Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mengenal Paham dan Sekte Aliran Syiah

Belum lama ini Bumi Indonesia kembali bergejolak. Seiring dengan dirombaknya sejumput menteri dalam kabinet kerja Pak Jokowi, publik dibuat "rusuh" dengan rencana krusial Pak Menteri Agama Baru.

Ya, Yaqut Cholil Qoumas selalu Menag pengganti Fachrul Razi berencana melakukan afirmasi terhadap kelompok Syiah dan Ahmadiyah. Alasannya, ada hak agama minoritas yang perlu dilindungi.

Ngeri-ngeri sedap memang. Barangkali tidak sedikit umat di negeri ini menebar pandang bahwa Pak Yauqit Cholil sedang cari panggung sekaligus membuat gaduh umat Islam di negeri ini.

Pernyataannya kontroversi, syahdan terkesan mengorbitkan berbagai kelompok umat muslim untuk berdebat masalah klasik. 

Padahal? Sekarang saja masih banyak netizen yang berdebat soal haram atau tidaknya mengucapkan “Selamat Natal”. Ah, masalah seperti ini berasa selalu diulang-ulang setiap tahun.

Tapi, aku tidak akan menyelami lebih tentang hal itu. Dalam kesempatan ini, aku ingin mengajak pembaca untuk sedikit mengulik paham dan sekte aliran syiah.

Mengulik Paham dan Sekte Aliran Syiah
Mengulik Paham dan Sekte Aliran Syiah. Foto: fin.co.id

Mengulik Paham Aliran Syiah

Sebagaimana yang telah kita ketahui bersama, bahwa aliran Syiah berawal dari sebutan untuk para pengikut Ali, pemimpin pertama ahlul bait. 

Ba’da Rasulullah wafat, hadir segenap kebingungan di kalangan kaum muslimin tentang siapa pengganti Nabi sebagai pemimpin.

Alasan kebingungan ini sejatinya cukup sederhana, yaitu Nabi Muhammad sebelumnya tidak pernah menunjuk siapa pengganti dirinya.

Di waktu itu, golongan Syiah menyarankan agar pemimpin pengganti Nabi diangkat dari keluarga Nabi. Tapi...

Terpilihlah Abu Bakar As-Shiddiq sebagai khalifah, meskipun pada akhirnya Sayyidina Ali bin Abi Thalib tetap menjadi pemimpin umat Islam yang keempat.

Padahal, sejatinya aliran Syiah baru berdiri sejak beberapa waktu setelah Ali diangkat menjadi khalifah. 

Ya, ketika ada huru-hara antara Ali dengan Muawiyah, ketika itu pula golongan Syiah menebar eksistensi berupa keloyalan mereka dalam mendukung Ali bin Abi Thalib.

Syahdan, golongan Syiah ini kemudian dikenal dengan mereka yang mengagung-agungkan dan mencintai Sayyidina Ali. Tapi, sayangnya cinta ini salah, karena Syiah malah tidak mengakui kehadiran sahabat Nabi lainnya.

Ternyata, cinta yang berlebihan itu malah membutakan, ya!

Setidaknya, ada tiga paham utama golongan Syiah yang bisa kuhadirkan di sini.

  • Pertama, mereka punya gagasan bahwa hak untuk menjabat khalifah haruslah dari keluarga Nabi. Artinya, kalau tidak Ali bin Abi Thalib, maka diteruskan kepaa cucu-cucu Nabi (ahlul bait).
  • Kedua, Imam yang diangkat menjadi khalifah baru akan sah jika mendapat nash alias ditunjuk oleh Nabi sendiri, atau, ditunjuk oleh imam-imam sesudah beliau secara urut.
  • Dan ketiga, Syiah memandang bahwa tiap imam yang diangkat dianggap “maksum”, alias terpelihara dari dosa serta menerima anugerah keistimewaan seperti ilmu gaib, laduniah, mukjizat, hingga jenis kesaktian lainnya.

Tapi, sebagaimana yang tertuang dalam sejarah, setelah Rasulullah wafat, Khalifah Abu Bakar as-Shiddiq lah yang diangkat menjadi pemimpin pertama. Sayangnya di masa itu, Bani Hasyim tidak setuju.

Disarankan bahwa, al-Abbas selaku paman Nabi atau Ali yang leih berhak. Alasannya satu, karena keduanya adalah keturunan Nabi yang paling dekat dari segi silsilah.

Meski demikian, aliran Syiah tetap menganggap bahwa pemimpin mereka tetap Ali, walaupun saat itu khalifah berada di bawah kepemimpinan Abu Bakar.

Rasanya, ajaran Syiah memang keterlaluan dari segi kecintaan sekaligus paham, meskipun pada akhirnya di dalam Syiah itu sendiri terpecah menjadi beberapa sekte.

Sekte Aliran Syiah

Sejatinya aliran Syiah belum terpecah selama kepemimpinan Ali, Hasan, dan Husain. Tetapi, setelah Husain wafat, paham Syiah dilebur menjadi golongan mayoritas dan minoritas.

Golongan Syiah mayoritas menerima Ali ibn Husain As-Sajjad sebagai imam keempat, sedangkan kelompok minoritas (Kisyaniyah) menganggap bahwa imam keempat adalah milik Muhammad ibn Hanafiah sekaligus Imam Mahdi yang kemudian menghilang dalam persembunyian.

Perpecahan tersebut terus berlangsung hingga imam ke-12 hingga akhirnya Syiah melebur ke berbagai sekte-sekte. Saat ini, tersisa 2 sekte besar yang tersebar di berbagai dunia seperti Syria, India, hingga Yaman. Yaitu sekte Az-Zaidiyah dan sekte Ismailiyah.

Sekte Az-Zaidiyah

Tokohnya adalah Zaid bin Zainul Ali bin Al-Husain bin Ali. Para pengikut Zaid menganggapnya sebagai imam kelima dari ahlul bait.

Pandangan mereka para Zaidiyah, mereka mengikuti jalan yang dekat dengan muktazilah jika dilihat dari segi ushul alias prinsip-prinsip islam. Sedangkan dalam masalah kelembagaan, sandara mereka adalah fikih Hanafi.

Sekte Al-Ismailiyah

Para pengikut Ismailiyah menghimpun pelajaran dalam sembilan tingkatan yang masing-masing gerakannya meragukan pokok-pokok pelajaran Islam. Pertanyaan seperti apa maksudnya melempar jumrah serta mencium hajar aswat kerapkali digaungkan.

Syahdan, mereka juga berpandang bahwa wahyu itu semata-mata digapai dari kesucian dan kemurnian jiwa.

Ngerinya, ritual seperti sholat serta puasa hanyalah diperuntukkan untuk orang-orang umum. Sedangkan bagi para pemimpin, ritual yang dimaksud tadi tidaklah diwajibkan.

Hal menyimpang pun berlaku pada bidang Al-Quran. Mereka bahkan menganggap bahwa para filsuf bisa disejajarkan dengan Nabi. Jelas pandangan ini sesat bin menyesatkan.

***

Di luar dari dua sekte besar yang telah diterangkan di atas, agaknya masih banyak beredar sekte Syiah lain di berbagai negara di dunia.

Tapi, di Indonesia sendiri, agaknya sampai hari ini belum terdengar ada fatwa dari MUI bahwa aliran Syiah itu sesat.

Majelis ulama sekadar menghimbau umat muslim agar waspada terhadap kelompok Syiah yang terlalu fanatik dan ekstrim.

Sejatinya, kalau kita kaitkan lagi dengan nada alias rencana afirmasi kelompok Syiah serta Ahmadiyah dari Kemenag, agaknya ini cukup kontroversial bagi kemaslahatan umat. 

Secara, selama ini Syiah juga masih ada hubungannya dengan Islam, terutama dari segi ibadah, walaupun jelas-jelas ajarannya bertolak belakang.

Hanya saja, yang dikhawatirkan kita bersama, bagaimana bila nanti mereka berlindung di bawah nama Islam sembari melakukan gerakan fanatik dan ekstrim. Berbahaya, kan?

Wallahualam.

Taman baca:

Safni Rida, Ilmu Kalam, LP@ STAIN Curup

Lanjut baca: 

Guru Penyemangat
Guru Penyemangat Menulislah untuk menebar manfaat kepada seluruh alam, karena menuangkan kata-kata juga merupakan jalan ninja menuju kebaikan.

Posting Komentar untuk "Mengenal Paham dan Sekte Aliran Syiah"