Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Lebih Akrab dengan Teknologi sebagai Akselerasi Pendidikan

Siapa yang akan menyangka bahwa sejak tahun 2020 hinggalah hari ini dunia pendidikan mengalami gejolak. 

Hadirnya pandemi covid-19 tanpa sengaja telah mengubah suasana santai menjadi sulit. Semua pihak mulai dari siswa, guru, orang tua hingga kita semua juga ikut merasakan kesulitan tersebut.

Bahkan, menurut data lembaga UNICEF pada bulan Agustus 2020 lalu, tercatat ada sepertiga anak di seluruh dunia (sekitar 463 juta anak) mengalami kesulitan mengakses pendidikan.

Teknologi Sebagai Akselerasi Pendidikan
Teknologi Sebagai Akselerasi Pendidikan. mmi9 dari Pixabay

Mau bagaimana lagi, sebagian besar sekolah harus tutup dan diganti dengan pembelajaran jarak jauh, kan? 

Begitulah yang terjadi, dan Indonesia pun ikut mengalami. Hadirnya pandemi secara tidak langsung telah mengakibatkan penurunan kualitas dan pencapaian belajar siswa.

Lebih dari itu, permasalahan pembelajaran di Bumi Pertiwi terasa semakin kompleks karena ada indikasi bahwa PJJ mengakibatkan generasi learning loss sekaligus meningkatkan kekerasan terhadap anak.

Kita sebut saja contohnya seperti pemberian tugas yang “maha berat” kepada anak, kurangnya perhatian guru dalam PJJ, hingga tekanan orang tua yang kurang sabar mendampingi anak. 

Dampak yang bisa datang dari sini ialah, anak rawan terserang masalah psikososial dan stres.

Kalau seperti ini indikasinya, bukankah kualitas pendidikan kita akan semakin mandek alias terkurung dalam stagnasi? 

Tambah lagi dengan kondisi kesenjangan pendidikan Indonesia antara pusat dan daerah. Jika tidak ada inovasi, berarti kita belum bisa memetik hikmah dari pandemi.

Dengan demikian, solusi yang bisa kita hadirkan di tengah kesulitan akses pembelajaran saat ini adalah “teknologi”. Mengapa teknologi?

Selama setahun melaksanakan PJJ di tengah pandemi, kita semua terutama para guru pasti merasakan adanya perubahan tren pendidikan. 

Ya, dari sistem pembelajaran yang biasanya tatap muka, sekarang berubah menjadi virtual (dalam jaringan) serta memanfaatkan berbagai teknologi informasi dan komunikasi terkini.

Apakah ini adalah arah baru pendidikan Indonesia? Mau tidak mau, negeri ini memang perlu melakukan digitalisasi pendidikan.

New normal pendidikan yang mengarah kepada inovasi terkini seperti Blockchain, Immersive Learning, Artificial Intelligence, Virtual Reality & Augmented Reality, virtual clasroom, IOT, Social Media, Learning and Student Analytics, hingga Gamification perlu segera kita aktualisasikan demi meningkatkan kualitas pendidikan dalam negeri.

Kuncinya? 

Tentu saja pelaku utama pendidikan seperti guru dan siswa harus beradaptasi. Minimal mindset belajar-mengajar dahulu yang diubah. Setelah itu, para guru bisa menghadirkan inovasi pembelajaran dengan prinsip ATM (amati tiru, dan modifikasi).

Teknologi Itu Punya Peran Ibarat “Kereta Cepatnya” Pendidikan

Dengan mulai beralihnya tren pendidikan di tengah pandemi, perlahan-lahan agaknya kita mulai sadar bahwasannya peran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) terkini sangat penting untuk mendongkrak efektivitas pembelajaran.

Guru, siswa, dan segenap orangtua berasa dipaksa agar lebih akrab dengan teknologi. Semua dilakukan demi mengakselerasi pendidikan.

Barangkali kita akan susah menolak fakta bahwasannya efektivitas pembelajaran tatap muka lebih tinggi dibandingkan pembelajaran secara virtual. 

Namun, persoalannya hari ini adalah, pandemi membuat pembelajaran tatap muka praktis dihentikan.

Di sisi lain, kita juga tidak bisa tutup mata dengan negara-negara maju yang sudah menerapkan digitalisasi pendidikan. Sebut saja seperti Finlandia. Kalau Finlandia terlalu jauh dan hebat, kita sebut saja negara tetangga yang bernama Singapura.

ternyata-kereta-cepat-pendidikan-itu-bernama-teknologi-infografis

Infogratis tren Nilai PISA tahun 2015 dan 2018 negara-negara peserta. Sumber: Katadata.co.id

Negara tetangga kita ini dalam 2 kurun terakhir penilaian PISA selalu bertengger di peringat puncak. 

Sedangkan Indonesia masih berkutat di peringkat bawah. Hal ini semakin menegaskan fakta bahwa kemampuan Sains, Numerasi, dan Literasi anak-anak kita masih rendah.

Untuk mengejar ketertinggalan ini, secara otomatis pelaku pendidikan harus “melek” kemajuan. 

Caranya, kita perlu menaiki “kereta cepat” untuk melakukan akselerasi peningkatan kualitas pendidikan dan pembelajaran. Kereta cepat yang dimaksud dalam hal ini adalah teknologi.

Lalu, mengapa pendidikan kita hari ini begitu membutuhkan “kereta cepat”?

Alasan pertama tadi adalah akselerasi, yaitu untuk mengejar ketertinggalan sekaligus memberantas stagnasi kualitas pendidikan. 

Alasan kedua, yaitu agar siswa bisa belajar di mana saja dan kapan saja. Sedangkan alasan ketiga, pencapaian tujuan pembelajaran jadi lebih mudah.

Kita analogikan saja secara sederhana. Misalnya ada Si A dan Si B ingin pergi ke pasar tradisional yang berjarak 5 kilometer dari tempat mereka berdiri. 

Si A memilih pergi dengan berjalan kaki, sedangkan Si B menggunakan kereta cepat. Kalau begitu, tentu saja Si B akan lebih cepat sampai, kan?

Begitulah sejatinya peran teknologi terkini dalam mendukung pembelajaran baik daring maupun luring. 

Selain untuk memudahkan guru dalam mengajar, tenaga dan keringat yang dikeluarkan juga lebih sedikit.

Tambah lagi dengan tren perilaku siswa-siswi kita hari ini yang sangat akrab dengan dunia digital, mereka pasti lebih suka belajar dengan metode inkonvensial daripada metode tradisional.

Semisal, siswa cenderung lebih suka menjawab soal ulangan harian via Google Form dan aplikasi Kahoot daripada menyilang jawaban dengan pensil, siswa lebih suka membaca pembelajaran yang berbentuk infografis daripada tulisan di papan tulis, dan siswa cenderung lebih senang belajar via Mobile Learning bin E-Learning daripada merangkum isi buku.

Inilah yang kita sebut Teaching New Generation alias gaya mengajar era baru dalam rangka digitalisasi pendidikan. 

Peran teknologi terkini sangat krusial dalam mendukung percepatan pencapaian tujuan belajar.

Tapi, mengapa akhir-akhir ini pemberitaan di berbagai media banyak yang berisikan tentang keluh kesah, kebosanan, serta kejenuhan belajar dari rumah? 

Padahal peran teknologi sudah digunakan, bukan?

Sejatinya, teknologi yang diperuntukkan sebagai “kereta cepat” pendidikan penggunaannya harus dibarengi dengan inovasi dan kreasi. 

Peran teknologi terkini akan kurang bermanfaat kalau sekiranya guru hanya memindahkan materi media cetak ke digital.

Seperti contoh, guru memoto tugas di buku ajar, kemudian dikirim via Whatsappkepada siswa atau diunggah ke aplikasi Google Classroom (GCS).

Jika seperti itu kejadiannya, maka proses belajar yang melibatkan teknologi bisa dikatakan tidak ada, kan? Begitulah. 

Yang ada, teknologi malah dijadikan mesin atau alat fotokopi, setelah itu siswa mengerjakannya sendiri. Ini bukanlah peran teknologi sebagaimana yang kita harapkan.

Hadirnya teknologi informasi dan komunikasi terkini semestinya membuat proses belajar-mengajar menjadi menarik dan menyenangkan. 

Semisal, ketika sistem belajarnya adalah daring, seorang guru bisa memanfaatkan aplikasi Zoom, Google Classroom, Youtube, hingga Powtoon.

Kalau sinyalnya kurang bersahabat? Bahkan seorang guru bisa memanfaatkan aplikasi Microsoft PowerPoint untuk membuat video pembelajaran kreatif untuk kemudian diunggah di story Whatsapp guru.

Seperti contoh, guru masih bisa membuat video pembelajaran yang menarik untuk kemudian ditampilkan di proyektor. 

Syahdan, guru juga bisa meracik gamekreatif seperti scrabble dan ular tangga menggunakan Microsoft Excel maupun Microsoft PowerPoint.

Jadi, sebenarnya pembelajaran di era kekinian sangat membutuhkan peran teknologi, kan? Begitulah. 

Maka darinya, sangat perlu bagi guru untuk terus meng-upgrade kompetensi mengajar terutama di bidang pemanfaatan teknologi pembelajaran.

Sangat penting bagi guru untuk menanamkan mindset bahwa setiap guru bidang ajar wajib “melek” teknologi. 

Jadi, bukan hanya guru TIK saja yang dipandang kreatif.

Untuk memaksimalkan dan mewujudkan mindset berkemajuan ini, agaknya guru-guru yang hari ini kurang mahir mengaplikasikan TIK perlu membentuk grup guru belajar “melek teknologi”. 

Dengan begitu, tiap-tiap guru telah mengendarai “kereta cepat” pendidikan.

Salam.
Ditulis oleh Ozy V. Alandika

Baca juga:

Guru Penyemangat
Guru Penyemangat Menulislah untuk menebar manfaat kepada seluruh alam, karena menuangkan kata-kata juga merupakan jalan ninja menuju kebaikan.

Posting Komentar untuk "Lebih Akrab dengan Teknologi sebagai Akselerasi Pendidikan"

Promo Cashback & Voucher Shopee