Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Puisi Renungan Senja: Sajak Februari di Tengah Jingga dan Merah

Kata orang bulan Februari itu penuh cinta. Ah, tapi kenyataannya tak selalu begitu. Samalah halnya dengan senja. Senja tak selalu jingga, juga tak selalu merah. Terkadang ada kelam yang menyayat tawa.

Hidup memang begitu. Senja yang bahagia meminta diri untuk menerbit syukur. Sedangkan senja yang sendu mengajak diri untuk merenung. Renungan untuk senja di tengah derasnya guliran waktu.

Puisi Renungan Senja
Puisi Renungan Senja. Dok. Gurupenyemangat.com via canva

Rasanya beberapa untai puisi berikut bakal menghadirkan senja di pelupuk matamu. Ya, biarpun hanya seberkas rindu, tapi setidaknya ada yang mampu mengusik rasa kesepianmu.

Puisi Renungan Senja: Sajak Februari

Januari telah pergi, dengan mimpi yang tak sempat terpenuhi. Ekspektasi yang menjulang tinggi, realita yang perlahan pergi.

Pohon itu masih berdiri. Awan itu berlarian dan pergi. Dan kau, masih saja sendiri.

Kau pernah bercerita pada Februari. Bahwa ia tak akan pernah pergi. Tapi nyatanya Februari ingkar janji. 

Sampai tanggal enam Juni, awan itu masih berlarian dan pergi. Namun pohon itu, ia tak lagi berdiri. Ia tumbang diterjang. Ia roboh tanpa disentuh.

Hai,  Februari!

Pohon dan awan itu masih misteri. Membuat yang lainnya iri hati. Sang bulan yang menatapmu dengan kasih. Tanpa pernah kau lihat bahwa ia selalu menemani.

Dengan bintangnya, dengan pekatnya atau dengan sunyinya. Mereka seakan menari, tanpa diawasi. Bergerak sesuka hati. Hingga mentari datang kembali . Saat itu pula, mereka berhenti.

Matahari dengan kicaunya, dengan derap kakinya, dengan hiruk pikuknya. Itulah Februari. Bulan dan matahari bekerja sesuai peran yang dimiliki. Membiarkan takdir untuk terus berjalan menapaki setiap sisi. 

Biarkanlah yang pergi. Karena dunia ini bukan tempat kembali.

Puisi Karya: Aulia AN (56)


Puisi Renungan Senja: Jingga dan merah

Ia adalah jingga. Yang datang di penghujung petang. Menyapa di waktu yang tepat, untuk kita sejenak berehat. Di sana, bisik lalu lalang kota tak terhiraukan. Membiarkan kita untuk menikmati keindahan. 

Jingga dan merah itu satu nan utuh. Seperti menyanyi di ujung hari. Keindahannya memberikan pelajaran. Setelah kehilangan, pasti kita akan menemukan. 

Pada jingga, kutitipkan sepatah kata. Terima kasih untuk mereka yang baik. Merangkulku pada perjalanan yang tak berkesudahan. Memberi arti untuk menikmati setiap peran. 

Jingga, ajarkan aku melukismu. Ajarkan aku untuk memelukmu walau hanya dari jauh. Ku tahu, kau mampu. Namun, kau pura-pura bisu. 

Jingga, senda gurau cerita kita adalah nyata. Biarkanlah ia menari di sana. Jangan kau paksa ia berhenti. 

Kita bisa, saat kita bersama. Jingga, yang kita butuhkan hanya tenang. Temani aku di setiap perjalanan panjang. 

Untuk yang jingga dan merah, kunamai engkau SENJA.

Puisi Karya: Aulia AN (57)

Baca juga:

Guru Penyemangat
Guru Penyemangat Menulislah untuk menebar manfaat kepada seluruh alam, karena menuangkan kata-kata juga merupakan jalan ninja menuju kebaikan.

2 komentar untuk "Puisi Renungan Senja: Sajak Februari di Tengah Jingga dan Merah"

Berkomentarlah sesuai dengan postingan artikel. Mohon maaf, link aktif di kolom komentar tidak akan disetujui.