Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Follow Guru Penyemangat di Google News agar tidak ketinggalan tulisan terbaru tentang edukasi, materi belajar, dunia keislaman, soal ujian, motivasi, investasi emas, kesehatan dan fiksi. Klik di sini.
Gulir ke bawah untuk membaca artikel.

Cerpen: Orang Gila

Cerpen: Orang Gila

Oleh Syamsuddin Sahdan

Gambar oleh Anja-#pray for ukraine# #helping hands# stop the war dari Pixabay 

“Iya benar, dia memang orang gila. Kata orang-orang dia gila, kamu lihat saja pakaiannya compang-camping begitu,” kata kawanku suatu hari. Dengan raut yang meyakinkanku, bahwa orang tersebut memang gila.

Meski begitu tetap saja aku penasaran, sebab di lain waktu seseorang pernah menjelaskan kepadaku kalau sebenarnya orang tersebut adalah waras alias normal atau bukan orang gila sebagaimana kata kawan-kawanku.

“Sebenarnya kalau kupikir-pikir lagi apa untungnya mencari tahu tentang si orang gila itu, toh dia juga bukan keluargaku, bukan sesiapapun bagiku. Jadi untuk apa sebenarnya, buang-buang waktu saja.” 

Begitu otakku mengelak, menepis rasa keingin-tahuanku terhadap orang yang diklaim gila tersebut.

Tapi rupanya rasa penasaran ini terus saja tumbuh, bahkan berasa semakin besar saja.

Semakin kuusahakan untuk menepis dan melupakannya, animo keingin-tahuanku justru semakin menjadi-jadi. Dan sangat ingin tahu apa dan bagaimana sebenarnya kebenaran dari cerita itu.

Kalau ada yang bertanya kenapa. Aku juga tidak tahu kenapa, entahlah, seperti ada sihir yang mendorongku untuk mencari tahu kebenarannya.

Oh iya, terlalu asyik rupanya aku membeberkan rasa penasaranku terhadap orang itu, sampai lupa kuperkenalkan diriku.

Jadi perkenalkan namaku Sarman, panggilannya Arman usia 21 tahun, status mahasiswa, dan belum menikah alias jomblo. Heheh.

Rasa penasaranku ini muncul setelah berpapasan dengan dia sekitar beberapa hari yang lalu. Waktu itu sore hari.

Tidak sengaja kulihat di pinggir jalan ketika mengendarai motorku. Sebentar mataku ditembus oleh matanya yang sorotnya seperti mendamaikanku. 

Tampilannya memang seperti bukan orang normal pada umumnya, sebab memakai baju compang-camping, kemudian di pundaknya ada seikat kayu bakar yang entah untuk apa. Aku juga bingung.

Setelah kutanyakan pada kawan yang kubonceng dia menerangkan bahwa itu orang gila.

Hal ini yang membuatku lalu penasaran sebab sorot matanya menurutku seperti bukan orang gila. Dia seolah menyiratkan pesan-pesan yang aku pun belum tahu apa itu.

Karena tidak bisa lagi membendung rasa penasaran ini aku putuskan untuk menemuinya saja, entah bagaimana cara dan bentuknya. Terserah, asal rasa haus ini bisa segera terobati, itu saja.

SORE hari, dengan ragam kegiatan orang-orang.

Ada yang berpulangan dari tempat kerja, ada yang baru pergi bekerja berjualan dengan motornya, ada yang berjalan kaki, berlari, naik sepeda, dan berbagai macam aktivitas lainnya yang tidak sempat aku sebutkan semuanya.

Dan Aku yang sedang berjalan-jalan dengan motorku, melirik ke kiri dan ke kanan di sepanjang jalan. 

Melihat-lihat dan mencari seseorang yang diklaim sebagai orang gila. Motorku kuperlambat, gas perlahan aku kurangi.

Sekitar tiga puluh atau 50 meter kemudian dari motorku, kulihat ada sosok yang kucari-cari di depan. 

Seperti yang biasa ia lakukan, membawa seikat kayu bakar. Motorku kuperlambat lalu berhenti. Rasa takut, waswas, dan khawatir, mulai menghampiriku, khawatir dia akan membahayakanku.

Tapi itu kutepis, dan kubulatkan tekad. Aku berhenti di depannya menawarkan tumpangan untuknya.

Boleh Baca: Cerpen Tentang Si Miskin yang Tidak Mampu Menelan Makanan Syubhat

“Mau ke mana pak?” tanyaku ragu-ragu. Yang rupanya dia menjawabku

“Mau ke rumah, di situ!” Ia menunjuk sebuah pondok kecil di lorong-lorong, sekitar seratus meter dari tempat kami.  

“Ya sudah pak sama aku aja, kebetulan lagi sendirian juga”

“Tidak usah, saya masih bisa jalan” ia menolak tawaranku. 

Penolakanku itu membuatku bingung, harus mengambil jurus apa lagi selanjutnya. Aku ingin berbicara dan bertanya banyak dengan orang ini.

“Oh ya udah, Pak, aku jalan”. 

Terus terang aku sedikit kecewa sebab belum bisa menggali lebih banyak dari orang itu. Tapi paling tidak ada bayangan untukku bahwa dia bukan orang gila, seperti kata kawan-kawanku.

ESOK paginya aku mendatangi langsung rumahnya, membawa beberapa pakaian dari rumahku, pakaian itu aku pilih-pilih yang masih baru, untuk aku berikan padanya. 

Ia aku temui sedang duduk di rumahnya, rumah yang lebih pas disebut pondok.

Lantai dan dindingnya terbuat dari bambu, kemudian atapnya berasal dari daun rumbia. Aku dipersilahkan naik dan diterima seperti sudah saling kenal.

“Kamu yang kemarin itu toh. Ada apa” katanya sambil menyilahkan aku duduk.

“Benar, Pak. Ini aku bawa sesuatu untuk bapak” kataku sambil menyerahkan bingkisan hitam berisi pakaian tadi.

Ia lalu membukanya, lalu di buka satu-satu setiap lipatan lembar pakaian yang aku bawa.

Aku curi-curi sesekali melihat raut wajahnya. Sepertinya pada matanya memerah dan ada genangan air yang tertahan untuk keluar.

“Mungkin ia terharu” batinku dalam hati

“Terima kasih, bapak tidak membutuhkan semua ini” ia melipat kembali dan memasukkannya ke dalam tempatnya semula lalu menyerahkan pakaian itu kepadaku.

“Tidak Pak, ini untuk bapak. Titipan dari orang tua” kataku, coba membujuk.

Rupanya ia tetap tidak mau menerimanya. Ia justru mulai bercerita kepadaku.

***

Namanya Rahimun, ia hidup berempat dengan keluarganya dua orang anak dan istrinya.

Mula-mula semua berjalan baik-baik saja. Kehidupan dalam keluarga mereka terlihat bahagia, sebagaimana keluarga pada umumnya.

Namun ada satu rahasia yang disembunyikan oleh Rahimun, yaitu pekerjaannya adalah seorang perampok.

Rahimun bergabung dalam sebuah kelompok untuk melakukan pekerjaannya. Bahkan tidak jarang mereka membunuh korban jika keadannya terdesak. 

Hidup di dalam lorong kelam, membuat ia dihantui rasa bersalah terhadap anak istrinya.

Memberikan uang kepada sang istri dari hasil yang kotor, hatinya terluka. Apa lagi istrinya orang yang taat agama dan patuh.

Rahimun lalu menguatkan tekadnya untuk memilih jalan yang halal mencari nafkah, Ia memberanikan diri dan menyampaikan niatnya kepada rekan-rekan kelompoknya untuk berhenti dari pekerjaannya. 

Sayang, niat untuk keluar dari dunianya itu rupanya tidak disambut baik oleh mereka.

Sampailah pada suatu malam, sekitar pukul dua subuh. Sekelompok orang bertopeng seragam hitam memasuki rumah mereka.

Rupanya itu adalah teman Rahimun sendiri yang hendak melancarkan aksi perampokannya di rumah Rahimun.

Ia mengambil barang-barang yang memiliki harga, dan beberapa uang yang ada di laci lemari. Sang istri sepertinya tersadar ada orang yang masuk ke kamar mereka. Ia berteriak sejadi-jadinya

“Pencuri..pencuri!” yang diteriaki melarikan diri. Secepat kilat.

Refleks Rahimun terbangun dan mengambil parang yang ia simpan di bawah ranjang, lalu mengejar orang tersebut.

Ia terus mengejar si pencuri itu, sejauh ia berlari. Tapi sepertinya ia tidak mampu menggapainya, hanya bayang-bayangnya saja ia bisa lihat, dan terus berlari.

Rahimun berbalik arah menuju rumah mereka, dan dari kejauhan ia seperti melihat sesuatu yang begitu terang bercahaya kemuningan.

Rupanya itu adalah cahaya api yang melalap rumah mereka.

Rupanya ia tidak sadar kalau selagi ia mengejar seorang pencuri tadi, ada beberapa lagi yang sedang melakukan aksi yang lain. Yaitu membakar rumah mereka.

***

“Begitulah, Nak. Jadi bukan saya menolak pemberian dan kebaikanmu. Tapi saya ingin menjalani hidup dengan hasil keringat sendiri. Bukan dari orang lain. Maafkan saya” katanya dan menghapus butiran air pada matanya.

Aku akhirnya tahu alasan dia menggunakan pakaian seperti itu. Karena pakaian tersebutlah yang ia kenakan terakhir ketika masih bersama dengan keluarganya. Dan itu yang dipakai sampai hari ini, hingga menjadi compang-camping seperti itu.

“Memang benar, rupanya dia bukan orang gila seperti kata orang-orang.” pikirku.*    

Guru Penyemangat
Guru Penyemangat Menulislah untuk menebar manfaat kepada seluruh alam, karena menuangkan kata-kata juga merupakan jalan ninja menuju kebaikan.

2 komentar untuk "Cerpen: Orang Gila"

  1. lha terus istri dan anaknya apakah terbakar mas ozy...? kasihan oak rahimun ya. itu pondokanya nemu atau bangun sendiri ya...tapi endingnya beliau tobat. Nice pesan moral sih supaya kita mencari rejeki dengan cara yang halal biar berkah hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi, mimin sekadar nyimak kebetulan di sini, Mbak. Wkwk

      Hapus

Berkomentarlah sesuai dengan postingan artikel. Mohon maaf, link aktif di kolom komentar tidak akan disetujui.

Diperbolehkan mengutip tulisan di blog Guru Penyemangat tidak lebih dari 30% dari keseluruhan isi (1) artikel dengan syarat menyertakan sumber. Mari bersama-sama kita belajar menghargai karya orang lain :-)