wajah ini berpaling dan menganggapnya biasa. Inilah tindakan penolakan hidayah.

Contoh lain, ketika kita menyimak untaian kata mutiara atau kata-kata bijak tentang hijrah dan surga. Sesekali hati kita tentu pernah terketuk dan tersentuh. Berkali-kali pula kita pernah merenungkan indahnya surga dan membandingkannya dengan kepantasan amal kita. 

Yup, itu adalah hidayah yang Allah berikan lewat telinga. Tinggal kitanya, mau menjemputnya, menundanya, atau malah sekadar cukup menjatuhkan air mata sesaat. Besoknya? Lupa lagi. Hemm

Allah juga memberikan hidayah berupa teguran. Yaitu lewat fenomena-fenomena yang terjadi di dekat kita. 

Sebut saja seperti banjir, kebakaran hutan, tsunami, gempa bumi, atau ketika kita melihat orang kecelakaan hingga tewas mengenaskan. Atau, ada pula fenomena alam yang membuat takjub seperti gerhana matahari dan komet yang melintas.

Dari saban fenomena itu, sebenarnya tersirat butiran-butiran hidayah Allah. Mirisnya, kita malah beberapa kali kurang peka dengannya. 

Seperti halnya fenomena alam. Memang indah terlihat mata, sejuk, bahkan memesona. Tapi, apakah cukup kita hanya takjub tanpa merenungkan kekuasaan Sang Pencipta?

Lagi-lagi, kita perlu lebih peka dan merenungkan segala sesuatu yang ada di dekat kita. Jika renungan tersebut tak mempan satu kali, maka diri perlu terus merenung dan istiqomah berusaha menjadi lebih baik.

Sejatinya, dengan merenung, hati akan sesekali bergetar dan itu jangan langsung kita tolak, jangan langsung kita hilangkan getaran itu. 

Kita jemput dan tanggap getaran hati itu sebagai bentuk penjemputan hidayah. Dengan mengambil getaran hati itu, kita bisa lebih khawatir dengan hari esok, sehingga kita bisa berhijrah dan terus memperbaiki diri.

Salam.
Ditulis oleh Ozy V. Alandika

Baca juga:

Guru Penyemangat
Guru Penyemangat Menulislah untuk menebar manfaat kepada seluruh alam, karena menuangkan kata-kata juga merupakan jalan ninja menuju kebaikan.

4 komentar untuk "Berhijrah untuk Menjadi Lebih Baik, Tak Perlu Menunggu Tua"

Berkomentarlah sesuai dengan postingan artikel. Mohon maaf, link aktif di kolom komentar tidak akan disetujui.