Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Santai, Bro! Inilah 4 Sikap yang Wajib Dimiliki Para Pengguna Media Sosial

Dunia maya tak semanis kehidupan nyata. Namanya saja maya, yang termaktub dalam KBBI artinya hanya terlihat ada tetapi nyatanya tidak ada, Cuma sekadar angan-angan, dan khayalan. 

Meski begitu, sejumput insan tetap ingin merengkuh arti lain dari "maya", yaitu terang terus, jernih, serta bening.

Untuk mendapati pengertian lain di atas, tak semua manusia mampu berjalan kaki dalam satu "jalur".

Jalur yang mereka kira dapat menerobos jalan raya terkadang malah bertemu buntu di muara. 

Dan jalur yang dirasa kurang "wah" malah bertemu terang pada ujungnya. Terkadang terbolak-balik, syahdan sesekali tertumpah. Seperti itulah deskripsi pisau Media Sosial.

Santai, Bro! Inilah 4 Sikap yang Wajib Dimiliki Para Pengguna Media Sosial
Santai, Bro! Inilah 4 Sikap yang Wajib Dimiliki Para Pengguna Media Sosial. Gambar oleh Gerd Altmann dari Pixabay
Ada orang yang lumayan pasif di dunia nyata, namun sangat aktif di dunia medsos. Saban hari dilalui dengan update status, menyukai status teman, comment postingan, hingga share meme.

Ketika diri mulai bosan, mulailah ubah foto profil setiap setengah jam dengan memberinya ragam efek yang imut menurut bisik hatinya.

Adapula orang yang lumayan aktif di dunia nyata, namun malah sangat pasif di dunia medsos. 

Mereka disibukkan dengan kegiatan harian dan pekerjaan. Makanya kemudian kita  dapati akun Facebook yang tak tersedia "isi", Instagram yang tak ada pengikut, bahkan Twitter yang hanya tertera username-nya saja.

Yang serunya, adapula orang yang begitu rajin di dunia nyata, namun rajin pula berkomunikasi di dunia medsos. 

Di dunia nyata mereka laporan dinas, di dunia medsos juga tertera sedang dinas. Bahkan, adapula yang di alam nyata sedang jalan-jalan atau tidur, tapi malah share sedang dinas di dunia maya. Eh

Jika aktivitas dunia nyata seirama dengan dunia medsos jujur saja itu tak mengapa. Layaknya para pebisnis online yang rajin promosi dan menuangkan testimoni. Layaknya para pendakwah yang berbagi ilmu dan kebaikan secara tulus. 

Bahkan seperti para narablog yang tak pernah lelah berbagi tulisan. Semuanya lagi-lagi tak mengapa, bahkan kegiatan di medsos semacam ini begitu baik karena menebar maslahat.

Yang menjadi alibi bahaya sekaligus peringatan dini adalah sebagian dari kita yang terlalu bombastis menanggapi dunia medsos. 

Gegaranya, diri malah bersikap “over” serius di media sosial dan butir demi butir mulai berperilaku antipati di alam nyata.

Di medsos tampak usahanya sangat rajin, padahal di dunia nyata cumalah "pencitraan". Di medsos tampak sangat sok berkata-kata kotor, tapi saat ketemuan di dunia nyata malah pura-pura "lupa diri". 

Bahkan di medsos terlihat begitu perhatian, rajin, care, serta penuh dengan cinta kasih, tapi di dunia nyata malah sebaliknya. Hemm. Gombal, kucing di dalam karung, atau buaya dalam botol? Eh

Maka darinya, santai, cuy. Santai, Bro. Kita sebagai pengguna media sosial perlu bahkan wajib memiliki 4 sikap berikut ini:

1. Tak Perlu Emosional berlebihan di Dunia Medsos

Dalam bermedsos, sebagian orang seringkali tak paham dengan situasi dan kondisi. Update status sedih ditanggapi dengan emotion tertawa bahkan stiker lucu. 

Sedangkan postingan sosialisasi dan pembangunan dilempari dengan hinaan berlebihan kepada pemangku kebijakan.

Tidak yang purna, renta, juga yang muda. Tidak yang berkegiatan, juga yang pengangguran. 

Tidak bunda, emak, juga mama-mama sosialita. Semua berperilaku sama saja. Keadaan ini bakal semakin terlihat terang ketika mereka berada di sebuah grup medsos.

Jika ada informasi viral yang di-share ke grup medsos satu saja, mulailah "riuh" suasana. 

Ironisnya, berita miris bin sedih seperti kecelakaan dan bencana alam saja masih bisa ditanggapi keterlaluan, terlampau emosian menanggapi peristiwa. 

Padahal belum tentu berita itu shahih rujukannya. Bisa saja itu berita editan atau berita lampau yang sengaja dihadirkan demi memanaskan situasi terkini.

Tak Perlu Terlalu Emosional di Medsos
Tak Perlu Terlalu Emosional di Medsos.Gambar oleh Mudassar Iqbal dari Pixabay
Kadang pula kita dihadirkan peristiwa kecelakaan di dunia maya, tapi isi komentarnya adalah memaki si korban, menyumpahi pemangku kebijakan, dan bahkan ada yang sengaja komentar aneh-aneh demi mengalihkan isu.

Atau, bisa jadi di kehidupan nyata saat mereka bersua dengan orang yang sedang kesusahan, mereka hanya "update postingan" dan membuat tagar viral saja. Aduhai, mana hatinya, Tuan! Apakah sudah mati, atau terkubur dalam tanah busuk!

Santailah dalam bermedia sosial. Tak perlu mengamuk sampai mencaci maki dan menyebut beragam nama kotoran dan hewan. 

Jangan kira tanggapan seperti itu menerangkan kehebatan diri, yang ada malah kehinaan yang tampak atas sikapnya

2. Tak Perlu Fanatik Kelewatan di Media Sosial

Sesekali atau bahkan beberapa kali ditemukan perilaku sukuisme di medsos yang bermuara pada sikap fanatik berlebihan. Lagi-lagi ini kerap hadir pula di grup media sosial. 

Niat awalnya mulia, mungkin karena ingin mendapatkan solusi, jajak opini, ataupun menanti sikap perbaikan segera unsur pemerintah melalui dunia maya.

Tetapi apa yang terjadi beberapa waktu kemudian? Jikalau postingan yang tampak adalah tentang omelan terhadap pohon-pohon rindang di jalan, mulailah hadir segerombol umat dunia maya yang menyindir pemerintah. Di sini pro di sana kontra.

Sedihnya, mereka yang pro akan muncul beramai-ramai dan membela gila-gilaan di grup medsos tersebut. 

Sebaliknya, penduduk maya yang kontra juga tak mau melempem dengan menyebar omelan pemerintah sekarang dan mengkomparasikannya dengan masa baheula. Terus berkepanjangan tanpa merengkuh kata selesai.

Begitu juga dengan segenap postingan lainnya. Terkadang, keluh bertajuk opini dan jajak gagasan rawan berakhir dengan sikap over fanatisme. Padahal mulanya hanya gagasan, tetapi kemudian malah hadir provokator di sana.

Entah ingin bikin petisi, segera demo, ataupun ingin melakukan aksi, rupa-rupanya heboh orang di medsos berkoar-koar tentang keluh yang seringkali hanya "retorika hampa" semata. Hal yang kosong mau di bawa ke alam nyata? Seriuslah, Bro!

3. Tak Perlu Over Terpengaruh Berita Bombastis di Media Sosial

Rangkaian kegiatan besar di negeri ini seringkali rawan viral. Lebih-lebih soal politik, ekonomi dan pemerintahan. Berita yang sesungguhnya receh dan sederhana bisa dengan entengnya naik derajat menjadi pemberitaan yang super bombastis.

Caranya? Dengan "sedikit mengedit sampul tanpa meramu isi" dari berita tersebut.

Misalnya seperti kasus jilbab dan SKB 3 Menteri tentang atribut sekolah baru-baru ini. 

Penduduk dunia maya yang enggan bertanggungjawab dengan seenaknya mengulik jilbab dengan opini semena-mena tanpa rujukan. Kalimat demi kalimat yang hadir hanya bertajuk emosi dan cari viral.

Alhasil, ya...makin ramailah prasangka dan praduga tentang agama dalam kaitannya dengan Pancasila dan NKRI. Padahal, semestinya tidak harus seperti itu. Ternyata bijaksana itu sungguh mahal, ya.

4. Santai di Medsos, Seriuslah di Kehidupan Nyata

Menanggapi media sosial, semestinya diri tak perlulah kaget keterlauan, tak perlu juga histeris hingga fanatik yang kelewatan. 

Santai saja di alam maya. Sikapi dengan damai dan bijak layaknya moderator dalam dialog. Pastikan dulu berita tersebut aktual, bukan animasi, bukan sinetron, bukan editan, serta bukan pula lelucon.

Untuk menanggapi dan memastikannya, tentu kita perlu meningkatkan kompetensi literasi. Kita perlu meningkatkan insight sekaligus upgrade ilmu. Darinya, perlahan akan bertunas kebijaksanaan diri untuk berperilaku. Bukan cuma like, share, comment stiker saja.

Kendati medsos adalah alam maya, tetap saja penduduknya adalah orang-orang di alam nyata. 

Jika kita bikin onar di medsos, sama saja diri ini mengundang kerusuhan di dunia nyata. Gilanya, penduduk dunia maya satu demi satu akan mencari dan menyudutkan kit sebagai biangnya problema.

O ya, jangan pula kita lalai dengan dunia maya, hingga kita tak ingat lagi tentang di mana kita hidup dan bersandar. Waspada, jika terlena, mungkin saja diri kita bakal terkecoh dan bermalam bersama khayal dan angan-angan. Santailah.

Salam.
Ditulis oleh Ozy V. Alandika

Baca juga:

Guru Penyemangat
Guru Penyemangat Menulislah untuk menebar manfaat kepada seluruh alam, karena menuangkan kata-kata juga merupakan jalan ninja menuju kebaikan.

Posting Komentar untuk "Santai, Bro! Inilah 4 Sikap yang Wajib Dimiliki Para Pengguna Media Sosial"

Promo Cashback & Voucher Shopee